5 Jam Bersama

Jayaning S.A

“Gimana? Nggak apa-apa Bapak tinggal disini?” Bapakku tersenyum.
“Nggak apa-apa. Bapak pulang aja,” jawabku.

Lagi, untuk yang kesekian kalinya aku minta ditinggal sendiri. Aku ingin belajar menghadapi sendiri, dengan segala carut marutnya. Oh ya, perkenalkan, aku seorang mahasiswi yang tinggal di bagian timur pulau Jawa, di desa kecil di pinggiran kota yang juga kecil.
***

Lewat 25 menit dari waktu yang dijadwalkan, bel pengumuman dibunyikan.
“Pengumuman, pengumuman, kereta api tujuan akhir Malang akan segera tiba di jalur satu. Para calon penumpang diharapkan berdiri di luar garis pembatas. Ehm…ehm…Sekali lagi, kereta api tujuan akhir Malang akan segera tiba di jalur satu. Calon penumpang diharapkan berdiri di luar garis pembatas.”

Hampir serentak, tanpa komando, orang-orang bergerak mendekat ke jalur satu. Beberapa menyeberang ke sisi kanan jalur. Aku dan seorang teman yang baru saja kukenal di stasiun ini ikut menyeberang. Orang-orang itu berjejer sepanjang sisi kanan kiri jalur. Aku menerobos mereka kemudian ngeloyor duduk di bangku yang mereka tinggalkan. Duduk. Temanku menghampiri.

“Kenapa?”
“Aku malas berdesak-desakan. Tak aman buat barang-barangku.”
Suara orang-orang itu ribut, mendengung seperti lebah di kepalaku. Aku termangu. Kata seorang bijak, seseorang yang pintar tak hanya mengisi waktu, tapi memanfaatkan waktu. Kalau seperti ini?!

Tak sampai lima menit, tumbukan besi-besi rel dengan roda kereta yang menekannya terdengar bergemuruh dari kejauhan. Akhirnya, batinku.

Butuh waktu beberapa menit sebelum kereta benar-benar berhenti. Orang-orang yang menant sedari tadi segera merangsek ke dalam gerbong. Seorang petugas berseragam biru tua lewat. Postur tubuhnya tinggi besar-lebih dari 170 senti kupikir, berkumis tebal. Warna kulitnya gelap.

Aku berdiri di antrian paling belakang gerbong ketiga. Petugas itu berhenti tepat di gerbong sebelah kananku. Tangannya menggenggam ke belakang, berdiri tegak di belakang antrian. Seperti tentara.

Tiba-tiba suaranya menggelegar, ”Ayo Mas, Mbak, beri jalan buat yang turun. Beri jalan buat yang turun.” Upaya penertiban penumpang, gumamku. Paling-paling ada yang mau turun tapi tak bisa karena yang mau masuk berjubel.

”Mas, sampeyan nek ora iso diomongi, tak seret sampeyan.” Suara petugas itu menggelegar lagi. Aku menoleh. Calon penumpang yang kebanyakan anak-anak muda menyingkir memberi jalan.

Tampak Ibu berusia sekitar separuh baya turun. Seseorang menurunkan tas besar dari belakang, dan si Ibu menerimanya dari bawah. Tas besar yang berat kukira. Si petugas bantu mengangkat. Dan turun setelahnya seorang Bapak yang terlihat lebih tua dari si Ibu, kemudian mereka mengangkat tas itu bersama.

Pantas si petugas marah-marah. Bapak Ibu setua itu pasti payah melawan jubelan orang yang merangsek masuk. Anak-anak muda apalagi. Kalah tenaga. Nilai seratus untuk PT Kereta Api. Petugas luar biasa memang dibutuhkan untuk mengatasi penumpang yang luar biasa pula.

Tak jauh dari situ, petugas KA lainnya melambai-lambaikan tongkat berujung bulat warna hijau tinggi. Kusodok temanku.

“Apa maksudnya?”
“Saatnya kereta berangkat.”
Ada empat orang di depan kami yang masih antri. Gerbong kananku antri juga, plus diawasi petugas besar itu. Gerbong kiri tinggal satu yang antri. Kutepuk pundaknya.

“Kita ke sana,” kataku sambil menunjuk ke gerbong kiri.
Kami langsung lari kesana, lalu naik. Tepat saat kaki kananku menginjak lantai gerbong, kereta bergerak. Kaki kiriku yang tertinggal segera kuangkat dan kudaratkan dengan nyaman di lantai besi itu.

Nyaris. Kaki kananku terlambat lima detik saja mungkin aku sudah jatuh dan terseret. Dan jika dalam rentang lima detik itu tanganku belum mencapai pegangan pintu, mungkin aku akan termasuk orang-orang yang berlari karena ketinggalan kereta. Fiuh…benar-benar demi angkutan rakyat 5000 saja.

Temanku mengerling. ”Tepat waktu.”
Kuedarkan pandang sekeliling. Sungguh. Cukup nyaman sekedar untuk bernafas. Tak perlu bertanya apakah akan mendapat kursi atau tidak. Dispekulasikan seperti apapun, pasti jawaban dan kenyataannya adalah tidak. Ini stasiun keempat dari stasiun pemberangkatan. Dan hari ini adalah hari terakhir libuaran semester ganjil.

