Hamartia, Konsep Tragedi, dan “Drupadi”

Veven Sp Wardhana*
Kompas, 21 Des 2008

TANPA pemahaman dan pendalaman atas terminologi dan jabaran hamartia, kisah Hamlet karya William Shakespeare (1599-1601) hanya bakal berhenti sebagai kisah klenik atau misteri model arwah penasaran. Sejajar dengan trilogi Oedipus (Sophocles, 496-406 sebelum Almasih) akan jadi sekadar kisah suspens jika minus penyertaan hamartia. Begitu halnya dengan berderet repertoar tragedi—yang rata-rata ditulis Shakespeare—macam Macbeth, Othello, King Lear, juga Julius Caesar.

Hamartia (bahasa Yunani: hamartanein) yang di-inggris-kan menjadi tragic flaw, atau tragic error, atau ”kecacatan sebuah karakter” itulah yang kemudian menyeret nasib seseorang, atau beberapa sosok, ke dalam lorong tragika kehidupan yang pelakunya adalah dia atau mereka sendiri. Berderet derita menyergap Pangeran Hamlet: Gertrude, ibundanya, kembali naik pelaminan bersama Claudius, yang sekaligus naik takhta menggantikan mendiang raja yang tewas diracun. Claudius adalah paman Hamlet, sementara Hamlet mencurigai Claudius-lah yang membunuh ayahnya. Selain itu, Ophelia, kinasih terkasih, menjadi gila yang lantas karam di dasar sungai setelah mengetahui ayahnya, Polonius, tewas ditikam pedang Hamlet.

Ada yang menganalisis, hamartia atau musabab tragedi Hamlet adalah sikapnya yang senantiasa penuh keraguan yang akhirnya membawa petaka atas dirinya sendiri. Misalnya, dia tak yakin yang meracun ayahnya adalah pamannya sendiri, Claudius; itu sebabnya Hamlet masih butuh pasemon, sindiran, yakni mengundang kelompok sandiwara yang mementaskan tentang tewasnya seorang raja. Lalu, saat dia yakin bahwa memang benar Claudius adalah otak pembunuhan mendiang raja, Hamlet urung menebaskan pedangnya ke leher Claudius yang sedang khusyuk berdoa. ”Kalau dia tewas dalam doa, surgalah tempatnya; padahal tak pantas Claudius menghuni surga,” begitu kira-kira kilah Hamlet.

Akibatnya, saat dia mendesak ibunya mengakui tentang pembunuhan sang raja, mata Hamlet yang menangkap ada kelebatan seseorang di balik tirai segera menghunus pedangnya dan menikamkan pada sosok yang berkelebat itu: calon mertua, Polonius, penasihat Claudius.

Padahal, tak hanya Hamlet, Horatio—karib Hamlet—juga beberapa kali melihat ”penampakan” arwah mendiang, dan arwah itulah yang mewartakan tingkah keji Claudius yang membunuhnya.

Dari kacamata kiwari, apalagi diperkuat pola sinema televisi dan umumnya sinema Indonesia yang bermisteri-misteri, informasi dari arwah ayah Hamlet masih perlu diverifikasi. Namun, dalam abad proses kreatif Shakespeare hidup, arwah merupakan fenomena kultural yang merupakan gambaran ”garis nasib” yang mestinya tak terlencengkan.

Gambaran ”arwah penasaran” identik dengan sosok peramal dalam logi pertama Oedipus, yakni Oedipus Rex—sebelum Oedipus at Colonus dan Antigone—selain bersejajar dengan tiga tukang sihir dalam Macbeth (Shakespeare), yang pasti berbeda dengan Macbett (1972—Eugène Ionesco, 1909-1994), yang merupakan satire terhadap Macbeth. Jabarannya, semakin meragukan ramalan atau nujuman atau bisikan arwah, sesungguhnya sosok tersebut semakin mendekatkan diri pada inti tragedi atas dirinya sendiri.

Contoh konkret nasib Oedipus: Raja Laius menyingkirkan bayinya yang diramalkan bakal membunuh ayah dan menikahi ibu kandungnya. Prajurit yang diminta menikam bayi Oedipus ternyata hanya membasahi pedang mereka dengan darah domba. Penggembala yang menemukan si bayi lantas mengasuh si bayi hingga akil balig. Saat semakin dewasa, mendengar ceracauan seseorang bahwa di masa depan dirinya akan membunuh ayah dan mengawini ibu kandungnya, Oedipus minggat dari wilayah itu dengan maksud dia hendak mematahkan racauan seseorang itu karena sepemahaman dia orangtua yang mengasuhnya itulah orangtua kandungnya.

