Pengintai

Dadang Ari Murtono
http://suaramerdeka.com/

“PARA pencemburu itu bisa sewaktu-waktu mengubah setiap orang menjadi pemburu yang tak akan berhenti memburu. Tak akan berhenti. Tak akan berhenti hingga berhasil menancapkan anak panah atau mata tombak ke urat-urat lehermu. Ke urat lehermu. Seperti yang mereka lakukan pada ayahmu.

‘’Seperti ayahmu yang bahkan setelah berhasil mereka rampas nyawanya, tetap tak mereka izinkan tubuhnya ada, tak mereka izinkan jasadnya membusuk dan terurai di kuburan desa. ‘Tanah kampung ini terlampau suci untuk menerima tubuh penuh dosa itu,’ kata mereka.

‘’Lalu mereka potong-potong tubuh ayahmu seperti mereka memotong daging ayam. Dan mereka bakar potongan-potongan itu seperti sate. Seperti sate!”

Selalu saja Kakek mengatakan itu. Berkata dengan irama dan intonasi yang sama. Selalu saja beberapa kalimat dari ucapannya itu diulang-ulang. “Itu agar kau senantiasa ingat bagian mana saja yang paling penting. Bagian mana saja yang paling tragis,” katanya.

Padahal aku sudah teramat hapal dengan cerita itu.
Semua bermula ketika Ayah membuka toko di depan rumah. Toko kecil-kecilan yang hanya menjual sabun, makanan kecil dan sembako. Toko yang dalam jangka waktu tak terlampau lama berkembang menjadi minimarket. Toko yang kemudian oleh orang-orang disebut dimantrai. Toko yang ditumbali di pintu dan keempat penjuru.

Namun itu tak benar. Sungguh. Kakekku seorang yang taat beragama. Jauh sebelum orang kampung lain pergi berhaji, kakekku sudah lebih dulu berhaji. Kakek pula yang mengajari Ayah membaca kitab suci, mengajari doa-doa shalat, mengajarkan untuk tidak syirik dalam bentuk apa pun. Karena ketaatan itu pula, baik Kakek atau ayahku tak pernah mau menerima ajakan penduduk kampung lain untuk meletakkan dupa dan menabur kembang setaman di pundhen desa. Kakek dan ayah tak pernah percaya bahwa dengan menyalakan dupa dan menebar kembang di sana, bakal mendapat barokah, bakal memperoleh kemuliaan hidup dan rezeki terus-terusan seperti yang diyakini oleh penduduk kampung lain.

Kakek dan ayahku pernah begitu dihormati di kampung. Mereka selalu dimintai pendapat setiap rapat menyambut peringatan 17-an, mereka diundang memberi saran sewaktu takmir masjid berkumpul membahas pengajian umum. Setiap yang berpapasan dengan mereka, menyapa, dan membungkukkan badan sedikit.

Namun itu dulu. Dulu sekali. Sebelum tetangga sebelah kanan rumah kami tiba-tiba mati mendadak tanpa sakit atau apa. Tetangga itu mati ketika minum kopi sore-sore di teras rumah sambil memandangi toko ayah yang baru dibangun. Malam hari sebelum kematian, ia bermimpi menjadi tiang cagak toko ayah itu. Dan istrinya, yang pagi harinya diceritai ihwal mimpi itu, langsung meraung sambil menuding-nuding ayah, “suamiku menjadi tumbal. Suamiku menjadi tumbal toko itu!”

Awalnya tak ada yang percaya. Beberapa tetangga malah terang-terangan membela Ayah. Para pembela itu adalah mereka yang berpikir logis. Yang berpikir tak mungkin seorang sebaik dan sesaleh Ayah dan kakekku melakukan perbuatan seperti itu sedangkan untuk pergi ke pundhen saja tidak mau.

Namun istri tetangga itu tetap saja berpikir suaminya mati sebab dijadikan tumbal toko ayahku. Dan pikiran itu seakan mendapat pembenaran beberapa saat kemudian. Tetangga yang lain, tetangga sebelah kiri rumah kami, tiba-tiba saja mati tanpa sebab atau tanda-tanda sebelumnya setelah pada malam hari bermimpi berdiri di halaman toko yang baru saja selesai direnovasi untuk diubah menjadi minimarket.

Kali ini, mau tak mau, suka tak suka, orang-orang percaya bahwa Ayah memang menumbalkan mereka. Sungguh sulit dinalar bagaimana kebetulan-kebetulan yang aneh semacam itu bisa terjadi. Seseorang mati ketika toko itu baru selesai dibangun setelah sebelumnya bermimpi tentang toko itu, perkembangan toko yang terlalu cepat hingga dalam waktu tak sampai setahun, toko yang awalnya hanya kelontong, dapat menjadi minimarket yang lengkap barang dagangan, mulai cabai rawit hingga televisi, mulai sabun mandi hingga obat gatal. Dan seseorang yang kemudian meninggal lagi tanpa sakit atau tanda-tanda sebelumnya tepat ketika renovasi selesai dan malam hari sebelum kematiannya bermimpi pula tentang toko Ayah itu.

