Sekitar Menulis, Menulis Sekitar

M.D. Atmaja

“Aku bertanya,
tetapi pertanyaanku
membentur jidat penyair-penyair salon,
yang bersajak tentang anggur dan rembulan,
sementara ketidakadilan terjadi di sampingnya
dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan
termangu-mangu di kaki dewi kesenian”

(WS Rendra, Sajak Sebatang Lisong dalam Potret Pembangunan dalam Puisi, hlm. 34)

Begitu kerasnya tulisan Rendra (Almarhum) memekik di telinga saya malam ini. Puisi yang begitu cerpen merespon realitas dalam nuansa yang terkadang berbisik memberikan teguran (khususnya untuk saya sendiri), terkadang berteriak keras dalam tamparan yang membangunkan dari keterlelapan sesaat. Dua kekuatan yang menjadikan saya sebagai “subjek pembaca” tersadar dari mimpi indah yang gemerlap menipu. Juga kemudian “subjek pembaca” untuk keluar dari ekstase pertemuan kertas dan tinta yang melepaskan alam sekitar. Sekali lagi, di sini saya sebagai “subjek pembaca” berusaha memahami kembali setelah sekian tahun bertahan dalam keringnya panas dan basahnya hujan, untuk terus giat menulis sesuatu mengenai “manusia” dan dunianya.

Hal yang paling indah dari spesies kita ini (maksud saya adalah manusia) adalah sebagai makhluk yang mampu meng-“ada” untuk terus bereksistensi dan berkembang di dunia. Salah satu faktor penting dalam proses ini adalah keberadaan bahasa, yang tidak sekedar sebagai alat komunikasi dan sekaligus penindasan. Bahasa juga memberikan manusia suatu lingkup mengenai keberadaan yang sifatnya nyata, serta memberi ruang lingkup dalam usaha pengembangan diri. Dengan bahasa manusia mampu menunjukkan kesan dan kenyataan, yaitu mana yang hanya mengesankan dan mana yang benar-benar menunjukkan kenyataan. Dan keduanya dapat didapati dalam dataran realitas melalui penggunaan bahasa, seperti ungkapan Heidegger bahwa bahasa sebagai rumah (tempat) dari peng- “ada”.

Manusia adalah spesies berbahasa, melakukan interaksi secara langsung dan juga tidak langsung. Salah satu interaksi tidak langsung manusia ialah menggunakan media tulisan, yang melahirkan adanya subjek pembaca dan penulis. Media ini memberikan ruang untuk kita dalam usaha saling memahamkan, selain itu mampu menjadi penjembatan antara dunia batin (hati dan pikiran) dengan dunia realitas. Tuhan Semesta Alam pun, berbahasa kepada kita sebagai sebagian dari komunikasi religius, sehingga kita tahu apa yang Dia harapkan dari manusia.

Manusia, alam, hewan, serta Tuhan Semesta Alam berbahasa dengan cara tersendiri. Pun, ketika kita memulai dunia di dalam tulisan, dunia yang kita bentuk dengan bahasa, itu adalah cara kita sendiri. Sebatas cara dalam berbahasa, mungkin juga sebagai teknik (saya agak trauma dengan istilah “teknik”), yang dapat membawa kita pada wilayah komunikasi yang lebih luas. Ketika kita subjek penulis membuat sebuah tulisan, meskipun dalam kadar tidak ilmiah atau tidak memberikan kesan kuat (seperti tulisan ini), akantetapi kita sedang membangun komunikasi dari berbagai sisi.

Komunikasi yang pertama adalah komunikasi diri kita dengan diri kita sendiri. Maksudnya adalah sisi perenungan mengenai sesuatu hal yang hendak dituliskan. Subjek penulis melakukan aktivitas kontemplasi, percakapan yang ada di dalam diri untuk mencapai suatu esensi yang ingin di sampaikan. Aktivitas menulis merupakan aktivitas membangun komunikasi, baik komunikasi dengan diri sendiri maupun komunikasi dengan subjek pembaca. Aktivitas yang memanifestasikan buah dari pikir, rasa, akhirnya karsa, yang menjalin hubungan silaturahmi (bahkan persaudaraan) antara penulis, karya, dan pembaca.

