Heh, Ada Apa dengan Petani???

M.D. Atmaja

Manusia memang manusia yang dari kata “menungso” (bahasa Jawa) yang artinya “menus-menus ngongso” atau manusia-manusia yang keinginannya banyak. Karena saking banyaknya itulah dikatakan sebagai “ngongso”. dalam perjalanan hidup, saya menemui suatu pengalaman yang cukup menarik. Perihal menjadi petani, yang konon, saat ini sudah berkurang jumlahnya karena berbagai macam faktor. Di antaranya, lahan pertanian sudah menyempit dan hidup menjadi petani tidak menguntungkan. Akantetapi, dari dua faktor utama tersebut, faktor kedua yang paling mempengaruhi berkurangnya kaum tani.

Menjadi petani, sudah bekerja kasar yang melelahkan juga tidak banyak memberikan penghasilan. Hidup di zaman sekarang, dari aspek-aspek primer sampai sekunder membutuhkan biaya hidup yang mahal. Misalnya, kebutuhan biaya pendidikan yang setiap hari mengalami kenaikan. Atau, untuk urusan makan pun, manusia seperti sudah kewalahan dalam menghadapi setiap kebutuhan hidup.

Tapi, sebentar, kita perlu mengingat bahwa sebanarnya menjadi seorang petani pun, seperti Bapak saya, penghasilannya cukup untuk memenuhi kebutuhan. Bagaimana bisa? Ya tentu saja, karena kebutuhan hidup manusia adalah kebutuhan yang menunjang kelangsungan hidup itu sendiri, misalnya saja untuk makan sehari-hari. Kaum tani, banyak yang tidak perlu membeli bahan pokok kebutuhan keseharian mereka. Bahkan, ketika orang-orang di kota yang bekerja di kantoran mengeluhkan harga cabai yang melangit, buktinya petani yang penghasilannya pas-pasan tetap anteng-anteng saja. Eh, kok justru para politisi mengisukan revolusi dan kekacauan sosial ekonomi hanya karena harga cabai yang melangit. Memangnya, manusia makan cabai untuk kenyang?

Jelas tidak!

Kembali ke masalah mencukupi kebutuhan, bahwa penghasilan petani yang sedikit itu cukup-cukup saja buat makan dan bertahan hidup. Kata Dhimas Gathuk, yang juga kata Kangmas Gathak, begini: “Sebenarnya, penghasilan sekecil apa pun cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup, tapi tidak akan cukup, walau menjadi Presiden sekalipun, kalau digunakan untuk mencukupi keinginan hidup.”

Saya pun lalu bertanya pada dua saudara tua dan muda itu, mereka pun dalam cekikian, menjawab, “Lha bagaimana tidak, kalau Presiden saja mengeluh gajinya tidak naik-naik, itu tandanya kalau gaji Presiden yang lengkap dengan semua tunjangan itu tidak cukup untuk memenuhi keinginan hidup Presiden. Hayo, bener tidak?”

Saya pun mengangguk-anggukkan kepala. Memang ada benarnya seperti itu. kebutuhan primer manusia, mencakup tiga hal yaitu: sandang, pangan, papan, yang kini ditambahi dengan pendidikan. Eh, kok ada-ada saja, masalah kesehatan masuk ke dalam kebutuhan yang dipokok-pokokkan. Apa setiap manusia itu berharap sakit, sehingga kesehatan masuk ke dalam ranah kebutuhan primer itu?

Kalau kebutuhan manusia yang paling mendasar ya makan, selain itu menjadi kebutuhan sekunder dan tersier. Saya sendiri saja, baju hanya ada beberapa potong, dan semuanya tidak dipakai berganti-ganti. Kebutuhan secara mendasar selain makan, menurut saya tidak ada lagi. Lalu, kenapa ya banyak orang yang mengatakan kalau menjadi petani tidak menguntungkan karena kebutuhan hidup tidak tercukupi? Alasannya apa?

“Itu sebabnya, tidak ada lowongan pekerjaan menjadi petani.” Sahut Dhimas Gathuk begitu saja sambil menepuki pundak yang pegal sehabis kerja seharis di sawah.

Saya sendiri kadang bingung, setiap orang ditanya mimpi hidupnya, banyak yang mengatakan mejadi dokterlah, menjadi sastrawan lah, menjadi insinyur lah, atau apa saja, selain di dalamnya menjadi petani. Kenapa coba tidak ada yang mau bercita-cita menjadi petani? Sedangkan sampai hari ini, petani seolah menjadi lahan pekerjaan yang karena faktor tidak ada pekerjaan lain yang lebih layak.

