Etsa-Etsa Alit Rembrandt

Seno Joko Suyono
http://majalah.tempointeraktif.com/

Ukurannya mungkin hanya dua kali lebar kartu truf. Dalam bidang yang sedemikian kecil itu tersaji gambar-gambar cetakan yang memukau. Dari kisah kebangkitan Lazarus sampai cara berjalan para pengemis di Amsterdam pada abad ke-17.

Rembrandt van Rijn (1606-1669) adalah puncak keemasan seni rupa klasik Belanda. Di samping karya-karya lukisan, sering disebut ia maestro etsa. Pencapaian karya etsa-etsanya tidak kalah dengan lukisannya. Sejak zaman Rembrandt sendiri, etsa-etsanya sudah diburu oleh kolektor.

Pameran ini menyajikan 81 etsa Rembrandt yang dimiliki Rembrandt House. Museum yang memang mengoleksi etsa-etsa Rembrandt. Pada 1634, Rembrandt dan istrinya membeli rumah di Jodenbreestraat, Amsterdam. Rumah inilah yang kemudian dikenal dengan nama Rembrandt House. “Ini semua asli, bukan reproduksi, asuransinya yang tinggi,” kata Antje Vels Heijn, Wakil Direktur Erasmus Huis.

Format kecil-kecil justru memperlihatkan keempuan Rembrandt. Etsa seolah catatan harian serta catatan imaji-imaji personal dia tentang kehidupan. Di Hermitage Museum St. Petersburg, Rusia, salah satu museum terbesar di dunia, sejak April lalu secara khusus diadakan pameran etsa-etsa Rembrandt. Kebetulan Tempo sempat melihat. Yang dipamerkan sama seperti yang ditampilkan di sini: etsa-etsa alit, dalam jumlah ratusan. Agaknya minat terhadap etsa-etsa Rembrandt tak kunjung surut.

Teknik etsa yang digunakan Rembrandt tidaklah aneh bila ditakar zaman sekarang. Tapi pada masa itu ia tergolong pionir. Proses etsa dimulai dari sebuah pelat tembaga yang diolesi campuran kimia tertentu. Kemudian seseorang dengan jarum etsa menggambar di atas pelat itu. Pelat itu kemudian direndam dalam cairan asam sampai timbul galur pada gambar yang dibuat. Setelah pelat diangkat, galur itu kemudian diisi tinta hitam. Itu yang dicapkan ke kertas, hingga di kertas muncul gambar.

Pameran di Erasmus ini menampilkan contoh sebuah pelat tembaga tipis yang dulu digunakan Rembrandt. Kehebatan Rembrandt, syahdan, ia langsung menggambar di atas pelat tanpa lebih dahulu membuat sketsa di atas kertas. Selanjutnya ia melakukan banyak eksperimen agar gambar capnya nanti bisa mencapai efek-efek seperti bila orang menggambar dengan krayon atau pensil. Rembrandt sangat memperhatikan gradasi yang bisa menimbulkan efek hitam, samar-samar, kontras.

Untuk itu ia, misalnya, memilih mencelupkan pelatnya di asam hydrochloric. Seperti diterangkan di katalog, Rembrandt sering menambah goresan-goresan lagi di permukaan pelat, setelah pelat itu diangkat dari celupan. Ini disebut teknik drypoint. Rembrandt juga mencoba berbagai jenis kertas untuk membandingkan mutu cetakan, dan ia sering akhirnya memi-lih kertas yang berasal dari Jepang.

Etsa-etsa menduduki tempat penting dalam karya Rembrandt. Banyak etsa-nya yang kemudian menjadi dasar-atau diulanginya lagi-dalam lukisan besar di atas kanvas. Boleh dibilang etsa-etsanya adalah latihan penggambaran, penjajakan awal, bagi lukisan-lukisannya.

Melalui etsa-etsanya ia, misalnya, melakukan studi dasar membaca karakter manusia. Dalam pameran ini kita dapat melihat berbagai potret dirinya dan potret istrinya, Saskia, ibunya, tetangga. Ia mengamati emosi, perasaan-perasaan dirinya dan kenalan-kenalannya. Rembrandt sangat suka mengamati reaksi seseorang atas suatu kejadian dramatis.

