Anak Haram Indonesia

Tandi Skober
http://www.lampungpost.com/

“AKU ingin jadi Promatheus yang melepas absurditas menantang dewa-dewa, mencuri api Olymphus sekaligus ogah sembah sungkem di haribaan Dewa Zeus. Aku ingin jadi anak haram Indonesia, memanjat Monas, mencuri emas sekaligus tak waswas disebut tak waras,” ucap saya tiap kali saya datang ke Jakarta.

Jakarta cuma bisa tertawa. Dalam tawa ada taring juga tarung antarkepentingan. “Itu tak elok, Tandi,” ucap Jakarta, “Jadilah wong cilik yang baik. Soalnya, Gusti di puncak Monas itu adalah simbol identitas adiluhung. Maka sebagai kawula alit selayaknya kau loyal, integratif, memanunggal emban ingemban salawase.”

Jakarta sesaat sedot umbel,” Lihat semesta alam, samudra, maruta, bumi, angkasa, surya, kartika, dan dahana adalah sifat kodrati jagad yang tak pernah cekcok. Semua itu mengajarkan adanya makrokosmos dan mikrokosmos yang berputar secara ajek, teratur, dan posisional. Artinya, ada pengembaraan metafisika sangkan paraning dumadi, yaitu manunggalnya kawula-gusti. Dari pemikiran ini, seyogianya paham dan mengerti dalam memaknai hidup ini.”

Arifkah ujaran Jakarta itu? Tentu tidak! Mungkin ini lantaran saya adalah anak haram Indonesia. Tapi saya percaya pada teori muram tentang humanisme aneh. Saya yakini bahwa pada hakikatnya manusia adalah keniscayaan nestapa yang tak pernah berhenti menjaring angin, memerangi ruang awang-uwung, dan mengibarkan pembrontakan-pembrontakan. Di sini edan adalah dealektika rasionalitas ego. Dari Gurun Nod di sebelah timur Taman Eden, simak Qain yang lontarkan protes terhadap otoritas Ketuhanan. Juga Begawan Wisrawa dalam literatur Jawa Kuna tak sungkan kangkangi doktrin luhur transendental, lantas sambil menafsui Dewi Sukesih, ia berontak, mencoba merebut Sastrajendra Hayuningrat dari pusat periferial kekuasaan dewa-dewa. Bahkan hingga kini, para pemerhati eksistensialisme tak bisa melupakan teriakan Nietzsche: “Gotterdammerung: The Twillight of the idols!”

Jakarta sewot. Ia telanjangi saya. Saya ditaruh dalam sebuah gelas beraroma alkohol. Dalam gelas retak, saya lihat diriku bergerak zigzag, kadang tiarap, kerap kali merangkak tertatih-tatih. Bahkan hanya beberapa inci dari mataku ada belati beliau yang siap membuat mataku buta. “Aku adalah kekalahan demi kekalahan yang mempiramida, yang tak pernah letih mengobrak-abrik tatanan jati diriku,” teriak saya di bawah gambar Garuda Pancasila.

Orang-orang tepuk tangan. Tapi tidak bagi Jakarta. Saya lihat diri saya ada dalam gelas di atas meja Indonesia. “Sudah saatnya kamu berhenti menjadi Tandi,” ucap Jakarta.

Pukimak! Jakarta bukan Tuhan! Jakarta adalah hantu-hantu yang tuhankan utang luar negeri. Meski begitu, saya tahu bila saya berhenti menjadi Tandi maka saya akan berjalan poyang-paying sempoyongan di atas dua rel kemustahilan, yaitu rel realitas dan rel absurditas yang tak punya ujung.

***

Jakarta menaruh granat di kepalaku. “Berhentilah menjadi Tandi!”

Saya tatap mata Jakarta. “Lihat saya, Jakarta! Saya maklumatkan perlawanan metafisika! Saya adalah edan yang mengendap-endap di antara mesin-mesin raksasa peradaban dan rasionalitas ego yang gagap. Saya adalah edan yang terlempar pada kesunyian gulita, terjerembab pada jaring-jaring gurita kekuasaan. Saya adalah taik berwarna kuning bisa disebut PPP, Golkar, atau PDI bahkan mungkin ICMI yang diretorika menjadi kelompok cendekiawan.”

Sialan! Jakarta kok tersenyum. Granat di kepalaku siap meledak! Bila sudah begini, gendengku berdendang ria. Edanku sorak-sorak bergembira. Gilaku jadi Caligula. Oh, Indonesia, ternyata menjadi sinting amenanging zaman edan, bisa membuatku menjadi bintang yang tak bisa terpangkas sistem budaya politik apa pun juga. Maka dalam hiruk-pikuk suara yang sintingkan diriku, saya berteriak, “Kita adalah generasi edan yang dikeluarkan dari garasi petinggi negeri sekali dalam lima tahun.”

Jakarta kian sewot. Ia menyeret saya ke kamar putih Rumah Sakit Jiwa bernama Indonesia. “Di ruang ini, berhentilah menjadi Tandi,” teriak Jakarta, “Kenapa? Kamu telah menjadi serpihan sepi yang kamu pintal dari ruang tanpa dinding. Nalar kamu abnormal!”

