‘Kami, Kita, dan Saya’ Prof. Fuad Hasan

Sudjarwo*
Lampung Post, 10 Des 2007

SORE itu saya terhenyak mendengar berita meninggalnya Prof. Fuad Hasan, mantan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia pada era 80-an. Saya tidak mengenal secara pribadi terhadap beliau, hanya beberapa kali berjumpa karena suatu urusan dinas. Itu pun dengan intensitas waktu yang singkat.

Namun, ada sesuatu yang menarik di sana; sekalipun intensitas waktu yang singkat, beliau begitu memanfaatkannya dengan efisien dan efektif. Begitu jumpa beliau, ada sesuatu yang luar biasa, yaitu daya ingat beliau dengan persis dapat menyebut nama, bahkan kita pernah jumpa pada peristiwa apa, membicarakan apa, dan di mana dengan tepat.

Karena daya ingat yang demikian, interaksi yang dibangun pun menjadi begitu dekat, sehingga kita tidak merasa sedang berhadapan dengan seorang menteri. Sesuai dengan aturan protokoler diakui bahwa untuk menjumpai menteri bukan hal yang mudah, akan tetapi setelah kita berada di ruang beliau dan terlepas dari pengawasan protokoler, suasana begitu hangat, tapi tidak lepas dari koridor keilmuan, kesahabatan, dan kebapakan.

Pembicaraan beliau menunjukkan banyak bidang yang dikuasainya, dari filsafat, seni, khususnya biola, humaniora, dan khususnya pendidikan dan psikologi yang memang beliau jagonya. Untuk masalah seni beliau sangat hafal dengan aliran-aliran seni yang besar di dunia ini, bahkan detail dari mazhab seni pun beliau kuasai.

Namun, semua itu dia sampaikan secara terukur, hal ini terlihat saat berbicara kata-kata yang dipilih beliau sesuaikan dengan latar belakang orang yang diajak bicara di depannya. Oleh sebab itu, Pak Fuad memang orang yang paling enak diajak ngobrol.

Setelah beliau tidak menjadi menteri lagi, beberapa kali berjumpa pada acara seminar dan beliau menjadi pembicara kunci. Lagi-lagi joke-joke segar sering terlontar, walaupun tidak jarang banyak di antara yang mendengar baru tertawa setelah beberapa lama kemudian karena baru ngeh.

Pada satu kesempatan seminar beliau membahas budaya manusia Indonesia. Saat itu beliau membahas dari aspek psikologi. Dengan perinci dan sangat ilmiah beliau menjelaskan, tetapi tidak ada seorang peserta pun yang mengantuk karena pilihan-pilihan kata beliau membuat orang penasaran, ada apa lagi setelah ini, itu yang ada di benak peserta.

Selingan humor-humor segar terlontar dari beliau dan sangat elegan, tidak sedikit pun berbau porno, tidak sedikit pun menyinggung orang lain atau mengungkit masa lalu saat menjabat seperti kebanyakan pejabat yang post-power syndrome.

Hanya ada yang tidak bisa tinggal dari kebiasaan beliau, yaitu rokoknya. Saat berjumpa dengan saya (pada waktu itu masih merokok), beliau tidak segan menerima tawaran batangan rokok yang saya tawarkan. Beliau tidak merasa rendah menerima tawaran rokok dari seorang awam seperti saya.

Bahkan, pada waktu saya pamit dari mengantarkan undangan untuk satu seminar, beliau nyeletuk setengah berbisik, “Jangan lupa sediakan Gudang Garam Merah! (salah satu merek rokok),” sambil tertawa khas Fuad Hasan. Ini janganlah ditanggapi serius. Jika kita menyediakan, beliau tidak akan mengambilnya karena di saku jasnya rokok kesukaan tidak akan pernah tinggal.

Ada kebiasaan lain yang orang sering abai tatkala memperhatikan beliau, yaitu kebiasaan beliau menulis puisi. Beliau di samping amat suka membaca puisi; bahkan beliau juga penulis puisi. “Pantera” sebagai judul puisi yang beliau sangat jiwai. Puisi puisi dari Kahlil Gibran banyak yang beliau hafal dan dibacanya dengan penuh penghayatan. Cengkok bicara dan pilihan kata sekali lagi merupakan kekuatan tersendiri bagi seorang Fuad Hasan.

Saat menjadi menteri dan saat tidak menjadi apa-apa kecuali dosen biasa, beliau tidak mengubah diri. Semua dijalani mengalir bak air mengalir yang mengisi relung-relung kekosongan.

Terakhir berjumpa beliau beberapa tahun lalu pada acara yang sangat ilmiah dan beliau sekali lagi menjadi pembicara. Semua pemakalah menampilkan gagasannya sangat akademis, bahkan cenderung tidak membumi. Suasana itu dicairkan dengan tampilan seorang Fuad Hasan.

Tampilan yang necis (sebagai ciri khas beliau) sekaligus akademis, tetapi tetap membumi, menjadikan suasana menjadi begitu cair, begitu mengindonesia, bahkan begitu bersahabat.

Satu gagasan beliau yang masih tercatat bahwa konflik itu terjadi karena kita tidak dapat meletakkan diri kita pada perspektif orang lain, kebanyakan dari kita, termasuk pengambil keputusan, selalu menempatkan orang lain pada perspektif kita. Perspektif kami, kita, dan saya; menjadi begitu menarik diurai Fuad dalam berbagai hal.

Uraian-uraian berkaitan dengan budaya beliau tampilkan begitu sederhana tetapi sangat mengena. Tidak banyak guru besar yang mampu memberi pencerahan seperti beliau. Budaya sebagai sesuatu yang universal, di tangan beliau tampil menjadi sangat apik. Budaya diisinya dengan roh humanisme, sehingga mampu menggugah rasa kemanusiaan penikmatnya.

Melalui budaya, kita diajak Pak Fuad menikmati hidup. “Hidup yang sebentar ini tidaklah berarti apa-apa jika kita tidak meninggalkan sesuatu pada kehidupan ini,” itu sepenggal ucapan beliau pada saat menutup suatu seminar.

Akhirnya, selamat jalan Pak Fuad, semoga mendapatkan kedamaian di sana, dan selamat jalan penggagas besar; “kami, kita, dan saya”.

* Sudjarwo, Guru Besar pada FKIP Unila
Sumber: http://cabiklunik.blogspot.com/2007/12/opini-kami-kita-dan-saya-prof-fuad.html