Catatan Dunia Kecil Teater

Silvester Petara Hurit*
Pikiran Rakyat, 27 Des 2008

RANGSANGAN kerja kreatif teater adalah persoalan dan pergulatan konkret di mana karya itu lahir. Artinya, peristiwa teater tak bisa dilepaspisahkan dari konteks real manusia dan masyarakatnya. Ia bisa merefleksikan realitas kemarin, peristiwa aktual hari ini, maupun bayangan kejadian yang bakal dihadapi di masa mendatang. Hal tersebut bisa dilihat dari kecenderungan pementasan teater dalam kurun waktu satu tahun ini.

Ruang hidup manusia terutama merangsek masuknya pelbagai peralatan dan benda elektronik yang secara fungsional menggeser peran dan kehadiran orang lain serta mengondisikan manusia pada pola kerja yang mekanik adalah fenomena yang barangkali mengkhawatirkan. An Ordinary Day karya Dario Fo dimainkan oleh kelompok teater Behindtheactor`s sutradara Asep Budiman (30-31/01/08) merekam bayangan kekhawatiran tersebut. Melalui tokoh Yulia (Evi Sri Rezeki) yang berprofesi sebagai seorang advertising, Behindtheactor`s memperlihatkan ironi hidup manusia megapolitan yang sebagian besar waktu hidupnya habis untuk sekian omong kosong kebutuhan. Untuk memproduksi dan membeli pelbagai produk yang tidak berguna. Hidup dalam iming-iming godaan, sensasi-sensasi kebutuhan yang lebih banyak mengada-ada sifatnya.

Kegelisahan yang sama diangkat oleh Mainteater dalam pertunjukan “Electronic City” karya pengarang Jerman Falk Richter di Gedung Kesenian Rumentang Siang (25-26/10/08). Pertunjukan yang disutradarai Wawan Sofwan mengetengahkan kisah romantik antara Tom (Kemal Ferdiansyah) dan Joy (Atin) di dalam jerat angka-angka dan dalam campur baur akrobatik fakta dan fiksi (dunia objektif dan tontonan). Di kota global, di zaman elektronik, manusia terperangkap dalam jebakan komunikasi digital, menjadi kaku, dan serba terukur. Dengan hidup yang bertumpu pada standaritas global di mana segala sesuatu menjadi mekanik dan massal. Terlihat sama, terasa sama. Hidup melaju, bergerak begitu cepat. Pergi datang ataupun diam seakan berimpit, tak dapat dibedakan lagi.

Kedua pertunjukan tersebut menertawakan ironi peradaban metropolitan-megapolitan sekaligus mengingatkan kita supaya waspada atau menunggu giliran. Bahwa semua peralatan itu, sebagaimanapun lengkap dan canggihnya ia, tetap “tak dapat memuaskan kehausan jiwa manusia”, demikian Carl Gustav Jung. Bahkan, menciptakan keterasingan dan keterpecahan jiwa akibat kekosongan hubungan antarmanusia dalam pandangan Baudrillard.

Representasi

Realitas kemiskinan, ketidakadilan, potret wong cilik paling sering muncul dalam pertunjukan selama setahun ini. Relasi subjek-objek mengondisikan manusia pada dua kenyataan. Ada yang berkuasa dan ada yang dikuasai. Hidup jadi pertarungan. Kemenangan adalah keniscayaan walau dengan konsekuensi mengorbankan orang lain. Pertunjukan “Dalam Bayangan Tuhan atawa Interogasi I” karya Arifin C. Noer yang disutradarai Fathul A. Husein (5-6/5/08) menghadirkan tokoh Sandek (Irwan Jamal) dalam sejarahnya sebagai orang yang kalah. Sejarah Sandek adalah sejarah orang sederhana dan lugu yang selalu sengsara. Tidak dipandang apalagi diakui oleh sejarah. Sebagai buruh, ia tak lebih dari angka di antara sekian angka dalam tata pembukuan perusahaan. Cuma figuran dalam pelbagai lakon atau barangkali hanya selokan yang harus dibersihkan. Sedangkan direktur umum (Yadi Mulyadi) menjelma Malin (Malin Kundang dalam legenda Minang) yang adalah manusia yang terlalu jauh berjalan. Sampai-sampai melupakan ibunya, kampung halaman, tanah air tempat ia dibesarkan dalam kemiskinan. Manusia yang terlalu percaya pada rasionalisme, pada sains, dan teknologi yang jadi ukuran kemuliaan hidup. Terserap begitu jauh, sampai-sampai melupakan keutuhan dan integritas dirinya sebagai manusia. Ia tak mengenal lagi Sandek yang adalah dirinya yang lain.

