Gapura Doa

S.W. Teofani
Lampung post 03/16/2008

AKU selalu coba melupa. Menutup sirip kenangan dengan taburan doa. Mengelupas tiap helai tanpa nada. Meski tak pernah benar-benar mencapai amnesia. Gapura itu tetap dan selalu ada. Di ceruk paling maya, mengada dalam taman jiwa. Gigir ngarai yang pernah kita sisir, memanggil dengan suara paling mesra. Ruah rasa yang dulu hadir, menerbangkanmu untuk menyambangi waktu. Semua kembali bersua. Seolah tak pernah ada jeda menganga. Kita kembali mengeja kidung-kidung gapura. Meracik harap mencapainya. Hingga kau membuka tirai nelangsa. Utas janji telah kau patri pada seruas hati. Lingkar tunang telah kau semat pada lentik jari. Aku berpaling dengan pasti. Bukan langkah kita yang menuju ke sana. Lagi, aku ingin menghapus setiap jejak kaki kita.

Kau tangkap seluruh dawai lara. Kau kais ruah magis yang tersisa. Kau yakinkan tentang kecocokan anak jiwa yang diwedarkan pujangga Libanon. Tak terberai oleh jarak waktu. Mengikis lipatan kemustahilan. Tak tergulung ikatan manusia, menembus segala yang tak bercela. Melenyapkan segala ketidakmungkinan.

Hatiku menawar kemungkinan, menatapmu penuh peluh, merangkak menembus keangkuhan. Kau seorang saja menghempaskan temali tradisi. Bara malumu terselip pada palung kehidupan. Aku terengah dengan lelahmu. Darah bercucuran dari setiap pori. Suaramu serak, dengan nafas sesak, kau yakinkan aku tentang gapura itu. Aku bimbang. Mataku berkaca antara luka dan damba. Andai kutinggal semua kenang, kau terlunta dalam sengsara. Bila kususuri jalan gapura, tidakkah ada yang terluka?

Ku semayamkan bimbang ini pada ruang keabadian. Kuhampar sajadah yang tak pernah terlipat setiap sepertiga gulita. Kerik jangkrik menjadi aransemen pembuka arasy. Ronce tasbih pernghantar setiap puja. Aku mengulangnya dan terus mengulangnya, bahkan sebelum kau hadir pada rona senja. Kala itu, sejuk embun malam bersaksi setiap pinta. Gemintang sunyi mengerlip pada pengharapan setengah jiwa. Jiwa itu terus mengais pasangannya. Diketuknya Sang Pemilik dengan santun. “Tunjukanlah paro jiwa yang Kau pisah sejak mengada. Satukanlah yang terberai dalam rahmat-Mu. Temukanlah yang terserak dengan kuasa-Mu. Tenteramkanlah kegelisahannya dengan pertemuan. Bukakan bilah-bilah penghalang. Taklukanlah tinggi gemunung. Redakanlah amuk gelombang. Mudahkan jalin lindan kesulitan. Lipat jarak. Sampaikan waktu pada pertemuan agung, penyatuan dari sebilah jiwa menuju sempurna. Amin.”

Lembar geguritan menjadi kidung setiap hela. Hingga jiwamu menyambang setulus kekupu. Saat itulah sesigar jiwaku berkata, jiwamulah separuhnya. Pemilik agung telah mempertemukannya. Pada sebuah masa, terpisah lagi oleh prahara. Ketika jiwa lain turut mencari paruhnya. Jiwamupun tertawan. Kau sangka paruh itu pasangannya. Hingga terhempas paruh jiwaku pada palung cakrawala. Menyatu pada hakekat pemilik-Nya.

Kembali kidung-kigung pengharapan terwedar meniti jalan panjang. Mengembara ke negri-negri yang jauh. Terlantun pada rasa yang dalam. Tercekat kata pada batang kepasrahan. Hingga jiwamu kembali menyua. Tak hadir ketentraman kala jiwamu berpadu dengan jiwanya. Kau jumput lagi awan-awan tipis. Kau jadikan kendaraan menuju jiwaku. Kita terpaut pada sasmita kedua. Menari di dalam asuhan rembulan. Tersedu di perdu berduri. Tergelak di hamparan lelumut. Tersedak pada ketidakmungkinan.

