Sebuah ‘Jembatan’ Bernama Chicklit

F. Dewi Ria Utari
http://majalah.tempointeraktif.com/

Sebuah menara bernama Eiffel. Seorang gadis manja. Seorang pria remaja yang jatuh cinta. Siapa yang tak ingin menjelma menjadi mereka? Rahma Arunita membuat para remaja (perempuan) bersedekap dengan novel Eiffel, I’m in Love dengan rumusan yang sebetulnya sudah lama kita kenal: remaja perempuan yang dirundung cinta, lantas datang seorang lelaki yang semula tampak menyebalkan. Konflik kecil-kecilan yang akan berakhir dengan ciuman (atau paling tidak pelukan atau tiga kata penting itu). Pada tahun 2004 dan 2005, ada satu label baru yang ditempel pada novel semacam ini: chicklit atau teenlit.

Inilah sebuah istilah baru yang diciptakan oleh perindustrian buku. Ini bukan sebuah genre dan bukan sebuah aliran yang diciptakan para kritikus serius yang rewel dengan peraturan dan dogma.

Tentu saja mereka mempunyai ciri khas. Di “tingkat yang lebih senior—usia 20 tahunan—tokoh-tokoh chicklit lazimnya lajang, cantik (dengan kemahiran memoles make-up tingkat tinggi), mandiri, karier mulus, memiliki meeting point di coffee shop, sambil menenteng tas Hermes atau Prada. Di sana mereka ber-chit-chat tentang discount terbaru dari Mango, parfum baru dari FCUK, gosip teranyar artis anu, dan diakhiri dengan kisah sahabat yang telah menemukan lelaki idaman. Lelaki? Ya, lelaki. Salah satu obyek klasik representasi sebuah konsep bernama cinta.

Dunia semacam itu tengah menjadi isu seksi bagi para penulis (perempuan) untuk dibuat menjadi chicklit—produk baru bacaan masa kini. Baru? Tidak juga. Chicklit muncul pada pertengahan 1990-an lewat kehadiran Bridget Jones’s Diary karya Helen Fielding, The Girl’s Guide to Hunting and Fishing karya Melissa Banks, serta The Nanny Diaries karya Emma McLaughlin dan Nicola Krause. Menurut situs kamus Wikipedia, chicklit merupakan sebuah istilah yang sebenarnya belum ditetapkan, yang digunakan untuk mengidentifikasi fiksi populer yang ditulis dan dipasarkan untuk perempuan muda, khususnya perempuan lajang usia 20-an dan bekerja di dunia perkantoran.

Novel chicklit biasa berkisah tentang kehidupan perempuan kesepian dengan setting urban, dengan gaya hidup yang terkini, terbaru, keren, dan sedikit nakal. Mereka biasanya digambarkan tengah mencari identitas dan tengah mencari pendamping yang sempurna. Seksualitas kerap dimunculkan bahkan bisa menjadi tema primer yang ditampilkan secara advonturir. Hal ini bisa kita lihat di buku In Her Shoes karya Jennifer Weiner.

Istilah chicklit muncul dari sebutan slang untuk perempuan muda, chick—ayam betina. Namun juga dikaitkan dengan referensi derivatif untuk Chicklet, sebuah merek permen karet, dengan implikasi bahwa buku ini ringan seperti mengunyah permen karet.

Karakter ringan inilah yang dinilai menjadi salah satu faktor mengapa chicklit begitu laris. “Buku ini masuk kategori easy reading. Orang tidak harus berkerut membacanya, tidak perlu mengalokasikan waktu khusus, karena bisa dibaca kapan saja. Sedangkan bacaan lain seperti sastra memerlukan waktu khusus,” ujar Aquarini Priyatna Prabasmoro, pengajar studi kajian wanita di Universitas Indonesia.

Daya tarik lainnya tentunya dari sisi tema. Banyak pandangan menilai, chicklit berhasil secara terbuka merepresentasikan masalah perempuan saat ini, terutama seputar dunia lajang. Para tokoh perempuan di dalamnya digambarkan memiliki masalah manusiawi, dari berat badan, penampilan, gaya hidup, obsesi terhadap mode, hingga patokan ideal lelaki idaman. Dalam chicklit, perempuan menemukan keberanian menyatakan kegelisahan hidupnya tanpa harus takut pada stempel—entah korban mode, hedonis, alih-alih takluk pada patriarki. Yang penting bahagia dengan hidupnya.

Tak mengherankan bila beberapa penerbit memasang “keberanian” perempuan ini sebagai susuk pemikat. Gramedia Pustaka Utama mencetak logo Chicklit, Being Single and Happy di atas gambar sepasang kaki perempuan yang tampak duduk menyilangkan kaki, mengenakan rok mini, bersepatu tumit tinggi warna pink dan memegang buku. Alberthiene Endah, penulis Cewek Matre, khusus memasang logo seorang perempuan duduk di sofa sambil membaca buku dengan tulisan Lajang Kota. Alberthiene memang khusus berniat menerbitkan tulisan-tulisan chicklit-nya di bawah label Seri Lajang Kota.