Dari sisi korban, tokoh Sandek berada pada posisi yang sejajar dengan tokoh Srintil (Opey Sophia) dalam pentas monolog “Srintil” karya/sutradara Gusjur Mahesa yang merupakan karya adaptasi dari novel Ronggeng Dukuh Paruk Ahmad Tohari (7/6/08). Srintil adalah korban percaturan politik (kekuasaan). Juga sama dengan tokoh Otong (Giri Mustika) dalam pertunjukan “Sandekala” adaptasi novel Godi Suwarna, dengan judul yang sama, produksi Mainteater yang disutradarai Wawan Sofwan (23-24/5/08). Otong bangkrut usahanya karena semua harga kebutuhan melonjak. Mimpi, usaha, dan semangatnya besar, tetapi kondisi ekonomi mencekiknya hingga depresi dan gila. Sama pula dengan tokoh Adinda (Petricia Sabattani) dalam monolog “Senandung Adinda” karya/sutradara Rahman Sabur (27/10/08) yang dibunuh masa depannya oleh keterbatasan akses ekonomi dan oleh syahwat penguasa. Tak jauh beda dengan tokoh Woiseks (Yusef Muldiyana) dalam petunjukan “Woiseks” adaptasi karya pengarang Jerman Georg Buchner produksi teater Bel (14-5/11/08). Woiseks yang karena derajat kepangkatan yang rendah membuatnya hanya jadi pelayan dan bahkan objek eksperimen gila atasan-atasannya. Kebutuhan ekonomi dan kelas sosial (derajat kepangkatan) yang rendah membuat dia menelan kekalahan demi kekalahan hingga akhirnya menjadi pembunuh.

Tokoh-tokoh tersebut terempas oleh kondisi, sistem, kebijakan, serta kuasa otoritas. Nasibnya seakan merupakan keharusan hidup yang harus diterima. Sandek misalnya, pada akhirnya tak mau berharap lagi pada siapa pun. Karena semua orang juga tak mengenalnya. Seniman narsis semua, ilmuwan, agamawan sibuk dan asyik sendiri, politikus apalagi. Sebagai orang kalah, ia hanya diam. Tak ada arti lagi kata, suara, dan tangisnya. Diam, hanya itu. Sambil mengharap suara dan bahasa Tuhan. Pun halnya dengan Otong yang pada akhirnya tak tahu lagi entah apa yang harus ia lakukan selain daripada menertawakan nasib dan mimpi-mimpinya yang tak pernah dan tak akan pernah kesampaian.

Kehadiran pertunjukan lengkap dengan wajah para tokoh yang kalah tersebut merupakan refleksi wajah kita sebagai bangsa. Mayoritas rakyat kecil di satu pihak berhadapan ketidakpedulian bahkan kesewenangan elite penguasa dan pengambil keputusan di pihak yang lain. Lebih ironis bahwa seluruh tokoh pertunjukan “Dalam Bayangan Tuhan atawa Interogasi I” misalnya merupakan para penderita penyakit paru-paru akut, termasuk dokter dan perawatnya. Itulah gambaran penyakit kronis yang berurat akar menjangkiti semua komponen bangsa ini. Hal ini, walau secara terpisah, dibuat lebih terang lewat “bobrokalitas” tokoh camat dalam “Sandekala”. Serta muslihat dan kepalsuan tokoh Harto dalam monolog “Spinx Triple X” karya Benny Yohanes yang dimainkan oleh aktor Pery Sandi Huizche. Harto menyebut spinx sebagai raksasa angker, leluhurnya jin kafir, ibunya gendruwo. Memberi tahu Atmudin untuk hati-hati karena spinx itu licik, licin, terampil, berubah-ubah. Bisa menjelma menjadi anjing buldog berkaki katak. Menjilati anak-anak dengan birahi, membuat mereka menyerbu kantor bank, memimpin perusahaan hanya dengan modal keterampilan menjilat-jilat. Suka latah. Membaurkan teks proklamasi dengan surat talak. Spinx juga lihai menampakkan diri lewat sosok pribumi sarungan, berblankon. Sok kultural, tetapi miskin intelektual. Gaya ini banyak diadopsi para menteri yang ingin tampil alim seperti murid pesantren. Pokoknya, spinx itu suka menghalalkan cara agar ambisinya tercapai.

Demikian kacau-balaunya, Laskar Panggung yang disutradarai Yusef Muldiyana tampil “main-main”. Memerkarakan kenyataan yang sebenarnya getir tersebut lewat pelesetan-pelesetan ringan, inversi, serta akrobatik gerak dan kata. Seakan memaksa kita menertawakan kegetiran yang bertubi-tubi menyertai hidup konkret keseharian kita dalam nada pesimis-putus asa melalui pertunjukan “Republik Indungna Sial Anakna Cilaka” di Gedung Indonesia Menggugat (16/8/08).

