Cermin

Maghriza Novita Syahti
http://www.lampungpost.com/

Perempuan 1 dan Cermin

Ratih masih berdiri tegak di depan lemarinya. Diambilnya baju berwarna merah dengan motif bunga-bunga emas. Dipandanginya pula baju itu dari kerah hingga pinggir bawahnya. Disentuhnya payet-payet berwarna emas berbentuk bunga itu. Diperiksanya satu per satu. Entah ada yang rusak entah ada yang lepas.

Lalu dibawanya baju itu ke cermin. Dilekatkannya baju itu ke tubuhnya, lalu diputar-putarnya tubuhnya. Dicampakkannya baju itu ke ranjangnya. Dibawanya tubuhnya menuju tape recorder. Ditekannya tombolnya, lalu terdengar dentingan piano. Entah musik siapa.

Kini duduk ia di depan cermin. Disentuhnya kulit wajahnya yang mulai bergaris-garis halus. Kulit wajah yang polos tanpa hiasan bahan-bahan kosmetik seperti biasanya. Kini diambilnya pelembab wajah dan digosokkannya ke wajahnya yang hampir menua itu. Kemudian, foundation dioleskannya sembari tersenyum pada cermin yang tahu benar siapa ia. Lalu eye liner, lalu eye shadow, lalu pensil alis, lipstik, perona pipi, dan seterusnya.

Hingga berpuluh menit kemudian, jadilah wajah yang ia inginkan. Diperhatikannya lagi wajahnya di cermin. Rasa-rasanya masih ada yang kurang. Dioleskannya lagi perona pipi membikin pipinya semakin merah. Lalu diraihnya lip gloss, dioleskannya ke bibir tipisnya itu. Mengernyit dahinya menatap cermin. Seakan bingung dengan riasan wajahnya kali ini.

“Hmm, apa lagi ya yang kurang?”

Dilihatnya alat kosmetik yang berjejeran rapi di meja riasnya. Dari kanan ke kiri lalu ke kanan lagi.

“Semuanya sudah. Tapi, kok rasanya masih ada yang kurang ya?” gumamnya.

Dioleskannya eye shadow entah sudah yang keberapa kalinya. Empat puluh lima menit sudah ia berdandan di depan cermin itu. Sepasang matanya yang sudah indah dengan bulu mata yang lentik itu menyapu seisi kamarnya. Ditekannya tombol off pada tape recorder yang telah menemaninya berdandan. Lalu ditutupnya pintu kamar dengan pelan.

“Nak, Mama pergi ke pasar ya. Jaga rumah baik-baik,” ujarnya setengah berteriak.

***

Aku memang kurang puas dengan dandanan yang sederhana. Pernah sekali anak perempuannya bilang, cermin di kamar mama itu terlalu berlebihan. Hingga membikin dandanan mama seperti badut. Semasa itu, perempuan paruh baya itu marah sekali pada anaknya. Tertawa-tawa cemas aku dari dalam kamar mendengarnya. Anak kecil itu sudah mulai pintar sekarang. Dia sudah pandai menuduhku.

Perempuan tua itu, selalu saja bertanya. Apa yang kurang? Apa yang kurang? Aku tak pernah menjawab, tapi aku selalu memberikan jawaban padanya hingga ia memoles wajahnya berulang kali.

Kuberitahu padamu, sebenarnya ia memang pantas berdandan berlebihan. Lihat saja, wajahnya penuh garis-garis halus, kantung mata membikin matanya layu, bibirnya sudah tak merah jambu lagi.

Baju yang dikenakannya pun, jika biasa-biasa saja tak akan membikin perempuan itu dilihat orang. Lihat baju yang dikenakannya kini. Warnanya merah dengan payet-payet yang berkilauan. Membikin silau orang-orang yang melihatnya. Setidaknya, dengan pakaiannya kini, ia akan dilihat oleh orang-orang di pasar.

***

Perempuan 2 dan Cermin

Suatu pagi yang gerimis tampak seorang anak perempuan berseragam putih biru berjalan pelan. Diayunkannya tangan kanannya mengiringi langkah kakinya. Sedangkan tangan kirinya memegang kuat payung berwarna merah muda. Angin dingin membelai lembut helaian rambut hitamnya. Sesekali ia tersenyum pada kaca-kaca jendela rumah tetangga-tetangganya. Beberapa wajah tampak tersenyum dari balik jendela.

Agak terheran-heran ia pagi ini. Entah apa sebabnya tetangga-tetangganya melihat ia pergi ke sekolah sampai sebegitunya. Mengernyit dahinya sambil sesekali membalas senyum dari rumah ke rumah.

