Tradisi Lisan Lampung yang Terlupakan

Udo Z. Karzi
Akar Edisi 07/Tahun I/9-23 Juli 2003

jak ipa niku kuya
jak pedom lungkop-lungkop
badan mak rasa buya
ngena kebayan sikop

dari mana kau kuya (nama binatang air)
dari tidur berbalik-balik
badan tiada letih
dapat pengantin cantik

GELINJANG kata sastra (lisan) Lampung ternyata tak hanya hidup di pekon-pekon (kampung), tetapi masih terasa di Kota Bandar Lampung. Tanpa banyak bicara, diam-diam Radio Republik Indonesia (RRI) Bandar Lampung terus berupaya mengalirkan puisi-puisi dan prosa-prosa (sastra lisan) Lampung lewat gelombang 98 MHz.

Sudah dua tahun lebih, RRI menggelar acara “Ragom Budaya Lampung” (RBL) setiap Sabtu malam. Kalaulah acara serba tradisi Lampung ini tidak mendapat atensi dan apresiasi dari masyarakat, mungkin dia sudah lama tenggelam dalam modernitas, terlibas budaya pop yang terus menggelontor. Syukurlah, penutur dan pendengar sastra lisan Lampung masih ada, sehingga buat sementara kekhawatiran akan punahnya berbagai jenis sastra lisan Lampung tidak akan terjadi.

Merayakan ulang tahun kedua acara RBL, RRI Bandar Lampung menyelenggarakan Pesta Canggot Budaya, Sabtu, 7 Juni lalu. Puluhan marga adat dan 300-an pencinta seni tradisi Lampung terlibat dalam kegiatan ini. Aneka seni tradisi Lampung pun mengalir ke pendengaran para hadirin dan pemirsa radia.

Halijah Rai Sai Indah dan A. Roni Ratu Angguan pun ber-pattun setimbalan (berbalas-pantun): Tabik pai kidah numpang bubalah/Kimbang nyeluga dikuti dija/Adik Hadijah Ghatu Sai Indah/Api pai mula kuti ghamik ga//Tengisko kuti dipa jengan ni//Pubian ghik Abung siaran langsung/Ulah RRI debingi siji/Ulang tahun Ragom Budaya Lampung (Tabik, kami numpa bertanya/Maaf seandainya kalian bertanya-tanya di sini/Adik Hadijah Ratu yang Indah/Apa sebab ramai di sini//Kalian dengar mana tikarnya/Pubian dan Abung siaran langsung/Karena RRI malam ini/Ulang tahun Ragom Budaya Lampung).

Sesuai namanya, pengalan pattun yang dilantunkan Halijah dan Roni itu bersanjak ab ab. Bentuk lain yang acap disebut syair berima aa aa. Inilah ciri khas puisi lama yang kental dalam tradisi (lisan) hampir semua daerah di tanah air, tak terkecuali sastra (lisan) Lampung. Selain pattun, dalam khasanah perpuisian Lampung juga dikenal wayak seperti penggalan di awal tulisan ini, pepatcur, pisaan, adi-adi, segata, sesikun, memmang, wawancan, hahiwang, dan lain-lain.

Dalam catatan koordinator acara RBL RRI, Sutan Purnama, sejak diudarakan 1 Juni 2001, tak kurang 60 komunitas seni tradisi dari berbagai pekon (tiuh, desa) mengisi acara ini. Berbagai tokoh adat dari berbagai marga hadir dan ikut menyumbang kreativitas dalam olah seni tradisi Lampung.

Canggot Budaya Lampung yang diselenggarakan untuk memperingati ulang tahun kedua RBL RRI pekan lalu menampilkan, antara lain diker baru yang dilantunkan perwakilan Way Semah dan Negerikaton, acara mengantar muli yang dibawakan Sutan Kaca dari Negerikaton, Marga Way Semah, ngelapah atau Pegeh yang dipimpin Paksi Pak Marga Way Semah.

Lalu, acara pun bergulir menampilkan kecakapan berolah kata Purandi Sutan Perdana dan Sutan Pangeran Pardasuka diiringi musik kulintang. Ada juga ngigol dari Marga Abung, Selagai Lingga, Bukujadi, Marga Way Semah, Nuban, Anak Tuho, dan Nunyai.