Lihatlah deretan aneka ekspresi mukanya sendiri atau orang-orang non-Eropa yang mengenakan sorban. Paling senang ia mengamati paras orang tua yang penuh kerut-merut. Ia juga mengamati gerak-gerik aneka orang-orang di jalanan hingga ia membuat serial cara berjalan para pengemis, seperti satu yang ditangkapnya seorang pengemis dengan kaki kayu: Beggar with Wooden Leg.

Dan ada satu lagi: studi gelap-terang. Melalui etsa-etsanya ia mempelajari jatuhnya cahaya pada ekspresi muka dalam ruang atau di luar ruang. Ada tiga etsanya dalam pameran ini yang menampilkan komposisi gelap-terang luar biasa. St. Jerome in Dark Chamber (1642). The Flight into Egypt (1651), The Adoration of the Shepherds: A Night Piece (1652). Lihat pula The Adoration, seorang gembala bertopi membawa lampu minyak, menjenguk seorang wanita dan bayi yang tidur di jerami. Cahaya hanya menyebar pada muka-muka orang yang hadir di situ, sementara seluruh ruangan lain gelap, samar-samar.

Sejarah dalam penglihatan Rembrandt, menurut kritikus Joseph Emile Muller, adalah sejarah religiositas. Semua peristiwa sehari-hari berkaitan dengan dunia spiritual. Ia banyak mengangkat tema-tema Bibel. Namun, cara Rembrandt mengungkapkannya bukan seperti gambaran konvensional gereja. Ia mendekatinya dengan pengalaman sehari-hari, pengalaman intimnya.

Kita dapat menikmati etsa-etsa Bibelnya di Erasmus mulai Christ and The Woman of Samaria (1658) yang, konon, merupakan subyek favoritnya, sampai Return of Prodigal Son yang lukisan besarnya ada di Museum Hermitage di St. Petersburg.

Perhatikan Christ Presented to People (1655). Etsa ini menampilkan Pontius Pilatus di sebuah panggung menghadirkan Kristus kepada massa-Pilatus yang sama sekali tidak berkostum Romawi seperti citra umumnya. Yang menarik, hiruk-pikuk massa di bawah digambarkan sangat hidup. Meskipun rata-rata kita hanya melihat punggung mereka, kita seolah dapat mendengar apa yang riuh mereka percakapkan: memilih Barnabas atau -Yesus.

Kita tak tahu etsa-etsa yang dipamerkan ini merupakan cetakan keberapa. Karya-karya Rembrandt selalu lebih dari satu cetakan. Konon, ia bisa menyempurnakan, membuat koreksi-koreksi pada sebuah gambar yang sama. Jadi, cetakan satu bisa berbeda dengan cetakan sebelumnya. Bahkan bisa menjadi komposisi baru.

Konon, Rembrandt sendiri di masa hidupnya juga sering menghadiri lelang untuk membeli sendiri karya etsa-etsanya yang dianggapnya kurang afdol. Ada kalanya ia membubuhkan tanda tangan pada etsanya, ada kalanya tidak-mungkin ini buat yang hasilnya dianggap tidak memuaskan. Etsa-etsa Rembrandt, kita tahu, juga dicetak terus setelah Rembrandt meninggal. Tapi yang dimi-liki Rembrandt House tentu yang paling representatif. Dan kita membayangkan kapan, misalnya, giliran lukisan-lukisan kanvasnya seperti The Anatomy Lesson of Dr Nicholas Tulp , Night Watch, The Jewish Bride, yang terkenal dan ada di museum-museum Belanda itu, bisa dipamerkan di sini. “Kalau itu tentu tak mungkin, susah ya,” kata Antje Vels Heijn, tersenyum.

Etsa-etsa ini alit tapi cukup menampilkan bayangan seorang “raksasa” yang dengan tekun, dengan gairah eksperimen tinggi, dan kepekaan hati akan hal-hal yang manusiawi, berusaha menangkap kehidupan secara jujur.

07 Agustus 2006