“Cerpen Raudal Tanjung Banua” Kisah Fakta di Peta Fiksi

Adrian Ramdani
http://www.kompasiana.com/adrianramdani

“Cerita pendek dan realitas nyata” pernah menjadi pembicaraan hangat decade 1990-an. Waktu itu media massa, termasuk majalah dan yang berlabel sastra, disinyalir lebih memilih cerpen-cerpen dengan latar peristiwa nyata dan faktual. Apapun kecenderungan itu, membawa pengaruh bagi cerpenisyang berkembang pada waktu itu. Barangkali benar kata Agus Noor, strategi agar sebuah cerpen bisa lolos seleksi redaktur adalah dengan menulis cerpen berdasarkan peristiwa yang menjadi “headline” media massa, atau peristiwa-peristiwa nyata itu sendiri memang memaksa seorang cerpenis untuk menulis.

Apapun alasan seorang cerpenis menulis cerpen, kenyataan “fakta dan fiksi” itu kembali teringat ketika membaca 18 cerpen Raudal Tanjung Banua dalam buku Pulau Cinta di Peta Buta. Hampir semua cerpennya berseting wilayah-wilayah yang kita kenali sering menjadi berita media massa. Aceh, Sulawesi, Timor-Timur, Jakarta, kekumuhan kota, kemiskinan desa, dan sebagainya.

Wilayah-wilayah itu barangkali tidak digambarkan secara saklak. Tapi plot yang disusun, konflik yang disandang tokoh cerita, mengingatkan pada wilayah-wilayah seperti ini. Pada dekade 1900-an itu, atau mungkin masih berlanjut sampai sekarang, wilayah-wilayah konflik menjadi seting emas para penulis cerpen. Barangkali puluhan cerepnis, atau mungkin ratusan, berkembang pada waktu itu. Mereka menggali ide, membolak-balikan daya ucap, cara bertutur tentang wilayah konflik itu. Meski begitu, penulisan cerpen berdasarkan fakta punya tonggak sendiri. Tokoh yang tidak bisa dilupakan Seno Gumira Ajidarma yang lantang menyatakan “ketika jurnalisme dibungkam sastra harus bicara”. Salah satu titian popularitas Seno adalah buku kumpulan cerpen Saksi Mata yang hampir semua cerpennya berseting Timor-Timur. Fakta wilayah operasi militer itu (sekarang terpisah dari wilayah RI menjadi negara yang berdaulat) oleh Seno dituturkan menjadi cerita-cerita ajaib. Seorang saksi mata datang ke persidangan tanpa mata, seorang wanita mengoleksi irisan telinga dari orang-orang yang masih hidup kiriman dari pacarnya.

Kisah ajaib Seno itu tidak saja diikuti oleh banyak penulis muda, tapi simbolisme juga merebak di kalangan penulis senior. Danarto yang biasa menulis cerpen “wilayah-wilayah langit” yang tidak gampang disusun, juga salah seorang tonggak percerpenan Indonesia, menulis cerpen-cerpen berdasarkan fakta seperti dalam cerpen Jejak Tanah dan 7 Sapi Kurus Memakan 7 Sapi gemuk. Dalam “Jejak Tanah”yang kemudian dinyatakan menjadi cerpen terbaik di sebuah harian Jakarta, Danarto mengisahkan mayat yang tidak diterima tanah. Setiap dikuburkan mayat itu muncul lagi ke permukaan, itulah mayat koruptor yang selama hidupnya perilaku korup berproses menjadi sesuatu yang tidak salah.

Raudal Tanjung Banua tentunya mengenal trend penulisan cerpen waktu itu. Meski tema menggali fakta untuk fiksi menyemangati cerpen-cerpennya, Raudal mandiri untuk banyak hal. Trend peristiwa simbolis tidak begitu memengaruhi. Cerpen Raudal termasuk realis meski imajinasinya mengalir deras. Pilihan terhadap tema berdasar peristiwa faktual sendiri mempunyai alasan tersendiri, bukan sekedar mengikuti trend dan kecenderungan seleksi redaktur media massa.

Dalam cerpen “Elegi di Kantor Pos” yang membuka buku terbitan Jendela itu, Raudal berkisah tentang seseorang penulis yang bertemu seorang gadis yang selalu menjilati perangko-perangko surat yang akan dikirimkan. Ketika gadis itu tahu orang yang perangkonya selalu dijilati itu seorang penulis, terjadilah dialog seperti ini.