Ringget malam itu dibawakan seniman Bumi Nyerupa disambut pattun setimbalan A. Roni Angguan dan Halijah Ratu sai Indah. Berikutnya, beberapa muli meghanai utusan marga Minjak Naghi. Acara RBL yang biasanya dimulai pukul 21.00 WIB., malam itu dimajukan pukul 20.00 WIB dan baru berakhir tengah malam. Bagi yang tak mengerti bahasa Lampung, mungkin acara ini tak berarti apa-apa, tetapi bagi warga adat Lampung, boleh jadi acara seperti ini memiliki kesan mendalam.

Di sela-sela acara Canggot Budaya, Ketua Panitia Pelaksananya, Drs. Hermansyah MURP mengatakan, Ragom Budaya Lampung yang disiarkan RRI setiap Sabtu malam membuktikan orang Lampung memiliki inisiatif menumbuhkembangkan dan melestarikan seni-budaya Lampung.

Dia menyatakan kegembiraan sekaligus keharuannya melihat dua tahun perjalanan RBL di radio pemerintah ini. Melihat antusiasme khalayak setiap acara ini digelar dan diperdengarkan melalui udara ke pelosok-pelosok Lampung, Hermansyah meyakini sastra (lisan) Lampung sebenarnya memiliki potensi untuk berkembang.

Karena itu, Hermansyah meminta dukungan yang lebih besar lagi dari pemerintah daerah, tokoh-tokoh adat, Dewan Kesenian Lampung, stakeholder, dan masyarakat pecinta seni tradisional untuk pengembangan acara ini.

“Kita berharap sajian seni tradisi Lampung semakin berkualitas dan memasyarakat, sehingga pada gilirannya, budaya Lampung dapat menjadi tuan rumah di daerah sendiri. Ke depan, saya berharap budaya Lampung dapat menjadi komoditas yang bisa dijual seperti di Bali dan dearah lainnya,” ujarnya.

Menurut Wali Kota Bandar Lampung Suharto, Canggot Budaya dapat menjadi sarana melestarikan kebudayaan sekaligus memeberdayakan masyarakat dalam memelihara nilai-nilai adat istiadat. “Canggot Budaya dapat meningkatkan kecintaan terhadap budaya dan adat istiadat, menumbuhkembangkan budaya Lampung di era global. Nilai estetika, etika, dan moral dalam karya seni-budaya dapat menjadi pengatur temperatur batin untuk memperkecil sifat-sifat individua dan egois,” ujarnya.

RBL RRI Bandar Lampung terus mengudara setiap Sabtu malam. Terakhir, Grup Wawai Hati dari Tiuh Bumiaji kecamatan Padangratu Anak Tuho tampil, Sabtu, 28 Juni 2003. Dalam acara muncul Mismanto, siswa kelas 3 Sekolah Dasar melantunkan diker baru. Setidaknya, inilah generasi baru penerus Ragom Budaya Lampung di tengah gempuran kebudayaan baru dari berbagi penjuru angin.

Kembali ke sastra lisan Lampung, petikan di awal tulisan ini adalah wayak, sebuah puisi lama dari khasanah sastra lisan Lampung dan dikenal di Pesisir Lampung. Wayak Jak Ipa Niku Kuya ini seperti terpatri dalam ingatan seorang anak Lampung karena sering dilafalkan saat mengiringi prosesi perkawinan adat Lampung. Isinya, sebuah sindirin bagi seseorang (diibaratkan kuya) yang pemalas, tetapi (seperti mimpi) tiba-tiba mendapatkan gadis cantik. Sindir-menyindir dalam bahasa yang penuh petatah-petitih, tradisi ini masih kuat dalam masyarakat tradisional Lampung di umbul-umbul (sejenis desa, red.).

Sastra lisan Lampung juga mengenal warahan, semacam kisah rakyat yang dituturkan seorang pewarah (semacam pengisah atau pendongeng) kepada seseorang atau khalayak. Dalam perkembangannya, warahan dapat berbentuk puisi, puisi lirik, atau prosa, tergantung dari kemampuan di pewarah dalam bertutur. Kalau kemudian ada kreativitas yang berupaya memasukkan warahan dalam seni olah peran, teater modern, itu karena memang dalam tradisi warahan, terdapat unsur-unsur olah vokal dan sesekali pewarah menirukan gerak tokoh yang ia ceritakan, meskipun dalam bentuk yang sangat sederhana. Sebuah potensi yang belum tergarap baik sebetulnya.

Sumber: http://ulunlampung.blogspot.com/2007/10/tradisi-lisan-lampung-yang-terlupakan.html