Kursi Bos

Denny Mizhar

Jangan melawan kekuasaan, nanti akan tumbang. Berbaik-baiklah padanya. Kau akan selamat dalam bekerja. Terpenting bagi hidup adalah isi perut. Bukan idealisme. Sebab idealisme di tempat ini selalu masuk tong sampah. Menjadi tidak berguna. Karena rasa lapar masih ada. Jika kau masih takut lapar, ketika kesewenang-wenangan penguasa berbicara, cukup anggukkan kepala. Itu tandanya seiyasekata. Kau akan sejahtera. Penguasa di sini tidak akan mendengar apa yang menjadi harapan kita. Karena penguasa masih ingin perkasa. Seperti raksasa. Besar tubuhnya juga kuat ototnya. Tidak seperti kita. Badan kecil tak punya apa-apa. Hanya kata “iya”, tak ada yang lainnya. Sebagaimana diajarkan dalam buku politik tanpa etika. Keuntungan sebagai penguasa harus selalu ada, tentunya keuntungan materi. Bukan kita yang harus diuntungkan. Penguasa punya tangan yang dapat memilah. Siapa terpilah dan terpilih pasti kantongnya menebal dan selalu dipertimbangkan. Bahkan mereka tak mau bagi-bagi dengan kita yang beda jalan kerja. Karena kuntungannya untuk membeli wanita tanpa nikah. Juga membeli kolom media agar kebusukannya tak sampai pada kita. Kebanyakan orang di sana.

Kau belum tahu aturan main di sini? Oh, iya. Kau lama sekolah. Hingga tak tahu aturan yang ada. Baiknya kau ikuti saja. Jika tidak, nasibmu akan sia-sia. Kalau sudah sia-sia bagaimana nasib anak dan istrimu. Kau kan sudah punya berkeluarga. Maka, harus ta’at dan patuh pada penguasa. Kau harus membaca langkah-langkah penguasa agar dapat tanda jasa. Kau tak akan dipikirkan oleh penguasa tentang ilmu yang kau punya. Sebab penguasa takut dengan ilmu. Karena ilmu bisa menumbangkan mereka. Makanya di sini tak ada ilmu. Tetapi adanya harta. Mari ikut denganku dan tanggalkan ilmumu. Kita akan mencari harta-harta yang bersliweran di antara kita. Seakan-akan kita telah melaksanakan kerja padahal kita hanya angguk-anggukan kepala.

“Tidak bagiku, kau salah menilai aku. Aku bukan seperti yang kau bayangkan dengan orang kebanyakan yang ada di sini.”

Ha..ha..ha.. Mungkin saja itu pengaruh dari sekolahmu ke luar negeri tentang etika. Dan kau mendapat ilmu untuk mencari nafkah. Tak harus anggukkan kepala, kau bisa makan. Sedang kita di sini. Gaji masih rendah tak mungkin melawan. Sebab kita tak berdaya.

“Karena itu, maka kita harus melakukan perlawanan”

Ya, sudah. Aku tak akan ikut-ikut. Sejak kepergianmu, segalanya berubah. Juga nasibku. Ruang akpresiku ditiadakan. Karena ruang ekpresiku bagi kekuasaan mengganggu kestabilan tempat kerja. Maka kini aku hanya melayani penjual saja. Tidak seperti dulu harus duduk manis dan mencatat transaksi-transaksi penjualan. Perusahaan ini semakin besar. Semakin banyak pelanggan. Tapi kekuasaanya di sini tak biasa di ganggu gugat. Sebelum kau pergi sekolah ke luar negeri. Di tempat ini masih aman saja. Sebab kekuasaan baru di dapatkan oleh Bos kita. Penunjukan Bos kita yang baru, itupun rekomendasi dari Bos kita yang lama. Sebab Bos lama tak ingin kehilangan kekuasaannya. Hanya saja Bos baru ditunjuk. Bos lama menempati kekuasaan yang di buatnya lebih tingggi di atas Bos baru. Alih-alih menyerahkan kekuasaanya tetapi tetap saja mengendalikannya. Bos lama, dalam ramalanku ingin terus melanggengkan kekuasaannya lewat orang-orang yang dipercaya. Mungkin juga anaknya juga akan dipersiapkan mengganti kekuasaa Bos baru kita.

“Ah, tempat kerja macam apa ini? dalam undang-undang yang saya baca mengenai aturan tempat kerja kita ini mengunakan sistem demokrasi. Tapi kemana letak kedemokrasiannya. Di sini banyak orang-orang yang mampu mengelola. Dari membuat strategi usaha hingga membuat kualitas produk yang dihasilkan di sini, bisa berkualitas. Aku tak harus diam. Aku sejak awal masuk kerja di sini sudah berjanji untuk mendedikasikan diri dan mengabdi. Tentu saja dengan terus belajar dan mengembangkan diri”.

Sudalah, tak ada gunanya grundelan-mu di sini. Ayo ikut aku. Membuat penelitian yang bisa memunculkan produk baru dan disukai Bos kita. Teman-teman kita sudah banyak yang mengantri mendaftarkan temuannya pada Bos. Agar mendapat angukan kepala, tentu saja aman tentram dan sejahterah bekerja di sini.