Alam & arah pandang

Problem alam lingkungan turut mengemuka. Dua pertunjukan Payung Hitam “Airmataair” (19/5/08) dan “Perahu Noah” (16/05/08) yang disutradarai Rahman Sabur meneriakkan seruan profetis untuk menyelamatkan alam dan kehidupan sebagai ritual yang paling sejati dan mendesak. Kehancuran lingkungan alam maupun lingkungan sosial menagih kerja yang cepat dan serempak, seperti yang terlihat dalam “Perahu Noah”. Di tengah haru-biru tangis diamuk bencana bah, para aktor, cekat, dan sigap bekerja. Meraih bingkai bolong, menatanya jadi layar perahu. Lalu naik dan mendayungnya. Bertolak melayari semesta kosmos, menempuh jalan kehidupan.

Menghadapi karut-marut persoalan yang ada, secara tersirat ada semacam tawaran ataupun ajakan agar menoleh ke belakang. Melihat atau belajar pada sifat-sifat alam. Seperti yang tampak pada pertunjukan “Passage” karya Phellen Philipe Baldini yang disutradarai oleh Iman Soleh (7/6/08). Butir-butir kebijaksanaan mengalir dari alam sang Ibu Agung. Supaya manusia belajar dari tubuhnya, menyifati dirinya. Hal serupa tampak dalam prosesi ritual “Perahu Noah” di mana para aktor yang berbalur lumpur berjalan perlahan dengan tubuh basah, segar oleh kucuran air dari gentong di kepala. Mengarak perempuan berambut akar yang menari diiringi lengking tembang upacara ronggeng gunung. Mula kehidupan di mana alam menjadi bagian integral dari kesadaran kehidupan dan kebertubuhan manusia diagungkan. Perempuan (dewi bumi, ibu alam), simbol kesuburan, kehidupan, menjadi pemimpin yang diarak dan dipuja-puji.

Dalam Sandekala, peristiwa masa kini sengaja dihadirkan dan berdialog dengan setting peristiwa masa lalu. Ihwal kerajaan Galuh dan putri Dyah Pitaloka dijadikan sebagai simbol ikonik kejelitaan dan keagungan kepemimpinan Sunda tempo dulu. Diah Pitaloka (Puti Puspita), dalam pertunjukan tersebut adalah tokoh hidup dan mendapat porsi kehadiran yang besar, merupakan simbol harga diri dan perlawanan terhadap kekuasaan korup Camat Suroto (Tohari Yosdollac). Pertunjukan menghadirkan figur ideal, dara muda masa kini yaitu puteri Pak Camat (Dewi Candra) sebagai simbol perlawanan, pilar kejujuran dan harapan (regenerasi). Kedua-duanya, menemui akhir yang tragis lantaran sikap, prinsip, dan keberaniannya. Kematian mereka, di hadapan wajah garang kekuasaan, justru mengobarkan kerinduan akan sosok perempuan yang dalam kosmologi Sunda dikenal sebagai ibu kehidupan, simbol pemelihara, kelembutan, dan welas asih.

“Dalam Bayangan Tuhan atawa Interogasi I”, tokoh ibu tua (Retno Dwimarwati) bersusah payah sambil berteriak lirih memanggil-manggil Malin anaknya agar kembali ke pangkuannya. Mengenal dan memandang pertiwi. Mengingat asal, kampung halaman, dan identitas dirinya. Bagi sang Ibu, Malin telah terlalu jauh terjebak. Bahkan sampai mendedikasikan hal yang paling penting dari hidupnya yakni organ-organ tubuhnya seperti mata, jantung bagi omong kosong kehidupan. Panggilan ibu tua adalah panggilan untuk kembali. Melihat, merumuskan, dan membangun diri kita sebagai bangsa.

Pertunjukan-pertunjukan tersebut masih terlihat samar dan sendiri-sendiri. Belum merumpun menohokkan kebuasan dan kepal tinju bersama. Dan, masih banyak pertunjukan yang sayang sekali tidak mendapat ruang untuk disertakan. Apalagi jika harus sampai menyinggung kompleksitas persoalan serta tantangan yang dihadapi teater. Pun belum menyebut pertunjukan-pertunjukan dari luar yang bertandang ke Bandung selama 2008. Ini hanyalah catatan kecil yang sekenanya, sangat terbatas dan apa adanya. Sekadar mencicil gelisah melihat pergaulan dan pertumbuhan teater yang kian terisolasi dari pengalaman dan wacana publik serta tidak adanya isu bersama yang signifikan, yang terus digulirkan di tingkat internal (antarkelompok-kelompok teater). Sementara di pihak lain, arus budaya instan jadi kian populis dan prestisius, menghipnosis dan merebut minat serta apresiasi publik.

* Silvester Petara Hurit, Esais, pengamat seni pertunjukan.
Sumber: http://cabiklunik.blogspot.com/2008/12/catatan-dunia-kecil-teater.html