Pesta Makna di Dermaga Puisi

Iwan Nurdaya-Djafar
http://www.lampungpost.com/

Menikmati puisi-puisi Fitri Yani, saya sungguh terlena dibuai oleh kemerduan bunyinya. Ciri ini yang menandai banyak puisinya, tak pelak telah membuatnya menjadi makna untuk puisi-puisinya. Makna, bukanlah pesan. Makna bukan untuk dipahami, melainkan untuk dihayati.

DERMAGA Tak Bernama (Siger Publisher, 2010, 83 halaman) adalah antologi puisi Fitri Yani, penyair muda Lampung yang tengah naik daun, yang terbit melalui suntingan Paus Sastra Lampung Isbedy Stiawan Z.S. Puisi-puisinya sudah berhasil menembus media cetak nasional yang berwibawa, semisal Kompas, Koran Tempo, majalah budaya Gong, Lampung Post, dan hebatnya lagi termasuk ke dalam 60 Puisi Indonesia Terbaik 2009 versi Anugerah Sastra Pena Kencana. Antologi berisi 64 puisi ini terpindai ke dalam tiga bagian: Ihwal Perjumpaan, Menunggu, dan Suara-suara Sebelum Terjaga.

Menikmati puisi-puisi Fitri Yani, saya sungguh terlena dibuai oleh kemerduan bunyinya. Ciri ini yang menandai banyak puisinya, tak pelak telah membuatnya menjadi makna untuk puisi-puisinya. Makna, bukanlah pesan. Makna bukan untuk dipahami, melainkan untuk dihayati. Permainan bunyi yang terutama berujud pengulangan, kesejajaran, dan rima merupakan makna sajak-sajaknya. Inilah yang harus dihayati, bukan untuk dipahami. Maka, menyerahlah sepenuhnya ke dalam buaian puisi-puisi Fitri Yani nan merdu nian. Kiranya, cara pembacaan sedemikian ini lebih menempatkan kita pada zona aman, ketimbang memasuki “zona berbahaya” dengan berjuang keras mencari “kutu” pesan sebagai seorang message hunter “pemburu pesan”. Sebab begitu pesan ditangkap, sajak pun selesai. Tetapi makna justru menggoda kita untuk terus menghayati, semacam apresiasi yang lebih kekal.

Coba hayati kemerduan bait pertama puisi Ihwal Perjumpaan ini: aku akan pergi/ menuju malam/ meski senja belum tunai/ hujan belum usai/ dan aroma tubuhku/ masih melekat/ di ambang pintu. Atau pada puisi dua baris bertajuk Seperti Berziarah ini: bunga cempaka menguarkan aroma/ jatuh di nisan yang tak memiliki nama.

Hemat saya, kita bisa mengapresiasi makna pada puisi lainnya semisal ®Dongeng bagi Kaum Lansia, Tarian Hujan, Dermaga tak Bernama, Putaran Gelombang, Kisah di Pagi Hari, Menuju Kubangan, Di Sisi Bangunan Tua, Seperti Kuntum Cempaka, Di Taman Kota, Malam di Atas Sampan, Perubahan Suasana.

Bagi yang ingin memburu pesan pun sejatinya terdapat juga di dalam puisi-puisi Fitri Yani. Puisi Muli, misalnya, menarik untuk diapresiasi. Pesan pertama yang saya tangkap adalah bahwa sudah sejak judulnya Fitri memberdayakan bahasa Lampung, bahasa ibu yang juga dikuasai oleh perempuan penyair kelahiran Liwa, Lampung Barat, tahun 1986 ini. Dalam bahasa Lampung muli berarti “gadis”. Puisi ini berkisah tentang muli di dalam sistem patriarkat (sistem pengelompokan sosial yang sangat mementingkan garis turunan bapak), sebagaimana dianut adat Lampung. Diawali dengan semacam kearifan lokal berupa penghormatan terhadap perempuan, “dengarlah, wahai keturunan yang berjalan di atas air (Buwai Bejalan di Way)/ muliakan ia dengan bahasa/ dan pandangan yang bersahaja.” Lalu puisi berlanjut dengan pencarian si muli atas kekasihnya yang tertawan.

