Gibran, Selembar Surat untuk May Ziadah (1926)

Abdul Aziz Rasjid

Setiap pagi juga senjahari, Gibran –mungkin mengenakan baju berwarna hitam atau putih– melamun seorang diri, membayangkan dirinya seolah berada dalam sebuah rumah di Kairo bersama May Ziadah, gadis yang dicintainya. Dalam sebuah surat yang ia tulis di tahun 1928 pada May Ziadah, Gibran membayangkan bahwa dalam waktu-waktu itulah, ia memimpikan sebuah momen: May duduk di depannya membacakan artikel –entah yang Gibran tulis, maupun May yang menulis– padanya. Dan setelah itu, mungkin mereka akan berdebat, beradu pendapat lalu tertawa bersama.

Begitulah salah satu irama dari rangkaian kisah cinta antara Kahlil Gibran dan May Ziadah. Aneh, imajis, dan mungkin hanya dipahami oleh mereka berdua saja. Maka tak mengherankan memang, jika Dr. Jamel Jabre pernah menulis urai kata tentang percintaan mereka seperti ini:

“Sulit dibayangkan seorang pria dan seorang wanita jatuh cinta tanpa saling mengenal atau bertemu kecuali hanya lewat korespondensi. Tetapi para seniman memang punya cara hidup sendiri yang aneh, yang hanya dapat dipahami oleh mereka sendiri….Hubungan sastra dan cinta antara Kahlili Gibran dan May Ziadah bukanlah sebuah hubungan dongeng atau praduga, tetapi fakta yang dapat diibuktikan pada umum lewat surat surat yang diterbitkan May Ziadah sesudah Gibran wafat”.

Adakah yang terasa pahit dalam percintaan mereka yang tak pernah saling bertemu itu? Di mana cinta keduanya yang saling mengisi, mengantungkan keinginan untuk saling bersama hanya dalam momen berupa bayangan dalam lamunan yang ringkas. Atau itukah cinta yang sebenarnya, sebuah konsep yang hendak menyatakan: “Sesungguhnya sepasang kekasih, tak perlu bertemu di tempat tertentu, sebab keduanya selalu hidup dalam hati masing-masing”. Ya, kita boleh ragu dengan konsep itu. Tapi Gibran dan May telah membuktikan, bahwa ketulusan, dan kesetiaan untuk menjaga cinta walau dipisahkan jarak sejauh apapun memang bisa diwujudkan.

Dalam buku Kahlil Gibran, Potret Diri. Terj. M. Ruslan Shiddieq. Cet. 5 (Jakarta: Pustaka Jaya, 200), kita bisa baca lembar-lembar surat berisi potongan-potongan riwayat Gibran dan luapan-luapan perasaan cinta Gibran pada May Ziadah. Berikut salah satu suratnya –di tulis tahun 1926– yang aku kutip dari buku tersebut di hal 93. Semoga tak sekadar menghibur:

***

May sayang,

… Kau berkata bahwa aku adalah pelukis dan penyair. Aku bukan pelukis, May, juga bukan penyair. Aku menghabiskan hari-hariku untuk melukis dan menulis, namun aku tidak menyatu dengan hari-hariku. Aku adalah awan, May, awan yang membaur dengan benda-benda, namun tak pernah menyatu dengannya. Akulah sang awan, dan dalam awan itu terdapat kesunyianku, kesendirianku, lapar dan hausku. Tetapi yang membuat duka hatiku ialah bahwa awan itu, yang menjadi kenyataan diriku, merindukan seseorang yang berkata, “Di dunia ini engkau tidak sendiri, tetapi kita berdua bersama, dan aku tahu siapa dirimu.”

… Katakanlah, May, adakah di sana seseorang lain yang mampu dan rela mengatakan padaku, “Akulah sang awan yang lain. Wahai, awan, marilah kita menebarkan diri di atas bukit-bukit dan di lembah-lembah; marilah kita berjalan-jalan di atas pepohonan dan di sela-selanya, marilah menutup batu-batu karang yang tinggi, marilah menembus hati umat manusia, marilah mengembara ke tempat-tempat jau yang tak dikenal dan berpagar benteng. “Katakanlah padaku, May, adakah seseorang yang mampu dan rela mengucapkan setidak-tidaknya salah satu dari kata-kata ini?

Gibran

***