Turun Malam

Asaroeddin Malik Zulqornain
http://www.lampungpost.com/

DI jelang pagi manis bangkit dari baringnya nun dari balik perbukitan hijau yang menelikung kota: Bukit Wan Abdurrahman; sepasang merpati tua, Tamong Mandok dan Minan Itun turun dari rumah panggungnya di Pekon Lempasing yang berpantai pada ceruk teluk laut penuh plankton yang bila malam tiba seakan bintang gemintang turun dari langit malam, menaburi kawasan Teluk Lampung bagai kunang-kunang, itulah geliat para pencalang laut sejati yang tengah asyik memperdaya ikan-ikan dengan menebar jala, mata kail, lampu petromaks, dan doa-doa. Sebagai pencalang laut sejati, seperti halnya Mandok; di laut mereka berjaya tapi di darat mereka senantiasa diperdaya oleh para tengkulak. Sungguh pun demikian, mereka tetap setia menarikan tarian hidupnya sebagai kunang-kunang Teluk Lampung!

Akan halnya sang istri, Minan Itun akan berpisah dengan sang suami, bergabung dengan ayunan puluhan pasang kaki telanjang lainnya menerabas jalan setapak yang masih berembun dengan menating pelita bambu sambil punggung menggendong atau bahu memikul hasil huma masing-masing untuk melakoni peran Turun Malam. Kelak di pasar-pasar tradisional para petani dan pencalang itu akan bersinergi “menyuapi” warga sekota yang masih lelap dibuai mimpi. Sungguh suatu kota yang menjanjikan berjuta pesona!

Pesona kota itulah yang barangkali membius tiga orang putra mereka: Pipin, Pitut, dan Pido untuk merantau ke negeri impian, sungkan mengikuti jejak mereka, sungguh pun di kota besar, mereka cuma hidup sebagai karyawan kecil bergaji pas-pasan, dan hal inilah yang membuat sepasang merpati tua itu merasa kesepian di hari tuanya.

“Mereka sudah mulai melupakan kita, Bang…,” cetus Minan Itun Lirih di jelang Minggu petang lalu ketika dipastikan salah seorang dari putranya itu tidak ada yang datang mengunjungi mereka.

“Ya sudah…,” sambut Tamong Mandok sambil mengembuskan asap rokoknya, “Mungkin mereka sibuk dengan urusan keluarga masing-masing.”

“Tapi mereka kan anak kita?” sambut istrinya cepat. “Tidak bisakah mereka menyenangkan kita? Meluangkan waktunya untuk menjenguk kita? Sebagai tanda bakti seorang anak? Kan kita tidak minta apa-apa dari mereka, kita cuma minta mereka dengan anak dan istrinya datang, itu saja kok tidak bisa?” lanjut Minan Itun kelu. Tamong Mandok enggan menjawab, karena beduk magrib telah bergema, turun dari rumah panggung untuk salat berjamaah di masjid.

Pipin, Pitut, dan Pido dipastikan akan pulang kampung jika mereka membutuhkan tambahan biaya hidup di kota. Sebagai orang tua, sudah barang tentu tidak ingin hidup anaknya susah. Beragam alasan yang harus mereka telan. Mulai dari sewa rumah, biaya mantu melahirkan, sampai ke biaya cucu sekolah sepertinya sudah menjadi garis tangan kehidupan sang pencalang dan istrinya untuk terus berpendar sebagai matahari yang hanya wajib memberi tapi tak patut menerima. Sungguh pun sebagian harta dan tenaga mereka sudah habis terjual untuk biaya sekolah dan pernikahan ketiga putranya.

Untuk itu mereka harus terus hidup berhemat, karena yang kini tersisa cuma rumah panggung, perahu kecil, sebidang huma, dan empat pasang tangan keriput dimakan usia. Yang penting bagi keduanya setia dan ikhlas menjalani peran sebagai sang pencalang laut dan bidadari turun malam sampai maut menjelang!

Membesarkan titipan Tuhan dengan rezeki halal dari air bergaram dan kehijauan, sepatutnya hari tua mereka menjanjikan, atau setidaknya menikmati buah yang telah mereka semai dari kerja keras berpuluh tahun lewat bakti dari ketiga putranya, seperti yang sering mereka saksikan dari beberapa tetangga di Pekon Lempasing. Sayang garis tangan keduanya beda dengan beberapa tetangganya, mereka berdua tetap abadi sebagai sang pencalang tua dan bidadari tua turun malam. Sisa sisa tenaga tua mereka terus memintal hari esok dengan terengah-engah dan sama sekali tak terpikirkan untuk purnabakti dari dinginnya gelinjang gulita berembun dan cekaman air bergaram!