Terjadi semacam konflik antara adat masa lalu yang apak dengan realitas masa kini yang segar: “mengapa kau terikat sejarah masa silam/ padahal matahari berulangkali tenggelam.” Konflik agaknya disebabkan pada tahap praksis kearifan lokal tadi justru dibelokkan menjadi semacam peniadaan atas eksistensi perempuan (kalau bukan pelecehan) dari lingkungan keluarga asal manakala si muli memasuki tahap hidup baru yaitu perkawinan endogam: di dalam hidup,/ ia hanya memuja satu lelaki. dan di negerinya,/ siapa pun muli yang telah pergi/ maka pantanglah bagi mereka/ untuk kembali/ karena di rumah yang baru/ mereka telah disambut oleh air suci/ sebelum anak-anak tangga dinaiki.

Pada bait pamungkas, setelah si muli menetap di rumah pihak laki-laki, hal sama ditandaskan kembali: di rumah yang jauh/ telah berkumpul sanak saudara/ yang telah percaya/ bahwa setiap perempuan/ memang akan hilang dari keluarga.

Hilangnya perempuan dari keluarga, boleh jadi dipandang sebagai ketidakadilan gender. Jika demikian halnya, terdapat bias gender dalam sistem patriarkat semacam itu. Oleh sebab itu, perlu mempertimbangkan tradisi. Kalangan feminis sendiri mendambakan munculnya budaya pascapatriarkat, yang dalamnya relasi gender dapat berlangsung dengan adil lagi setara.

Melihat sejarahnya, matriarkat mendahului patriarkat. Namun, budaya pascapatriarkat bukan berarti budaya matriarkat, melainkan budaya yang memperbaiki kualitas kehidupan ke arah lebih baik. Penghormatan terhadap nilai dan martabat manusia, bukan hanya dilihat dari satu sisi, yaitu sisi laki-laki (kekuasaan) saja, melainkan juga harus dilihat dari sisi lain. Relasi antara manusia dalam segala aspek kehidupan sosial, ekonomi, politik, agama, penting untuk dikembalikan kepada relasi yang setara, bukan subordinat dan hierarkis.

Dengan penjelasan semacam ini, semoga saja saya tidak sedang merasa sok tahu demi menjelaskan apa gerangan yang ada di balik larik-larik puisi Muli Fitri Yani.

Puisi Muli juga menarik karena terdapat dua bait muayak dalam bahasa Lampung, yang notabene disisipkan ke dalam puisi berbahasa Indonesia. Pendapat lama mengatakan bahwa sastra bergantung pada bahasa yang dipakai. Sastra Indonesia memakai bahasa Indonesia, sastra Lampung memakai bahasa Lampung. Namun, pendapat baru menyatakan bahwa sastra bergantung pada bangsanya; sehingga meskipun menggunakan bahasa Inggris bisa saja disebut sastra Amerika, sastra Australia, bukan melulu sastra Inggris. Lantas, puisi Muli termasuk ke dalam puisi Indonesia atau puisi Lampung? Puisi Indonesia, tentu saja. Ketika ditanya atas alasan apa menyisipkan dua muayak itu, Fitri menuturkan itu merupakan alasan personal terhadap rasa bahasa (muayak).