Selayaknya suatu hubungan yang wajar, persaudaraan walau dengan bermedia tulisan, alangkah baiknya kalau subjek penulis melaksanakan aktivitasnya dilandasi dengan kejujuran, memilih bahasa yang baik dan tetap menjaga etika. Untuk masalah ini, saya memiliki suatu pandangan yang tidak baru, bahwa etika dalam kepenulisan adalah sebagai “keberanian” untuk mengatakan dengan tegas: mana yang benar dan mana yang salah. Gerakan etika yang dengan sendirinya akan melahirkan nilai estetika (keindahan) tersendiri. Sehingga, saya tetap memegang prinsip kepenulisan yang secara garis besar saya golongkan menjadi tiga hal: kejujuran, pemilihan bahasa yang baik, dan etika penulisan.

Kejujuran, prinsip yang sengaja saya letakkan di depan, sebab pengalaman saya mengarahkan pada aspek ini. Kejujuran yang ketika kita menulis, kita tidak sedang menutupi sesuatu mengenai kebenaran, entah itu kebenaran yang sifatnya personal dan lebih jauh lagi bersifat universal. Kejujuran dalam menulis, sama seperti kita sedang menulis buku harian. Dalam penulisan itu kita pasti jujur, karena buku harian bersifat personal dan hanya untuk diri kita sendiri. Masak iya, dalam menulis sebagai pelepas keresahan hati, kita justru berbohong yang pada akhirnya menambah keresahan itu. Lantas, ketika menulis tidak dengan jujur, misalnya kita ingin membuat suatu kebohongan, siapa gerangan yang akan kita bohongi?

Proses kepenulisan yang dilandasi dengan kejujuran sikap, dimanifestasikan ke dalam bahasa tulis melalui perasaan yang jujur pula dalam memanifestasikan cinta, kemarahan, kebencian dan lain sebagainya. Aktivitas yang membawa pada kelegaan “dan engkau akan selalu menjumpai dirimu sendiri di sana/ bersih dan telanjang tanpa asap dan tirai yang bernama rahasia” (Penyair, Sapardi Djoko Damono, Tonggak 2, hlm. 408-409). Melalui tulisan yang diciptakan sendiri, manusia dapat mencapai pengetahuan mengenai diri, selanjutnya akan mengantarkan subjek penulis pada kebijaksanaan. Sebab, dalam keyakinan saya, kebijaksanaan akan muncul ketika manusia (individu) memiliki pengetahuan tentang dirinya sendiri, dan pemahaman akan keberadaan diri dapat ditemukan di dalam tulisan yang kita tulis. “Dan engkau pun masuk, untuk mengenal dirimu sendiri di sana” (ibid).

Untuk mengenal diri sendiri, menjadi landasan bagi pengetahuan lain. Tulisan membawa kita pada kesempatan yang spesial ini, kesempatan untuk mengenal diri sendiri. Bahkan, filsuf Descartes sampai meragukan setiap hal demi mendapatkan pengetahuan akan diri atau “ada” yang merujuk pada kesadaran manusia itu sendiri. Langkah mencapai pengetahuan diri melalui tulisan dilandasi oleh kejujuran hati ketika subjek penulis melakukan aktivitasnya. Unsur kontemplasi yang menyertai dialog dengan dirinya sendiri dan perlu terbuka dengan dirinya sendiri sebab di sana tidak ada keuntungannya ketika dimulai dengan kebohongan, karena toh, kita hanya akan membohongi diri kita sendiri.

Lebih jauh lagi ketika subjek penulis menggunakan tulisannya sebagai media interaksi sosial dengan subjek lain (pembaca). Kegiatan interaksi menjadikan kejujuran dalam menulis berada pada posisi yang penting. Ini menyatakan adanya hubungan sesama manusia, bermediumkan bahasa tulis memberikan kesan tersendiri. Dalam batasan ini, masih sejauh memberikan “kesan” kepada subjek pembaca. Apalagi ketika kita menyatakan diri diketika kita subjek penulis bersepakat dengan diri bahwa: menulis sebagai bentuk dari ibadah kepada Tuhan Semesta Alam. Pertanyaannya, apa kita akan beribadah dengan “kejujuran” atau “tidak kejujuran” bukankah Tuhan Semesta Alam hanya akan menerima yang baik-baik saja?

