“Consientizaco” Membuka Dunia

Faturrofiq*
Kompas, 01 Des 2007

CONSIENTIZACO adalah istilah yang dipopulerkan oleh Paulo Freire. Maknanya antara lain: “upaya membangun kesadaran kritis di atas kesadaran magis dan naif”. Dalam hubungannya dengan pembelajaran bahasa, ia memosisikan nalar anak didik agar menyadari secara kritis apa yang terjadi pada dunia lingkungannya. Dengan demikian, consientizaco merupakan penyadaran atau pencerahan nalar anak didik agar dapat membaca dunia dan lingkungannya.

Manusia, termasuk anak didik, memiliki empat kompetensi berbahasa: berbicara, mendengar, menulis, dan membaca. Dalam pembelajaran yang mengarahkan anak didik untuk memiliki kesadaran dan kepekaan interpersonal yang baik, penguatan keempat kompetensi itu tidak dapat dilakukan sendiri-sendiri. Kemampuan bicara yang baik, mengungkapkan ide dengan terstruktur dan logis, harus didukung okeh kekuatannya dalam membaca dan mendengar orang lain.

Kemampuannya membaca secara kritis juga harus didukung oleh kemampuannya menulis. Sementara dalam kemampuan menulis, seorang anak didik diarahkan untuk membandingkan gaya penulisannya sendiri dengan gaya tulisan lain yang dibacanya. Di titik ini seorang anak didik diharapkan “melek dunia”, membaca, mengapresiasi, dan mengekspresikan dunia.

Kinerja bahasa

Bahasa merupakan sistem simbol yang memudahkan manusia berkomunikasi antarsesama. Bahasalah yang mengikat seluruh fakta (mindfact, socialfact, dan artefact) yang dialami manusia. Dengan bahasa, semua fakta yang menjadi khazanah kebudayaan manusia dapat terkontrol oleh kesadaran manusia.

Untuk itulah antropolog dari MIT, Edwar Saphir, berpendapat, bahasa dapat mengontrol kesadaran masyarakatnya pada lingkungan budaya sendiri. Untuk memperjelas hal itu, ia meneliti sebuah kasus dengan membedakan beragam salju melalui penamaan yang berbeda. Dengan itu, manusia pun dapat membedakan beragam salju. Sebenarnya saljunya yang beragam atau nama salju itu yang membuatnya tampak beragam? Inilah yang disebutnya sebagai linguistic determinism.

Bahasa ternyata mampu mengonstruksi dunia. Bahasa ditangkap oleh nalar anak didik sehingga membentuk horizon, lanskap alam lingkungannya. Maka, mengajari kompetensi berbahasa kepada anak didik tidak cukup dengan menjadikan mereka melek huruf atau fasih akan kaidah-kaidah gramatikal. Namun, yang lebih penting, mengajari mereka membaca dunia dan alam lingkungan melalui kontrol bahasa. “Bacalah kata maka bacalah dunia,” begitu kira Paulo Freire (Sudiarja, Basis: 9-10).

Sebagaimana operasi bahasa dalam pemahaman kaum strukturalis, nalar kita memahami dunia tak bisa dilakukan secara langsung. Sebagaimana kereta api disambung pada lokonya, dunia pun masuk ke dalam nalar kita lewat simbol-simbol yang tersusun secara sistemik.

Akan tetapi, Wittgenstin dalam lanjutan pemikiran ini berpandangan, bahasa tidak begitu saja mencerminkan dunia, apa adanya. Apa yang dihasilkan bahasa juga dipengaruhi praktik berbahasa masyarakat pemiliknya. Itu sebabnya, belajar bahasa yang ideal, tentunya, tak sekadar belajar membuat kalimat yang baik saja, tetapi juga sekaligus menafsir, mengkritisi praktik wacana dalam berkomunikasi, baik visual maupun literal.

Dalam situasi itulah pembelajaran bahasa yang mengantarkan anak didik dapat menemukan kesadaran dunia melalui bahasa menjadi hal yang penting. Di sinilah konteks ide consientizaco dalam pembelajaran bahasa. Khususnya dalam dua ancangan: kontekstualisasi dan penamaan.

