Peluncuran Buku: Sebuah Ruang Jeda Inggit

Zulkarnain Zubairi
Lampung Post, 28 Maret 2010

Tidaklah mudah menafsir sajak-sajak Inggit Putria Marga yang terhimpun dalam Penyeret Babi (Anahata, Bandar Lampung, 2010). Puisi Penyeret Babi yang kemudian menjadi judul kumpulan sajak perdana Inggit pun menjadi sebuah ambiguitas tersendiri.

Menurut penyair Ahmad Yulden Erwin, yang menjadi pembahas bersama Iswadi Pratama dalam peluncuran buku ini di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Universitas Lampung, Sabtu (27-3) malam, judul yang sebenarnya biasa saja. “Nggak aneh, tetapi menarik,” kata Erwin.

Bagi Inggit sendiri, sajak Penyeret Babi menjadi pintu masuk untuk menemukan benang merah dari 72 sajak dalam kumpulan yang terbagi ke dalam dua bagian ini: Mantra Petani dan Pemuja Api. Selain itu, “Saya berharap dengan judul ini, buku ini bisa berada di ruang jeda,” kata Inggit dalam acara yang diselenggarakan Komunitas Berkat Yakin (Kober) dan Unit Kegiatan Mahasiswa Bidang Seni (UKMBS) Unila ini.

Dalam pembacaan Iswadi Pratama sajak-sajak Inggit dapat dilihat dalam tiga hal: cenderung metafisik, sosok penyair sebagai hermes (penafsir), dan mengisyaratkan laku “meditatif” atau laku wu wei.

Kalau dalam kebanyakan sajak liris, posisi “aku liris” dalam teks hampir selalu dikenali dengan serta merta, menurut Iswadi, justru Inggit melakukan elaborasi. “Aku lirik” tak selalu diaktualkan secara jelas apalagi dominan dalam sajak-sajak Inggit.

Sedangkan Ahmad Yulden Erwin memandang sajak-sajak Inggit seperti arkitipe, semacam gurauan-gurauan. “Aku yang dimaksudkan Inggit bukan pribadi. Aku dalam sajak Inggit adalah segalanya. Harus hati-hati membaca sajak Inggit, siapa sesungguhnya penafsir dalam sebuah sajak yang tengah kita baca,” ujarnya.

Menurut Erwin, dalam sajaknya, Inggit ingin menafsirkan, tetapi juga ingin berkomunikasi. “Dari keseluruhan komunikasi itu menciptakan irama dari gerak tubuh. Tarian itu akan menarik yang lain, menjadi pusaran, menjadi pasangan, dan kemudian menjelma cinta.”

Satu yang menarik dari penyair perempuan terkuat yang dimiliki Lampung dan termasuk 100 Tokoh Terkemuka Lampung versi Lampung Post ini, adalah bagaimana Inggit tampil dengan gaya ucap yang berbeda dari perempuan penyair kebanyakan. “Ini kekuatan Inggit yang tidak dipunyai penyair perempuan lain. Diksi, bunyi, citra, dan lain-lain berpadu harmonis dalam sajak-sajak Inggit,” kata Erwin lagi. (/R-3)

Sumber: http://ulunlampung.blogspot.com/search/label/udo%20z.%20karzi?updated-max=2010-07-31T03%3A15%3A00-07%3A00&max-results=20