Koridor kereta cukup lapang siang ini. Kamipun masuk. Di samping pintu kami berhenti. Seorang ibu dan putra kecilnya yang duduk berdampingan melihat kami. Kemudian si ibu membisiki putranya sesuatu, dan sang putra duduk di pangkuan ibunya.

”Mari duduk, Mbak,” tawar Ibu itu.
Kusorong temanku, dan duduklah ia. Awalnya ia ragu. Kemudian kuanggukkan kepala tanda persetujuan, dan diapun tersenyum.

Seorang gadis berjilbab yang duduk di depan temanku menjawilku.
”Duduk disini saja Mbak,” katanya sembari bergeser merapat ke teman di sebelahnya. Ditunjukkannya palang besi pinggiran kursinya. Kuucapkan terima kasih. Gadis itu tersenyum. Berbagi memang menyenangkan. Setidaknya lebih baik daripada terus berdiri sepanjang jalan.

Stasiun kelima. Kereta berhenti. Lima orang lewat di depanku, berbelok ke pintu gerbong, kemudan turun. Tujuh orang masuk lewat pintu di dekatku, berjalan ke tengah gerbong. Semakin banyak penumpang yang berdiri.

Kereta mulai berjalan. Sebagian penumpang masih saja berseliweran dengan barang-barang mereka. kutengok kanan kiri, seorang Bapak tua bersandar di pintu gerbong sebelah dalam, di dekatku. Pakaiannya seadaya, beralas sandal jepit, sambil menggenggam erat bungkusan plastik putih. Duduk di tangga naik kereta sebelah dalam seorang Ibu tua dengan anak lelaki kecil di sampingnya.

Curi-curi kutatap lagi bapak tua itu. “Betapa teganya kau biarkan bapak itu berdiri, Rani, sedang kau enak-enakan duduk.” Satu suara membisik di telingaku. Mungkin malaikatku sedang memberi nasehatnya. Kenapa aku yakin ini suara malaikat? Karena suara ini menyuruhku berbuat baik, padahal dua teman yang dihadirkan Allah menemani manusia di sisi kanan dan kirinya toh malaikat juga.

Lalu setanku membentak, “Siapa yang duduk enak-enakan hah?! Tak tahu kau pantat si Rani ini sudah sakit tak karuan.” Malaikatku ngiyem, lalu menyahut kalem, “Kalau begitu, berikan saja tempat dudukmu pada Bapak tua itu, Ran.”

Tanpa memberikan kesempatan bagi perubahan pikiran, aku berdiri dan menyilahkan bapak itu duduk di singgasanaku.
“Tidak Nak, terima kasih.”
“Nggak apa-apa, Pak,” kubujuk dia.

“Tidak Nak, terima kasih.” Ia menolak. Aku duduk lagi. Oh bapak, kenapa tak kaubiarkan aku berdiri. Pantatku sakit sekali, rutukku.

Rasa sakit itu tak terhairaukan sepanjang perjalanan menju stasiun kelima. Beberapa kali mataku terkatup. Hal-hal yang kupikirkan samar-samar menghilang. Aku sampai lupa, tadi aku sedang berfikir apa ya.

Dengan perjuangan kubuka mata. Kukatakan pada temanku, ”Aku ke dalam.” Dia mengangguk.

Aku tahu mungkin tak ada tempat duduk kosong. Aku memang tak berniat mencari itu. Aku butuh berdiri. Aku harus mengembalikan kesadaranku yang hampir lenyap.

Kata sebuah teori, fungsikanlah seluruh alat indra jika menginginnkan hasil yang maksimal.

Yups, benar sekali. Berdiri dengan kepala kosong akan membuat kantuk itu hadir lagi. Akhirnya, kuputuskan menelusuri tiap inchi pemandangan hijau yang terhampar, sambil berdendang lirih. Mempekerjakan mulut dan pikiranku. Tapi…

Bosan aku dengan penat
Dan enyah saja kau pekat
Seperti berjelaga bila kusendiri

Dian Sastro, seratus buat kamu. Lagumu mewakili keruwetan di benakku. Ide-ide hasil amatanku muncul bertubi-tubi minta ditindaklanjuti dengan aksi. Bagus kalau munculnya mau antri, kemudian mundur setelah mencoretkan maksudnya di kotak memori dalam syaraf-syaraf di otakku minta ditindaklanjuti. Sayangnya mereka bandel-bandel. Semuanya serempak maju ke depan, berjajar. Ibaratnya antrian tiket, petugas loket jadi bingung mana yang harusnya dilayani lebih dulu.

Aktivitas indraku berhenti. Jenuh menyergap sedemikian pekat, menyebarkan awan gelap yang membungkus pikiran sedemikian padat. Mampat. Pikiranku penuh. Ah, aku jadi merasa bodoh.

Segerombolan anak muda bercanda ria di sisi kananku. Kelihatannya mereka sudah akrab. Termangu sebentar, kantukku hadir lagi.

