NB: Aku Sangat Merindukanmu!

M.D. Atmaja

Serintik hujan mengisi malam wening. Memelodikan tembang kenangan tentang perjalanan jauh yang menyayat pilu. Semerbak sisa asap di pedupan, menggelayutkan mimpi. Mengajak seorang lelaki untuk terpekur dalam kesendirian yang tidak akan mampu dimengerti orang lain. Awang-uwung yang tadinya senyap, dikagetkan dering pesan singkat. Pesan dari kawan yang jauh.“Jalan-jalanlah. Jangan tenggelam dalam selimut.” Pesan itu penuh bujuk.

Si lelaki memandang lelah. Sudah seharian memandangi layar notebook 10 inc dalam kerasnya jalan-jalan ide. Berkirim surat dengan beberapa sahabat pena yang ada di seberang lautan.

“Aku tadi juga baru pulang dari jalan-jalan.” Si lelaki membalas pesan singkat itu.

“Kemana?” balasan langsung cepat diterima.

“Ke pantai. Lihat kapal karam.” Si lelaki mengetik cepat namun tidak langsung mengirimkan. Ia memikirkan sesuatu. Kalimat yang bisa menjadi wakil bagi pikiran yang menggelayut semenjak sore. “Nelayan dan petani masih malang.”

Lalu, pesan itu dikirimkan. Sesaat yang lama, tidak juga muncul tanda balasan. Sementara tabuhan hujan terus mengalun. Terdengar bimbang.

“Bukan itu!” isi balasan pesan yang diterima.

“Heh? Lantas?” si lelaki pun ikut berkirim yang singkat.

“Kawan-kawan menitip salam. Kamu harusnya tidak sibuk sendiri. Demi perkembanganmu. Keluar dan diskusi.”

Si lelaki membacai pesan itu dalam tarikan napas yang berat. Ia mulai memahami dengan yang dimaksudkan dengan “jalan-jalan” itu. Bertemu, berkumpul ria dengan orang-orang seprofesi atau para pakar kritik untuk mendongkrak nama agar lekas populer. Si lelaki tersenyum kecil, “Memang harus membuat jeneng dulu, baru bisa membuat jenang merah dan putihnya” bisiknya pada dirinya sendiri.

“Aku juga baru diskusi. Via mail!” si lelaki menulis pesan sambil tersenyum kecil, mengingat orang-orang yang diajak diskusi itu. Profesor, pun Doktor tanpa menghitung kepingan selain tetesan embun pengetahuan.

“Keluar. Menimba ilmu. Sadar diri masih anak kecil.” Balasan dengan cepat diterima.

Pesan yang kali ini dibaca memercikkan api ke bola mata yang terasa lelah. Dadanya sesak ketika mendapati dirinya sebagai anak kecil. Umur yang belum begitu cukup untuk pantas mendapatkan tempat untuk berpijak di depan orang lain. Berpijak sebagai dirinya sendiri. Pada tabuhan rintik hujan itu, yang tadinya mengalun merdu berubah menjadi genderang perang.

“Memang anak kecil, tapi sanggup meruntuhkan gunungmu!” tulis si lelaki yang sudah bersiap mengirimkan.

Namun dia terdiam sejenak. Mencermati segurat gambar Semar yang ada di depan meja kerjanya. Tangannya gemetar membuat handphone terlepas dan membentur meja.

“Ada apa, Mas?” tanya istrinya yang terbangun.

“Tidak.”

“Sudah malam. Tidur dulu, Mas.”

“Belum mengantuk.”

Perempuan itu masih saja terbaring sambil terus mengamati suaminya dengan menahan kantuk. Keburaman lampu di atas meja, habis ditelan sorot mata layu yang dipenuhi amarah. Berkobar jauh menyulut ketenangan bayi berumur setengah tahun untuk terkesiap. Langsung merenggek, meminta buntalan daging basah yang berair hangat dan manis dari ibu.

“Kalau ada masalah, cerita saja, Mas. Aku memang tidak bisa membantumu apa-apa, tapi aku istrimu.” Ucap perempuan itu sambil terus meneteki anaknya.

Pandangan si lelaki masih terpaku pada semar yang menempeli dinding. “Gus Nailil menyuruhku jalan-jalan. Ketemu orang-orang dan diskusi.”

“Ya besok-besok, Mas, sempatkan waktu.”

“Untuk apa? Saling membanggakan karya dan pengalaman sambil menenggak anggur?”

“Ya untuk silaturahmi, Mas.” Sahut istrinya dengan ringan.

“Sepertinya, tidak banyak,” ucap lelaki itu tidak selesai.

“Yah, memang sudah bukan menjadi takdirmu, Mas, untuk memiliki relasi penulis terkenal. Biar Gus Nailil saja yang berada di samping penulis besar itu, dan membesarkan diri bersama mereka. Lalu, memang sudah menjadi takdirmu, Mas, yang hanya akan hidup di samping petani. Takdir yang sudah kamu pilih sendiri. Jangan takut.”

Ucapan perempuan itu, membuat si lelaki menarik pandangan. Menemukan perempuan dengan dada setengah terbuka, sementara buah hati mereka menggelayut dengan tenang. Senyuman kecil tersungging. Sudah enam tahun menjalani semua itu bersama-sama, dalam pembagian yang sungguh tidak adil. Perempuan dari keluarga mapan, dituntun ke dalam lumpur petani yang tidak menawarkan apa-apa. Dan selama itu pula, si lelaki tidak mendengar sepatah keluh yang memberatkan.

Lelaki itu langsung menghapus seluruh pesannya. “Yah, mungkin lain waktu, Gus. Kalau Allah sudah memberikan kesempatan dan mereka mau bertemu dengan seorang hina seperti aku ini.” Tulis lelaki itu yang langsung dikirimkan.

Lama, tidak ada balasan. Si lelaki memandangi anaknya yang terus menetek. Ia mengetik pesan lagi, “NB. Aku sangat merindukanmu!” dan dikirimkan.

Bersamaan dengan itu, handphone si istri berdering. Sebuah pesan singkat masuk ke dan menemukan sebaris yang sudah lama sekali tidak di dengar: Aku sangat merindukanmu!

Studio SDS Fictionbooks, Sabtu Pon 26 Maret 2011