Hari Akhir Sultan Saladin

: serupa dongeng untuk susy lisnawati
Abdul Aziz Rasjid

saladin telah sampai
dari masjid umayyah ia berjubah pengantin
melewati gerbang pohon-pohonan pir
buah-buahnya melayang
seumpama melodi dzikir diiringi putaran samâ

di sana, ada tanah lapang
biru luas seperti siang
rumputnya putih segumpal awan
perawan-perawan setengah telanjang
berkejaran mencuri perhatian, sayap angsa
sewarna uban mengepak di punggungnya
beberapa lainnya berkecipak ria
melebihi manja, melempar buah-buah pir
untuk dihanyutkan
beberapa renang berlombaan sesekali menyelam
di sungai susu yang memanjang

: jangan tumpahkan darah
darah yang terpercik tak akan tertidur
itu wasiat saladin untuk darah serta dagingnya

bulan setengah lingkaran, di pucuk tenda
suara kibar panji-panji berpadu ringkik kuda
saladin rebah di ranjang
layangkan kenangan sembari menatap bilah pedang:

— sebuah pir menggelinding
ditangkap telapak tangan richard
ke dalam kotak, aku mengemasi obat-obat
sebilah pisau bertanda salib emas
ia tarik dari celah baju zirah
: kau musuhku tapi bagai sahabat setia
sambil berkata begitu
richard membelah buah pir itu
lalu mengalunkan sepotong padaku —

di bumi, pohonan menangis
duri, daunan
buah-buah dan bunga-bunga ikut menangis
kambing, kuda, unta bahkan serigala semua menangis
para syuhada membaca dua syahadat
tanah basah: rintik hujan dan airmata

di langit malaikat-malaikat menunggang griffon
dan unicorn
kepala mereka sama menunduk
serentak berseru syahdu: Hu!

sedang dalam tenda, ijrail membungkuk
mencabut satu bulu sayapnya
menjadikannya sebagai pena
lalu menulislah ia, di panjang bilah pedang milik saladin
: darah yang terpercik tak akan tertidur

(2009)

Puisi ini masuk sebagai nominasi dalam lomba Lomba Cipta Puisi Religius Tingkat Mahasiswa se-Indonesia yang diselenggarakan oleh Dewan Eksekutif Mahasiswa (Dema) Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Purwokerto