Forum Sastra, Birokrasi dan Kapital

Review acara Mari Bicara Sastra
Anna Subekti
http://pawonsastra.blogspot.com/

LintaSastra merupakan program regular sastra yang diselenggarakan sebulan sekali oleh Gedung Kesenian Solo dan komunitas Sastra Pawon. Selasa, 23 November lalu telah diselenggarakan lintaSastra #1 yang bertajuk “Mari Bicara Sastra”. Acara ini dimulai pukul 20.00 WIB dengan dihadiri sekitar 35 orang dari berbagai kalangan, beberapa diantaranya bahkan merupakan orang yang awam dengan sastra.

Diskusi dimulai dengan dimoderatori oleh Bandung Mawardi, salah satu redaktur pawon. Dalam pengantar singkat Bandung Mawardi, dia mengungkapkan ketika membicarakan “Mari Bicara Sastra” berarti acara ini mengacu kepada kesusastraan di Solo selalu mengalami pergerakan. Sekecil apapun sebuah pergerakan, menjadi sangat penting karena banyak pihak menganggap bahwa sastra di Solo tidak meiliki pergerakan sama sekali.

Dalam diskusi ini juga diadakan sesi “tukar buku” dimana setiap peserta yang hadir wajib membawa buku untuk saling bertukar. Buku sebagai penanda simbolis, buku memiliki cerita dan sejarah tersendiri bagi kita semua. Dengan bertukar buku kita akan merasakan bagaimana rasanya memberi, bagaimana rasanya menerima dan bagaimana kita saling mengenal satu sama lain.

Konsep curhat dalam acara perdana ini diprakarsai oleh Yudhi Herwibowo selaku koordinator acar berdasarkan pengalamannya di Pawon. Acara tumpengan ulang tahun Pawon tahun lalu terasa sangat menarik ketika ketika dalam bentuk curhat. Dengan konsep yang dia bawakan, Yudhi Herwibowo seakan ingin penonton menangkap bahwa sastra Solo terkadang memiliki kendala teknis seperti factor tempat untuk sekedar ngobrol karena semakin banyak ruang di Solo yang telah menjadi komoditas ekonomi. Selain kendala teknis tersebut peran birokrat yang mempersulit berlangsungnya acara diskusi juga menjadi salah satu kendala untuk terus mengembangkan dunia sastra di Solo sehingga diperkirakan pada 2011 nanti acara sastra di Solo akan sangat minim.

Diskusi semakin hangat, antusiasme peserta begitu terasa dalam acara ini. Seperti dikatakan oleh salah satu peserta diskusi, dunia sastra Solo tenyata mendapat banyak hantaman, tidak hanya hantaman birokrasi tetapi juga tantanngan untuk menghadapi sastra meanstream yang lebih pada orientasi kapital. membicarakan menstream dan non meanstream ternyata tidak hanya di dunia musik, film atau yang lain, sastrapun juga demikian. Solo memiliki kekhasan sendiri yang mungkin bisa melawan kekuatan itu. Perlawanan dimaksudkan untuk menghindari kekuatan birokrasi dan kekuatan menstream.

Namun argumen itu direspon oleh Han Gagas, sebagai penulis ia lebih memilih lepas, tidak peduli dengan hal-hal menstream dan non meanstream. Anggap saja bahwa media dan institusi itu memble, menstream menjadi kabur. Akan ada banyak kekuatan yang menyebar disekeliling kita, maka sebagai penulis hendaknya tidak diragukan dengan kekuatan yang menyebar. Cukup menulis dan menulis. Yang terpenting adalah karya seorang penulis jauh lebih hebat dibanding kekuatan yang kita anggap besar. Kita akan menjadi besar secara otomatis ketika kita bisa melahirkan karya yang besar.

Kegiatan sastra merupakan salah satu media sosialisasi dimana dalam kegiatan tersebut setiap orang akan mampu mendapat kegembiraan dan menumbuhkan aura untuk menulis, seperti yang diungkapkan Yudhi TH. Namun, sangat disayangkan bila birokrasi menjadi alasan untuk tidak terus bergerak. Ya, memang butuh pergerakan untuk terus bergerak.

Kegelisahan tersebut terjawab dengan adanya tawaran dari Gedung Kesenian Solo untuk menyajikan kajian rutin bidang sastra bersama Pawon. Untuk kedepannya, acara sastra di Solo bisa dikembangkan sedemikian rupa tanpa harus ada hambatan birokrasi yang rumit dan kegelisahan-kegelisahan yang mampu menghambat dalam berkarya..

*) Koordinator Sastra
Gedung Kesenian Solo