Muara Jambi

Sunaryono Basuki Ks
http://www.suarakarya-online.com/

Akhirnya pesawat kami mendarat di Bandara Sultan Taha yang kosong, tanpa terlihat pesawat lain yang parkir. Pesawat Batavia Air berhenti sekitar dua ratus meter dari bangunan kedatangan dan ketika sampai di depan pintu pesawat, Wayan Sadnyana dalam seragam pramugara dan sosok tubuhnya yang tak begitu tinggi menunjuk ke lantai landasan dimana seorang lelaki telah siap dengan sebuah kursi dorong.

“Itu untuk Bapak.” “Untuk saya? Terimakasih!” Aku tak memesan sebuah kursi dorong namun nampaknya petugas di Jakarta memperhatikanku kesulitan berjalan saat aku dituntun Dedi anak bungsuku yang membawa dua buah koper kecil dan sebuah tas ransel di punggungnya. Aku sendiri hanya membawa tas kecil berisi air minumku dan kue-kue, dengan susah payah turun dari pintu belalai, dan kemudian berjalan ke tangga pesawat serta naik. Entah untuk apa kami disalurkan lewat jalan belalai kalau kemudian disuruh keluar lagi melalui pintu dan turun di tangga beton. Hal itu membuatku megap-megap. Apalagi baru saja aku turun ke toilet dan disusul oleh Dedi. Tan Lioe Ie sudah melangkah duluan dengan menyandang gitarnya yang terbungkus sarung kulit yang akan dipakainya mengiringi musikalisasi puisi dalam acara Pentas Seni pada Temu Sastrawan Indonesia I di Jambi.

Panitia memberiku dua buah tiket, yang sebuah untuk Dedi sebab kukatakan aku tak mungkin bepergian sendiri, harus dikawal oleh istri atau anakku. Lantaran pesawat berangkat jam enam pagi maka kami harus menginap di Denpasar, tak mungkin berangkat dari Singaraja yang letaknya 100 km dari bandara Ngurah Rai. Memi istri Dedi mencarikan voucher hotel gratis bagi kami, hotel Aston Tuban yang terletak tak jauh dari bandara. Di Jambi aku harus membawakan makalah yang kutulis berdasarkan puluhan buku baru yang kebanyakan dibelikan oleh Memi. Tanpa buku-buku itu tak mungkin aku tahu perkembangan fiksi Indonesia mutakhir. Hardiman juga meminjamkan sekitar sepuluh buku teori sastra dan estetika, serta Jurnal Cerpen edisi terakhir.

Di bandara aku dijemput oleh Laisson Officer. Ah,model pertemuan besar. Aku pernah bekerja sebagai LO untuk Menteri Pendidikan Thailand saat diadakan konferensi para mendikbud Asean di Nusa Dua. Sebagai LO aku harus menempel terus pada menteri, menjemputnya di pintu kamarnya, membawanya ke ruang pertemuan.

Seharian aku harus berjalan ratusan meter atau mungkin kilometer di Hotel Sheraton Nusa Dua yang luas itu. Apakah LOku di Jambi akan berbuat yang sama? Kalau di Nusa Dua pada akhir tugas aku mendapat hadiah mug dari kerajaan Thailand dan amplop berisi lima puluh dollar AS, hadiah apa yang harus kuberikan pada LOku?

Dari ruang tunggu khusus di bandara kami diantar ke hotel Grand, diserahkan panitia dan kemudian dihubungi oleh LO hanya melalui sms pada HP. Pada buku panduan selain semua makalah dan daftar peserta (yang ternyata tak semua datang. Kurnia Effendy yang berjanji akan bertemu di Jambi dan namanya tercetak dalam daftar peserta ternyata tidak datang karena tak mendapat izin cuti dari kantornya di Indo Mobil) aku membaca pula daftar acara. Acara resmi, pembukaan, seminar, diskusi, dan pentas seni di Taman Budaya Jambi terasa biasa. Yang istimewa bagiku adalah tur ke situs percandian Muara Jambi yang akan dilakukan dengan menumpang “ketek” di sungai Batanghari. Kukira itu “gethek” atau rakit di Jawa, pasti menarik. Hari Kamis yang kutunggu tiba. Dari hotel kami dibawa ke Pantai Ancol! Ah, kenapa harus ke Jakarta?

