Bohong

Linda Sarmili
suarakarya-online.com/29 Jan 2011

Bohong. Tak terasa sudah sebulan saya merasakan nikmatnya berpuasa sunah Senin-Kamis. Soalnya, tiba-tiba saja saya merasakan semua orang menjadi baik kepada saya. Itu saya rasakan ketika saya melunasi kredit saya di sebuah bank. Pejabat kepala bagian kredit bank itu mengatakan kredit saya telah lunas. Tetapi saya ngotot bertahan bahwa sisa kredit saya masih Rp 50 juta lagi. Jadi belum lunas. Itulah yang ingin saya lunasi.

Ternyata, meski sudah tiga kali saya mengatakan kredit saya belum lunas, pejabat kepala bagian kredit itu sama ngototnya dengan saya. Ia tetap berpendapat dan menegaskan, kredit saya telah lunas. “Jadi tak perlu lagi setoran Rp 50 juta itu,” katanya seraya memperlihatkan kepada saya print out komputer yang membuktikan bahwa kredit saya memang benar-benar telah lunas. Lalu saya meninggalkan bank itu dengan perasaan kecewa.

Bersamaan dengan itu saya juga sebenarnya sangat gembira. Betapa tidak, saya mendapat uang Rp 50 juta. Uang yang seharusnya lenyap dari tangan saya, tetapi kini malah menjadi milik saya. Nah, ketika itulah timbul pemikiran untuk menggunakan uang yang menjadi milik saya itu untuk membeli rumah cicilan, rumah RSS, rumah sangat sederhana. Kebetulan hingga kini saya memang belum punya rumah. Kalaupun sekarang saya bisa tenang di rumah yang lumayan bagus, lengkap dengan garasi, taman dan kolam ikan, itu karena kebaikan keluarga yang minta saya mengisi secara gratis rumahnya yang kosong sejak lama.

Saya pun segera berurusan dengan sebuah perusahaan pengembang RSS. Diluar dugaan direktur perusahaan pengembang itu dengan sukarela memberikan sebuah rumah RSS kepada saya tanpa bayar. Ini benar-benar edan. Tidak masuk akal. Setelah mendengar penjelasan direktur perusahaan pengembang RSS itu barulah saya paham mengapa saya bisa mendapat bonus seperti itu. RSS yang jumlahnya ratusan itu dibangun perusahaan pengembang itu khusus untuk karyawannya.

Mencari untung tidak menjadi tujuan. Kalaupun untung jumlahnya kecil sekali, tidak ada artinya buat perusahaan pengembang raksasa itu. Perusahaan itu mencari untung hanya dari rumah-rumah sangat mewah yang dibangunnya. Rumah-rumah mewah itu sebagian besar dibeli oleh para pemilik “uang panas” yang sangat banyak jumlahnya di republik ini. Setelah dibeli, rumah-rumah itu mereka jadikan “rumah hantu” karena tidak dihuni dan diserahkan penghuninya kepada “makhluk-makhluk halus” yang merasa bersyukur karena mendapat rumah gratis.

Nah, karena pengembang masih memiliki rasa keadilan sosial yang tinggi, dibangunlah rumah-rumah sangat sederhana, untuk para karyawannya, agar mereka memiliki rumah dan tidak mengeluarkan biaya transportasi lagi untuk pergi bekerja. Maklumlah, kompleks RSS yang saya sebutkan itu hanya dua ratus meter jaraknya dari rumah-rumah mewah yang sebagian besar telah menjadi “rumah hantu”.

Selain sepi dan bila malam tampak gelap, rumah-rumah mewah itu dikelilingi rumput liar yang tumbuh subur di halaman depan, belakang dan samping kiri-kanan. Lalu mengapa kepada saya diberikan rumah – walaupun dengan embel-embel sangat sederhana – secara cuma-cuma?

Direktur perusahaan pengembang itu, dengan senyumnya yang menawan menjawab: “Kebetulan hanya RSS yang diberikan kepada Anda itu yang belum terjual. Selebihnya telah menjadi milik karyawan kami. Rupanya yang kami bangun berlebih satu. Karena kami lihat Anda sangat membutuhkan rumah sedangkan kami tidak tahu kepada siapa akan menjual rumah itu, dengan senang hati kami memberikan rumah tersebut kepada Anda. Yang penting rumah itu dihuni orang yang benar-benar sangat membutuhkannya.” Saya kagum pada rasa sosial Direktur perusahaan pengembang itu. Terbantahlah sinisme saya bahwa kehidupan modern di kota besar telah membunuh kepedulian manusia terhadap sesamanya. Buktinya, Direktur yang baik itu. Dia sadar betul bahwa orang-orang yang hidupnya sedikit di atas garis kemiskinan seperti saya harus dibantu. Keberpihakannya juga jelas. RSS harus dihuni karena memang banyak yang membutuhkannya. Tetapi rumah-rumah mewah? Silakan saja mau dijadikan apa, terserah.