Membahas masalah ini, saya menjadi ingat dengan bagaimana dulu Ibu saya menasehati, “Le, yang penting kamu sekolah. Harus lebih tinggi dari Bapak dan Ibu. Kalau pun menjadi petani, setidaknya sudah sarjana.” Nah, begitu ibu mengatakan kalau seenggaknya menjadi sarjana walau pun petani, karena memiliki nilai yang berbeda.

Diam-diam, Kangmas Gathak yang tempo hari guru mengajinya ditangkap Densus 88 anti-teror masuk ke dalam dan membukai Hadistnya Al-Bukhari. Kita maklum saja, Kangmas Gathak itu santri yang mencoba melihat permasalahan dunia dengan berbagai kitab yang ada.

“Nah, ini” ucapnya karena sudah ketemu, “Diriwayatkan dari Anas r.a., bahkan Rasulullah SAW pernah bersabda: ‘Siapapun dari salah seorang muslim menanam pohon atau menabur benih, kemudian (tumbuh dan berbuah) lalu buahnya dimakan oleh manusia atau hewan, maka itu bernilai sedekah yang diberikannya’.”

“Lha, itu!” sahut Dhimas Gathuk bersemangat.

Membaca hadist yang diriwayatkan Al-Bukhari tersebut, saya tertegun sejenak. Dalam Islam, Allah sudah mengatakan kebaikan menjadi seorang petani. Bahwa katika menanam dan memanen, manusia atau hewan yang memakan hasil pertanian itu, seorang petani sudah bersedekah. Saya pikir, bahwa Bapak saya seumur hidup bersedekah, walau belum menjadi haji. Saya membayangkan, seumur hidup bersekedah, lalu bagaimana amalannya nanti di surga?

Ah, masih jauh dari perkiraan saat saya membicarakan masalah kebutuhan primer, sekunder dan tersier namun membicarakan surga. Coba saja di surga manusia juga sama dengan di dunia, dia masih harus bekerja, pastinya tidak ada orang yang mau menjadi petani walau pun itu di surga.

Saya sedikit prihatin dan khawatir, siapa yang akan menanam nanti? Siapa yang akan menyediakan beras, gandum, buah, dan seabrek hasil pertanian kalau para petani sudah habis?

“Coba kalau di surga, tidak perlu ada petani.” Ucap Dhimas Gathuk yang menambahi dalam senyuman lucu.

“Sebentar,” Kangmas Gathak kembali menyela sambil masih memegangi hadist itu. “Dari Abu Hurairah r.a.”

“Hadist Al-Bukhari lagi, Kang?” sahut Dhimas Gathuk pada saudara tuanya.

“Iya. Seperti ini: Rasulullah SAW pernah bersabda ketika seorang Arab Baduwi di hadapan beliau: ‘Seorang penghuni surga memohon izin kepada Tuhannya untuk bercocok tanam. Allah bertanya kepadanya, “Bukankah kamu sudah berada dalam kesenangan yang kamu inginkan?” orang itu menjawab, “Ya, tapi saya ingin bercocok tanam”. Rasulullah SAW lalu melanjutkan: Setelah Allah mengizinkannya, ia segera menabur benih, lalu tumbuh dan berbuah dengan cepat. Tanaman-tanaman itu tinggi besar seperti gunung. Kemudian Allah berfirman, “Hai anak Adam! Ambil dan petiklah, rupanya kamu tidak merasa kenyang juga”. Mendengar sabda Rasulullah SAW tersebut orang Arab Baduwi itu berkata: “Demi Allah, orang-orang yang anda ceritakan tersebut adalah orang-orang Quraisy dan Anshar, karena merekalah para petani, sedangkan kami bukan petani. Rasulullah SAW tersenyum.”

“Lha, terus pesan moralnya apa, Kang?” sahut Dhimas Gathuk menimpali.

Saya menganggukkan kepala. Padahal, pertanyaan itu yang sebenarnya ingin saya sampaikan pada saudara tua saya itu.

“Hem, apa ya Dhi?” dia merenung, “Mungkin karena spesialnya petani yang makan dari jerih payahnya sendiri, karena itu Allah memberikan tempat bagi mereka untuk terus menanam dan memanen.”

Nah, seperti ini. Petani menanam di surga, karena mungkin saja sebentar lagi petani di dunia akan kehabisan lahan, dan karena juga tidak mau yang menjadi petani. Dan hanya di surga saja, kelak petani dapat kita temui.

“Semoga ada kiriman beras dari surga!” sahut Dhimas Gathuk pelan dalam kepala mengangguk menahan kantuk.

Bantul – Studio SDS Fictionbooks, 27 Februari 2011.