Tak semua penulis chicklit sepaham dengan bendera lajang. Icha Rahmanti, penulis buku laris Cintapuccino, lebih nyaman dengan definisi bahwa chicklit merupakan teman bagi pembaca untuk membagi pengalaman dan pemikiran. “Mau single atau tidak, yang penting jujur sama diri sendiri dan bahagia dengan pilihan hidupnya,” ujar Icha, yang tengah mempersiapkan pembuatan film Cintapuccino di bawah bendera SinemArt.

Apakah chicklit fenomena baru feminisme? Aquarini cenderung melihatnya sebagai sebuah tren menulis yang menggerakkan perempuan menulis sesuai dengan keinginan mereka. “Sebenarnya sudah dimulai sejak Ayu Utami, namun chicklit berbeda karena hasilnya lebih romance. Buku-buku ini lebih memberi perempuan ruang untuk menulis dunia yang spesifik tentang mereka,” ujar penulis buku Becoming White, Representasi Ras Kelas, Femininitas dan Globalitas dalam Iklan Sabun ini. Justru dari Bridget Jones’ Diary, Aquarini melihatnya sebagai kembalinya ideologi patriarki ketika Bridget merasa tak nyaman dengan bentuk tubuhnya dan mendapatkan tekanan dalam memilih pasangan.

Apa pun bentuk ideologinya, chicklit memang tengah dominan di berbagai toko buku. Produk luar negeri dan dalam negeri mulai bersaing. Penerbit Gramedia yang menguasai pasar chicklit terjemahan Barat harus berbagi ruang dengan chicklit karya penulis Indonesia. Hasilnya cukup menggembirakan (lihat Dari Toko Buku hingga Layar Kaca—Red). Meski kuantitasnya tak sebanyak karya asing, chicklit karya penulis Indonesia mulai laris. Jomblo (Aditya Mulya) sebelas kali cetak ulang, Jendela-Jendela (Fira Basuki) sembilan kali cetak ulang, disusul Cintapuccino delapan kali cetak ulang, dan Nothing But Love lima kali dicetak.

Tema chicklit karya penulis Indonesia dan Barat juga memiliki perbedaan. Umumnya karakter perempuan chicklit Barat memiliki masalah yang lebih kompleks dan melibatkan pendekatan psikologis dengan penuturan yang satir. Contohnya karakter Cannie Shapiro dalam Good in Bed (Jennifer Weiner). Cannie, seorang wartawan, mesti menghadapi tulisan kolom mantan pacarnya yang menyerang dirinya, sementara ia dalam kondisi hamil. Tokoh perempuan chicklit Indonesia tak terlalu mengalami kekejaman dunia semacam itu. Penulis Indonesia umumnya memilih tema tentang tuntutan gaya hidup (Cewek Matre, Alberthiene Endah) dan kebimbangan menentukan lelaki pilihan (Cintapuccino, Icha Rahmanti). Soal seks merupakan tema yang tidak digambarkan dengan gamblang seperti halnya penulis chicklit Barat.

Inilah bukti nyata telah terciptanya pasar baru—pembaca cerita chicklit dan teenlit. Tunggu dulu, teenlit? Ya, ini produk turunan yang hanya terjadi di negeri kita. Kisah roman remaja kita memunculkan karakter berbeda yang tak bisa dikategorikan dalam chicklit. Isinya, cinta-cintaan pelajar SMP dan SMA dengan bahasa gaul abis. Ucapan, tuturan, hingga celetukan yang biasanya muncul secara verbal dan melalui sms atau chatting, dimunculkan ke dalam tulisan.

Kemunculan para penulis muda seperti Laire Siwi Mentari, Gisantia Bestari, dan Dyan Nuranindya ini sebenarnya juga pernah dialami penulis semasa Hilman, Gola Gong, Bubin Lantang, dan Zara Zettira pada 1980-an. Mereka juga memulai menulis di usia belasan dan temanya cinta masa remaja. Hal ini membuktikan bagaimana tren memiliki siklus, setiap masa memiliki tokohnya.

Mengikuti kelaziman dunia kapitalis, sukses ini memunculkan produk turun-an. Di Barat, kita mengingat munculnya film Princess Diary yang diangkat Walt Disney dari karya Meg Cabot dan Bridget Jones’ Diary yang laris berkat permainan akting Renee Zelwegger. Di Indonesia, tampil film Eiffel I’m in Love dari teenlit karya Rachmania Arunita. Sebentar lagi akan menyusul film Tentang Dia karya Rudi Soedjarwo, yang diangkat dari cerita yang ditulis Melly Goeslaw, pembuatan film Cintapuccino dan Sepatu Hak Tinggi dari karya Maria Adelia. Uniknya, penulis Indonesia juga menulis chicklit yang diangkat dari film dan sinetron yang diterbitkan GagasMedia.

Karena chicklit dan teenlit tengah menjadi tren dan para tokoh perbukuan menganggap inilah yang tengah diinginkan pembaca, penerbit berlomba-lomba memenuhi permintaan. Penerbit Gra-media mengadakan lomba penulisan teenlit, sementara GagasMedia menyelipkan pembatas buku bertuliskan Wanted: Young Funky Writers. Jika ini sebuah “jembatan” bagi para remaja Indonesia untuk menuju pada dunia tekstual yang jauh lebih kaya dan imajinatif bernama “sastra”, kenapa tidak?

31 Januari 2005