Rangkaian Gerbong Seni Rupa Lampung

Salvator Yen Joenaidy
http://www.lampungpost.com/

Sebuah rangkaian kereta akan sampai di mana? Di Kotabumikah atau di Kertapatikah? Itu tergantung dari beberapa unsur, antara lain bagaimana kekuatan lokomotif sebagai faktor kunci penggeraknya. Perlu pula dicermati, diteliti, juga sejauh mana kekuatan/keeratan mata rantai penyambung di antara masing-masing gerbongnya. Apalagi jika rangkaian gerbong tersebut sudah sedemikian panjang, dengan berbagai kondisi. Ada yang per pegasnya patah, ada yang as rodanya bengkok, dan lain-lain. Yang pasti, perlu kerja ekstrakeras untuk persiapan sebelum rangkaian gerbong panjang tersebut bergerak melaju.

Perumpamaan rangkaian gerbong tersebut adalah situasi kesenirupaan di Lampung beberapa dekade terakhir ini. Rangkaian gerbong seni rupa terputus-putus bercerai berai dengan kendalanya masing-masing, sehingga jangankan bisa bersama diberangkatkan ke satu titik tujuan yang jauh, untuk tersatukan menjadi suatu rangkaian pun terlalu sulit tampaknya. Tapi, tidaklah perlu kita mencari siapa kambing hitam di dalam stasiunnya. Teknisinya, administratornya atau siapa?

Pergantian kepengurusan “stasiun”, termasuk di dalamnya Devisi Seni Rupa Lampung baru saja selesai dilaksanakan, yaitu dalam Musyawarah Dewan Kesenian Lampung (DKL), 16 Februari 2011. Tugas masinis baru menjalankan roda lokomotif membawa gerbong rangkaian panjang diharapkan bisa menggapai posisi sampai pada stasiun terjauh. Hal tersebut tentu memerlukan kerja sama yang harmonis dan “positif” antara sesama kru. Mustahil bisa dilaksanakan sang masinis seorang diri.

Menjadi seorang pelukis adalah suatu pilihan profesi, walau jujur saja di negeri tercinta ini nasib pelukis masih sangat “terabaikan”. Hanya segelintir pelukis yang kebetulan mendapatkan keberuntungan bisa hidup dengan layak dan cukup. Selebihnya pelukis-pelukis Indonesia hidup dalam keterpurukan terseok-seok. Namun, semua itu adalah esensi dari pilihan hidup yang tak perlu diperdebatkan.

Maka, sudah waktunya, kini kita bersama menyatukan energi dalam pengembangan seni rupa Lampung ke depan, hingga menciptakan pasar wacana dan wacana pasar. Kita harus membuang kebiasaan-kebiasaan lama yang menjadikan penghambat perjalanan karena sesungguhnya Lampung menyimpan potensi yang andal dalam kancah kesenirupaan.

Melihat kondisi seniman rupa sangat ironis, miris, dan menyedihkan. Namun, ini fakta terjadi di Lampung ini. Ada beberapa pelukis yang menjelma profesi menjadi penggembala itik, petani singkong, dan lomba/aduan burung dara (lazim disebut tomprang burung). Lagi-lagi tidak perlu apa dan siapa yang harus dipersalahkan.

Mari bersama kita mulai menata diri dalam membangun dimensi baru. Kita perbaiki perspektif cara pandang agar seni rupa Lampung menjadi gradasi kekuatan dahsyat dan pasir-pasir bertebaran ini kita satukan menjadi kekuatan tonggak batu karang yang kokoh, tahan terhadap berbagai hempasan badai gelombang. Kekuatan seni rupa Lampung bukanlah sekadar wacana mimpi ideoplastis. Kita buktikan secara nyata dalam implementasinya.