Seorang Guru Bernama Jostein Gaarder

Leila S. Chudori
http://majalah.tempointeraktif.com/

“Saat itulah kau bertanya apakah kau boleh mencium rambutku. Kau menciumnya. Saya bisa merasakan napasmu di leherku ketika kau memilin-milin helai panjang rambutku dan mengendus aromanya. Seolah-olah kau ingin menarik seluruh diriku ke dalam dirimu, seolah-olah aku menemukan sebuah rumah di dalam dirimu. Saya merasa kau ingin menyatakan bahwa aku selalu milikmu karena jiwa kita sudah bersatu. Ini semua terjadi sebelum Monica datang ke Milan; dan sebelum terjadi rencana pernikahan itu dan juga sebelum kau bertemu dengan para teolog itu….”

(Terjemahan bebas dari Vita Brevis, a Letter to St. Augustine, hlm. 81)

Novel Vita Brevis bukanlah sebuah novel yang menjadi ciri khas sastrawan Norwegia Jostein Gaarder. Tetapi ini sebuah kisah romantis dan tragis yang justru sangat menarik karena sangat dekat dengan hati Gaarder: sejarah dan teologi.

Namun, harus diakui, adalah novel filsafat Sophie’s World yang meletakkan nama Jostein Gaarder di peta sastra dunia. Tak ada pembaca sejati yang tak mengenal nama Jostein Gaarder dengan Sophie’s World. Terbit pertama kali pada 1991 dalam bahasa Norwegia dengan judul Sofie’s Verden, buku ini—tanpa diduga penulisnya sendiri—meledak dan diterjemahkan ke dalam 42 bahasa. Di Indonesia, novel ini diterbitkan oleh Mizan dengan judul Dunia Sophie.

Bekerja sebagai seorang guru filsafat selama 12 tahun, Gaarder merasa bahwa filsafat seharusnya bisa dinikmati oleh masyarakat yang lebih luas dengan cara yang lebih mengasyikkan. “Saya menyadari, jika orang bisa membaca filsafat dalam kerangka suatu ceritera, mereka pasti akan mau membacanya.” Maka suatu hari dia mengungkapkan kepada istrinya bahwa ia ingin sekali menulis sebuah buku filsafat yang tak akan menghasilkan banyak uang. “Istri saya mengatakan tulislah.”

Dan ternyata buku itu dapat terjual hingga jutaan eksemplar di setiap negara yang menerjemahkannya. Di Jepang, Sophie’s World terjual 1,6 juta eksemplar hanya dalam waktu enam bulan; di Jerman terjual 1,5 juta eksemplar. Pada 1995 Sophie’s World menduduki posisi pertama dalam daftar buku terlaris, mengalahkan Celestine Prophecy karya James Redfield.

Buku Sophie’s World sebetulnya, seperti yang diakui Gaarder, adalah sebuah pendidikan pengantar filsafat yang dikemas dalam bentuk novel. Syahdan, seorang gadis remaja 14 tahun menemukan sebuah surat misterius yang berisi satu pertanyaan mendasar dan eksistensial: “Siapakah kamu?” Surat-surat misterius itu berdatangan setiap hari, tanpa nama pengirim dan selanjutnya terjalinlah sebuah “wacana” filsafat antara Sophie dan pengirim surat misterius itu sebagai sebuah jendela menuju perkenalan pada pengantar filsafat. Semua pemikir filsafat Barat, dari Socrates hingga Aristoteles, terus memasuki abad Pertengahan sampai abad Pencerahan, Gaarder membuat sebuah komposisi kurikulum perkenalan ilmu filsafat yang diaduk dengan bumbu misteri dan beberapa percikan drama di sana-sini. Karena tujuan penulisan novel ini adalah sebuah edukasi dan pedagogi, dengan penuh kesadaran Gaarder lebih memusatkan perhatiannya dengan keinginan menuangkan ilmu dan informasi ketimbang bergulat dengan bahasa, kata, atau melakukan terobosan bentuk. Buku ini memang sejak awal ditujukan untuk “mencapai lebih banyak orang”, demikian tutur Jostein Gaarder yang ditemui wartawan TEMPO Bambang Harymurti di Oslo, Norwegia, beberapa waktu silam. Karena merasa ilmu filsafat selalu dianggap terlalu akademis dan menjemukan, Gaarder yang sehari-hari bekerja sebagai guru itu menulis novel ini sebagai persembahannya dari seorang pendidik kepada muridnya di dunia.