Di stasiun kelima, satu penumpang di depan tempatku berdiri turun. Pemuda yang berdiri menyandar di samping penumpang itu tak sadar. Kududuki saja. Baru beberapa menit kemudian ia menyadari bahwa penghuni tempat duduk di sampingnya sudah berganti. Dia tersenyum padaku, kusenyumi pula ia.

Bapak yang duduk di depanku membentangkan koran. Dipasangkannya kacamata di atas hidung. Sepertinya bapak ini sedang memfungsikan lensa plus kacamatanya. Kutaksir, usianya enam puluh tahun-an. Ibu yang duduk di sampingnya tertidur pulas. Kain bajunya kebaya, tapi dijahit model baju jaman sekarang.

Perempuan muda di sampingku sedang tertidur pulas ketika keributan lamat-lamat terdengar.

”Kenapa Mbak?” tanyanya.
”Nggak tahu.” aku berdiri, bertanya pada seorang penumpang yang berdiri.
”Disuruh pindah ke gerbong lain katanya. Roda gerbong ini ada yang copot.”
Apa ??!!

Dan antrian dimulai lagi. Mayoritas memilih masuk lewat gerbong yang tersambung dengan gerbong yang sekarang akan dilepas.

Hampir lima menit berlalu, belum separuh antrian yang bisa masuk. Padahal jika sesuai dengan jadwal, rentang waktu kedatangan dan pemberangkatan hanya lima menit.

Gelisah, kurangsek orang di sebelah kiriku. Aku harus keluar. Beberapa orang yang kudesak melirik sinis. Aku tak peduli. Kita punya kepentingan sendiri-sendiri, Bung.

Tak ada tangga penurunan penumpang. Aku duduk dengan posisi kaki melambai bebas di luar kereta, lalu loncat. Segera setelah kedua kakiku menginjak tanah, aku berlari ke gerbong-gerbong depan. Tak ada yang longgar. Tapi pilihan harus dijatuhkan. Di pintu gerbong paling depan, aku merangsek masuk. Kuusahakan memanfaatkan celah terkecil sekalipun.

Tak ada lirikan-lirikan sinis. Sudah seharusnya tiap penumpang sadar dengan situasi ini.

Bingung. Di kanan kiri hanya ada celah-celah sempit di antara himpitan tubuh-tubuh manusia. Tapi aku tak mungkin berdiri di tengah orang-orang seperti ini. Aku harus dapat pegangan.

Kulihat ada ruang kosong di sambungan gerbong ini dan belakangnya. Kutanya orang yang bersandar dekat ruang itu kenapa tak ditempati. Dia bilang takut karena ruang itu di atas sambungan gerbong. Aku ber-ohh ria, kemudian kutempati. Kusandarkan punggungku. Nyaman.

Sepuluh menit aku berdiri, kereta tak jua beranjak. Ada apa gerangan. Kutanyai lagi perempuan yang tadi.
”Nggak tahu. Mungkin jadwalnya tabrakan dngan kereta lainnya.”
”Ohh…!” aku ber-ohh ria lagi.

Orang yang berdiri di depanku tersenyum. Mm…reaksi paling mudah kupikir, atas peristiwa wajar yang selalu berulang.

Lima menit ketiga berlalu. Suara kereta menyalak dari kejauhan. Sebentar lagi, pikirku. Sungguh, aku tak sempat lagi berfikir untuk mengamati orang di sekelilingku satu-persatu. Entah untuk bahan telaah kuliah, atau untuk bahan tulisanku. Aku tak peduli. Aku akan peduli lain kali.

Tak bisa kulihat rupa kereta itu. Warnanya merah, kuning, hijau, pelangi, apapun, terserah. Aku –dan kami- hanya ingin satu : kereta ini cepat berangkat.

Tapi…!
Lima menit keempat berlalu. Kereta ini masih diam. Kegelisahanku memuncak. Aku jongkok sambil bersandar. Allah, tolong ampuni hambaMu yang tidak sabar, desisku.

Kuamati wajah-wajah di sekitarku. Wajah-wajah lelah yang tak peduli. Sudah biasa, lupakan saja. Di beberapa sudut terdengar obrolan. Dan kebanyakan memilih diam.

Silih berganti pedagang asongan naik. Kemudian pengemis cacat, kemudian tukang sapu. Diikuti petugas pengecek karcis, petugas restoran kereta-beberapa bulan terakhir dioperasikan kereta api yang punya restoran, sehingga pedagang asongan tidak boleh berdagang di dalam, kemudian wajah-wajah kuyu.

Dan tes…tes… Air mengaliri rongga-rongga di atas sambungan gerbong. Makin lama makin deras. Aku yang berdiri di atas sambungan bergeser masuk ke dalam gerbong, mendesak orang-orang yang juga sama terjepit.

Makin lama hujan, lantai yang kami pijak tergenang. Becek. Baju belakangku basah. Jaket yang dipakai Bapak di depanku juga basah. Tiba-tiba, dua orang pengamen berdiri di belakangku, di ruang kosong sambungan yang tadi kutinggalkan. Topi yang mereka kenakan basah.
Tuhan, apa Engkau sedang ingin membuat adonan?
***