* * *

Mungkin ada di antara Anda yang menganggap saya berlebihan dalam berdusta. Masak dengan uang Rp 50 juta di zaman seperti sekarang ini masih sanggup mengatakan bahwa saya hidup sedikit di atas garis kemiskinan?

Agar prasangka Anda tidak berkelanjutan saya berkewajiban memberikan penjelasan. Tahun lalu, ketika terbongkar bahwa saya melakukan praktek korupsi kecil-kecilan, saya dipecat dari pekerjaan saya di sebuah kantor swasta. Saya terperosok dalam kebingungan. Istri sudah mendesak agar kami keluar dari rumah keluarga dan mengontrak kamar. Tetapi di dompet saya tak pernah tersimpan sisa gaji. Hasil jerih payah bulanan saya selalu ludes hanya untuk urusan dapur. Belum lagi anak saya yang tertua akan melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi. Pasti butuh uang yang tidak sedikit.

Sementara itu impian saya untuk membuka warung yang hasilnya bisa melancarkan perekonomian keluarga hanya sebatas mimpi saja sejak lama. Keinginan berwiraswasta hanya tinggal impian lebih karena saya kesulitan mencari modal. Saya malu meminjam uang untuk modal dagang kepada keluarga saya. Saya takut kelak di kemudian hari tidak lancar mencicil lalu jadi omongan. Akhirnya saya memberanikan diri meminjam uang di bank. Untuk itu saya melampirkan data-data palsu pada surat permohonan mendapatkan kredit.

Setelah menunggu satu minggu permohonan saya dikabulkan. Jadi terbantah lagi bahwa orang kecil seperti saya sukar mendapat kredit dari bank. Terbantah pula bahwa untuk memperoleh kredit dibutuhkan agunan yang nilainya jauh lebih besar dari pinjaman. Juga terbantahkan bahwa untuk mendapat kredit perlu uang pelicin. Perlu uang sogokan yang tidak kecil untuk sejumlah pejabat di bank.

Dengan uang itulah saya bisa berbuat banyak sebagai seorang kepala rumah tangga di rumah saya. Saya bisa membayar uang kuliah anak saya. Bisa membelikan motor bekas untuk anak saya kuliah. Bisa membelikan komputer murahan dan sisanya saya gunakan untuk modal berjualan makanan di kaki lima. Modal saya tentu akan lebih besar seandainya anak saya diterima di perguruan tinggi negeri yang diimpikannya sejak kelas dua SMA. Tetapi, untuk lulus dari jaringan UMPTN (ujian masuk perguruan tinggi negeri) kan tidak mudah.

Menurut cerita anak saya, UMPTN itu tidak ubahnya undian berhadiah. Beralasan sekali kalau sejak mula saya sangat tidak yakin anak saya – yang kemampuannya sangat pas-pasan di SMA – bisa menembus dan lulus dari blokade sulitnya masuk ujian perguruan tinggi negeri.

Betapa tidak, jumlah mahasiswa yang diterima total hanya 2.500 orang, tetapi yang mendaftarkan menjadi calon mahasiswa mencapai 22 ribu orang. “Saya tidak yakin kamu bisa lulus, Nak. Sulit sekali memasuki perguruan tinggi terkenal itu…” demikian kata hati saya kepada anak saya suatu hari setelah mendengar anak saya ikut testing masuk Ujian masuk perguruan tinggi. Dan ternyata benar. Beberapa hari kemudian dalam daftar pengumuman calon mahasiawa yang lulus, yang dimuat di beberapa koran terbitan ibukota, nama anak saya tidak tercantum.

Anak saya tidak lulus. Karena itu anak saya, saya masukkan ke perguruan tinggi swasta yang tidak terkenal. Pertimbangan saya memasukkannya ke perguruan tinggi tidak terkenal, terus terang saja, lebih karena biaya masuknya yang jauh lebih murah ketimbang biaya di perguruan tinggi yang telah terkenal. Apakah anak saya akan berhasil dan apakah gelar kesarjanaannya nanti ada artinya untuk mendapatkan pekerjaan, nanti sajalah dipikirkan. Berpikir pragmatiskan lebih baik daripada membayangkan kesulitan yang akan dihadapi.

* * *

Jualan makanan di kaki lima janganlah dianggap enteng. Pendapatannya dalam sebulan bisa mengalahkan pendapatan sebulan seorang Direktur Jenderal yang jujur disebuah departemen pemerintah. Karena itu, cicilan pembayaran kredit saya kepada bank dapat berjalan lancar. Dan, tahukah Anda, bulan ini keuntungan bersih saya benar-benar di luar dugaan sehingga saya ingin lekas-lekas melunasi sisa utang saya kepada bank. Itulah yang ditolak kepala bagian kredit bank saya ketika saya datang untuk melunasi utang itu.