Dalam perjalanan, di sebuah persimpangan jalan di kawasan Corintha, dia dikejutkan oleh kereta kuda yang melaju nyaris menerabasnya; dan dalam berangnya dia mengepruk penumpang kereta, yang tak lain adalah Raja Laius. Oedipus kemudian mengawini sang janda, Ratu Jocasta, sebagai konsekuensi keberhasilannya memecahkan teka-teki sphinx.

Hamartia Oedipus bisa jadi karena dia pemberang, hamartia Hamlet mungkin lantaran dia peragu sejati, tragic flaw Macbeth—juga Lady Macbeth—adalah pasangan klop sesak ambisi, King Lear butuh puja-puji basa-basi dari tiga putrinya sebelum membagikan ”tanah perdikan”, fatal error Othello barangkali terlalu garang dalam perang, tetapi senantiasa gelisah pada kemungkinan pengkhianatan istrinya justru di atas ranjangnya sendiri. Lantas, hamartia macam apakah yang ada dalam film Drupadi (sutradara: Riri Riza, 2008)? Salah satunya: Yudhistira, sulung Pandawa, yang tak cakap berjudi, tetapi ”gengsi” untuk tak menghadapi tantangan Kurawa—sehingga dia kemudian habis-habisan mempertaruhkan para adiknya, kerajaannya, bahkan dirinya sendiri—kemudian Drupadi—sebagai modal taruhan.

Jika demikian halnya, itu lebih sebagai duka derita Pandawa ketimbang tragedi Drupadi. Hamartia apa yang ada dalam diri Drupadi sendiri sehingga kemudian dia mengalami nasib menjadi istri lima lelaki—yang lebih mencintai Arjuna, tetapi cinta Bima lebih berlimpah ketimbang lelaki Pandawa lainnya—yang kemudian dia dijarah-rayah oleh para Kurawa bak seekor kuda yang digelandang ke segenap arah? Dalam adegan sayembara memanah untuk mendapatkan dirinya, Drupadi lebih memilih Arjuna sehingga seseorang mengalihkan perhatian Adipati Karna, anak seorang sais kereta, yang sesungguhnya sama saktinya dalam ilmu memanah sebagaimana Arjuna.

Karena ”aktif” memilih pasangan itukah tragic flaw Drupadi? Bahwa kemudian dia tak sebatas menjadi istri seorang Arjuna, melainkan ”dibagi rata” dengan para lelaki Pandawa, tak terjelaskan benar dalam film, kecuali lewat antawecana atau chorus yang berfungsi sebagai narasi atau penyangat adegan. Dalam era laku poligini yang bahkan cenderung dipamer-banggakan, laku poliandri Drupadi semestinya tak cukup hanya dijelaskan bahwa memang begitulah kisah wayang dalam versi India.

Saya rasa, ada tafsir yang belum ”terselesai”kan berkait satu-istri-lima-suami itu dalam film ini mengingat Drupadi versi Jawa adalah monogam, sementara Arjuna diagul-agulkan sebagai lelananging jagad (Man or King of Universe), yang bahkan mengawini Srikandi yang galibnya transjender (namun tetap dipertahankan sebagai perempuan dalam versi Jawa).

Saat Drupadi dimaklumatkan sebagai istri lima Pandawa—dalam film tak ada ucapan kunci Dewi Kunthi, ibu para Pandawa—bisa saja bukan sebagai tragedi dalam film berdurasi 45 menit ini. Bisa saja itu merupakan ”suratan takdir” atau semacam garis nasib yang dinujumkan dan diwartakan ”peramal” atau ”tukang sihir” atau ”arwah mendiang” atau sesuatu yang berada di luar diri manusia sehingga seseorang tak mungkin mengubah atau membelokkannya.

Barangkali lantaran ”tafsir yang belum terselesaikan” itulah jadi terasa ada yang kosong sebelum Drupadi kemudian menggugat para suami yang membiarkan Drupadi dilaku-lajaki dengan beringas oleh para Kurawa. Gugatan pada para lelaki—yang sangat kontekstual di masa kini—itu menjadi pembuka dan pengatup film yang terus terang sangat memancing mental exercise atau pendalaman kajian, yang selama ini susah termunculkan dalam berderet sinema Indonesia-raya.

*) Bekerja sebagai Senior Advisor di German Technical Cooperation (GTZ), Good Governance in Population Administration
Sumber: http://cabiklunik.blogspot.com/2008/12/wacana-hamartia-konsep-tragedi-dan.html