Reformasi Tanpa Evolusi Mental

Beni Setia
http://www.suarakarya-online.com/

DI Bukitcermin, Tanjungpinang, Kepri, ketika acara Temu Sastrawan Indonesia III (28-30/11) saya bertemu Nurhidayat Poso (NP)>. Saat itu menjelang di tengah malam, usai malam kesenian di Anjung Cahaya, tepi pantai yang hanya sepelemparan peluru meriam dari P Penyengat yang termasyhur itu. Menyawang lekukan bukit kota Tanjungpinang yang hanya cahaya lampu, merasakan udara basah pantai serta dingin seusai gerimis. Tidak ada bulan, dan kami, S Yoga, NP, Badruddin Emce, dua teman LSM dan saya, menikmati kegelapan langit dengan kerdip lampu ekor pesawat yang melintas dalam nyaris sunyi oleh deru angin laut.

“Itu pasti mau ke Eropa,” kata NP. Kami diam. Lantas tercetus ucapan NP, yang satu saat akan ke Ngawi, ada acara yang diselenggarakan oleh Kusprihyanto Namma. Saya berjanji akan datang, Carauban-Ngawi itu hanya 45 menitan dengan bus, nyaris 24 jam tersedia. Tak ditanyakan kapan itu, dan acara apa itu. Tapi di minggu terakhir Novemper dikabarkan NP akan tampil di Ngawi. Lebih tepatnya: Komunitas Teater Magnit Ngawi dan OSIS Madrasah Aliyah Negeri (MAN) II Ngawi di MAN II di Jln Lingkar Selatan, Ngawi, menyelenggarakan pidato kebudayaan NP (Tegal), dengan kop unik “Teater dan Sastra dari Balik Kacamata Minus 4,5”.

PIDATO kebudayaan NP itu merupakan semacam analisis atas kondisi kreatif dan situasi seni budaya terkini di Ngawi, meski dari sisi pandangan pelancong kreatif. Mengorak iklim kreatif dengan penekanan atas sejarah panjang atmosfir penciptaan di Ngawi, yang kuasa melahirkan sajak patah hati Chairil Anwar, sama gadis (Sri Ayati) dari Paron, gemilang, “Senja di Pelabuhan Kecil”. Atau fakta tempat kelahiran Umar Khayyam, dengan rumah keluarga priyayi Jawanya di Jln Kartini, Ngawi, dan bringin kurung Alun-alun Ngawi yang estetik dikekalkan dalam Para Priyayi. Disusul kehadiran dari Hardho Sajoko SPB, Aming Aminudhin, Anas Yusuf, Kusprihyanto Namma, dan si kembar Tjahjono Widarmanto dan Tjahjono Widianto. Tetapi setelah itu siapa? Ada kegelisahan di Ngawi yang ditangkap NP, yang diapungkannya dalam pidato kebudayaan tanpa teks. Dan jawabannya langsung menuding Pemda, yang tak mau peduli dan yang tidak merasa berkepentingan dengan membina dan menjaga atmosfir kreatif yang membuat nama Ngawi itu mencorong di jagat sastra.

Birokrat Ngawi tidak peduli, menafikan potensi kreatif Ngawi, bersibuk dengan pembangunan mercu suar. Fakta Dewan Kesenian tingkat kabupaten yang seharusnya ada, sesuai instruksi resmi Mendagri dan yang belum dicabut itu: diabaikan. Bahkan faktanya Dewan Kesenian Ngawi (DKN) itu kini mati suri.

Alhasil tak pernah ada kegiatan yang didanai Pemda, yang direncanakan setahun ke depan dan didukung birokrat Ngawi, sekedar hadir menonton, misalnya, meski di Ngawi tetap ada kegiatan seni, yang dilakukan pihak di luar DKN dan otomatis tanpa pembiayaan dari Pemda, minimal sebulan sekali. Pentas swadana yang membuat aura kreatif Ngawi berpendar di jagat seni Indonesia. Asyik tanpa ada seorang birokratpun yang meluangkan waktu untuk menonton sampai tuntas, terlebih ikut diskusi memacu apresiasi.

Jawaban NP merujuk pentingnya sebuah pressure, karena dana untuk kesenian itu biasanya ada serta dipersiapkan dalam APBD, sebelum dialihkan ke pos lain lewat pleno PAK DPRD. Jadi (sastrawan, seniman) jangan bosan berteriak untuk menagih hak atas dana yang sejak awal dipersiapkan untuk itu.

Pembiroan serta kehadiran birokrat yang mengelola pos kegiatan yang tiap tahun melahirkan event FL2SN (Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional), di tingkat SLTP dan SLTA dengan sekian puluh jenis kesenian, dari level kabupaten, provinsi, sampai nasional. Tapi apakah sekolah mendukung dengan menyediakan dana buat ekstra seni siswa dengan berinisiatif membayar pembina seni dari luar? Tapi apakah Diknas level kabupaten sukarela mempersiapkan dana untuk mengakomodasi si pelajar yang punya bakat (lifeskill) seni? Rasanya jauh panggang dari api, karena seluruh insting birokrat hanya peka pada proyek fisik dan bukan membina karakter dan lifeskill siswa. Gedoran itu yang seharusnya membuat semua birokrat di level kota/kabupaten bercermin dan mengubah apresiasi mereka akan pembinaan seni sejak dini,tak medit membiaya kesenian sambil memboroskan uang rakyat untuk sepakbola yang dipenuhi pemain asing bergaji besar. Di luar itu, saya mendapat oleh-oleh yang lebih menarik: sebuah buku, kumpulan naskah drama berjudul, Tiga Lakon Sandiwara (TLS). Dan di bawah ini saya pingin menghubungkan kegalakan NP di Ngawi dengan apa-apa yang ada ditulisnya dalam TLS.