Ancol ternyata bukan pantai tetapi sekedar tepian sungai sepanjang sungai Batanghari. Yang menunggu pun bukan rakit tetapi sampan biasa, selebar sekitar satu setengah meter dan sepanjang lima meter, beratap kayu dan tempat duduknya juga dari bilah-bilah papan melintang. Untuk naik ke dalam sampan aku harus dibimbing menuruni tangga kayu ke tepi sungai yang airnya sedang surut, lalu meniti titian papan yang diletakkan diatas batu-batu agar tak tenggelam kedalam lumpur. Agar aku dapat naik, sampan dipegangi supaya tak bergoyang dan aku dipapah Dedi dan seorang peserta.

Akhirnya sampan meluncur didorong mesin, padahal bensin sedang sulit diperoleh di Jambi. Sungai yang airnya surut menyebabkan kapal tanker tak bisa masuk Jambi, dan ini “musibah” tahunan setiap musim kemarau. Sungai Batanghari cukup lebar dibanding sungai-sungai di Jawa apalagi di Bali, selebar Kali Brantas yang sudah mencapai Porong. Namun Sungai Batanghari tidak selebar Sungai Martapura yang hampir seperempat abad sebelumnya kulayari, juga dalam sampan yang lebih lebar. Tentang Sungai Martapura aku menulis puisi, tentang Batanghari entahlah. Larik-larik dari

Sungai Martapura mencari kenanganku ke masa lalu:Sungai Martapura, Suatu Senja/buat Jantera Kawi/kususuri sungai yang membuka mulutnya lebar-lebar/di atas perahu motor/yang oleng/ sementara matahari mulai terlempar jatuh ke air/ yang menyorong sampan perempuan tua/dengan dagangannya/yang menyorong impian/tentang benua yang purba/tentang benua/yang menyorongkan usia//anak-anak dan perempuan/tak malu-malu menggayung airnya/dan mengguyurkan ke tubuh/yang seharian berpeluh/tak malu-malu/menjabat rindu/yang dialirkan martapura/dari hulunya/yang diulurkan tangan raksasa/dari ujung cakrawala//martapura adalah mulutnya/yang melelehkan air liur/bagi kita semua/seperti anak-anak dan perempuan/yang membasuh muka/dan kedua belah daun telinga/ketika senja turun/memanggil namanya//martapura,martapura, demikian nadinya/yang mengalirkan semburat merah/di wajahnya//yang kita cari/ketika senja turun/ketika kiota menyebut namanya.//

Aku teringat penyair Ajamuddin Tiffani yang telah tiada, aku juga teringat penyair Hijaz Yamani yang gagal kutemui, duduk di depanku seorang lelaki berambut gondrong, dengan penampilan benar-benar seorang seniman, dengan mencanglong tas hitam dengan bordiran berwarna merah kuning putih biru dari panitia Temu Sastrawan Indonesia I Jambi. Dari lelaki ini aku mendapat info cukup banyak tentang Jambi, tentang sungai Batanghari dan tentang bangunan-bangunan di tepi sungai.

Di tepi Martapura aku menyaksikan galangan kapal pinisi Bugis, di sepanjang tepi sungai Batanghari aku mencium bau menyengat.
“Itu bau karet,” katanya.

Di sepanjang Martapura aku diberitahu soal Pulau Kera yang seluruh penghuninya kera, tetapi tak ada pulau di Batanghari, hanya daratan biasa tak berbentuk pulau.

