Imajinasi yang Terus Bertanya

Asvi Warman Adam*
Kompas, 22 Des 2007

Dalam pengantar buku Mochtar Lubis, Maut dan Cinta, disebutkan “sastra memang bukan tulisan sejarah dan juga tidak dapat dijadikan sumber penulisan sejarah”.

Benar bahwa sastra bukan tulisan sejarah. Namun, kurang tepat bila dikatakan sastra tidak dapat dijadikan sumber sejarah.

NOVEL Maut dan Cinta karya Mochtar Lubis itu sendiri bisa jadi rujukan untuk memahami gejolak revolusi pascakemerdekaan. Karya sastra itu secara hidup menggambarkan aksi beberapa kelompok pejuang menembus blokade Belanda dalam rangka menukar komoditas di Sumatera dengan senjata dari Semenanjung Melayu dan Thailand untuk digunakan pasukan republiken.

Figur seorang tokoh dalam novel tersebut mengingatkan kepada Mayor John Lie yang secara historis cukup dikenal reputasinya. Melalui sastra kita juga dapat mengetahui sejarah negara lain.

Bur Rasuanto yang sempat beberapa bulan, tahun 1967, melakukan tugas jurnalistik di Saigon menulis novel Tuyet yang berkisah tentang kondisi di Vietnam Selatan waktu itu. Taufiq Ismail dalam pengantarnya (ditulis pada cetakan kedua, 2001) berujar, “Membaca novel Tuyet dengan latar belakang perang dahsyat yang menumbuhkan kelas elite rezim militer yang kemaruk, mewah, dan berselera rendah seperti membaca Indonesia pada dekade berikutnya.”

Kisah-kisah insani yang menusuk dan menggugah perasaan seperti tuduhan terlibat Viet Cong yang membelit Tuyet, gadis tokoh novel ini, sehingga dia harus mempertaruhkan kehormatannya kepada perwira skrining, seolah-olah dilanjutkan sebagai repetisi sangat mirip di Tanah Air kita di seputar peristiwa G30S/PKI.

Sekarang sebagian orang tidak lagi menganggap sastra sebagai wilayah estetika yang otonom. “Manusia, karya dan ’genre’ sastra tidak bergerak dalam ’ex nihilo’, tetapi ia dipersiapkan dan dikondisikan oleh suatu konteks historiko-sosiologis,” kata George Lukacs dalam Le roman historique (Payot, 1965).

Bahkan, tentang roman historis sendiri Lukacs berpendapat bahwa ’genre’ itu menjadikan sejarah sebagai obyeknya, tetapi ia sendiri juga takluk kepada sejarah dan berenang di dalamnya.

Sama-sama imajinatif

Pendekatan new historicism (NH) yang dicanangkan oleh Stephen Greenblaat tahun 1982, sebagaimana dijelaskan oleh Melani Budianta (dalam majalah Susastra 3 tahun 2006), dapat menjadi pilihan dalam menganalisis karya sastra, sastra sejarah, dan sejarah secara utuh. Louis A Montrose menggunakan istilah “kesejarahan sastra dan kesastraan sejarah atau dengan kata lain membaca sastra = membaca sejarah dan membaca sejarah = membaca sastra (aspek sejarah sebagai konstruksi sosial)”.

Lebih jauh dijelaskan “sejarah” atau dunia yang diacu oleh karya sastra bukan sekadar latar belakang (yang koheren dan menyatu). Sejarah sendiri terdiri atas berbagai teks yang masing-masing menyusun versi tentang kenyataan. Keterkaitan antara karya sastra dan “sejarah” adalah kaitan intertekstual di antara berbagai teks (fiksi maupun faktual) yang diproduksi pada zaman yang sama atau berbeda.

Pendekatan NH ini dapat menolak pandangan sejarawan dan sastrawan Kuntowijoyo. Menurut Kuntowijoyo (Pengantar Ilmu Sejarah, 1995), sejarah itu berbeda dengan sastra dalam hal: 1) cara kerja, 2) kebenaran, 3) hasil keseluruhan, dan 4) kesimpulannya.

Sastra adalah pekerjaan imajinasi, kebenaran di tangan pengarang dengan kata lain kebenaran bersifat subyektif. Pengarang memiliki kebebasan penuh, ia hanya dituntut agar taat asas dengan dunia yang dibangunnya sendiri.

