Puncak Resah yang Menyelamatkan

M.D. Atmaja

Problematika hidup manusia memiliki ruang yang teramat komplek, mulai dari hal yang terkecil sampai hal yang besar. Layaknya sungai yang mengalir, terkadang berarus deras yang menghanyutkan, dan terkadang bergemericik menggelikan. Komplekitas akan masalah kehidupan ini sebenarnya sebatas pada bumbu penyegar agar hidup tidak membosankan. Kalau tidak ada masalah, hidup manusia terkesan datar dan tidak menggairahkan. Salah satu problematika kehidupan yang seringkali membuat manusia kalang-kabut adalah mengenai persoalan ekonomi. Persoalan ini, telah memakan korban yang tidak sedikit, karena ekonomi yang tidak sesuai harapan dan menjadikan manusia terpecah ke dalam dua golongan kelas, yaitu orang miskin dan orang kaya. Penggolongan yang dilihat dari seberapa banyak uang (dan harta material) yang kita miliki, memberikan penentu status sosial manusia. Karena uang ini pula, arus kehidupan manusia dibawa dalam tingkatan prestise dan penghormatan. Semakin banyak seseorang memiliki uang (kaya) maka akan semakin banyak orang yang berada di sekitarnya untuk memberikan penghormatan (dan kepentingan lain).

Akantetapi, mereka yang berkumpul di sekitar manusia dengan ekonomi kuat tidak dapat diperkirakan seberapa besar ketulusan yang ada. Mungkin saja, hanya sekedar menginginkan, kalau dalam pepatah Jawa, “nek cedhak sumur mesti telese” atau kalau berada di dekat sumur itu pasti akan ikut merasakan basahnya.

Bagi manusia dengan ekonomi lemah, atau katakan saja mereka yang miskin, akan mengalami berbagai keresahan menyoal berbagai kebutuhan hidup. Manusia yang miskin, terkadang jauh dari penghormatan manusia lain, bahkan mereka mendapatkan tempat pada pinggir (kalau masih mendapatkan tempat), kadang terhina, dan keberadaannya seringkali tidak dihiraukan. Kemiskinan membawa keresahan tersendiri, yang memicu berbagai permasalahan sosial, diantaranya adalah kejahatan. Kemiskinan meningkat, secara sosiologis akan memicu kasus kejahatan yang meningkat, dan apabila kemiskinan tidak teratasi bisa menimbulkan kekacauan sosial karena didorong kesenjangan sosial.

Kehidupan manusia modern lebih memiliki berbagai permasalahan yang pelik. Salah satu yang hadir sebagai kekomplekitasan masalah manusia dilahirkan dari faktor ekonomi. Berbagai permasalahan sosial yang lain, dapat dirunut dari faktor ekonomi ini. Misalnya saja, permasalahan politik dan birokrasi yang timbul kemudian tenggelam untuk timbul lagi, karena faktor ekonomi. Perlu kita mengingat, bahwa kekuasaan yang diusahakan oleh seseorang mapun segolongan orang tertentu, sedikit banyak mendapatkan pengaruh dari faktor ekonomi. Sebagian besar peperangan, bahkan keseluruhannya berlatar belakang ekonomi.

Faktor ekonomi menyebar dan memberikan alasan untuk bergerak di dalam permasalahan sosial yang lebih komplek. Kejahatan, pendorong utamanya tentu saja bukan karena hobi melainkan kemiskinan. Kejahatan birokrasi (white color crime) juga di dasari prinsip ekonomi, yaitu berkisar antara mencari keuntungan. Tidak banyak, atau bahkan tidak ada manusia yang bergerak, yang tidak terkontaminasi oleh faktor ekonomi. Petani yang menggarap sawah pun, saat ini bukan lagi murni atas pemenuhan hidup dari tanah (bercocok tanam) melainkan sudah memasuki ranah perniagaan.

Ekonomi (modal) memicu penggolongan kelas manusia di dalam status sosial. Aspek ekonomi seperti penyakit yang menimbulkan berbagai macam keresahan sosial yang dapat mendorong perpecahan sosial. Coba kita telusur kembali, apakah Reformasi Indonesia atau pun Revolusi Melati di Tunisia yang merebak ke Mesir tidak berhubungan dengan aspek ekonomi ini? Lalu, apakah para pejabat kita (yang dulu calon pejabat) ketika berkampanye dan berhambur kebaikan di awal-awalnya tidak karena faktor ekonomi? Kalau memang tulus memperjuangkan kepentingan rakyat, kita bisa melihat hasilnya sekarang, dan tentu saja tidak ada Presiden yang mengeluhkan gaji yang tidak naik. Padahal, gaji Presiden sudah lebih dari cukup untuk sandang, pangan, dan papan.