Gapura kembali menebarkan wewangian surga. Mengepakan sayap harapan pada kedamaian abadi. Pencipta seperti telah memudahkan jalan kita. Nafas lega menenangkan tatap mata. Senyum beradu pada sipu. Jiwa itu kembali menujunya. Tidakkan hanya Pencipta yang menguasai jalan cerita? Kita hanya jiwa-jiwa yang ada dalam genggam-Nya. Menyisir maktub yang telah ditoreh-Nya. Hari ini beduk kegembiraan ditabuh untuk kita. Esok, genta kehilangan menjadi ratapan semesta. Keduanya saling menyilih. Bagai kelupas bawang bakung pelindung makna. Saatnya kita mengeja bahagia dengan cara berbeda. Bagian dari hidup yang datang dan pulang. Keniscayaan yang sering hadir, tapi tidak kita miliki. Pemiliknya mengambil dan memberikan pada waktu dan saat yang dikehendaki-Nya. Agar kita sempurna merasainya. Sempurna pula mengartikah hadir-Nya. Hingga lumat pada kekuatan Maha sempurna.

Kekasih…tak lagi kurasai kita yang memetik dawai-dawai cinta. Ada Tangan lain yang lebih kokoh memainkan. Kita meliuk hingga dawai itu dipatahkan-Nya. Kembali semua terhempas di sudut bumi yang berbeda. Tapi, jangan lagi berduka. Telah kumaknai duka sebagai gaun kehidupan, yang bisa berganti beriring terbit mentari. Hari ini jubah merah marun melekat pasti. Dibalut coklat nelangsa. Esok, biru muda berenda merah jambu menjadi busana kita. Begitu seterusnya.

Jangan Kau tandaskan bahwa perpisahan ini akhir segalanya. Telah kita lampaui sasmita demi sasmita. Aku percaya sasmita adalah pertanda yang dipungut dari pelangi surga. Perlambang kehidupan yang telah diendapkan pada manah kita. Jika itu salah, kita yang tak pantas mendapatkannya. Jika itu benar, Dia tidak membiarkan hamba-Nya dalam pencarian buta. Ditunjukannya jalan-jalan. Diberikanya perlambang-perlambang. Dipersembahkannya pilihan-pilihan. Aku tak lelah mengungkai butiran pepasir. Kupilah kerikil, kuyakin ada mutiara di antaranya. Jangan lelah menyisir tulisan-Nya. Tak ada huruf yang tersia. Jangan tandaskan teguk madu pada cawan hati kita. Jangan muntahkan pahit racun dari tembikar harap kita. Waktunya kita persembahkan seluruh yang kita ingin. Tapi bukan patah dahan, kekasih!.

Lihatlah, ngarai itu mengaga, tapi ada jembatan menuju gapura. Samudra begitu luasnya, tapi di sana ada bahtera. Gemunung menantang dengan ketinggian. Telah kita siapkan sayap untuk melampauinya. Bukankah jembatan itu dipersembahkan untuk kita? Tidakkah telah kau siapkan layar bahtera. Dan kutenun sutra sebagai sayap perjalanan kita.

Telah kau kemasi hatimu untuk meninggalkan negri salju. Kan kau kubur kenangan di musim-musim gugur. Kau kembali dari negri itu saat dedaun bersemi. Langkahmu pasti ke zambrut katulistiwa, dengan hamparan sawah dan biru lautnya. Tangan kekarmu hendak menjala kecupak ikan yang selalu menggoda. Kau cumbui lagi harum bunga kopi. Tepat di musim durian langkahmu menjelang. Kau bawa seluruh rindu pada empu kehidupan. Kau hirup semilir pembebasan tanah kelahiran. Kau tuang air suci dari pegunungan. Tanganmu mencekram akar kesahajaan.

Kau letih kekasih, setelah jasadmu terikat temali harta. Jiwamu terkurung belenggu waktu. Kembaramu terasing pada kelana yang lama. Keinginanmu tercekat jenggala buana. Lewat dua dasa purnama tak kau lihat elang meliuk dipucuk kebebasan. Bertahun tak kau simak dendang kampung halaman. Perawan desa memainkan siter bahagia. Menawanmu turut serta.