“Kita menuju Riau,” katanya.
Di tempat berlabuh tidak ada dermaga. Yang ada hanya batu-batu yang ditumpuk di atas tanah berlumpur agar kaki tak tenggelam ke dalam lumpur. Toh celanaku berlumur lumpur, juga sepatu kulit yang kukenakan. Dari tepi sungai aku harus mendaki ke daratan beberapa meter tingginya, dan sesampai di daratan, tak ada tanda-tanda situs Muara Jambi.
“Masih setengah kilometer lagi.”

Dedi mencarikan lelaki bersepeda motor yang mau mengantarkanku ke situs, syukurlah ada seorang anak muda yang berbaik hati mengantarkanku ke sana sementara anakku bersama Hamsad, bahkan LK Ara dan istri yang sudah lebih tua dariku, berjalan kaki dengan langkah tegap.

Tiba-tiba aku disambut gamelan lembut, makin jelas nadanya semakin aku mendekat ke situs. Seluruh percandian dihias dengan umbul-umbul warna warni, juga hiasan janur pada tiang bambu. Segerombolan orang berpakaian kuning dan kepala para lelaki gundul, sementara lelaki lain berpakaian kain putih yang dililitkan pinggang dan bertelanjang dada, dan yang perempuan mengenakan kain batik yang dililitkan setinggi dada, membawa sesajian berupa buah-buahan di atas talam papan, semuanya menuju candi besar di pelataran terbuka yang cukup luas. Terdengar genta berkelinting menembus pepohononan.

Aku melangkah dengan pasti menuju pusat upacara, sementara orang-orang yang kulewati menyingkir seolah memberiku jalan dan membungkukkan badannya.. Ah, aku pasti cuma bermimpi, duduk di bangku beton di naungan pohon durian dan rambutan. Di kejauhan terhampar bekas candi yang tinggal dasarnya dan dinding batu merah tipis setinggi satu meter. Pasti hasil restorasi, sementara sosok candi yang lebar dan panjangnya puluhan meter itu tak ketahuan. Di Blitar ada Candi Penataran yang luas, namun situs candi Muara Jambi jauh lebih luas. Dimas yang ketua panitia bilang situs itu seluas dua belas kilometer persegi, dengan candi-candi tersebar si berbagai tempat. Situs percandian dalam hutan durian dan rambutan!

Apakah aku dulu seorang bangsawan terhormat dari kerajaan ini? Dengan candi yang demikian luas, aku dapat membayangkan bahwa kerajaannya juga sangat luas. Apakah disini Kerajaan Sriwijaya yang terkenal sampai ke seluruh Asia Tenggara itu, yang menjadi pusat studi agama yang banyak dikunjungi siswa-siswa dari penjuru dunia? Bukankah orang percaya Sriwijaya ada di Palembang?

Di musem purbakala di kompleks percandian itu kulihat keramik-kemarik Cina yang mungkin saja ditinggalkan oleh ekspedisi Laksamana Ceng Ho ke negeri ini. Masih kudengar lamat-lamat suara gamelan dan kucium bau dupa, tetapi dari mana?

Ini pasti bukan candi rahasia yang muncul saat bulan purnama seperti dilukiskan oleh Langit Kresna Hariadi dalam novelnya Candi Murca, dan sekarang bukan sedang purnama. Apakah mereka mencoba bicara padaku tentang kebesaran masanya melalui bunyi gamelan dan bau dupa dan sosok alas candi yang dibangun dari batu merah lebar tetapi lebih tipis dari batu merah yang sekarang biasa aku jumpai?

Muara Jambi masih rahasia, bagiku, bagi teman-teman yang datang, yang entah juga mendengar suara gamelan dan bau dupa, atau hanya mendengar suara gedebug band dari panggung kesenian yang sengaja didirikan untuk Pesta Muara Jambi ini? Kulayari sungai Batanghari menuju masa lalu, menuju mimpi tentang kebesaran tanah ini.***

* Singaraja Galungan 20 Agustus 2008