‘Dilarang Membaca?’

A.J. Susmana
http://www.lampungpost.com/

Paket bom yang ditujukan pada beberapa orang dengan disertai embel-embel buku akhir-akhir ini semakin menyudutkan dunia perbukuan di Indonesia. Paket bom plus buku itu memberikan nilai negatif pada perbukuan di Indonesia yang selama ini pun masih dianggap negatif dan minus.

Kita sering mendengar bagaimana buku berperan penting untuk meningkatkan sumber daya manusia. Tapi kita juga sering mendengar nada-nada minor tentang dunia perbukuan kita, seperti rendahnya budaya membaca, masih mahalnya harga buku, sulitnya rakyat untuk mengakses buku dan sedikitnya kerja terjemahan buku-buku penting berbahasa asing ke Indonesia sebagaimana Jepang pernah melakukannya untuk mengejar ketertinggalan ilmu pengetahuan dengan Barat.

Semua kenyataan minor ini membuat buku masih begitu misteri bagi rakyat dan buku masih menjadi dunianya kaum terpelajar atau orang-orang yang makan sekolah. Ini menunjukkan buku dan rakyat belum menyatu dalam kehidupan sehari-hari, tapi seakan masih berada dalam dunia kolonialisme ketika hanya orang-orang tertentu yang bisa sekolah dan menyentuh buku sedangkan rakyat menganggap membawa buku atau membaca buku sebagai aktivitas mewah. Dengan paket bom yang disertai buku dan pemberitaan yang mengarah bahwa buku bisa menjadi bom, rakyat yang menjadi sasaran budaya membaca semakin dijauhkan karena buku termasuk barang berbahaya juga yang bisa meledak sebagaimana tabung gas-tabung gas yang meledak sebelumnya.

Betapa berbahayanya buku itu disimpulkan dengan ungkapan yang mengerikan yaitu bom buku. Jadi, buku bukan lagi sekadar embel-embel yang disertakan dalam pengeboman, melainkan menjadi bom itu sendiri yang menjadi alat untuk membunuh dan mengancam jiwa seseorang sampai-sampai ada larangan untuk penjualan buku yang tentu saja ini tindakan yang mengada-ada yang justru akan semakin merendahkan dunia perbukuan di Indonesia sampai ke titik nol. Apakah barangkali justru ini adalah agenda tersembunyi lainnya yang cukup penting dalam rangka menghancurkan sumber daya nasional dan daya kreatif rakyat dengan kampanye dan pesan: dilarang membaca?! Mungkin pengirim atau kita sendiri tak menyadari agenda ini tapi jelas bom buku menjadikan imajinasi tentang perbukuan yang menjadi sumber ilmu dan pengetahuan yang bisa mencerdaskan bangsa menjadi surut.

Kampanye negatif tentang perbukuan ini dengan tujuan jelas, yaitu melarang membaca buku-buku tertentu selalu menjadi target pemikiran status quo yang tak ingin rakyat menemukan sumber bacaan baru yang dapat mengkritisi kekuasaan yang sedang berlangsung dan mengancam nilai-nilai yang dianggap sudah baku kebenarannya sampai akhir jaman. Pada zaman lampau, rakyat tidak boleh sembarangan membaca kitab-kitab tertentu. Kalau membaca bisa dihukum, bahkan bila mendengar saja, telinganya bisa ditulikan dengan cairan timah panas. Dalam buku The Name of The Rose, Umberto Eco, dikisahkan bagaimana buku Aristoteles yang dapat mengubah pandangan dunia dijauhkan dari orang-orang yang ingin membaca. Lembaran-lembaran kertasnya dikasih racun mematikan sehingga orang yang membaca masih dalam cara tradisional, yaitu membuka lembaran buku dengan jari-jari yang dikasih ludah lebih dahulu otomatis akan menelan racun mematikan tersebut.

Cerita-cerita tentang buku yang berbahaya dan berusaha dijauhkan dari rakyat masih bisa kita deretkan di sini. Pada sejarah perbukuan kita sendiri, buku masih menjadi musuh kekuasaan dan pemikiran yang tak hendak atau tak boleh tersaingi. Karenanya kampanye masif tentang perbukuan, gemar membaca, dan sebagainya masih sering kontradiktif dengan hakikat buku itu sendiri yang menyimpan pengetahuan dan terserah bagaimana manusia mengambil manfaat darinya. Tak ada buku-buku yang seharusnya dilarang untuk dibaca.

Di bawah Rezim Orde Baru Soeharto yang otoriter, kampanye melarang dan memusuhi buku berlangsung dengan masif. Apa yang disampaikan Sutan Takdir Alisjahbana ini masih bisa kita rasakan di hari ini dan penting untuk disikapi: “Hampir semua buku pengetahuan dalam bahasa Inggris. Lebih untung yang tidak sekolah tapi menguasai bahasa Inggris, dia masih dapat belajar banyak. Menyinggung masalah buku-buku ini saya benar-benar kecewa. Belum lama ini bukankah ada pameran buku? Kita dengar Presiden Soeharto berpidato, Menteri Joesoef berpidato. Mereka malahan mulai mencela adanya kemungkinan buku-buku yang berbahaya. Tentu saja sekarang ini banyak buku-buku yang tidak mendidik, oleh karena buku-buku ini diterbitkan oleh penerbit-penerbit pedagang. Tapi saya mengharapkan pemimpin pemerintahan kita yang lebih positif. Saya mengharapkan dalam kesempatan pameran buku seperti itu, pimpinan kita tidak hanya mengemukakan pidato-pidato rutin. Yang kita harapkan, pemerintah menyatakan dalam Pelita III ini akan diterbitkan 5.000 judul buku terjemahan yang berisi pengetahuan dan disebarkan pada seluruh universitas. Pernyataan seperti itu yang kita tunggu-tunggu, yang sampai kini tak pernah keluar.” (Imam Walujo, Kons Kleden, Dialog: Indonesia Kini dan Esok buku pertama, LEPPENAS, 1982;22).