Tak habis pikir ia. Entah apa yang menyebabkan setiap orang yang ia temui memandangnya lama. Anak SMP itu hanya bisa tersenyum. Hingga sampai ia di sekolahnya. Setiap teman yang ia temui selalu menertawainya. Menertawai dengan segan. Lalu berbisik pelan pada teman di sebelahnya. Semakin terheran-heran ia dibuatnya.

“Eh, kamu kok jadi centil gitu hari ini? Lihat, lipstik menor begini. Merah pekat. Mirip tante-tante,” tanya seorang teman yang kebetulan rumahnya satu kompleks dengannya.

“Jangan meniru mamamu. Nanti kamu juga digosipin sama ibu-ibu kompleks. Mamamu kan sudah jadi hot gosip sekarang,” lanjutnya.

Terbingung-bingung ia. Ia tak merasa mengenakan lipstik berwarna merah. Tadi pagi ia hanya mengenakan lip ice. Lalu, apa benar Mama digosipkan oleh orang? Berputar keras otaknya. Apa benar ada yang aneh pada cermin di kamar mama?

***

Anak remaja itu kini sudah mulai penasaran denganku. Pagi-pagi sekali mengendap-endap ia masuk ke kamar ibunya. Membawa bedak dan lip ice miliknya. Pelan-pelan ia duduk di depanku. Menghadapkan wajahnya padaku. Sesekali diliriknya ibunya yang masih tertidur pulas dengan wajah polos tanpa kosmetik. Ibunya memang tak pernah sekalipun menampakkan wajahnya tanpa kosmetik pada siapa pun, kecuali pada anaknya dan cermin. Entah apa sebabnya.

Didekatkannya wajahnya padaku. Dirabanya aku dengan jari telunjuk kanannya dari atas lalu ke pinggir kanan hingga ke bawah. Lalu diraihnya kotak bedak miliknya. Disapukannya bedak itu ke wajahnya yang masih belia. Lalu bibirnya dengan lip ice.

Duduk manis ia di depanku. Diarahkannya pandangannya pada ibunya yang masih berada di balik selimut. Bertanya ia padaku. Apa yang kurang? Apa yang kurang? Aku tak pernah menjawab, tapi aku selalu memberikan jawaban padanya hingga ia mengoleskan lip ice-nya berkali-kali entah berapa kali. Hingga merah pekat bibirnya pagi itu. Lalu tersenyum gadis belia itu. “Pas!” Tersenyum ia padaku. Kurasakan percaya dirinya semasa itu.

Beranjak ia dari hadapanku lalu diciuminya pipi ibunya yang keriput itu. Ditutupnya pelan pintu kamar ibunya.

***

Perempuan-Perempuan

Matahari mulai tinggi. Ia berjalan sembari menebar senyum kepada tetangga-tetangga yang sedang berada di halaman rumah mereka. Bibir merahnya merekah sempurna ketika tersenyum.

“Wah, cantik sekali Bu Ratih. Mau ke mana?” tanya tetangganya.

“Terima kasih, Bu Desi. Ini mau ke pasar,” jawabnya ramah.

Bu Desi hanya melempar senyum padanya. Sepasang matanya mengikuti langkah Bu Ratih hingga menjauh lalu lenyap dari pandangan. Bergegas ia mendekat pada ibu-ibu tetangga lain yang juga sedang membersihkan halaman rumahnya. Mengobrol mempergunjingkan Ratih. Hingga saat ini, topiknya belum juga berubah, selalu masalah dandanan Ratih yang berlebihan.

“Lihat itu, ke pasar saja sudah seperti kondangan,” ujar salah seorang ibu.

“Kalau jadi undangan sih enggak apa, Bu. Tapi ini malah jadi topeng monyetnya,” lanjut ibu yang lain diiringi gelak tawa dari ibu-ibu lainnya.

Ratih tak jarang menjadi bahan gunjingan di kompleks rumahnya, entah dalam rangka apa. Arisan, pengajian, atau pun sekadar bersua di jalan. Setidaknya, menjadi topik yang paling menarik untuk dibahas. Ratih memang tak pernah punya waktu untuk ikut berkumpul bersama ibu-ibu lainnya, kecuali ketika arisan.

Pernah pula, pada suatu pagi yang dingin, perempuan-perempuan di kompleks itu tanpa sengaja bergegas keluar rumah mereka. “Anak Bu Ratih!” Serentak mereka menyebutnya dari balik tembok dinding rumah mereka.

Seorang ibu yang mengenakan sweater berwarna gelap memulai percakapan.

“Eh, Bu. Anaknya Bu Ratih sekarang sudah mulai mirip ibunya ya. Sudah mulai menor enggak jelas. Padahal baru SMP.”

“Iya, tuh. Bu Ratih apa enggak pernah bercermin ya? Atau enggak punya cermin di rumahnya? Kapan-kapan kalau arisan di rumahnya kita cari tahu, yuk!”