Setidaknya hal itu sangat kentara dalam lakon “Roro Ireng” (1987) dan (Ndoro Luwak) (1989), yang tampil dalam versi bahasa Indonesia; sedangkan “The Sintren of Randu Alas” (2002), yang hadir dalam versi bahasa Inggris, merupakan satu deskripsi proses seseorang menjadi sintren. Meski ditekankan pada aspek magik upacara sintren buat merubah kecantikan seorang wanita jomblo yang semua sebayanya telah punya empat anak. Sebuah manipulasi magik dengan memanpaatkan iblis, tetapi tidak gratis karena harus membayar mahar 2 ekor kambing, yang melahirkan shock mental bagi si yang terpilih jadi sintren dan menjalani upacara magik-meski tetap membuatnya jadi gadis populer.

Tapi apakah sintren itu hanya si seorang perfomer seni magik? Atau lebih dalam dari sekedar itu karena si bersangkutan juga bisa menjadi wanita penghibur yang amat digilai lelaki karena pesona magik sintren? Tak dijelaskan dalam naskah lakon, yang tampaknya dilirik oleh Heather Curnow itu-yang mengadaptasi dan menterjemahkan naskah NP: aspek deskriptif upacara atau perfoming sintren yang eksotik. Tapi itu pula yang membuat NP keliling Australia. Melihat naskah itu dipentaskan di Darwin High School dan di Museum and Art Galery, Hobart, selain ditampilkan dalam proses reading di Adelaide University, La Trobe University, dan Tasmania University.

Mutlak ingin ujug kuasa bisa menguasai apapun, sebelum ia bertemu bekas istri “sepiring berdua” nya, ketika dulu merintis karier, yang ditendang saat ia mulai kaya-sehingga perempuan itu jatuh ke surga pelacuran sebelum akhirnya jadi sampah yang tak laku. Orang yang awalnya ragu-ragu, tapi kemudian bertekad baja buat menentang keinginan si pemborong menggusur wilayah, yang bahkan akhirnya tegen membunuh si pemborong yang bekas suaminya itu. Meski melodramatik, berpesan membatalkan penggusuran sebelum ajal menjemputnya, lakon itu berkutat dengan komedi hitam orang gagal, yang marah karena tak berdaya tapi anehnya tak punya keberanian untuk bunuh diri. Potret kemiskinan serta pemiskinan di kota.

Lakon “Ndoro Luwak”, diilhami lakon “Inspektur Jendral” Gogol, bersimain di pusat kekuasaan daerah yang sangat takut dan tergantung pada pusat-gambaran khas sentralisasi Orba, hingga mereka melakukan segala cara untuk mempengaruhi opini obyektif sang pengawas dari pusat, ketika mendapat informasi akan ada pemeriksaan. Inti gejolaknya terjadi di sana, dengan intrik dari seorang wanita ambisius si pengejar nikmat dunia (Pamela Dobleng), tapi substansi lakon ini tetap ada di daerah marjinal, selain di pabrik di mana buruh dijadikan robot dengan upah minim, tema minor yang mengingatkan pada Arifin C Noor.

Di tempat di mana rakyat kecil kota semi agraristik mempertaruhkan nasib serta keberuntungannya dalam dan dengan judi sabung ayam, tak peduli perjudian itu akan menguras harta yang tersisa. Di momen mereka terpaksa menggadaikan istri, bahkan gigi emas yang melekat di gusi: ketika seorang asing, pengangguran, memaksa ikut berjudi dengan menggadaikan negara karena cuma itu miliknya yang tersisa. Sinisme nasionalisme yang memancing kemarahan para kurcaci itu, lalu terjadi penganiayaan, yang mendatangkan pasukan pengamanan yang sedang berjaga menunggu kedatangan petugas pemeriksa dari pusat. Spontan mengamankan dan melakukan interogasi.

Dan ketegangan menunggu kedatangan si pengawas melahirkan misidentifikasi, yang membuat si orang asing anonim itu jadi si inspektur jenderal, yang setengah gila memangpaatkan kesempatan aneh itu buat jadi sang raja tak bermahkota, menghukum semua pengeroyokan, menikmati fasilitas dinas, menyikat anak Ndoro Besar, Pamela Dobleng, dan kemudian menghilang saat inspektur jenderal sebenarnya datang. Tidak sekedar untuk cermat memeriksa, yang bisa dilunakkan dengan suap, tapi langsung mengambilalih jabatan si Ndoro Besar dan mengeliminasi semua bawahanya, dengan arogan menunjukkan SK dari pusat.

Di babak terakhir NP menunjukkan telah terjadi reformasi orang meski tetap mengekalkan mental koruptif suka kongkalikong mencari keuntungan pribadi yang khas orde sebelumnya, yang secara kurang ajar disitunjukan NP lewat adegan Pamela Dobleng dan kekasihnya, sang pengawas dari pusat Prediksi pesimistik NP yang ternyata kini terbukti, dan semakin galak dikatakan dalam pidato budaya di Ngawi tentang situasi kreatif kesenian Ngawi yang tak pernah diperhatikan dan terlebih didukung oleh birokrat dan politikus Ngawi, karena jabatan bupati dan wakil bupati itu jabatan politik dan bukan jabatan karir PNS yang biasanya mentok memuncak pada posisi sekda. Sebuah sergahan yang indah dan membuat kita harus kembali berjuang menegakkan yang benar, meski masih mungkinkah itu.***