Bunglon Menjadi Serigala

M.D. Atmaja

Hari ini, langit sudah meredup kembali. seperti kemarin-kemarin, udara akan lekas basah dan membuatku kesulitan bernapas. Sesak. Sementara langit telah menghitam kembali, dan sedangkan matahari masih berhutang padaku sebesar seperempat perjalanan. Tapi, yah, mau bagaimana lagi sedangkan diriku ini hanya manusia yang tidak mencipta.“Hujan lagi, Kang!” ucap saudara mudaki. Dhimas Gathuk namanya, berperawakan kecil namun tegak dan tegas.

“Sudah lulus jadi dukuk, Dhi?” sahut kakaknya, saudara tuaku yang bernama Kangmas Gathak.

“Lho, lho, kok langsung seperti itu, Kang?” sahut Dhimas Gathuk.

Aku sendiri hanya diam. Tahu kalau di sana akan ada perang saudara. Meski tidak saling membunuh seperti Pandawa dan Kurawa, tapi tetap aku tidak mau terlibat. Pura-pura dungu saja. Tinggal nanti, pura-pura jadi petugas sok bijak untuk mendamaikan.

Eh, tenang saja. Aku tidak secerdik negara adi-kuasa yang teramat pandai memanfaatkan kondisi. Lalu akan segera datang berjubah polisi dunia untuk ganti mengangkangi, memaksa nge-HAK-i.

“Lha belum hujan kok kamu sudah bilang hujan. Itu namanya ndisiki.” Ucap Kangmas Gathak yang sudah bersiap melayani adiknya.

“Ming memprediksi, Kang.”

“Itu namanya sok ngerti. Ah, maklum juga. Sarjana zaman sekarang, sok ngerti padahal ilmunya masih tidak seberapa. Baru hapal dua istilah saja berani berdiri di depan umum. Lalu, mengatas-namakan.”

Akhirnya, aku yang tidak ikut-ikutan disindir-sindir.

“Eh, jangan menyeret orang seperti itu, Kang!” tepisku yang justru membuat mereka berdua tertawa.

“Hahaha… rumangsa to, Ja?” sahut Kangmas Gathak dengan ringan, merasa di atas angin “Hahaha…”

Ah, sebenarnya masalah ini gara-gara aku terus berusaha menandingi, eh, maksudku berkomunikasi dengan orang-orang yang sudah berpegelar profesor itu. Mengusahakan diri agar dapat bersanding meski umurku masih terlalu muda dan juga BELUM memiliki ‘gudang garam’ yang cukup. Ya bisa ditebak. Cuma ditertawakan. Dianggap semacam kentut.

Ada juga lho, yang bilang aku seperti onani. Dibelai-belai sampai akhirnya menyembur tidak berarti karena terbuang tidak terinvestasi.

“Santai saja, Kang. Gak usah khawatir. Toh, belum tentu kok itu sebagai masturbasi. Anggap saja begini: mereka takut kalau sampai nanti kamu saingi.” Ucap Dhimas Gathuk.

“Hahaha…” Kangmas Gathak masih tertawa-tawa.

“Ya dianggap saja seperti itu. lebih baik ketimbang jadi manusia sok tinggi, tapi toh, terkadang lupa, lidahnya seringkali jadi belati.”

“Heh?” Kangmas Gathak tersinggung.

“Sudah, sudah. Masak mau saja diperalat si krisna.” Ucapku dan mereka diam saling berpandang, aku tahu yang ada di dalam pikiran mereka, kenapa harus krisna…

“Mendingan Kangmas Gathak memberi kami bekal, Kang.” Ucapku pelan. “Lewat dongenganmu itu.”

“Ah, dongeng-NGGAK mutu!” sahut Dhimas Gathuk.

“Eh, sudah Dhi! Belajar menjadi adik yang baik.” Waduh, ucapku, sok-sokkan jadi politisi sakti.