Semula pernah keduanya berangan, bahwa ketiga putranya itu setelah indekos bertahun-tahun untuk menuntut ilmu di kota. Setelah tamat, bisa kerja sebagai pe-en-es atau polisi, beristri cantik, punya mobil, tiap minggu datang menjenguk, syukur-syukur dinaikkan haji. Sayang hal seperti itu cuma igau. Ketiganya memang telah berhasil tamat sekolah, kerja swasta, beristri, tetapi cuma hidup pas-pasan, rumah pun masih ngontrak nun di kota besar sana! Angannya jauh panggang dari api.

“Kita berdua tak sekolah, nyatanya bisa menghidupi anak kita ya Bang?” cetus Minan suatu waktu.

“Karena kita kerja keras sebagai nelayan dan petani,” sambut suaminya.

“Coba kalau mereka bertiga pulang kampung saja, kerja seperti kita, tentu mereka tak perlu susah mikir biaya kontrak rumah, dan pasti mereka bisa hidup, karena kita masih punya laut dan gunung kan Bang?”

Tamong Mandok tersenyum.

“Tapi mereka sungkan hidup sebagai orang kampung. Maunya jadi orang kota terus. Mau apa lagi?” sambutnya dengan nada getir.

Sang bidadari renta itu tetap turun malam, menggendong hasil humanya dan terkadang bersua dengan sang suami: si pencalang laut renta di pasar tradisional guna menyuapi warga kota dengan ikan dan sayuran justru ketika warga kota masih lelap di buai mimpi, hasilnya sebagian ditabung untuk menyuapi ketiga putranya suatu waktu. Lagu hidup ini terus mengalun merdu dalam daur ulang hidup dan kehidupan sepasang merpati tua itu.

Tampaknya sang waktu tak selalu seirama dengan ayunan langkah sepasang merpati tua itu. Salah satunya harus digerus waktu dan Izrail lebih suka memilih sang pencalang laut sejati: Tamong Mandok! Peristiwa itu terjadi sebulan lalu, kini sang bidadari renta harus menjalani takdirnya sendiri di medan waktu entah sampai kapan!

Minan Itun bertekad tetap turun malam sebagai bidadari renta yang menyuapi warga kota, seperti halnya di malam ke empat puluh berpulangnya sang pencalang, sungguh pun ketiga anaknya bermalam di rumah panggungnya guna membahas hari tuanya.

Ketika gulita menggigil di selimuti embun, sang bidadari bersijingkat turun dari rumah panggungnya, menuai laku turun malam, melewati ketiga tubuh putranya yang pulas dibuai mimpi, dia tidak berjalan tapi terbang dengan jung milik sang pencalang. Perahu itu dipenuhi beragam hasil huma yang serbahijau. Terbang membelah langit malam dengan setia. Di bawahnya berpendar perahu nelayan bermandikan cahaya petromaks guna memperdaya ikan-ikan Teluk Lampung,

“Bang…,” gumamnya kelu, “Izinkan aku tetap menyuplai warga kota dengan sayuran dari huma kita. Aku ingin tetap berhuma, ingin tetap berbagi kehijauan dengan warga kota, sungguh pun ketiga putramu sepertinya akan menghalangiku dengan segala cara. Tapi aku tetap ingin berumah panggung, tetap berhuma, tetap ada di dekatmu…”

Perahu itu kini terbang memasuki kawasan perkotaan. Satu per satu rumah tinggal anaknya disinggahi. Dilihat mantu dan cucunya berdesakan dalam tiga rumah kontrakan di tiga sudut kota yang kumuh dan sempit.

“Bagaimana mungkin aku akan hidup di kota, Bang? Ketiga putramu pun hidup berdesakan di perumahan kumuh. Aku disuruh tinggal di rumah mereka. Berhenti menyuapi warga kota, dan cuma menyuapi cucu-cucuku saja. Sepertinya tak mungkin, Bang…,” rintihnya sambil terus berputar-putar di kawasan perkotaan sambil membagi-bagikan sayuran hijau ke segenap warga kota dengan gratis.

“Aku takkan mungkin mau menuruti permintaan ketiga putramu itu, Bang…,” rintihnya sambil kembali ke pekonnya di Lempasing. “Aku bagaimanapun juga tak ingin berpisah dari engkau dan rumah kita, Bang!”

Dan ketika pagi manis bangkit dari balik laut Teluk Lampung, saat ketiga putranya meminta kepastian Minan Itun untuk memenuhi permintaan mereka. Dengan nada pasti, sang bidadari renta turun malam itu bertutur, “Bunda tetap turun malam dan berhuma.”

“Bunda sudah tua, sudah saatnya beristirahat,” ujar Pipin.

“Bunda mesti hidup di kota,” tambah Pido.

“Bunda sekarang sakit-sakitan dan tak ada yang memperhatikan,” timpal Pitut.

“Terima kasih, putra-putraku. Jadilah anak yang berbakti. Biarkanlah jung, huma, dan rumah panggung ini tetap jadi milik Bunda. Toh tak lama lagi Bunda akan menyusul Bapak kalian. Setelah itu baru kalian bebas untuk berbuat apa pun termasuk menjualnya, tapi tidak sekarang.”

“Bunda…?”

Sukamaju, 101210