Kejujuran yang kita sampaikan melalui hasil dari aktivitas menulis, hendaknya juga disertai dengan cara penuturan yang baik. Pemanifestasian dari rasa, meskipun untuk mewakili kebencian dan kemaraha, alangkah “bijak” kalau disampaikan dengan bahasa yang baik.

Pemilihan bahasa yang tepat, yang sebelumnya sudah disertai dengan kejujuran, seperti yang dikatakan Sanusi Pane: “O, bukannya dalam bahasa yang rancak/ kata yang pelik kebagusan sajak” (Sajak, Sanusi Pane, Tonggak 1, hlm. 41). Hal ini membawa saya, ketika berperan sebagai subjek penulis, akan lebih memilih bahasa yang sederhana, bahasa yang biasa yang meski “mengesankan” kekakuan dan kehilangan aspek puitik. Hanya melalui tulisan yang sederhana ini, saya berusaha agar setiap kata yang saya rangkai dapat mewakili dunia ide. Sedang ke-“absurd”-an ide yang terkadang teramat sulit untuk diterjemahkan dengan kemampuan berbahasa, meskipun ide sebagai hasil dari penyerapan indera atas realitas. Melalui satu kesempatan berbahasa, ada usaha untuk memanifestasikan ide tersebut sehingga, keberadaan dari ide dapat terpahami.

Mengkomunikasikan ide melalui tulisan kepada subjek pembaca, meskipun dengan bahasa yang sederhana, di dalamnya tetap mengandungi unsur komunikasi estetis yang dilahirkan dari pengalaman estetis pula. Menulis dengan apa adanya, dapat dijadikan sebagai suatu pilihan atau (katakan saja) teknik menulis.

Berlaku apa adanya tetap menjadi pilihan yang membutuhkan keberanian. Tulisan dengan gaya yang biasa dan pemilihan kata yang lumrah akan mudah dipahami, karena subjek pembaca mudah menangkap maksud penulisan yang akhirnya membuat tulisan itu akan mudah “dihakimi”. Jikalau setelah kita menulis dengan jujur, lantas kita membacanya ulang, pasti, tulisan tadi justru menggurui kita. Menggurui tentang banyak hal yang terkadang, maknanya sering subjek penulis lupakan.

Menulis, seharusnya bisa mengajari kita mengenai keberanian dalam bersikap. Ketika kita melihat adanya kesewenangan dan penindasan, lebih jauh lagi mengenai ketidak-adilan sosial secara hukum dan lain sebagainya, kita pun harus berani bersikap. Meski akan membawa pada kesengsaraan, karena tulisan yang dihasilkan dapat mengajari kita untuk mengatakan: “TIDAK!” (Emha Ainun Najib, Sajak Luka Menganga dalam Sesobek Buku Harian Indonesia, hlm. 103-104).

Dengan keberanian itu, pun langsung teringat dengan film “Master and Commander” yang tokoh utamanya Kapten Jack Aubrey (HMS Surprisse) ketika memburu Acheron kapal Prancis, Kapten Jack mengatakan: “Whatever the cost!” dalam menjalankan tugasnya. Dan tugas seorang subjek penulis: “berdiri dan bersaksi di pinggir” seperti yang diungkapkan Linus Suryadi dalam sajaknya berjudul “Penyair” atau untuk “bergerak menulis pamplet, mempertahankan kehidupan” seperti Almarhum Rendra dalam puisinya berjudul: “Nota Bene: Aku Kangen”?

Inilah sajakku.
Pamplet masa darurat.
Apakah artinya kesenian,
Bila terpisah dari derita lingkungan.
Apakah artinya berpikir,
Bila terpisah dari masalah kehidupan.

(WS Rendra, Sajak Sebatang Lisong dalam Potret Pembangunan dalam Puisi, hlm. 34)

Bantul – Studio SDS Fictionbooks, Selasa Wage, 22 Maret 2011.