“Segitu miskinnya ya dia? Beli cermin pun enggak sanggup. Bulan depan kalau dia dapat arisan, kita sarankan beli cermin dulu aja daripada beli baju dan make up. Bu RT, jangan jualan make up dulu deh arisan bulan depan, ya!”

“Eh, tapi anaknya ini baru tadi pagi loh. Sebelumnya kan anaknya biasa-biasa aja.”

“Iya, sekarang sudah dapat pelajaran kecentilan dari ibunya.”

“Sebenarnya, mereka itu enggak pe-de kalau keluar rumah tanpa make up. Takut kelihatan jeleknya. Makanya make up- nya berlapis-lapis. Hihi.”

“Ingin jadi artis kompleks ini mungkin, ya?”

“Ah, sekarang saja sudah jadi artis kompleks kok. Maklum lah, Bu. Namanya juga janda. Jadi harus tebar pesona. Hihi.”

***

Perempuan dan Cermin

Bergegas ia sepulang sekolah. Terngiang-ngiang di telinganya gosip-gosip ibu-ibu kompleks yang disampaikan temannya pagi tadi. Tak sabar ingin bertanya pada ibunya tentang cermin di kamar ibunya itu. Berkata-kata ia dalam hati. Kalau dugaanku selama ini benar tentang cermin itu, tak akan kumaafkan cermin sialan itu.

Berlarian hingga tersengal-sengal napasnya sesampai di rumah. Pandangan matanya menyapu seisi rumah, mencari-cari keberadaan ibunya. Hingga didapatinya Mama di depan cermin di kamarnya sedang bersolek.

“Ma, Mama harus percaya ini. Percayalah padaku. Cermin ini aneh. Baiknya kita buang saja dia. Nanti kita beli cermin yang baru untuk Mama. Cermin ini membikin dandanan kita seperti badut, Ma. Aku sudah pernah bilang pada Mama,” ujarnya terengah-engah.

Perempuan paruh baya itu tergelak.

“Kamu bilang cermin ini aneh? Bukannya kamu yang aneh? Apa mungkin cermin saja bisa aneh? Cermin ini cuma benda mati, sayang,” jawab mama sambil tersenyum.

“Ma, percayalah. Kita itu sudah menjadi bahan gunjingan gara-gara cermin ini. Aku juga ditertawai satu sekolah gara-gara cermin ini. Sudahlah, buang saja cerminnya,” kini remaja perempuan itu mulai memelas.

Perempuan paruh baya itu masih berpikir keras dengan permintaan anaknya itu.

“Apa Mama enggak sadar kalau dandanan Mama itu berlebihan? Orang-orang di luar sana menertawai kita, Ma.”

“Mama rasa dandanan Mama biasa saja. Kan sudah bercermin sebelum pergi,” jawab ibunya.

“Nah, sekarang cermin itu masalahnya, Ma. Cermin itu yang membuat kita ingin terus berdandan hingga wajah kita seperti badut!”

“Kalian sendiri yang ingin seperti badut! Kalian tidak mau kan menampilkan wajah asli kalian, terutama perempuan tua ini! Aku hanya membantu supaya orang-orang tak tahu garis wajahmu, bintik hitam yang ada di wajahmu, kantong mata itu, dan kerutan lainnya. Aku hanya membantu!”

Dua perempuan di kamar itu ternganga. Mematung di tempat. Seakan tak percaya mereka bahwa cermin ini berbicara. Lalu saling lirik ibu dan anak itu. Tanpa pikir panjang, anak perempuan itu melempari cermin itu berkali-kali hingga pecah ia berkeping-keping. Ibunya masih berdiri mematung merenung.

Pecahan cermin kini berserakan di pinggir jalan. Seorang perempuan memungutnya, lalu melihat wajahnya di cermin itu. Dirogohnya isi tasnya, mencari-cari keberadaan lipstik. Di pinggir jalan itu dioleskannya lipstik oranye itu pada bibirnya.

Di tempat lain, seorang perempuan lain terheran-heran dengan pecahan cermin di jalanan. Dipungutnya cermin itu hendak ia buang ke tong sampah. Namun, diurungkannya niatnya setelah ia melihat wajahnya di cermin tersebut. Diambilkan kotak bedak dari dalam tasnya.

Dan di tempat yang lain pula, perempuan lain pula menemukan pecahan cermin itu dan mencari-cari alat kosmetiknya.

Padang, 4 Juli 2010

—–
Maghriza Novita Syahti, lahir di Padang, 5 November 1989. Masih kuliah di Program Studi Psikologi Universitas Negeri Padang. Ia belajar menulis sastra dan jurnalistik di Sanggar Sastra Pelangi Yayasan Citra Budaya Indonesia di Padang dari tahun 2007.