“Dongeng apa, Ja?” Kangmas Gathak terlihat memikirkan sesuatu, “Sudah belum kalau: Bunglon menjadi Serigala?”

“Sudah!!!” sahut Dhimas Gathuk dengan teramat cepat.

“Belum, Kang! Yang sudah itu Bunglon sama Dhimas Gathuk!” sahutku.

“Wealah,” Dhimas Gathuk memandangiku bersiap menuntut. “Kalau mau cerita buruan sekarang, Kang, keburu mau buat mie.”

“Ceritanya begini:

Seekor Bunglon yang pandai menyelinap menjalin hubungan khusus dengan seekor serigala. Khusus, tapi perlu diingat kalau mereka sebenarnya tidak berpacaran meskipun terkadang terlihat begitu mesra. Kalau dilihat dari banyak kacamata, hubungan mereka seperti kakak dan adik. Semua itu, apa pun bentuknya kita bilang saja dengan persaudaraan. Membagi satu menjadi dua, dan menjadikan dua untuk satu. Bukankah ini hal yang indah?

Kemampuan Bunglon yang cakap membacai kondisi, kemudian menyelinap seperti terdekteksi, seringkali dimanfaatkan oleh si Serigala. Bunglon juga tidak berkeberatan. Bukan menjadi pekatik karena takut.

Sampai suatu hari, terjadi perpecahan di antara mereka. Pecah kongsi kalau bahasa politik sekarang. Sebab, si Serigala memaksa Bunglon untuk mengikuti perintah. Apa pun. Si Bunglon ini, bersebab dilahirkan di Jawa, ia juga begitu lihai menyimpan pemberontakan. Dia diam demi persaudaraan yang sudah terjalin agar tetap terjaga. Bahkan, Bunglon menyempatkan diri untuk menyusup ke wilayah para jagal demi si Serigala. Di sana, dia menceritakan kebaikan-kebaikan Serigala dan yang pantas untuk dikenang. Kebaikan-kebaikan itu, yah, karangan Bunglon sendiri.

Memang tidak setiap niatan baik, akan mendapatkan tanggapan yang baik juga. Serigala yang ganas namun tidak mampu berburu, karena tidak hidup di tanah liar berucap: Ah, kamu Bunglon hanya mengotoriku!

Bunglon masih saja menahan diri. Dia berusaha mengerti kondisi. Mengerti warna untuk mendidik Jiwanya sendiri. Sampai ketika Serigala menyuruh Bunglon agar berubah menjadi Serigala. Bunglon bilang: Bagaimana bisa?

Serigala menjawab: Bisa, jadilah pekatikku, pesuruhku dulu. BABUku!

Bunglon tidak menjawab, justru berlari ke puncak pohon untuk menjadi puncak itu sendiri. Dari sana dia memandangi alam raya, kemudian berteriak protes. Tentu saja, protes sebagai puncak. Sembari dalam hati dia berucap: Kuselusuri jalan ini untuk merengkuh kebebasanku. Bukan menjadi BUDAK bagi makhluk apa pun!!

Bunglon terus di atas sementara Serigala menahan marah. Serigala merasa kalau Bunglon tidak bisa dinasehati dan seumur hidup akan menjadi Bunglon, kecil yang lemah. Bunglon mendengar itu semua. Bunglon berdiri di atas puncak dalam senyuman yang sederhana. Lalu, dia menjatuhkan diri bersama ranting. Jatuh tepat di atas punggung Serigala.

Si Serigala kaget. Ia melihat ke punggung, tidak ada apa-apa. Hanya ranting yang tergeletak di tanah.

Di atas punggung Serigala itu, si Bunglon tersenyum sendiri: Sekarang aku telah menjadi SERIGALA karena-Nya!

“Hahaha… dengar itu, Kang!” sahut Dhimas Gathuk yang langsung memukul pundakku. “Hahaha…”

“Jadi,” pikirku tidak aku lanjutkan.

Bantul – Studio SDS Fictionbooks, Sabtu Kliwon 2 April 2011.