Mencintai Kearifan Lokal

Budaya dan Lingkungan Hidup
YF La Kahija
http://www.unisosdem.org/

Salah satu contoh yang luar biasa tentang lingkaran magis adalah Candi Borobudur di Jawa. Jalan memutar (circumambulatio) ditempuh dalam alur spiral…. Fondasi Borobudur berbentuk lingkaran dalam bujur sangkar. Struktur ini dalam bahasa Sanskerta disebut mandala. Kata Sanskerta ini berarti lingkaran, khususnya lingkaran magis. Simbol mandala berarti tempat suci (temenos) yang pusatnya dilindungi. Dan, inilah simbol terpenting dalam melihat gambar-gambar ketidaksadaran. Simbol ini menunjukkan perlindungan pusat kepribadian dari tarikan dan pengaruh dunia luar.

Kutipan yang panjang di atas saya terjemahkan dari ceramah psikolog Carl Gustav Jung di London pada tahun 1935 ketika ia berbicara di hadapan sekitar 200 profesional medis untuk mempresentasikan teori psikologinya. Belum lama ini, di kota yang sama, terjemahan Inggris dari salah satu manuskrip kuno yang dikenal dengan nama Serat Centhini diluncurkan (Kompas, 11/11/2006).

Sudah begitu banyak penghargaan yang ditujukan untuk literatur dalam kebudayaan kita. Bagaimanapun, tanpa tindak lanjut yang serius untuk mengangkat perspektif lokal menjadi bagian dari Weltanschauung (perspektif dunia), penghargaan akan menjadi mandul. Setiap terjemahan dan transliterasi karya tulis pemikir lokal memang patut dibanggakan, namun terbuai dalam kebanggaan itu adalah suatu kekeliruan.

Tampaknya kita masih condong mengembangkan mentalitas ke-penurut-an alih-alih ke-pemimpin-an dalam memahami nilai-nilai kebudayaan kita sendiri. Kajian yang mendalam tentang Jawa, misalnya, masih banyak bersandar pada penulis-penulis asing. Ketika ingin mengenal pesta merok atau penyembelihan kerbau di Toraja, saya masih harus mengandalkan tulisan H Van der Veen, The Merok Feast of Sa’dan yang terbit tahun 1965.

Pertanyaannya: Mampukah kita—sebagai pelaku perbuatan—menawarkan lebih banyak kekayaan pemikiran lokal pada dunia? Tidak ada maksud mengurangi peran penting literatur-literatur asing yang memang berjasa besar dalam menstimulasi pemikir-pemikir lokal. Tugas terpenting saat ini adalah menyuburkan semangat peneliti-peneliti lokal dalam mengkaji nilai-nilai kebudayaan mereka sendiri.

Dialog dua kutub

Meski sempat diabaikan karena dianggap lemah secara metodologis-ilmiah, eksplorasi pemikiran Timur tumbuh menjadi tren. Dalam psikologi, bisa disaksikan kemajuan pesat dalam mengkaji psikologi Timur yang sempat ditinggalkan karena dianggap tidak ilmiah. Semangat inilah yang memunculkan psikologi transpersonal yang kemudian menelurkan konsep-konsep inteligensi spiritual dengan segala variannya.

Perkembangan yang relatif baru ini sempat berkonfrontasi dengan tuntutan obyektivitas dan universalitas dalam ilmu pengetahuan. Subyektivitas menjadi momok yang menakutkan bagi banyak peneliti Timur hingga postmodernisme tampil mempertahankannya. Beberapa pemikir postmodern beranggapan, pengingkaran subyektivitas adalah akar marjinalisasi kajian wanita, etnis, dan pemikiran-pemikiran di dunia ketiga.

Pembagian simbolis-geografis pemikiran dunia menjadi pemikiran Timur dan Barat menempatkan pemikiran-pemikiran dunia ketiga pada kutub Timur. Pemikiran Timur yang oleh Barat dituding subyektif, mistis, tidak rasional, dan intuitif sudah tidak lagi relevan. Dialog di antara kedua kutub ini pada akhirnya akan memperkaya khazanah pengetahuan keduanya.

