1 Gempa,1 Tsunami, 100 Penyair

Binhad Nurrohmat*
http://cabiklunik.blogspot.com/

dengan kaki telanjang; kita berziarah
ke kubur orang-orang yang telah melahirkan kita.
Jangan sampai mereka terjaga!
Kita tak membawa apa-apa. Kita
tak membawa kemenyan atau pun bunga-bunga;
kecuali seberkas rencana-rencana kecil
(yang senantiasa tertunda-tunda) untuk
kita sombongkan kepada mereka.

Sapardi Djoko Damono “Ziarah” (1969)

TAK lama setelah Aceh diguncang gempa dan dilumat tsunami pada 2004 maupun sesudah Yogyakarta digoyang patahan lempeng bumi pada 2006, saya (dan banyak penyair yang lain) diundang melalui SMS oleh panitia penerbitan buku antologi puisi bersama untuk menyumbangkan puisi bertopik bencana yang melanda dua daerah istimewa itu.

Saya berdebar dan ngilu menerima SMS itu. Betapa besar dan mulia kepekaan puisi di negeri ini, dan saya bertanya: bukan tanpa faedah puisi dituliskan. Tapi apa guna puisi bagi korban bencana yang saya yakin perlu yang lebih urgen berupa nasi, perban, pakaian, sabun, selimut, odol, tenda, maupun tampon ketimbang sekadar puisi dari penyair paling hebat pun? Mungkinkah korban gempa dan tsunami di negeri ini akan tulus mengucapkan, “Penyair, terima kasih banyak untuk puisinya. Kami tak lagi menderita…?”

Tapi apa mau dikata bila gempa dan tsunami di Aceh itu telah “melahirkan” ratusan penyair dan buku-buku antologi puisi bersama (yang entah dibaca atau tidak oleh korban bencana); dan panitia buku antologi puisi bersama untuk gempa Yogyakarta, misalnya, telah pula menyiarkan di koran, “Buku antologi tersebut akan memuat 100 puisi dari 100 penyair. Seluruh hasil penjualan buku puisi diperuntukkan bagi korban gempa….”

Fantastik!

Setelah gempa dan tsunami berlalu dengan gurat duka tak terperikan, banyak orang tergugah hati berbuat untuk korban bencana, nama-nama lama datang lagi dan nama-nama baru pun nongol di media massa melalui “jasa” puisi.

Ironikah?

Apakah bila semakin banyak gempa dan bertambah besar musibah yang ditimbulkannya akan melahirkan kian banyak penyair? Ah, entahlah. Terpujikah atau kejikah panita penerbitan buku antologi puisi itu?

Tunggu dulu.

Setelah gempa dan tsunami meruntuhkan rumah-rumah penduduk di negeri ini, merenggut ribuan hingga ratusan ribu nyawa, dan beritanya menyesaki media massa, banyak orang yang jauh dari bencana pun merajalela menulis puisi demi menyuarakan solidaritas dan keprihatinannya, bahkan korban langsung dari gempa dan tsunami yang merampas rumah, harta, dan kerabatnya juga ada yang bisa dan sempat menulis puisi yang terilhami bencana itu.

Sungguh itu peristiwa sastra dan kebudayaan yang menggetarkan. Bencana telah menjelma ilham kolektif yang menakjubkan. Begitu banyaknya puisi hingga seorang panitia buku mengaku kewalahan menampung ratusan puisi untuk sebiji buku antologi puisi bersama yang terbatas jumlah halamannya.

Apakah semua orang bisa menjadi penyair setelah terlanda kesedihan? Apakah puisi bertugas menyuarakan penderitaan?

Saya ingat pernyataan Sutan Takdir Alisyahbana (STA), “Dalam dada tiap-tiap manusia berdebur darah penyair. (…) Kemalangan nasib, kecewa, perasaan rindu di rantau, anak nelayan di tengah lautan, tidak putus-putusnya diratapi. (…) Perasaan ketakjuban memandang kebesaran alam, perasaan kasihan kepada golongan manusia, perasaan agama, perasaan kebangsaan, perasaan yang dibangkitkan oleh cita-cita dan pengharapan dan berpuluh macam perasaan yang lain, dapat membangkitkan gelora dalam sukma penyair. (…) Pada hakekatnya rayuan pungguk, nyanyian kekasih, cumbuan kembang dan tangisan hati yang sedih itu hanyalah perhiasan kesusasteraan…” (Majalah Panji Pustaka,1932)

Penilaian STA itu kini mungkin masih benar, barangkali juga kini perlu dievaluasi. Yang jelas saya bangga campur haru karena masih ada fenomena yang menunjukkan bahwa puisi hari ini menunjukkan solidaritas kemanusiaan ketika dunia puisi dan sastra kita dituduh introvert, tak peka kenyataan sekitar, serta cenderung keranjingan membincangkan urusan remeh-temeh belaka.