Konteks dan nama

Setiap teks (bahasa) berada dalam konteks tertentu. Teks dan konteks selalu berdialektika dalam membentuk makna. Sebuah proses penafsiran (hermeneutika) senantiasa memperhitungkan keduanya sebagai kesatuan entitas. Upaya untuk memahami teks dalam konteksnya itulah yang dimaksud dengan kontekstualisasi.

Memahami teks sekaligus konteksnya akan membawa pada pemahaman terhadap ungkapan bahasa yang lebih komprehensif ketimbang memahami teks belaka. Banyak ungkapan yang sulit dimengerti, terutama ungkapan yang unsur dan struktur kalimatnya tidak lengkap.

Tanpa memperhatikan unsur- unsur ungkapan itu, pemahaman anak didik hanya terhenti sebatas struktur kalimat: subyek, obyek, dan predikatnya saja. Sementara dalam penamaan kita menemukan kata yang memiliki maknanya sendiri-sendiri. Dalam proses berkomunikasi interpersonal, sering sebuah nama atau kata memancarkan spektrum makna yang melebihi makna kamusnya.

Istilah “kesadaran”, misalnya, bagi para sarjana yang menekuni disiplin sejarah akan memberi arti yang berbeda dengan para sejawatnya yang menekuni bidang psikiatri. Bagi kelompok pertama, barangkali diartikan sebagai kepekaan berpikir terhadap realitas sosial- politik yang terjadi di seputar kita. Bagi kelompok kedua, bisa jadi diartikan berfungsinya saraf dan otak biologis secara normal dan sehat. Yang pertama merujuk ke sosial-sentris, sedangkan yang kedua neurologi sentris.

Kerja kemudian adalah kerja mereduksi makna kata atau nama, di mana nalar menentukan makna yang paling tepat, bukan yang paling benar.

Mengonstruksi dunia

Menurut Korzybky, kenapa para ilmuwan lebih sering memperlihatkan keberhasilan mereka berinovasi, bereksperimen, dan membuat pengertian baru tentang dunia dibandingkan dengan kelompok para politikus, militer, dan guru? Hal ini, menurut dia, karena mereka (ilmuwan) senantiasa mereduksi, tidak begitu saja menerima makna kata dan nama. Para ilmuwan tidak dengan mudah melakukan penamaan terhadap benda, alam, fenomena sosial, kecuali setelah melakukan validasi yang ketat (Postman, 2001: 289-291).

Dalam tiap proses penamaan, manusia biasanya tidak sekadar menempelkan kata pada obyek. Terlibat dalam proses itu sejumlah pengertian tentang obyek tersebut. Orang memberi nama terhadap obyek setelah dia mengetahui substansi obyek itu. Dalam sebuah proses pemahaman yang menjadikan definisi obyek berubah, maka orang pun akan cenderung memberi nama baru. Karena itu, manusia pun disebut sebagai Homo symbolicum. Dengan kata lain, manusia mengonstruksi dunia ketika dia memberi ’nama’ padanya.

Latar itulah yang mungkin terjadi saat Adam dapat menyebut dengan bahasanya kala itu, “gunung, bintang, matahari”. Tapi, di saat yang bersamaan ia juga memahami apa makna ’gunung, bintang, dan matahari’ bagi penciptaan makhluk di muka bumi ini (Q.S. 2:31).

Memberi nama tidak harus menciptakan kosakata baru yang belum dikenal masyarakat. Memberi nama juga memberi maksud pada obyek yang diberi nama.

Clifford Gertz memberi nama ’santri’ bagi segolongan masyarakat Jawa yang berafiliasi secara totalitas pada agama Islam. Juga ’abangan’ pada segolongan lain yang masih teguh mempertahankan nilai-nilai kejawaan. Gertz membuat nama untuk memberi maksud terhadap apa yang dimengertinya.

Maka, dengan consientizaco, seseorang pun berbahasa (bicara, mendengar, menulis, dan membaca) demi mendapat kesadaran akan dunia. Bukan sekadar berhenti pada kecongkakan gramatika semata.

* Faturrofiq, Guru Bahasa Indonesia, Tinggal di Surabaya, Jawa Timur
Sumber: http://cabiklunik.blogspot.com/2007/12/pelajaran-bahasa-consientizaco-membuka.html