Selama saya masih tinggal di RSS yang ukuran bangunannya hanya 21 meter dan luas tanahnya hanya 60 meter persegi dan saya masih tetap berjualan di kaki lima, apakah saya tidak boleh menyebut diri saya berada sedikit di atas garis kemiskinan? Anda benar. Anda tidak salah. Saya ternyata telah berbohong secara berlebihan. Bukankah saya sendiri yang mengatakan, pendapatan seorang pedagang kaki lima sebulan bisa melebihi pendapatan sebulan seorang berpangkat Dirjen yang jujur?

Saya mohon maaf. Sekaligus ingin mengutarakan pendapat saya bahwa mayoritas Dirjen, bahkan mungkin semua Dirjen di berbagai departemen yang banyak itu adalah orang-orang jujur. Kita tidak boleh berprasangka buruk. Mencurigai boleh-boleh saja, asal kecurigaan itu jangan disebarluaskan. Tetapi, menuduh terutama sekali menuduh orang tidak jujur adalah perbuatan yang sangat tercela dan sangat tidak sesuai dengan kepribadian bangsa.

* * *

Surat yang baru saya terima membuat saya kebingungan. Bayangkan saja, saya diminta datang ke universitas tempat anak saya kuliah untuk mengambil semua uang yang telah saya setorkan. Apa kesalahan anak saya yang telah menjalani Ospek dengan susah-payah itu? Dengan debaran jantung yang tidak menentu saya menemui kepala bagian penerimaan mahasiswa baru.

Dengan ramah ia menyambut saya dan memberikan keterangan yang saya perlukan sebelum saya minta. “Bapak Rektor menyuruh saya mengembalikan uang yang telah Bapak setorkan beberapa hari lalu,” “Mengapa?” saya bertanya dengan rasa ingin tahu yang menggelegak. “Ini kebiasaan Pak Rektor. Setiap tahun ada saja mahasiswa baru yang ketiban rezeki seperti ini.

Jumlahnya memang tidak lebih dari satu orang. Dasar pertimbangannya apa, saya benar-benar tidak tahu. Pokoknya, Pak Rektor mengambil secara acak sebuah nama dari daftar mahasiswa baru dan membebaskan mahasiswa itu dari kewajiban membayar uang kuliah”. Rezeki memang tak perlu dikejar. Dia akan datang dengan sendirinya kalau memang sudah ditentukan untuk kita. Tak perlu sikut-sikutan untuk mendapatkan rezeki. Agama manapun di dunia ini memang melarang praktek seperti itu, sikut-sikutan memburu rezeki.

“Jadi kita pun nggak perlu ikut-ikutan dengan tetangga seberang rumah yang doyan sikut-sikutan mendapatkan uang,” kata saya kepada, Mimin, istri saya.

* * *

Kejadian membingungkan yang atang beruntun akhirnya mengantarkan saya kepada pertanyaan yang tidak pernah dapat saya jawab. Apakah saya masih hidup di bumi atau di planet lain? Apakah ini suatu keinginan atau sebuah realita? Apakah ini hanya sebuah fiksi yang hidup dan berkembang di kepala saya atau kejadian, yang benar-benar kongkret?

Cobalah Anda bayangkan. Setelah rezeki-rezeki terdahulu itu kini menyusul rezeki baru yang juga tidak pernah saya harapkan kedatangannya. Saya mendapat panggilan dari bekas kantor saya yang lama. Saya diminta kembali bekerja dengan tawaran gaji yang lebih baik. Dalam surat yang dikirimkan kepada saya, dua kalimat tercetak dengan huruf-huruf tebal.

“Korupsi kecil-kecilan Anda kami anggap tidak ada, karena telah kami maafkan. Korupsi kecil-kecilan adalah wajar dan sah-sah saja untuk mempertahankan hidup”. “Gila,” saya berteriak. Surat yang ditandatangani Direktur Utama itu saya baca berulang-ulang. Huruf-huruf tebal itu masih bertengger dengan gagah di sana. Ini keterlaluan. Saya harus berbuat sesuatu. Sebagai orang kota yang terbiasa dengan gerak cepat malam harinya saya membuat kejutan kepada banyak orang, umumnya para pelanggan warung makan saya di kaki lima. Semua pelanggan yang makan di warung saya, saya minta untuk tidak membayar semua yang telah mereka santap dan minum. Besoknya, saya juga berbuat begitu. Besoknya lagi demikian juga setelah modal saya tinggal untuk satu hari jualan lagi, baru “servis” itu saya hentikan. Kepada Mimin, istri saya, saya berbisik: “Kejadian-kejadian gila, harus disambut dan diimbangi dengan perbuatan sinting.” Mendengar ucaoan itu, istri saya pun tertawa terbahak-bahak. “Aku setuju, bang… aku setuju …” ujar Mimin. Tapi, bagaimana menurut Anda? Asal tahu saja, saya berkepentingan melakukan semua itu, karena dengan demikian faktor keseimbangan dapat terpelihara. Tapi apakah benar pandangan saya itu? ***