Tak ada lagi gunanya pembelaan Ayah. Tak berarti pula isakan Ibu dan permohonan Kakek. Orang-orang yang marah itu berbondong-bondong membawa sabit, cangkul, kapak, pikulan, dan banyak peralatan pertanian lain yang tajam-tajam. Mereka tak hendak pergi ke sawah. Mereka mendatangi rumah kami. Mereka merusak toko kami. Mereka menjarah apa-apa yang ada di sana. Mereka juga mengambili segala sesuatu yang ada di rumah kami. Mereka menuding-nuding kami sambil memaki dan mengutuk, berteriak dan menyumpah.

Dan pada puncaknya, mereka menyeret Ayah ke halaman. Terus ke jalan kampung. Terus mengelilingi kampung. Terus memukuli Ayah. Terus menggoresi tubuh Ayah. Para perempuan menggoresi dengan pisau dapur, para lelaki menggoresi dengan sabit dan cangkul, sesekali dengan sundutan rokok.

Ayah tak kuasa melawan. Ibu pingsan di ambang pintu rumah. Kakek berteriak-teriak tak jelas. Aku menangis menggerung-gerung memanggil-manggil Ayah, memanggil-manggil Ibu, memanggil-manggil Kakek, memanggil-manggil tetangga-tetangga yang ikut menyeret-nyeret Ayah. Tapi tak ada yang menoleh, apalagi datang seperti biasanya sewaktu aku menangis meminta mainan atau jajan. Aku masih lima tahun waktu itu. Masih belum bisa mencerna apa yang terjadi dan kenapa Ayah diperlakukan seperti itu, seperti penjahat dalam film koboi yang pernah kami tonton di layar tancap lapangan desa beberapa waktu sebelumnya. Namun aku merasa Ayah tengah kesakitan dan tidak sedang bermain film koboi. Aku juga merasa ibu dan kakek sangat bersedih. Karena itulah aku menangis. Menangis keras-keras.

Perlu bertahun-tahun bagiku untuk mengerti kejadian itu. Untuk mengerti kenapa Ayah tak pernah lagi kembali dan kenapa Ibu dan Kakek selalu mengajakku menabur bunga di halaman ketika orang lain menabur bunga di kuburan tiap Jumat Kliwon, tiap menjelang Puasa, tiap menjelang Idul Fitri.

“Sebab ayahmu tak berkubur,” jawab ibuku, “Sebab jasad ayahmu menguap bersama angin.”

Dan Kakek menambahi, “Ayahmu korban dari rasa cemburu. Rasa cemburu yang teramat dalam dari para pengintai. Dan para pengintai itu adalah orang yang cerdas. Mereka tak mau bersusah payah turun menghabisi ayahmu dengan tangan mereka sendiri. Mereka menghasut orang-orang. Mereka menciptakan pemburu yang kemudian memburu ayahmu. Mereka itu para pencemburu yang berbahaya. Para pencemburu yang telah lama mengintai ayahmu.”

“Siapa para pencemburu itu? Siapa para pengintai itu?” tanyaku.

“Mereka yang merasa terancam oleh ayahmu. Mereka yang iri melihat keberhasilan ayahmu.”

Lalu Kakek dan Ibu saling bertangisan begitu kusampaikan niatku membuka toko lagi. Membuka toko yang dulu pernah menyebabkan Ayah dirajang-rajang seperti rajangan bawang merah.

Dan Kakek mulai mengulang-ulang cerita lama. Mengulang-ulang kematian Ayah. Mengulang-ulang cerita para pencemburu, para pengintai, dan para pemburu.

“Para pengintai itu sedang bersiap-siap. Mereka menunggu waktu yang tepat untuk mengerahkan para pemburunya.”

Aku bosan dengan cerita-cerita itu. Aku muak mendengar perihal itu. Aku tak peduli pada semua itu. Aku hanya ingin menjaga dan merawat warisan ayahku. Warisan yang dulu dibela Ayah dengan nyawanya sendiri.”

Maka jadilah aku membuka toko itu. Dan hanya beberapa jam saja setelah toko itu kubuka, seorang tetangga tiba-tiba meninggal. Orang-orang yang melayat memandangku sinis. Kakek dan ibuku kian keras menangis dalam rumah.

Namun orang-orang itu hanya melayat. Benar-benar melayat. Mereka datang membawa seember beras dan amplop berisi uang layatan sebagai tanda duka cita bagi keluarga yang ditinggalkan tetanggaku itu. Mereka tak membawa sabit atau cangkul. Mereka juga tak menyelipkan pisau atau parang di balik baju mereka seperti ketika dulu mereka mendatangi ayahku.

Hanya malam harinya, aku bermimpi. Mimpi tentang beberapa pasang mata yang teramat besar. Mata-mata yang melihatku dengan tajam, dengan dendam dan cemburu. Dan dari mata-mata itu pula melesat anak panah dan mata tombak yang mengoyak jantungku, menetak urat leherku.

Dalam mimpi itu pula, Kakek berteriak, “Itu mata para pengintai!”.