Dengan keberhasilan Sophie’s World, tak mudah untuk Gaarder terhindar dari kecenderungan pengulangan gaya dan tema dalam novel-novel berikutnya yang juga ditujukan ke kalangan anak-anak dan remaja.

Novelnya berjudul The Christmas Mystery adalah kisah seorang anak lelaki bernama Joachim yang menemukan sebuah kalender Advent kusam dengan 25 buah pintu yang harus dibuka hingga menjelang Natal. Setiap hari, Joachim membuka satu tanggal, satu pintu menjelang Natal, dan ia akan menemukan sebuah cerita tentang seorang anak perempuan kecil bernama Elisabet Hansen, yang diajak terbang bersama bidadari Ephiriel untuk melintasi ruang dan waktu, menuju tahun 0 di Bethlehem, ketika bayi Yesus lahir. Novelnya berjudul Through a Glass, Darkly berkisah tentang seorang anak perempuan bernama Cecilia yang menghadapi hari-hari akhir kematiannya karena penyakit kanker. Pada saat itulah, bidadari Ariel melesat melalui jendela kamarnya dan berkawan dengan Cecilia hingga saat-saat akhirnya.

Persamaan dari novel-novelnya, kecuali Vita Brevis dan Maya, semua tokoh protagonisnya adalah seorang anak lelaki atau perempuan berusia 12 hingga 14 tahun; mereka semua pada posisi yang penuh pertanyaan akan eksistensi dirinya; penuh keinginan untuk petualangan yang fantastis dan agaknya itulah yang menyebabkan novel-novelnya digemari oleh semua usia. Persamaan lain yang menjadi ciri khas Gaarder adalah keinginannya untuk “mendidik”, membuat novelnya sebagai kelasnya, dan pembaca sebagai “murid”-nya yang kritis. Sophie’s World adalah sebuah edukasi pengantar ilmu filsafat; Through a Glass, Darkly adalah sebuah edukasi filsafat dan teologi yang tertuang melalui tanya-jawab antara Cecilia yang sudah siap melepas nyawanya dan bidadari Ariel, sebagai “wakil” dari kawasan Tuhan yang mengetahui berbagai ilmu di dunia maupun masalah keimanan.

Novel The Christmas Mystery bukan saja sebuah novel yang menyelipkan studi tentang sejarah Kristiani, tetapi adegan terbangnya tokoh gadis kecil Elisabet Hansen bersama para saksi sejarah sekaligus menjadi sebuah proses edukasi sejarah dan geografi. Pecahnya perang, hancurnya sebuah kerajaan, kekaisaran, penaklukan atau hilangnya sebuah negara karena diduduki oleh negara lain, menjadi pelajaran sejarah yang diselipkan dalam dialog para bidadari dengan Elisabet (baca Dan Sang Guru Berkata…).

Sesungguhnya, bisa dipahami jika Gaarder sendiri mengaku lebih menyukai novel awalnya berjudul The Solitaire Mystery. Inilah novelnya yang berbentuk “konvensional” dalam arti: tidak memiliki misi edukasi apa pun. Hans Thomas adalah seorang anak lelaki remaja yang kehilangan sang ibu, yang pergi entah ke mana. Sosok dari keluarga disfungsional, keluarga berantakan, sebetulnya bukan ciri khas Gaarder, yang tampaknya dalam novel-novel lainnya selalu menampilkan keluarga baik-baik, religius, dan menjadi teladan. Upaya Hans Thomas untuk menyusuri jejak sang ibu dan pertemuannya dengan berbagai peristiwa dan sosok ganjil dalam perjalanannya menjadi alat bagi Gaarder untuk membawa pembacanya ke dunia antah berantah.

Di luar novel Vita Brevis dan Maya, inilah novel Gaarder yang tidak menggunakan gaya tanya-jawab dan repetisi yang membuat novel-novelnya butuh penyuntingan ulang agar lebih padat dan menyegarkan. Memang ironis, justru novel Vita Brevis merupakan karya Gaarder yang paling menarik dibandingkan dengan karyanya yang lain.

