Maqam Siti dalam Surabaya

Yesi Devisa*

Bung Tomo dan Siti Surabaya yang Bonek, mampir dan curhat di bumi arema? Ini yang tengah terjadi pada hari Jum’at, tepatnya pada tanggal 25 Februari pukul 14.00 WIB di Laboratorium Drama Fakultas Sastra UM. Di sana, “Bung Tomo dan istri” mengawali pentas dengan acara curhat. Lelucon-lelucon khas Surabaya tak henti mereka suguhkan. Tak ada bentrok atau tawuran, malah yang ada adalah suasana akrab bersahabat dengan Acara dilanjutkan pada acara inti dengan sedikit lebih serius;

Bedah total Siti Surabaya dan Kisah Para Pendatang. Tapi jangan salah sangka, karena Siti Surabaya adalah salah satu judul puisi karya F. Aziz Manna dalam antologi puisinya yang berjudul Siti Surabaya dan Kisah para Pendatang.

Acara bedah buku ini menghadirkan Mashuri (penyair dan penulis novel Hubbu) dan Suryadi dari PPS Unair sebagai pembicara serta Marcell sebagai moderator. Meski sedikit sepi pertanyaan, namun diskusi hidup dengan pembahasan yang berbobot.

Mulai dari bagaimana proses kreatif penyair dalam melahirkan Siti Surabaya, bagaimana penyair dianggap epigon Remi Silado, hingga membicarakan maqam-maqam penyair dalam kesusastraannya. Meski semua pertanyaan dijawab dengan lugas dan mendalam oleh para pembicara dengan bumbu-bumbu guyon, tapi tidak kurang keseriusannya dalam memberi penjelasan.

Di tengah berlangsungnya diskusi, sang penyair, Mas Aziz, membacakan puisi andalannya; Siti Surabaya. Puisi panjang ini begitu hidup dalam penghayatannya dan semua yang hadir dalam diskusi itu terbawa suasana. Larut dalam cerita Siti.

Uniknya, dalam puisi yang panjangnya menghabiskan hampir 4 lembar halaman buku itu terdapat kutipan syair lagu janji karya Roma Irama yang dipopulerkan oleh Evie Tamala dan Rita Sugiarto, serta kutipan mantra dari serat Centini.

Puisi-puisi Aziz begitu jujur dan menangkap peristiwa apa adanya tanpa bermaksud mempengaruhi siapapun. Surabaya digambarkan sebagaimana adanya, tanpa melebihkan dan mengurangi. Pencitraan kota Surabaya dalam puisi Siti Surabaya akan membuat semua orang yang mendengarkan segera menganggukkan kepala dan menyetujui kata-kata di dalamnya.

Siti yang ayu nan lugu menjadi terrayu hedonisme hingga mengubah jati dirinya menjadi city seksi serba mini.
Lalu, akankah Siti akan pindah ke Malang?

*Mahasiswi Sastra Indonesia Universitas Negeri Malang dan Pegiat Pelangi Sastra Malang.