Blunder Hitler di Barbarossa

Peresensi: Muhammad Amin
http://www.riaupos.com/
Operasi Barbarossa Ketika Hitler Menyerang Stalin
Penulis: Ari Subiakto
Penerbit: Narasi, Jogjakarta
Cetakan: Pertama, 2008
Tebal: 168 halaman

Bagi penguasa diktator semacam Hitler, perang adalah hobi sekaligus jalan untuk meraih ambisi. Tak peduli untuk mencapai ambisinya itu, akan banyak nyawa melayang, baik di pihak tentaranya maupun lawan.

Ketika Hitler sudah menyatakan tekatnya, maka semua harus ikut. Hitler sejak lama memang berniat menguasai dataran Eropa di satu puncak kekuasaan miliknya. Tekat itu yang terus mengkristal dari waktu ke waktu tanpa memikirkan kemungkinan terburuk yang menimpanya.

Setelah hampir menguasai Eropa bagian Barat, Hitler kemudian melirik Eropa Timur yang dikuasai Uni Sovyet. Bagi Hitler, Sovyet dengan paham komunisnya merupakan ancaman serius dari Timur. Dan ia yakin jika Jerman yang dipimpinnya tak lebih dahulu melakukan serangan ke front Timur, maka Sovyetlah yang akan menyerang mereka.

Namun Sovyet tidak seperti beberapa negara lain yang mudah ditaklukkan. Di bawah kendali penguasa yang tak kalah kerasnya, Stalin, Sovyet adalah kekuatan yang berbahaya. Jenderal-jenderal Jerman sudah mengingatkan Hitler bagaimana dahsyatnya kekuatan militer negeri itu. Sovyet memiliki tentara merah (Red Army) yang dikenal memiliki semangat juang tinggi. Jarak tempuh yang jauh, dan kondisi cuaca bersalju yang ekstrem diprediksi akan menjadi kendala serius bagi tentara Jerman (Wehrmacht) dalam menghadapi Tentara Merah.

Tapi Hitler tak peduli. Ia membuat blunder di perang Eropa Front Timur (Eastent Front) ini dengan memaksakan kehendaknya. Kelak, kegagalan Hitler di front inilah yang memicu kekalahannya di berbagai front perang Eropa, hingga akhirnya pasukan sekutu pimpinan Inggris dan Amerika menghancurkan kekuatan Hitler.

Barbarossa adalah nama sandi untuk serangan pasukan Hitler ke Sovyet. Nama itu diambil dari nama tokoh bangsa Teutons di abad pertengahan yang menjadi idola Hitler, Frederick Barbarossa. Serangan dimulai pada 22 Juni 1941. Dengan mengerahkan seluruh pasukannya, Hitler mulai membombardir Sovyet. Ada 3 juta pasukan dengan peralatan lengkap dari darat dan udara yang menyerang basis-basis Tentara Merah.

Jerman mengerahkan pasukannya dengan taktik Blitzkrieg yang terkenal dengan gerak cepatnya. Namun Tentara Merah ternyata tak mudah menyerah. Tentara Merah memang masih kurang dari segi senjata dan strategi, namun jumlahnya yang jauh lebih banyak dari perkiraan Hitler dan semangat juang tinggi menyebabkan taktik Blitzkrieg tak bisa berjalan mulus.

Target Hitler delapan pekan menguasai Moscow pun kandas. Dalam serangan awal yang dahsyat, pesawat pembom Hitler memang mampu menghancurkan pertahanan udara Sovyet. Dalam sehari, sebanyak 2 ribu pesawat Sovyet binasa oleh serangan udara Luftwaffe.

Serangan darat yang dilancarkan secara bersamaan kemudian secara masif berhasil menguasai perbatasan dan beberapa kota serta front Sovyet. Namun ada yang meleset dari perkiraan Hitler. Selain jumlah tentara Sovyet yang tak habis-habisnya, persenjataan Sovyet juga dengan cepat diperbarui. Tak mampunya tentara Hitler menundukkan Sovyet dalam setahun memberikan waktu bagi Stalin untuk membuat persenjataan yang lebih hebat. Sementara kekuatan Sovyet terus bertambah di berbagai front perang, tentara Hitler justru makin terpuruk. Musim dingin yang ekstrem menjadikan panzer-panzer Jerman membeku, terpuruk dan nyaris tak dapat bergerak. Pada fase berikutnya, tentara Merah kemudian melakukan serangan balasan yang dahsyat dan berhasil memukul mundur semua pasukan Hitler.

Barbarossa akhirnya menjadi antiklimaks kekuatan pasukan Nazi Hitler. Buku ini memaparkan kisah perang Barbarossa ini dengan apik. Bahasanya yang konsisten dan terpelihara menjadikan buku ini menarik untuk disimak. Dilengkapi dengan beberapa foto pendukung saat kejadian, beberapa jenderal Hitler, menjadikan buku ini bernuansa sejarah yang populer. Buku ini penting untuk menambah khazanah tentang Perang Eropa dan kisah Hitler khususnya.***