Berbeda dengan novel Sophie’s World—novel filsafat yang membuat nama Jostein Gaarder melambung di jagat sastra dunia—Vita Brevis bukanlah sebuah fiksi. Novel ini sesungguhnya sebuah terjemahan setumpuk dokumen yang ditemukannya di Buenos Aires pada 1995. Di sebuah toko antik, “Mata saya tertumbuk pada sebuah kotak merah yang diberi label Codex Floriae,” demikian tulis Jostein Gaarder dalam kata pengantar Vita Brevis.

Tumpukan dokumen itu tertulis dalam bahasa Latin, dan dari usianya, tampak dokumen 80 halaman itu sangat-sangat tua dan rapuh. Dokumen Codex Floriae adalah sebuah surat panjang dari seorang wanita bernama Floria Aemilia kepada santo terkemuka St. Augustine (354-530), yang dikenal sangat mempengaruhi filsafat Barat. Sebagai seorang guru, Gaarder tentu sangat akrab dengan pemikiran St. Augustine dan berbagai pemikir dari Abad Pertengahan. Dalam berbagai buku filsafat, dan juga buku karya St. Augustine, secara terbuka St. Augustine menuliskan wacananya dengan putranya Adeodatus, yang lahir dari kekasih gelapnya. Namun nama Floria dan kehidupannya bersama St. Augustine tak pernah terungkap dengan jelas.

Karena itu, Gaarder tak ragu untuk membeli dokumen itu dengan harga yang sangat tinggi dan memburu seberapa otentiknya dokumen itu. Selain mencoba menerjemahkannya—Gaarder fasih dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa Latin—Gaarder bahkan berupaya membawa manuskrip itu ke perpustakaan Vatikan di Roma untuk menggali analisis yang akurat tentang dokumen itu. Meski mereka mengaku tak pernah mendengar atau membaca dokumen ini, Gaarder yakin (dan menyerahkan kepada pembaca) seberapa jauh otentiknya surat ini, dan apakah Floria memang seorang kekasih St. Augustine, yang hidup pada abad keempat.

Isi dokumen yang kemudian dijadikan sebuah novel berjudul Vita Brevis ini (berarti: Hidup ini Singkat) adalah sebuah kisah yang romantis sekaligus tragis. Begitu tragisnya hingga mereka yang menggeluti pemikiran St. Augustine melalui Confessions akan sulit menerima dokumen ini sebagai sebuah surat otentik dari seorang perempuan yang tampaknya dicampakkan oleh St. Augustine. Surat Floria Aemilia ini adalah sebuah surat cinta, gugatan, pertanyaan, keresahan sekaligus tudingan dan kemarahan terhadap seorang kekasih yang telah mencampakkannya, memberinya seorang putra, merenggut putranya dari tangan ibunya, dan mempermainkan emosinya.

Menurut surat Floria—yang ditulis dengan puitis sekaligus penuh kegarangan—St. Augustine (yang dipanggilnya dengan nama Aurel) dan Floria bertemu di masa pendidikan di bawah sebuah pohon rindang. Segalanya begitu romantis, begitu indah, hingga suatu hari Aurel meminta izin untuk mencium bau rambutnya. Permulaan yang begitu romantis (bak kisah roman remaja) yang kemudian dilanjutkan dengan hubungan asmara yang luar biasa—raga, jiwa, dan intelektual ini tampak begitu “sempurna” kecuali untuk dua hal: pertama, Aurel alias St. Augustine jatuh cinta pada pengabdian pada Tuhan. Jiwanya merasa tercabik antara “cinta duniawi” dan “raga” dan cinta kepada Tuhan. “Jiwaku terenggut oleh nafsu sensual,” demikian tulis Aurel dalam Confessions.

Kedua, sosok Monica, sang ibu, jauh lebih mempengaruhi keputusan-keputusannya. Floria selalu menggambarkan bahwa pertemuan antara Floria dan Monica selalu seperti dua wanita dalam hidup Aurel yang “berebut” wilayah dalam hati sang lelaki. Satu saat Floria seakan memenuhi dan memiliki seluruh kawasan hati dan tubuh Aurel. Pada saat yang lain, Monica akan muncul dan merombak seluruh keputusan hidup putranya. Ketika putra mereka Adeodatus lahir, keadaan semakin rumit. Tekanan Monica terhadap putranya untuk mengawini perempuan lain—yang sudah dijodohkan dengannya—semakin kuat pula; di sisi lain, lingkungan Aurel yang terdiri dari para teolog dan imam semakin mengukuhkan keinginannya untuk mengabdikan diri sepenuhnya ke jalan Tuhan.