Meski konvensi atau kesepakatan tentang keilmiahan sudah bergeser, pertanggungjawaban metodologis dan penerapan empiris tetap diperlukan. D’Andrade (1995) mengatakan, “Science works not because it produces unbiased accounts but because its accounts are objective enough to be proved or disapproved no matter what anyone wants to be true.”

Berlogika Timur

Masalah lain yang juga penting dalam mengkaji pemikiran lokal adalah logika yang digunakan. Munculnya masalah ini berkaitan dengan terbatasnya pengajaran logika pada hukum nonkontradiksi Aristotelian yang menyatakan bahwa suatu realitas tidak mungkin satu (singular) dan pada saat yang bersamaan banyak (plural). Bila logika ini diterima begitu saja (taken for granted), mustahillah memahami arti bhinneka tunggal ika.

Dalam perspektif Aristotelian, banyak pemikiran lokal memang tidak logis. Namun, ketidaklogisan ini bisa juga dimaknai secara positif sebagai imbauan untuk memperjelas logika berpikir kita. Untuk itu, kita perlu berkenalan kembali dengan logika paradoksikal yang mendasari konsep-konsep inti dalam pemikiran Timur. Logika paradoksikal menekankan kesatuan dalam dualitas atau pluralitas.

Umumnya, mahasiswa yang belajar filsafat cukup akrab dengan pernyataan metafisis bahwa filsafat mengajak manusia melampaui apa yang tampak, melihat yang tak terlihat di balik yang terlihat. Fakta yang terlupakan di sini adalah bahwa pembagian kenyataan menjadi yang terlihat dan yang tak terlihat menunjukkan suatu logika paradoksikal. Singkat kata, filsafat berakar dalam logika paradoksikal.

Sebenarnya, logika ini sudah sering kali digunakan dalam wacana ilmiah. Dapat dijadikan contoh adalah yin dan yang dalam taoisme, struktur dalam dan struktur permukaan dalam linguistik generatif Noam Chomsky, signifiant (penanda) dan signifié (yang ditandakan) dalam filsafat strukturalisme Ferdinand de Saussure, diri personal dan diri transpersonal dalam psikologi; atau sistem saraf tepi dan sistem saraf pusat dalam ilmu faal. Semuanya membicarakan dualitas dalam kesatuan.

Mendorong invensi intuitif

Selain berbekal logika paradoksikal, seorang peneliti kearifan lokal dituntut menghargai peran intuisi sebagai perangkat jiwa yang mampu menangkap langsung kebenaran. Secara fisiologis, intuisi adalah pengaktifan otak kanan; dan secara psikologis intuisi adalah perangkat jiwa yang bekerja lewat olahbatin atau olahrasa. Praktik-praktik spiritual di Timur umumnya bergerak ke situ. Agar tangkapan intuisi dapat diterima rasio atau akal, adalah tugas ilmuwan untuk merasionalkannya, seperti yang dilakukan Einstein dengan teori relativitasnya atau Newton dengan hukum gravitasinya.

Dengan menerima intuisi dan logika paradoksikal, terbuka pintu yang lebar untuk menggiatkan kajian-kajian kearifan lokal. Sayangnya, para peminatnya belum menunjukkan garis suksesif. Pada tahun 1956, misalnya, psikiater Soemantri Hardjoprakosa mempertahankan disertasinya yang berjudul Indonesisch Mensbeeld als Basis ener Psychotherapie (“Gambaran Manusia Indonesia sebagai Dasar Psikoterapi”) di Rijkuniversiteit, Belanda. Sejak itu, belum terdengar psikiater Indonesia di luar negeri yang mengkaji konsep-konsep serupa.

Hanya dengan menuangkan cinta ke dalam kearifan lokal, kita dapat melakukannya. Cinta, seperti yang dikatakan Erich Fromm (1956) dalam The Art of Loving, mengandung empat syarat, yaitu tahu, peduli, bertanggung jawab, dan respek. Dengan syarat-syarat ini, mentalitas ke-pengikut-an perlu dirontokkan dan ditransformasikan menjadi keberanian menata kembali wajah khas ilmu pengetahuan Indonesia di hadapan bursa pandangan dunia.

YF La Kahija Pengajar pada Fakultas Psikologi, Universitas Diponegoro, Semarang
Sumber: http://www.unisosdem.org/article_detail.php?aid=7045&coid=1&caid=34&gid=5