“Kau tukang cerita? Oh, betapa menyenangkan. Tentu ceritamu dibaca orang banyak, dan kau dapat menuliskan gejolak hatimu karena ada tempat berbagi. Tentu kau akan menulis tentang negeri yang rakyatnya miskin dan lapar, sekarat dihajar dendam dan pertikaian…?”

Aku merasa mual diserang malu. Tapi kusembunyikan. Bukankah ia seperti menyindirku? Aku tidak menulis tanah-tanah yang ditinggalkan, orang-orang yang kehilangan, lapar dan derita. Ceritaku selalu tentang negeri yang penuh warna. Keluarga bahagia. Percintaan Cinderella. Adakah ia tahu semua itu? Kalau begitu, siapakah ia sebenarnya, apa maksudnya menguntitku?(hlm.4)

Rasa malu itu yang mewarnai cerpen-cerpen Raudal. Karenanya dia menuturkan tentang pemerkosaan terhadap wanita etnis tertentu (cerpen Lengkung Pilu Terompet Waktu), daerah operasi militer (cerpen Purnama di Serambi, Seekor Kambing Mati Tergantung), daerah kerusuhan dua etnis atau golongan (cerpen Bis Berhenti di Kampung Lengang, Rendesvouz), perlawanan buruh kecil terhadap kekuasaan kapitalisme (cerpen Truk Berderak Membelah Kelam), daerah konflik (cerpen Helena Da Costa, Pertemuan di Jakarta), kolusi pengusaha-pengusaha (cerpen Lembah Riang dan Kemilau Mata Air) dan sederet kisah tragis dari negeri yang carut marut.

Kemandirian Raudal Tanjung Banua terasa dalam mengolah cerita sebagai sudut pandang memotret sederet peristiwa tragis itu. Dia tidak mendramatisir menjadi cerita yang hebat, wah, ajaib, menakjubkan. Kecuali cerpen “Elegi di Kantor Pos”, semua cerita Raudal biasa saja, keseharian, realis. Tapi justru cerita sederhana itu kekuatan cerpen-cerpen Raudal. Ada rasa humor nyantai, tapi terasa lebih getir.

Cerpen “Purnama di Serambi” mengisahkan seorang wanita hamil yang menunggu suaminya di serambi. Suaminya memang suatu hari “diambil” aparat entah untuk apa. Hampir setiap malam wanita itu tidak bisa tidur. Dia berharap anaknya yang akan lahir disambut oleh ayahnya. Tapi yang datang malah sepasukan aparat yang langsung mengepung dan membentak,”Menyerahlah wanita mata-mata, sepanjang malam engkau tidak tidur!”

Rasa humoris lainnya banyak mewarnai cerpen Raudal lainnya. Cerpen”Seekor Kambing Mati Tergantung” mengisahkan seorang lelaki yang mau gantung diri. Tapi dia tidak berhasil karena ketika baru menggantung, sepasukan tentara menyergap, menyuruh menyerah, dan mengangkutnya ke penjara. Cerpen “Bus Berhenti di Kampung Lengang” juga mengisahkan seorang sopir bus yang berhenti akan menemui ibunya, busnya dikepung sepasukan tentara. Cerpen “Tanah Harapan” mengisahkan serombongan imigran gelap dari daerah Lombok, bermaksud menyeberang ke Malaysia, tapi ditipu makelar, akhirnya mereka mendarat tengah malam di wilayah Nusa Tenggara Barat juga.

Selain ceritanya yang humoris, kekuatan cerpen Raudal lainnya adalah bahasanya yang puitis. Ketika trend menulis cerpen mengarahkan para cerpenis muda menulis kekosongan makna dengan “kemegahan bahasa yang meliuk-liuk”, cerpen Raudal seperti menghindari hal itu. Bahasanya puitis, meliuk-liuk juga, tapi masih mengikuti jalur cerit. Artinya, ada plot, ada konflik, dan kecenderungan sebuah cerita lainnya. Kalaupun dianggap sedikit melelahkan, kadang semangat berpuisi sering kepanjangan. Tapi barangkali harus dimaklumi bahwa Raudal adalah seorang penulis puisi juga.