Faktor ekonomi mendatangkan keresahan yang pada akhirnya akan memuncak sehingga menimbulkan kekacauan. Fenomena ini dapat membawa suatu golongan masyarakat, mencapai apa yang namanya revolusi (perubahan) demi terciptanya kondisi ekonomi yang baik (mesti tidak harus ekonomi kerakyatan atau perpaham sosialisme). Keresahan yang seperti virus telah memasuki dunia kesusastraan Indonesia. Fenomena penerbitan sastra yang menipis, yang disebabkan pandangan umum, bahwa sastra tidak banyak mendatangkan keuntungan. Pun, menjadi keresahan di dalam diri ketika kemiskinan merasuk dan menggangggu kehidupan.

Kita sepertinya perlu untuk mengingat, kemiskinan itu juga menyebar ke ranah yang teramat komplek, dari kemiskinan moral, intelektual, religi, dan lain sebagainya. Dalam kemiskinan-kemiskinan itu, kita bisa melihat faktor ekonomi yang mengakarkan pengaruh. Sekarang kita tilik kembali ke hal yang paling personal di dalam kehidupan manusia, yaitu religi (spiritual), bahwa berapa banyak dari pejabat kita yang sudah mengantongi gelar: Haji. Teramat banyak, tapi toh, korupsi dan pembusukan masih masih saja menjadi budaya (permasalahan) yang belum tertuntaskan. Lantas, seberapa kaya (uang)kah para pejabat yang “haji” itu dan seberapa miskin religi (spiritual) para pejabat yang “haji” itu?

Dalam dunia sastra, yang sampai hari ini masih berjuang sekuat tenaga yang secara terus menerus melawan kemiskinan dan keresahan di dalam masyarakat. Keresahan yang ditimbulkan aspek ekonomi, membuat berbagai sisi (jiwa, hati, religi, dsb) bangkrut dan mengalami kemiskinan. Sastra, hakekatnya mensucikan jiwa sebagai khatarsis yang berjuang di dalam kemiskinannya sendiri.

Sastra yang dalam permasalahannya sendiri masih berjuang memberantas kemiskinan manusia yang berkenaan dengan “esensi”. Seperti layaknya sebagai pensuci jiwa, di dalamnya terdapat usaha-usaha mengkayakan manusia dengan esensi agar tidak terpuruk di dalam kemiskinan yang lebih menakutkan. Sebab, sastra lahir dari keresahan yang terkadang di luar genggaman logika dan ekonomi.

Hal ini mengingatkan saya pada cerita mengenai “Penyair dan Dokter” yang diungkapkan Hakim Jami. Bahwa suatu hari, ada seorang penyair yang jatuh sakit, dan mendatangi dokter yang tentu saja untuk berobat. Alangkah mengejutkan si penyair, ketika dokter mengatakan kalau karya yang terselip di dalam jiwa (batin) memicu keresahan yang membuat seorang penyair sakit. Setelah si penyair memanifestasikan karya, si penyair pun langsung sembuh.

Sakitnya si penyair sebagai puncak keresahan ketika harus menanggung segerombol nilai yang dapat “mensucikan jiwa” untuk umat manusia. Sastrawan mengalami rasa sakit, sebelum mandat diselesaikan sampai sebuah karya tercipta. Karya sebagai ungkapan perasaan manusia yang tidak hanya sekedar suatu kegiatan produksi cerita. Karya sastra jelas berbeda dengan produksi roti, atau produksi sarjana yang dilakukan oleh perguruan tinggi kita.

Lalu, bagaimana peran sastra dalam mensucikan jiwa untuk menyelesaikan masalah kemiskinan manusia akan esensi dirinya?

Apa kita pernah mendengar, berita mengenai seorang ibu yang memiliki hutang dua puluh ribu rupiah (bukan juta atau Milyar) yang putus asa dengan membunuh dirinya sendiri beserta anaknya? Atau tentang manusia yang patah hati karena penghianatan sang kekasih kemudian manusia itu gila dan bunuh diri? Barangkali mengenai seseorang yang selama ini dikenal orang yang baik, namun suatu hari ditemukan mati karena dihakimi massa setelah mencuri ayam?

Dalam kehidupan kita, ekonomi telah mempengaruhi banyak hal. Ekonomi tidak segan-segan memiskinkan manusia dari esensi akan dirinya sendiri. Namun, selama dalam kehidupan kita masih mampu menemukan sastra, karya yang hadir dapat melawan kemiskinan (dan kematian) esensi. Sastra adalah puncak keresahan yang menyelematkan. Sebab: “Ah, sajak ini/ Mengingatkan aku pada langit dan mega/ Sajak ini mengingatkan aku pada kisah dan keabadian./ Sajak ini melupakan aku pada pisau dan tali/ Sajak ini melupakan pada bunuh diri” (Sajak, Subagio Sastrawardojo, Simphoni, hlm. 15).

Bantul – Studio SDS Fictionbooks, 8 Maret 2011