Tapi kenapa konflik berdarah di Poso, Ambon, Papua, dan Sambas, Irian jaya, serta wabah flu burung, ledakan bom teroris, dan tragedi-tragedi yang lain di Indonesia tak mampu menggalang ekspresi solidaritas puisi kita sebagaimana gempa dan tsunami di Aceh dan Yogyakarta? Apakah jumlah korban nyawa dan bendanya kurang spektakuler sehingga kurang menggetarkan mekanisme spontan hati nurani ataupun kurang memprovokasi kepekaan jiwa kepenyairan? Begitu haus darahkah penyair?

Saya percaya masyarakat kita memiliki trauma kolektif sebagai bangsa. Trauma penjajahan, peperangan, kemiskinan, penindasan, ketidakadilan, dan bencana alam. Trauma-trauma itu menjadi sejenis mood management yang menggerakkan sesuatu yang tersimpan di dalam lubuk diri dan hati masyarakat kita secara otomatis, massal, dan spontan.

Trauma ini pengikat emosi bersama yang kuat dan spontan. Maka tanpa diminta siapa-siapa, ketika negara belum berbuat apa-apa, para relawan atas niat sendiri berbondong-bondong ke Aceh maupun Yogyakarta untuk membantu korban bencana sehari setelah bencana hebat menghancurkan dua kota itu. Ya, sebagaimana baris-baris puisi yang segera tumpah dari ujung pena atau terketukkan di tuts-tuts komputer sesaat setelah terdengar kabar bencana yang menelan ratusan, ribuan, dan ratusan ribu nyawa.

Spontanitas puisi untuk tragedi yang melanda Aceh dan Yogyakarta itu merupakan efek dari sebuah kepekaan dari ikatan emosi yang kuat dan dalam yang telah terguncang atau terprovokasi tragedi, walau kita tahu dalam konteks perpuisian, tetek-bengek kadar kepekaan maupun solidaritas sosial bukan penentu utama “mutu” puisi, dan meski kita juga mengerti betapa luhur menyuarakan keprihatinan kemanusiaan dengan cara menuliskan puisi ataupun menyumbangkan indomie.

Tapi ramainya puisi “menyambut” gempa dan tsunami merupakan kebajikan namun bukanlah jaminan menghasilkan capaian puitika yang bagus. Kebebasan ekspresi menyuarakan keprihatinan melalui puisi dan mutu prestasi dalam penulisan puisi adalah dua perkara yang berbeda, sebagaimana siapa saja boleh menyanyi di kamar mandi tanpa perlu menimbang mutu vokalnya, tapi untuk bisa menyanyi di dapur rekaman atau panggung festival menyanyi lain lagi urusannya.

Kepekaan terhadap kenyataan memang penting agar puisi (selain berdaya secara estetik) juga mampu menjadi benda kebudayaan yang sanggup merekam tanda zaman dan inti atau ruh suatu kenyataan secara artistik. Kesadaran penyair untuk bisa berbuat yang relevan dan substansial jangan terlalaikan dengan cara tetap waspada pada godaan provokasi dari tragedi yang mengguncangkan dan merobek-robek batin.

Sebab selama ini, di dalam rasa luhur kepenyairan yang ingin menyuarakan keprihatinan kemanusiaan yang tertimpa tragedi, masih banyak puisi yang tampak ingin gagah atau suci sehingga lupa motif yang luhur pun bisa membuat puisi terjatuh sebagai semata teriakan-teriakan, rintihan-rintihan, dan ratapan-ratapan –sebagaimana dikatakan puisi Sapardi Djoko Damono itu– untuk kita sombongkan kepada mereka.

“Para penyair sekalian, selamat mengarang!”***

* Binhad Nurrohmat, Penyair.
Sumber: http://cabiklunik.blogspot.com/2006/12/esai-1-gempa1-tsunami-100-penyair.html