Antara Putu Wijaya dan Asalnya…

Tidak Ada Saling Intervensi, Kalah Menang Atas Asal…
IBM. Dharma Palguna
http://www.balipost.com/

MENGAPA karya-karya Putu Wijaya yang jauh dari tema Asal justru mengingatkan seorang pembaca seperti saya tentang asal?

Dalam sastra klasik pengarang itu dicitrakan sebagai pengembara estetis. Satu pertanyaan yang paling sering ditujukan kepada seorang pengembara, di mana pun dan kapan pun, adalah ”dari mana ia datang”. Itulah pertanyaan streotip tentang Asal.

Tapi Asal bukan hanya ”darimana ia datang”. Asal adalah juga ”apa yang menyebabkan ia pergi”. Asal adalah latar belakang. Maksudnya, bukan apa yang ia cari di depan, tapi apa yang ia tinggalkan di belakang.

APA PUN yang ia tinggalkan di belakang, itu adalah kekuatan pendorong yang menyebabkan ia pergi. Jadi, Asal bukan sekadar darimana ia datang, tapi juga pendorong yang menyebabkan ia pergi. Kurang lebih atau lebih kurang seperti itu.

LANGKAH seorang pengembara sering menjadi tidak ringan karena ia menggendong Asal di punggungnya. Hampir pada setiap langkah, seorang pengembara itu dihadapkan pada pilihan antara lanjutkan atau kembali. Pergi untuk hilang, atau pergi untuk kembali.

Dalam sastra kontemporer lebih sering terbaca pergi untuk kembali. Perbedaan itu bukan sekadar pilihan zaman, tapi perbedaan posisi-tawar seorang pengembara dengan apa yang disebut Asal. Pengembara diposisikan hanya sebatas burung Bangau, yang ”sejauh-jauh bangau terbang ia akan kembali ke sarangnya”. Padahal sejatinya, burung bangau itu tidak punya sarang! Jadi, sangat banyak bacaan yang memenangkan Asal, tanpa penjelasan mengapa begitu.

DALAM KEHIDUPAN MISTIS, politis, ekonomis, akademis, demografis, historis, tulisan tangan asli para Kawi yang dianggap Asal dari naskah-naskah yang berkembang dan beredar. Para Yogi dan penempuh jalan mistis lainnya khusyuk memusatkan pikirannya pada sangkan paraning dumadi, yaitu Asal dan tujuan penjelmaan menjadi manusia. Manusia pun diklasifikasikan dan dihimpun berdasarkan Asal, bukan hanya dari mana datang (dilahirkan), juga dari mana ijazah dan penghasilan diperoleh. Bahkan seorang ilmuwan, Darwin, menemukan asal manusia, yaitu Bojog!

Namun demikian, tentu saja ada perlawanan terhadap diminasi Asal itu. Bentuk perlawanan bermacam-macam. Sudah lama orang menertawakan Darwin yang semasa hidupnya sangat tekun mencari Asal. Tertawa adalah salah satu cara melawan. Tertawa menertawai bukan hanya terjadi di kalangan pelawak, juga di gelanggang akademisi. Puluhan tahun terakhir para filolog modern juga menertawakan filolog klasik yang sibuk mencari Asal, yaitu otograf. Para aktivis dan kebanyakan anak muda sudah menjadi terbiasa tertawa tentang soroh dan kegandrungan orang mencari asal keleluhuran.

Sekarang ada satu pelawan Asal yang sangat tangguh bernama Pasar. Karena Pasar bukan sekadar tempat yang paling sering dituju, tapi pasar adalah kekuatan unik yang sanggup melemahkan diminasi Asal. Di dalam pasar, Asal dilebur oleh Harga menjadi kalau tidak penjual ia adalah pembeli.

Namun demikian, Asal itu seakan makhluk yang tidak bertubuh, sehingga tidak mati-mati. Semakin dominasi Asal itu dilawan, semakin ia menguatkan dirinya. Makhluk halus bernama Asal itu secara misterius menggerakkan orang-orang untuk menghimpun diri menjadi berbagai organisasi yang berbasis Asal, berbendera Asal, dan maju tak gentar membela Asal.

So what? Pada titik inilah tiba-tiba muncul nama Putu Wijaya yang juga punya Asal, yaitu Tabanan, dan lebih sempit lagi, Puri. Ia adalah seorang pengarang dan dramawan yang dulunya juga penyair. Tapi sangat terasa dalam karya-karya Putu Wijaya ada kejelasan bahwa tidak ada saling intervensi antara Putu Wijaya dengan asalnya. Putu ya Putu. Tabanan ya Tabanan. Bali ya Bali. Sastra ya sastra.

Ia pengarang yang berhasil bekerja dengan pikiran dan cara berpikir orang banyak dan orang kebanyakan. Pengarang seperti itu bisa datang dari mana saja. Bisa datang dari Bali, bisa dari Praha, bisa dari Leningrad, bisa dari Togo. Jadi, tidak perlu menghubungkannya dengan Asal. Apalagi menghubungkannya dengan yang lebih sempit lagi, seperti Puri, karena ”kebetulan” ia lahir di sebuah Puri.

Putu Wijaya adalah pengarang yang ”menang atas asal”. Barangkali ia tidak sadar bahwa dirinya dianggap menang, paling tidak oleh seorang pembaca seperti saya. Saat membaca karya-karya Putu Wijaya, saya kerap bertanya apakah kejayaannya atas asal itu ia cita-citakan dan ia perjuangkan?

PERTANYAAN seperti itu tentu mesti ditanyakan kepada Putu Wijaya sebagai pengarang, bukan sebagai manusia darah-daging. Sebagai pengarang ia ada di dalam karya-karyanya baik apa yang dikatakannya, maupun apa yang ia tutupi dengan kata.

Tapi seandainya Putu Wijaya mengatakan dirinya ”kalah atas asal”, maka tulisan ini adalah bukti tambahan bahwa komunikasi sastra itu memang aneh: apa yang dikatakan tidak selalu sama dengan apa yang dimaksudkan, apalagi dengan apa yang dimengerti.

Senin, 31 Oktober 2009 | BP