Hal yang paling tragis pun terjadi: atas saran Monica, Aurel mengirim Floria ke Afrika. Sang anak diambilnya. Bahkan Floria tak diizinkan mengucapkan apa pun kepada anaknya. Peristiwa yang berdarah ini tak menguburkan cinta Floria kepada Aurel. “Perempuan yang dijodohkan dengan saya masih begitu muda, masih harus menempuh dua tahun lagi untuk mencapai usia perkawinan,” demikian tulis Aurel dengan enteng kepada Floria.… “saya tak sabar menanti, karena saya tak terlalu menanti sebuah pernikahan, saya menjadi budak dari nafsu saya…” Maka, sembari menanti dua tahun menuju perkawinan, Aurel mengaku menjalin hubungan dengan perempuan lain sekadar untuk melepas “dahaga nafsu”.

Mereka masih tetap bersuratan, dan setelah beberapa saat, Aurel mengakui, ia merindukan Floria. Cinta memang gila, Floria menyusul Aurel, dan mereka menjalin hubungan kembali. Kali ini Aurel melarang Floria bertemu dengan Adeodatus. Pada akhir surat, tragedi itu mencapai puncaknya: Adeodatus meninggal dunia pada usia 12 tahun. Setelah melalui penderitaan batin yang luar biasa, Augustine diangkat menjadi kardinal. Dan Floria kemudian menuliskan surat ini, yang diberi nama Floria Aemilia Augustino Episcopo Hipponiensi Salutem (Greetings from Floria Aemilia to Aerelius Augustine, Bishop of Hippo) yang belakangan disebut sebagai Codex Floriae.

UNTUK memahami kisah cinta yang begitu menggelegak sekaligus tragis ini, yang terjadi pada abad setelah kelahiran Yesus, tentu tak mudah jika tak memahami konteks sejarah. Jostein Gaarder, sebagai penulis yang menemukan dokumen Codex Floriae ini—setelah riset panjang dan analisis yang kemudian dibuktikan melalui berbagai komparasi dalam catatan kaki—yakin akan kesahihan surat ini. Berbagai kutipan yang digunakan Floria melalui dokumen ini memang merupakan kutipan dari karya-karya St. Augustine yang telah menjadi pegangan wajib mereka yang mempelajari filsafat dan teologi, antara lain Confessions.

Berbagai buku dan literatur yang mempelajari biografi maupun pemikiran St. Augustine, termasuk Early Medieval Christian Philosophy, kehidupan St. Augustine sebelum diangkat menjadi kardinal memang tak jauh seperti yang tertulis dalam dokumen Codex Floriae. Lahir di sebuah kota kecil bernama Tagaste, di Provinsi Numidia (yang di peta modern kini adalah negara Tunisia), Afrika, pada 13 November 354, St. Augustine dibesarkan sebagai seorang penganut Kristen dan menempuh studi Retorika di Carthage. Pada masa mudanya, St. Augustine mengaku sebagai penganut Ma- nichean, sebuah aliran pemikiran yang ditemukan Mani (215-279), yang pada dasarnya percaya bahwa dunia dikuasai oleh dua hal: cahaya kebaikan dan kegelapan kejahatan. Augustine menggunakan pemikiran ini sebagai tameng kehidupan mudanya yang penuh dengan keraguan dan kegelisahan. Di Carthage itulah, menurut buku Early Medieval Christian Philosophy, Augustine bertemu dengan seorang “kekasih gelap yang kemudian melahirkan seorang anak bernama Adeodatus”. Meski nama Floria tak disebut-sebut, tampaknya kehidupan Augustine di masa mudanya bersama sejumlah wanita—termasuk kekasihnya yang memberikan Adeodatus—tak pernah disembunyikan. Dalam sebuah pemikirannya, berjudul On the Teacher, Augustine bahkan menuliskan wacananya bersama Adeodatus dengan gaya tanya-jawab ala Socrates.

