Berawal dari Sebuah Senja

Seno Joko Suyono, Rini Sri Hartini
http://majalah.tempointeraktif.com/

Suatu sore di tahun 1998. Jemaah gereja GPIB Taman Cibeunying, Bandung, tampak tekun mendengarkan khotbah pendeta. Tapi seorang jemaah merasa gelisah. Seurai sinar matahari senja yang masuk melalui jendela mengubah ruangan itu menjadi kuning dan seketika perasaannya tergetar. Aneh. Ia tak kuasa menahan gejolak hatinya. Dari beranda gereja, pohon-pohon itu menutupi pandangan lepasnya ke cakrawala. Dengan mobilnya, ia segera mengejar senja. Dia berhenti di Jalan Sumatra, yang terbuka karena dilewati rel kereta api yang panjang, untuk sekadar menikmati cahaya kuning itu selama tiga menit. Toh pemandangan sesingkat itu membuatnya bergetar. Luluh. Tuhan ternyata bisa dinikmati tanpa liturgi. Semenjak itu, ia mengisi sore dengan memanjat loteng rumah untuk menatap senja.

Namun, kini kita tidak tahu, apakah menjelang magrib ia masih naik ke loteng, karena akhir-akhir ini Dee (Dewi Lestari), 25 tahun, sang gadis pemburu senja itu, lebih sibuk dengan urusan novelnya berjudul Supernova, yang melambungkan namanya jauh melebihi namanya di bidang tarik suara, yang ditempuhnya dalam trio RSD (Rida, Sita, Dewi).

Lihatlah di rumah kontrakannya di Bukit Dago Utara di kawasan Bandung Utara, kini dia sibuk naik-turun tangga mondar-mandir meladeni para pemilik kios buku. Senin pekan lalu, misalnya, meski baru usai luluran, dengan mengenakan celana pendek katun pudar dan kaus oblong lusuh, dengan sukarela Dee membuka kardus-kardus besar yang berisi puluhan buku. Menghitungnya, menulis faktur dan bon untuk pedagang-pedagang dari pasar buku Lodaya sembari jongkok di lantai. Maklum, buku ini memang diterbitkan dan didistribusikan secara “manual”. Artinya, dia tak menggunakan jasa penerbit dan distributor besar.

Rumah kontrakan mungil 10 x 8 meter di Patrakomala 57, Bandung, itu adalah tempat Dee “mengasingkan diri” mencari inspirasi untuk lagu-lagu dan novelnya. Tampak perabotan mewah ruang tamunya hanyalah TV kecil 14″ dan satu set radio tape DVD. Di pojok ruangan itu, dia meletakkan rak sepatu bot kesayangannya. Semua karpet, sofa, kursi malas, bantal, gorden, diselimuti warna putih, hitam, dan abu-abu. Di rumah itulah buku yang mengulas seretonin, paradoks kucing Schrodinger, turbulensi, bifurkasi, dan aneka buku berisi konsep-konsep fisika berserakan dan kemudian kini bertebaran (secara verbal) di sekujur novel Supernova. Simaklah buku yang dibacanya: Turbulent Mirror, An Illustrated Guide to Chaos Theory and the Science of Wholeness karangan John Briggs & F. David Peat, Thought as a System karya Davis Bohm, Synchronicity The Bridge Between Matter and Mind besutan David Peat, dan The Selfish Gene karya Richard Dawkins.

Bagaimana penyanyi ini melahap buku-buku itu? Sampai di mana alumni hubungan internasional Universitas Parahiyangan ini mampu memahaminya? Ia mengaku setelah peristiwa senja itu makin timbul pergolakan dalam batinnya. Terkadang, malam-malam, ia tergeragap bangun karena pecahan-pecahan pemikiran yang mengunjunginya. Mulailah ia menyuruk-nyuruk mencari buku agama apa pun: Hindu, Buddha, Islam. Selama satu setengah bulan ia berkali-kali datang berdialog dengan seorang habib Syiah di Bandung. Tak mengherankan jika teman-teman Dee bertanya-tanya apakah Dee masuk Islam. Suatu kali tanpa sengaja di pertokoan Sogo, Jakarta, ia menemukan buku A Conversation with God karya Nielle Donald Walsch. Saat dibaca dalam kereta api perjalanan pulangnya ke Bandung, air matanya meleleh terus, terharu. “Membaca buku itu saya sadar bahwa saya tidak gila,” tutur Dee.

Toh ia akhirnya merasa butuh suatu ritual. Lima bulan terakhir ini, secara rutin Dee ikut yoga di bilangan Dago. “Saya butuh ritual setelah setahun lebih tidak ke gereja,” demikian ia mengaku kepada TEMPO. Guru yoganya adalah seorang pria warga negara Hungaria dari aliran Ananda Marga.

Mungkin saat ini, Dee adalah penulis Indonesia yang paling aktif mendapat undangan diskusi. Agendanya penuh sesak di Jakarta dan Yogya. Semua diladeni. Mulai dari undangan berbicara di Fakultas Teologi Universitas Duta Wacana Yogya, IAIN Jakarta, hingga Fisika UI. Ia juga sempat makan malam dengan novelis Jepang Ikezawa Natsuki, peraih hadiah Akutagawa, untuk bertukar pikiran dengannya.

Apa pendapatnya terhadap diskusi-diskusi Supernova? “Bedah buku saya seperti mutilasi. Mereka seperti dokter yang dengan peralatannya siap mengobrak-abrik. Saya tidak setuju itu. Saya kecewa dengan diskusi yang berkembang di Yogya dan Jakarta itu,” ujarnya terus terang. Menurut dia, semua kritik itu tak akan mengubah selera, gaya, dan konsep pemikirannya. “Kritik teknis okelah, yang begitu saya butuhkan,” kata penyanyi yang masih suka berjingkrak mengikuti musik Gypsi Can di Vam Station serta ngantre tempe bacem Ibu Eha di Pasar Cilaki Bandung itu.

Ketika reporter TEMPO memberi tahu bahwa novel Supernova diresensi di majalah ini dengan sikap kritis oleh Nirwan Ahmad Arsuka seputar pemahaman Dee yang kurang kena atas teori-teori fisika itu, seketika Dee menjawab, “Jangan salahkan saya, itu kan pendapat buku-buku yang saya baca.”

Dee yakin bahwa pemahamannya tak meleset, karena pergulatannya juga tidak main-main. “Boleh kan saya membalas kritik itu nanti? Saya bisa mengkritik lebih tajam dari yang mengkritik,” katanya tegas. Tenang, Dee, kritik sastra bisa lahir karena sebuah karya dihargai untuk hidup.

02 April 2001