Jika demikian halnya, berarti penyair memang terikat tanah tempat tumbuhnya beserta budayanya. Sebagai pengguna bahasa yang indah dan tepat, penyair akan mendayagunakan bahasa yang dikuasainya, termasuk anasir rasa estetik terhadap bahasa di dalamnya. Gejala sedemikian bukan melulu muncul pada puisi Fitri Yani. Sebagai pejalan ulang-alik bahasa dan budaya, seorang Darmanto Jatman menggunakan campuran bahasa Indonesia, Jawa, Inggris, dan Prancis dalam puisi-puisinya. Ajatrohaedi menggunakan kata ajrih dalam salah satu puisinya, yang merupakan bahasa Sunda. Linus Suryadi demikian pula dalam Pengakuan Pariyem. Emha Ainun Nadjib menggunakan kata mripat dari bahasa Jawa yang berarti mata. Sesekali Isbedy juga menggunakan kata tujah yang berasal dari bahasa Lampung. Hal itu boleh-boleh saja, asal bukan untuk mencari efek, seperti terjadi pada para penyair Indonesia kiwari yang rame-rame memakai kata déjà vu di dalam puisi mereka, yang dicomot dari bahasa Prancis.

Maka, adalah sah-sah belaka bagi Fitri untuk menyisipkan dua muayak itu yang berbunyi: telu kilo jak pulau/labuhan di Kuala/jukung bawakni kuwau/layau kik mak digaga. Satu lagi: bindom dipa nyak lawi/anjungan jawoh nana/ kusepok di bumi sepa lagi/nyim kham khua betungga.

Sayangnya Fitri tidak menggenapinya dengan terjemahan pada catatan kaki, sehingga bagi pembaca yang tidak paham bahasa Lampung muayak itu tetap tinggal sebagai sesuatu yang gaib lagi misterius. Demi membantu apresiasi pembaca, izinkahlah saya menerjemahkannya: tiga kilo dari pulau/ pelabuhan di Kuala/ biduk kulitnya selisik/ keterusan jika tak dilerai. Satu muayak lagi: di mana saya akan berteduh/ rumah panggung sangat jauh/ kucari di bumi mana lagi/ agar kita dua bersua.

Kepiawaian lain Fitri Yani bahwa hal sederhana bisa menjadi objek puisi, seperti muncul pada puisi Pencuci Piring serta Penjahit dan Kainnya. Pada kedua puisi ini, sudut pandang justru muncul dari si piring dan si kain yang dihadirkan melalui personifikasi. Begitu pula peristiwa yang tak tersangka-sangka muncul dalam puisi Di Restoran, yang berkisah tentang seorang istri yang selama dua puluh tahun hidup dalam kenangan terhadap kekasih lama yang bekerja sebagai pelayan restoran, tanpa sepengetahuan si suami yang dibiarkan kapiran karena sekadar hangatnya secangkir kopi di pagi hari saja tak pernah lagi ia jumpai!

Disayangkan, terdapat inkosistensi penulisan kata yang sama dalam sajak yang berbeda. Saya memergoki kata “metaphor” (hlm 59) dan “metafor” (hlm 64). Lagi pula, kenapa tidak menggunakan kata “kiasan” yang asli Indonesia atau “sanepa” (bahasa Jawa) untuk menggantikan “metaphor” yang bahasa Inggris, yang berasal dari “metafora” (bahasa Yunani). Juga “sentiment” (hlm 63) yang mestinya cukup kata serapannya saja “sentimen”. Kesalahan berbahasa juga tampak pada “berterbangan” (hlm 5) mestinya “beterbangan”; “tentram” (hlm 76) mestinya “tenteram”; “sprei” mestinya “seprai” (hlm 12). Juga terdapat salah cetak, “ramaja” (hlm 30) mestinya “remaja”.

Terlepas dari sekelumit kekeliruan itu, antologi puisi Dermaga Tak Bernama bukan sekadar menambah satu buku dalam rak perpustakaan Anda, karena puisi-puisi Fitri Yani—mengutip Goenawan Mohammad dalam esai Potret Seorang Penyair Muda sebagai si Malin Kundang yang ditulisnya pada usia 17—secara jumawa mesti dikatakan “hasil sastranya bukan hasil eksemplar dari suatu jumlah, melainkan hasil keseorangan yang betul-betul utuh.”

Iwan Nurdaya-Djafar, budayawan