Yang tak pernah terjawab adalah apakah seluruh kisah yang diutarakan Floria dalam suratnya adalah kisah tentang perilaku St. Augustine sesungguhnya. Bahwa ia mencampakkan wanita yang begitu mengasihinya, memberikan seorang anak; bahwa dia pernah memukulnya habis-habisan. “Suatu siang, tiba-tiba saja kau menjadi begitu marah, setelah kita bertukar ‘pemberian’ di dunia Venus (ini istilah intim pasangan ini tentang bercinta—Red.). Kemudian kau memukulku. Ingatkah kau ketika kau memukulku? Kau, Aurel, seorang guru ilmu Retorika yang sangat dihormati, memukulku habis-habisan karena kau membiarkan dirimu tergoda oleh kelembutanku. Jadi, akulah yang harus disalahkan karena nafsumu? Seperti yang dikatakan Horace: ketika orang-orang bodoh itu mencoba menghindar dari kesalahan, yang sering mereka lakukan adalah sebaliknya.” Menurut Floria, Augustine memukul dan menjerit karena kehadiran Floria menjadi ancaman bagi “penyelamatan jiwa” (Vita Brevis, hlm. 141).

Dalam Codex Floriae, St. Augustine muda yang begitu mudah mengikut nafsu, yang begitu saja memanfaatkan kebaikan Floria dan bahkan melarangnya bertemu dengan anak sendiri, tampak menjadi sosok yang asing dibandingkan dengan St. Augustine, pemikir yang telah menghasilkan Contra Academicos, On the Happy Life; On Order, On the Quantity of Soul, On the Teacher, On the True Religion, On Christian Doctrine, dan yang paling dikenal dan dipelajari para murid filsafat: Confessions.

Augustine, meski seorang filsuf, lebih dianggap sebagai seorang teolog. Ajarannya sangat mendominasi pemikiran Kristiani hingga lahirnya Aristotelianism pada awal abad ke-13. Bahkan doktrinnya banyak mempengaruhi arah dan gerakan filsafat modern (seperti Descartes). Bagaimanapun, harus diingat, Augustine menggunakan ilmu filsafat lebih sebagai instrumen untuk memahami keimanan Kristiani, daripada sebagai sebuah cabang ilmu pemahaman manusia—seperti yang dilakukan para Aristotelian. Gospel dan tulisan-tulisan Paul mempengaruhi pemikirannya bahwa hanya pemujaan dan sinar Tuhan yang bisa menjadi penyelamat kejatuhan manusia.

HARUS diakui, selain novel Solitaire Mystery, Vita Brevis menjadi karya Gaarder terbaik, meski sesungguhnya novel ini tak bisa dikatakan sebuah fiksi. Jika kita percaya surat ini adalah sebuah dokumen otentik atau surat pribadi kekasih St. Augustine, ibu dari Adeodatus, fungsi Gaarder di sini adalah sebagai penemu dan penerjemah.

Tetapi Gaarder adalah seorang Guru (dengan G besar) yang pandai bertutur. Seorang guru tak harus pandai mencipta dan tak harus selalu orisinal. Tetapi seorang Guru (dengan G besar) harus pandai mentransfer pengetahuan, merampas perhatian muridnya, harus inspiratif, agar ilmu yang dipindahkannya mengalir dengan deras ke seluruh penjuru. Dan Gaarder sangat pandai melakukan itu, seperti yang dilakukannya melalui Sophie’s World.

Seperti yang diakuinya kepada Bambang Harymurti dari TEMPO, novel terbarunya yang dalam proses penerbitan berjudul Orange Girl, Gaarder kembali bertutur tentang perjalanan batin seorang anak laki-laki 15 tahun yang kehilangan ayahnya. Melalui surat wasiat ayahnya yang berkisah tentang masa mudanya, terjadilah “interaksi” antara “masa lalu” sang ayah dan sang anak. “Dalam surat wasiat itu, sang ayah berkisah bahwa ia bertemu dengan seorang wanita muda misterius yang membawa banyak buah jeruk. Ia berusaha melacak sang wanita jeruk itu hingga ke Spanyol, tempat jeruk itu tumbuh. Setelah beberapa lama, barulah sang anak tahu bahwa wanita jeruk itu adalah ibunya sendiri.” Lagi, melalui Orange Girl, pembaca—murid Gaarder—menyusuri peta Eropa.

Gaarder, Sang Guru. Dunia, kelasmu, menanti kisahmu yang terbaru.

12 April 2004