Sastra bisa berakhir dengan pertanyaan, sedangkan sejarah harus memberikan informasi selengkap-lengkapnya.

Pembedaan yang dilakukan Kuntowijoyo di atas masih bisa diperdebatkan. Bukankah pengerjaan sejarah juga membutuhkan imajinasi, kebenaran itu pada suatu sisi juga bersifat relatif, dan sejarah dapat juga memunculkan pertanyaan, tidak harus berupa jawaban.

Akan tetapi, dengan pendekatan dekonstruktif yang dilakukan oleh kelompok posmodernis, sastra itu semakin dekat dengan sejarah. Keduanya berkaitan dengan narasi. Sejarah seperti halnya sastra disampaikan oleh sejarawan melalui narasi. Narasi sejarah itu sendiri memakai plot, misalnya awal, pertengahan, dan akhir, yang merupakan plot sastra juga. Lantas, apa beda keduanya?

Kalau dikatakan soal keakuratan, sejarah juga bisa tidak akurat. Yang jelas, keduanya membutuhkan imajinasi dari penulisnya.

Hero dan antihero

Tentu pendekatan dekonstruktif ini memiliki kelemahan pula. Para sejarawan dituntut untuk mengakui bahwa bahasa tidak sekadar alat untuk menyatakan pikiran atau menyimpan ingatan, tetapi juga memiliki kemungkinan menciptakan realitas. Tetapi, persoalannya kalau semuanya harus didekonstruksi, bukankah karya posmodernis itu juga harus didekontruksi pula.

Taufik Abdullah yang menolak dekonstruksi ini berpendapat, “tanpa keyakinan bahwa kebenaran empiris dan historis adalah sesuatu yang bisa didapatkan, kita hanya akan menggerayang dalam kegelapan”.

Dengan pendekatan new historicism ini, saya menyambut baik terbitnya buku-buku novel sejarah belakangan ini, seperti Gajah Mada sebanyak lima jilid oleh Langit Kresna Hariadi, novel Pangeran Diponegoro oleh Remy Silado yang direncanakan empat jilid baru keluar jilid satu berjudul “Menggagas Ratu Adil”. Ada lagi novel September oleh Noorca M Massardi dan Rahasia Meede, serta Harta Karun VOC oleh S Ito.

Novel Gajah Mada jilid keempat tentang “Perang Bubat”. Rekonsiliasi antara etnis Sunda dan Jawa diupayakan dengan menambahkan unsur baru dalam Perang Bubat.

Novel Gajah Mada yang bertanggung jawab terhadap kematian Dyah Pitaloka, tetapi intrik yang ada di sekeliling sang mahapatih. Dalam novel Remy Silado, Diponegoro yang nama kecilnya Ontowiryo (dan dipanggil Wir) ditampilkan sebagai calon Ratu Adil.

Novel September yang ditulis Noorca M Massardi secara cerdas mengajak pembaca menebak siapa Mayor Jenderal Theo Rosa yang menjadi dalang kudeta 1965.

Rahasia Meede mendorong khalayak untuk memikirkan Konferensi Meja Bundar (KMB) yang sangat merugikan kita dan kurang dibahas sejarawan Indonesia. Dengan imajinasinya, sang pengarang menawarkan alternatif jawaban, pemimpin kita mau menandatangani perjanjian karena percaya ada harta karun VOC di dasar laut.

Novel sejarah bukan saja tentang hero, tetapi bisa juga antihero. Novel Ripta, Perjuangan Tentara Pecundang oleh Anita Kastubi (2003) sangat bagus menyindir orang yang dianggap pahlawan. Namun, ternyata pada hari tuanya ia sangat menderita karena menyembunyikan rahasia bahwa ia sebetulnya tidak berjasa, bahkan menyebabkan beberapa orang gerilyawan ditembak Belanda.

Sastra sejarah itu juga berpotensi untuk mengobati trauma masa lampau, seperti ditulis Melani Budianta pada sampul belakang novel Djamangilak karya Martin Aleida (2004), “dengan membaca buku ini terasa beratnya beban sejarah, luka-luka masa lalu yang tidak bisa dibicarakan secara terbuka, kecuali melalui sebuah cerita”.

* Dr Asvi Warman Adam, Sejarawan LIPI, Menetap di Jakarta
Sumber: http://cabiklunik.blogspot.com/2007/12/imajinasi-yang-terus-bertanya.html