Diamlah pada sajadah yang terbentang di Masjid desa. Tempat masa kanakmu mengeja A-Ba-Ta. Usap ubun-ubunmu dengan oase kaki bukit. Sujudkan sejumlah ruah pada persada. Tenanglah kekasih. Dekap air ajaib dari muasal hidupmu. Heningkan cipta di pangkuan Ibu. Tuntaskan isak yang tercekat. Aku tak akan mengusik dengan keinginan, juga ruah iba. Kubiarkan dunia berhenti untuk kepulanganmu. Yang kutahu, seluruhmu lelah!.

Setelah rembulan meninggalakan malam, kau menggeliat. Hari menjadi sama seperti sebelum kepergianmu. Kau saksikan goyangan reranting sarapuh dulu. Kenyal nasi tak sepulen saat kau pulang. Puja-puji tak semeriah saat kau datang. Balas pantun tak seramai waktu kau kembali. Upacara penyambutan telah usai. Siter kemenangan kembali masai. Waktu berpacu pada kaharusan semesta. Kau bukan lagi pahlawan, tapi lelaki yang harus berjuang. Kau tahu ke mana mesti menumpahkan seluruh gundah. Kau akan mencari peneduh resah.

Kan kau berikan seluruh hati pada perempuan yang telah tertoreh dalam maktub. Tapi pernahkan kita tahu goresan maktub? Kulihat burung tadahasih memungut duka. Biarlah duka itu miliknya. Ia bukan sasmita. Kan kupilin waktu menjadi bunga. Kan kutiup gemawan membentuk gapura. Kan kupindai lembaran maktub kita. Kutenun utas benang, dengan seluruh warna.

Kita berseberangan, mencari jembatan hati. Satu tangga ke arah gapura. Kau ulurkan bilah kayu. Kuikat dengan rotan. Kau tambah balok satu, kususun menjadi jembatan. Kita sama ternganga. Jalan itu semakin sempurna. Aku tak sabar menujumu. Dengan tenang kau berucap; diamlah, aku yang akan menjemputmu. Waktu menjadi sangat lama. Detik berubah windu, menit-menit mengabad, bibirku mengatup. Hatiku mengeja khakhiwang; kupahat agung gapura dengan jemari yang terbakar. Belulangnya tetap sejuk kokoh dijaga pendingin salju kutub. Gapura itu semakin indah. Bercak darah menjadi mawar yang menebarkan wangi firdaus. Kau berikan aku kuas bergagang cendana, berambut sutra. Kugoreskan dengan ketenangan penuh. Kutaburkan pesona perak keemasan. Waktu mengungkai janji hati kita. Jarak terlumat kesungguhan dua rasa. Musim berlutut pada keajaiban sukma. Hujan memperjelas jejak yang telah dan akan tercipta. Tak ada yang terhapus, bahkan setiap hela nafas yang kita tarik saat tersedan. Tak ada yang pupus, meski kuncup daun disapu beliung pada musim bahana. Semua berkelebat pada kecepatan yang tak tertanding cengkrama kilat. Kita tetap termangu. Menyimak do’a-do’a yang tak pernah lengah kita jaga. Seluruh bait meraupi gapura. Kini, bukan hanya keindahan tertoreh di sana, keanggunan derita telah menjadi ukirannya. Bukan hanya keagungan yang bertahta, pahatan kesabaran panjang menjadi relief penyempurna. Gapura itu tidak hanya mewartakan kebahagiaan, juga mahkota deduri nelangsa. Bukan kita saja yang berkehendak untuk memasukinya, Tangan mahalembut yang menuntun ragu hati kita.

Gapura itu di depan kita, begitu dekat dan nyata. Hanya satu yang membuat ia menjadi jalan kita atau kenang tersimpan zaman; Taqdir.

Bandar lampung, Februari-Maret 2008

Untuk sebuah kepulangan.
Dari: http://www.sriti.com/story_view.php?key=2745