Buku Panduan untuk Para Pemimpin

Judul buku : The Swordless Samurai; Pemimpin Legendaris Jepang Abad XVI
Penulis : Kitami Masao
Penerbit : Zahir Books, Jakarta
Cetakan : I, Januari 2011
Tebal buku : 280 halaman
Peresensi : N. Mursidi
http://www.lampungpost.com/

TIDAK banyak orang yang lahir dari keluarga miskin, bukan keturunan bangsawan, bahkan tidak mengenyam pendidikan bisa merengkuh karier gemilang. Toyotomi Hideyoshi bisa disebut contoh dari kelangkaan itu. Ia anak petani miskin, berwajah jelek, pendek, tidak punya pendidikan memadai. Apalagi, ia lahir di Jepang abad ke-16—di zaman perang antarklan/masa kekacauan—yang menuntut orang lihai bermain pedang. Tak ayal, jika kondisi itu tidak memberi peluang bagi Hideyoshi untuk bisa memiliki tempat bertahan hidup dan berkarier jadi pemimpin besar. Ia seperti dilahirkan dengan dibelit setumpuk nasib buruk.

Tapi nasib buruk itu tak membuat ia kehilangan mimpi. Ia membalik kutukan itu jadi keberuntungan. Ia bisa menjahit takdir kemiskinan jadi kemujuran. Ia tak menjadikan kekurangan itu melilit peta hidupnya. Dalam perjalanan hidupnya, ia memupuk semangat untuk jadi pemimpin dengan mengandalkan otak daripada tubuh, akal daripada senjata, strategi dan logistik daripada tombak. Ia kerja tiga kali lebih keras dan ia berhasil menjadi pemimpin.

Titik balik Hideyosi terjadi saat ia berusia 15 tahun, ia meninggalkan rumah lalu berjanji pada ibunya; ia tak akan pulang sebelum berhasil meraih apa yang ia impikan. Ia berpetualang, dibelit kelaparan, dan jeratan penderitaan. Setelah lelah menggelandang, ia ikut klan Matshushita, lalu mengabdi Lord Nobunaga. Awal mengabdi pada Nobunaga, ia jadi pelayan pembawa sandal tapi hal itu tak mengurangi pengabdiannya. Apalagi—di matanya—Nobunaga adalah pemimpin luar biasa dan memiliki visi ke depan.

Kerja keras, pengabdian, dan kesetiaan yang diukir Hideyoshi lambat laun membuahkan hasil. Ia menapaki jabatan; dari pembawa sandal jadi pengelola kayu bakar. Setelah dia berhasil mengubah kemustahilan jadi kenyataan saat memenuhi tantangan membangun benteng Kiyoshi, dia naik jabatan jadi prajurit. Ketika ia kembali berhasil membangun benteng Sunomata, dan berhasil menyusun strategi perang yang bisa mengalahkan beberapa lawan, ia diangkat jadi jenderal. Karier Hideyoshi melesat cepat. Bahkan berhasil menjadi pemimpin. Setelah Nobunaga dibunuh Mitsuhide, ia menuntut balas, kemudian meneruskan perjuangan Nobunaga menyatukan Jepang dan kemudian jadi wakil kaisar.

Ia meraih jabatan tertinggi dimulai dari bawah tak mengandalkan silsilah, melainkan otak dan kerja keras. Tetapi tak ada manusia yang sempurna. Setelah jadi wakil kaisar, dia terlena; sombong, dan lupa diri. Setelah Jepang damai, dia tidak bisa mengendalikan diri untuk mengekang obsesi menggempur Korea dan China. Itulah satu ambisi di ujung usia Hideyosi yang melukai riwayat hidupnya yang cemerlang.

Ditulis Kitami Masao dalam bentuk pengakuan (dengan gaya bertutur; “aku” Hideyoshi), buku ini mengungkap cukup adil riwayat hidup Hideyoshi. Buku ini tidak hanya mengisahkan setumpuk prestasi dan keberhasilan Hideyoshi, melainkan juga setumpuk kegagalan setelah ia meraih jabatan. Dilengkapi setumpuk data; berupa lembaran surat, dokumen dan penelitian ahli sejarah, penulis pun menjamin; buku ini mendekati “akurat di tengah-tengah mitos yang melingkupi kepemimpinan Hideyoshi”.

Lebih dari itu, buku ini menawarkan setumpuk prinsip, rahasia hidup yang dapat digali dari perjuangan Hideyoshi dalam menapaki karier jadi wakil kaisar. Maklum, karena buku ini tak hanya sekedar cerita tentang keberhasilan Hideyoshi melainkan juga berisi prinsip, rahasia sukses dan kebijakan politik “sang pemimpin besar” yang dicatat oleh sejarah. Dengan prinsip-prinsip itu tentu pembaca bisa merengkuh pelajaran berharga dari kebijakan-kebijakan politik Hideyoshi.

Apalagi, buku ini terbit dalam edisi Indonesia pada saat yang tepat. Banyak elit politik yang haus kekuasaan untuk jadi pemimpin/pejabat. Karena itu, buku ini bisa jadi semacam buku panduan untuk para pemimpin. Sebab dari kepemimpinan Hidoyoshi terpantul rasa empati pada rakyat yang bisa jadi pelecut bagi elite politik di negeri ini agar tak mengesampingkan kepercayaan yang diberikan rakyat. Pasalnya, di balik riwayat hidup Hideyoshi, penulis menuturkan beberapa nasehat, petuah dan bahkan kebijakan politik yang digali dari setiap lembaran hidup yang pernah ditapaki Hideyoshi.

*) Cerpenis dan bloger buku, tinggal di Jakarta