Pertemuan Terakhir

Denny Mizhar

Aku menjadi heran, sejak kepergianmu meninggalkan kampung halaman kita yang terletak di Lamongan bagian tengah menuju kota Jember, menjadikanmu banyak perubahan. Kamu berbeda dengan yang aku kenal tiga tahun yang lalu. Atau mungkin hanya pandanganku yang tak segaris denganmu, bisa jadi, aku yang tak mengenal sisi lain dari hidupmu. Yang aneh mengenai perubahanmu adalah baju yang kau kenakan. Kau mirip orang-orang Barat Tengah. Kau tahu mana Barat Tengah, coba ambilah peta dan lihatlah kau akan tahu bahwa ada kesalahan selama ini dalam melihat peta di mana timur, tengah dan barat jika kita berada di kampung kita.

Pandanganku padamu menjadi ada jarak. Mungkin saja jarak budaya. Aku suka melihatmu mengenakan jarik dan berpakain sederhana dengan kerudung sederhana tak berlebihan seperti yang aku lihat saat ini.

“Sudahlah, kamu harus belajar lagi Agama yang kita yakini. Bukankah Agama yang kita yakini mengharuskan perempuan menutup seluruh tubuhnya kecuali mata dan telapak tangannya”

Iya, aku sependapat denganmu, tetapi pakaian yang kamu kenakan itu membuat aku tak bisa membacamu seperti dahulu. Ada yang hilang dalam dirimu. Kau berjarak dengan perempuan-perempuan kampung kita. Kau sekarang tidak lagi berkunjung ke rumah teman akrab kita lagi. Teman yang tiga tahun lalu memberikan tempat di rumahnya untuk pertemuan-pertemuan kita melepas rindu. Kenapa? Jangan diam seperti itu, jawablah pertanyaanku.

“Baik.. baik.. aku akan jawab pertanyaanmu. Sebab teman kita di rumahnya banyak saudara laki-lakinya. Menurutku tidak baik bila berkumpul lama-lama tanpa ada tabir yang memisahkan perempuan dan laki-laki, karena itu bisa membuat khalwat dan dilarang. Kamu juga tahu, teman kita itu cara berpakaiannya cenderung tak menutup auratnya. Aku risih melihat perempuan yang seperti itu”

Apa hanya sekedar itu alasanmu. Tak masuk akal buatku. Setahuku masih wajar. Wajar dengan kebanyakan warga kampung kita dengan pakaian teman kita. Aku tak tahu detail apa sebenarnya motif-motif perubahannmu. Kau selalu mengatakan padaku ketika kita saling berbincang lewat telepon

“Kamu dan pikiran-pikiranmu didominasi oleh fikiran-fikiran orang-orang barat yang kafir itu”

Lagi-lagi aku tak faham dengan apa yang kau katakan. Bahkan sebelum usai kau menjelaskan dan aku pun belum selesai mengutarakan pendapatku. Kau mematikan teleponmu. Kau bilang kita tak baik berlama-lama berbincang bisa memancing nafsu dan termasuk Ihtilat . Istilah apa lagi itu. Kau bahkan sekarang sering mengunakan istilah-istilah yang berasal dari bahasa Arab. Tapi kalau kau, aku ajak bicara dengan Bahasa Arab tak pernah memberi respon. Sebelum pertemuan ini, pernah aku menelponmu tetapi yang menerima teman atau siapa itu, juga tidak jelas. Dia mengatakan bahwa aku tak boleh menelponmu sebab bukan muhkrim. Aneh saja menurutku, sekedar pertelpon dan bercakap saling menanyakan kabar saja tidak boleh.

Kau mengatakan aku didominasi fikiran-fikiran barat dan kafir. Kalau membaca buku-buku dari penulis-penulis ‘barat’ iya. Apa mesti aku terpengaruh dengan fikiran-fikiran orang ‘barat’ dan apa mesti fikiran-fikiran orang barat itu kafir. Aku kira tidak, karena menurutku Ilmu Tuhan itu ada di mana-mana bahkan lautan dijadikan tintanya untuk menuliskan tidak akan cukup. Kau kenal Muhammad Abduh, salah satu pemikir Islam pernah mengatakan “Saya melihat Orang Muslim di Timur tapi tak melihat Islam. Saya melihat Islam di Barat tapi tak melihat muslim” kira-kira begitu yang diungkapkan. Bahwa peradaban dunia kini milik barat, kita harus mengakui itu, tetapi tetap harus kritis membacanya karena mereka juga ingin mendominasi. Aku juga curiga bahwa orang-orang barat telah banyak mencuri ilmu-ilmu dari pemikir-pemikir orang-orang timur. Tapi begitulah zaman berbolak-balik.

Juga perlu kau ketahui, Ibumu sering bertanya padaku tentang kabarmu? Apa yang harus aku jawab, sedang kabar darimu saja tak pernah aku dapatkan. Ibumu selalu bertanya tentang hubunganku denganmu bagaimana? Sejak sebelum kepergianmu dulu kita bertukar cincin pertunangan. Dan kau menganggap ikatan itu belum resmi. Aku jawab saja sekenanya. Yang membuat ibumu terlihat puas dengan jawabanku. Sebab kamu jarang pulang juga membuat ibumu khawatir. Wajar orang tua khawatir pada anaknya. Tapi kamu tak merasa. Bahkan mungkin asyik dengan pemahaman barumu itu.

Kemarin kau tak ikut pemilihan Kepala Desa di kampung kita, kata ibumu tadi. Ibumu memberi tahu padaku tentang pandapatmu bahwa pemilihan kepala desa itu cara yang dipakai oleh orang-orang Barat. Ibumu bingung, makanya memberitahu aku. Malahan kau mengatakan sistem paling benar adalah sistem yang dimiliki oleh Islam. Lalu ibumu, aku beri penjelasan sekedarnya untuk menenangkan prasangka terhadapmu dan kekhawatirannya atas perubahan sikap dan perangaimu. Akhirnya Ibumu manggut-manggut dan menerima penjelasanku.

Tanpa memberikan jawaban apapun, kau pun pergi meninggalkanku di perempatan jalan ini. Kau pergi membawa kitab yang sama dengan yang aku punya. Kenapa jalan kita menjadi beda. Cincin yang melingkar di jari manisku pun patah saat langkahmu mulai jauh dariku. Dan jatuh di lubang yang kecil tak bisa aku ambil patahannya. Kau menaiki kendaraan yang mengantarkamu ke surga, begitu teriakmu. Kau meneriakkan itu padaku. Aku terdiam tak bisa berbuat sesuatu. Karena bagiku apapun yang mebuat berbeda adalah wajar. Sebab aku masih mencintaimu dengan segala perbedaan yang kita punya. Namun, pertemuan tadi adalah pertemuan terakhir kita. Tak bisa melakukan apa-apa hanya waktu yang mempertemukan segala nasib. Masih aku menyumpahi keberbedaan yang tertutup baju kebesaranmu. Aku rasa juga tak berguna. Kau sudah pergi, kau sudah tidak bisa menyatu dengan kampung kita lagi.

Kau membangun kotamu sendiri. Saat aku membaca surat yang kau kirim tanpa kau sertai alamatmu. Kota apakah yang kau bangun. Ah, buat apa aku berandai-andai. Lebih baik aku kembali membaca isyarat Tuhan pada petanda yang Ia kabarkan padaku.

Lamongan-Malang, 2010-2011