“Serpihan sepi?” ucapku pelan, “Percayalah, ini bukan duka dealektis rohanisme. Saya tak kesepian ketika berteriak di atas tangga dan menjadi anak haram Indonesia. Saya tidak kesepian ketika memanjat Monas mengelusi emas kuning-kemuning. Soalnya, saya adalah saya, sosok manusia yang tak pernah berhenti dipenjara berhala.”

“Analisa nalarmu liar, Tandi,” kata Jakarta.

“Tapi saya tak sendiri kan? Dari album wacana filsafat, misalnya, kerap kita temui penjelajahan waswas manusia yang terjerat oyod mingmang paradigmatik. Tak sedikit manusia yang mengonanikannya dalam metamorfosa Nol. Sebut saja Sartre yang memansturbasi dengan cara meminum mata air moral dari terali penjara abadi humanisme.”

Polisi berpangkat kopral menelikung tangan saya. Sret! Tangan dan kaki saya diborgol! Tapi Jakarta tidak bisa memborgol suara saya. “Mencari langit penuh bintang,” tutur saya, lirih, “Mencari rindu yang jauh. Di sinilah akar metafisika anak haram Indonesia. Apa artinya? Saya ini hanya seonggok nestapa yang melata dari penjara ke penjara, dari kamar ke kamar, dari statsiun yang satu ke statsiun lainnya. Adalah perjalanan kehilangan ketika saya tidak tahu pasti di posisi mana eksistensialisme didealektisasi.”

***

Redaktur cerpen koran X tertawa membaca kumpul teks di atas. “Ini bukan Cerpen, Tandi. Emang sih kayaknya sih kaya dengan retorika obrak-abrik, tapi tidak ada yang bisa didapat dari cerpen ini. Sementara saya masukan ke spam saja ya…”

“Kotak sampah.”

Redaktur cerpen itu mengangguk. Mata saya terbelalak. Saya ingin katakan bahwa cerpen saya ini bergerak pada dataran filsafat non-naratif. Mestinya sih mengusik kolbu, menyublimasi, memuasi batin redaktur. Mestinya sih, redaktur itu bilang, “Sip, Tandi! Tak mustahil cerpen ini lahir hasil dari ziarah lokal meditasi. Cerpen ini mampu mendiamkan gemuruh pemberontakan lewat asketisme intelektual. Dalam cerpen ini, meski rumit melingkar-lingkar tapi di sini ada duka abadi manusia. Ada kerumitan involutif yang mengimpit. Ada luka yang ditorehkan pisau nasib yang aneh.”

Tapi ya itu tadi, redaktur X keukeh tak mau menerima cerpenku. Saya tinggalkan redaktur cerpen X. Cerpen saya kirim ke redaktur cerpen Media Indonesia bernama Djadjat Sudradjat dengan surat pengantar sebagai berikut:

“Dikmas Djadjat Sudradjat, namanya saja usaha untuk mencari seisap dua isap asap rokok, bersama ini saya kirim cerpen Anak Haram Indonesia. Seperti halnya Hamlet yang terjerat eksitensialisme zaman Victoria yang rumit, demikian juga kandungan maksud cerpen ini. Artinya, cerpen ini, bukan sekadar kumpul kalimat belaka. Bahkan semakin saya renungi, saya semakin meyakini adanya partikel pemikiran Friedrich Nietzsche dalam cerpen ini.

Ini cerpen bagus, Dikmas. Bila Nietzsche dalam Zarathustra kisahkan kesunyian sebagai simbolisme humanisme aneh, maka dalam Anak Haram Indonesia, saya khabarkan pengembaraan kegelisahan sang anak dalam mencari terminal terakhir kereta yang berangkat senja ketika emas Monas semakin pucat. Saya coba menakwil Indonesia dalam bingkai Frohliche Wissenschaft. Indoesia saat ini sedang meninting lentera dari hutan ke hutan belantara lainnya, hingga ia membunuh rasionalitas ego dan berteriak, “Apa yang paling suci dan mulia yang pernah dimiliki dunia, kini mengucurkan darah karena pisau kita. Maka siapa yang harus mengapus darah dari tangan kita semua?” Inilah substansi cerpen saya.

Semoga Dikmas berkenan membaca cerpen ini dan layak muat di ruang cerpen Media Indonesia.

Wassalam

Tandi Skober

***

Ternyata cerpen ini tak jua dimuat. Hingga tadi siang, Kamis 31 Maret 2011, saya temukan amplop di dalam ordner map kumal. Hmm, saat dibuka, ada lembaran-lembaran cerpen Anak Haram Indonesia. Jadi, surat tidak terkirim?

“Iya tidak saya kirim,” ucap istriku. “Sudah berpuluh-puluh cerpen dikirim ke koran dan majalah kagak ada yang dimuat. Lebih baik ongkos pos kilat khusus dibelikan empal gentong.”

Ternyata empal gentong lebih bermakna ketimbang Nietzsche!

Bandung, Friday, April 01, 2011, pkl 04:08:10