“Tidak.. Aku harus melawan. Buat apa bekerja di tempat yang busuk ini. Aku takut, jika suatu hari nanti perusahaan ini tidak menjadi milik kita bersama. Tapi milik keluarga Bos. Dan bisa jadi semaunya sendiri mengelola tanpa memikirkan kualitas serta apa yang terjadi di hari depan”

Sambil berjalan cepat Taufan meninggalkanku. Aku terus mengamati. Setiap ketemu rekan kerja, dia berhenti. Dengan berdiri dia berbicara serius. Mengabarkan perlawanan pada Bos. Sudah beberapa rekan kerja. Ketika berpapasan denganku dan mengabarkan apa yang diharapkan Taufan. Tapi semua tak setuju. Hanya beberapa yang setuju. Teman-teman akrabnya. Juga teman-teman kerja yang merasa dirinya senasib denganku, tapi tetap mempertahankan idealismenya. Rupanya diam-diam aku pun meneguhkan idealismeku. Dalam hatiku aku sepakat dengan Taufan. Tapi masalah keluarga menjadi pertimbanganku yang utama. Apalagi anakku sekarang dua. Mereka harus sekolah. Aku di antara kebimbangan yang tak dapat diurai sampai unjungnya. Aku masih harus tunduk di kaki kursi kekuasaan di sini.

***

Taufan semakin hari semakin berani. Padahal tepat di hari sabtu. Taufan dipanggil karena tulisannya yang di muat di salah satu media mengganngu kestabilan usaha. Dengar –dengar Taufan tetap berani melawan. Entah kenapa dengan Taufan. Bos tidak berani mengeluarkan dengan kesalahan yang di buat: menulis yang membuat kestabilan usaha goyah. Siapa dia Taufan.

Selidik punya selidik. Gerbong perlawanan Taufan sudah memanjang. Bahkan ada seoarang teman akrab Bos berada di balik Taufan. Seorang pengusaha yang banyak mengabdikan dirinya pada usaha-usaha kecil hingga usaha-usaha kecil mampu bertahan dalam persaingan. Tak kalah Bos diam-diam juga menyiapkan akal bulusnya. Untuk berkuasa kembali. Masih tak ada perlawanan yang nampak. Gerbong perlawanan Taufan yang tidak bergerak lagi. Bos mengumpulkan semua yang bekerja di sini. Termasuk aku. Orang-orang yang dekat dengan Taufan tak satupun diundang. Tapi ada beberapa yang dalam pengamatan saya dekat dengan Taufan juga menyembah kursi kekuasaan Bos. Aku diam-diam masuk gerbong Taufan. Tapi tak berani mendekat Taufan. Aku masih takut. Bos mulai menyiapkan tulisan-tulisan yang akan di sampaikan sesudah acara pertemuan yang dibuka oleh asisten Bos.

“Para pegawai yang aku cintai. Kalian adalah orang-orang yang terpilih. Sebab itu kalian saya undang di sini. Kalian adalah orang-orang yang setia dengan kursiku. Bulan depan adalah waktuku habis. Tapi aku tak melihat seorangpun yang dapat menggantikanku mengurus usaha ini. Usaha ini semakin besar dan dipandang orang. Bila nanti yang meneruskanku tidak becus. Maka kalian juga akan bekurang penghasilannya.”

Semua orang yang ada di dekat, di samping kiri-kanan-depan menganggukan kepala. Aku gerah dengan kalimat Bos tadi. Padahal sebenarnya ada seorang yang sudah punya kapasitas menggantikannya. Tapi Bos ingin mempertahankan kekuasaanya. Tiba-tiba Bos Lama datang. Sambil tersenyum melihat rapat kami.

“Benar apa yang dikatakan Bos kalian. Beri kesempatan lagi. Sebelum anakku dapat mengantikannya”.

Ah, apa-apaan ini. Kegelisahanku menaik pada puncak kesadaran. Kursi itu butuh pembaharuan bukan pembusukan. Tapi apa yang harus aku lakukan. Dengan menahan nafas. Fikiran nasib keluarga hilang seketika dan mulutkku mengeluarkan ketidak setujuan pada mereka. Aku mengatakan pada mereka bahwa Bos harus di ganti dengan Bos yang baru. Aku pun bilang padanya. Apakah kita mau di anggap tidak demokratis. Ah, aku lupa rupanya bahwa di sini demokrasi telah mati dan hanya ada dalam buku-buku yang terpajang dalam rak-raknya.

Tiba-tiba semua terdiam dan serupa patung. Aku lemas duduk. Aku ingat Taufan. Aku mulai tegar kembali. Aku menginginkan perubahan menjadi lebih baik. Aku tidak ingin menjual produk-produk kebusukan dari perusahaan ini. Bos menepuk pundakku.

“Buatlah surat pengunduran dirmu. Besok kau harus cari tempat kerja baru”.

Aku langsung keluar dari ruang rapat. Berjalan melewati lif dari kantorku yang bertingkat enam. Ruang Bosku ada di lantai paling atas. Aku sampai di lantai bawah. Lantai tempat menjual produk-produk dari perusahaan tempatku bekerja. Aku melihat seorang kawannya sedang duduk melihat dengan seksama ruang kerjanya. Aku bertanya padanya.

“Kau kenapa, kawan?”

“Aku baru saja membaca dari media masa. Bahwa aku telah digantikan. Aku tidak akan ditempat itu lagi. Yang menjadi aneh bagiku. Kenapa Bos tak memberitahuku dahulu sebelum menyiarkan di media masa yang dibaca semua orang”.

Sambil menepuk pundaknya, aku menenangkannya

“Kau tak usah resah, nasibmu lebih baik dariku”

Sambil lalu aku meneruskan berjalan. Sedang yang ada dalam benakku, kursi Bos semakin keropos dalamnya, tapi masih tampak kuat luarnya. Aku mengamati saat rapat tadi. Jika saja ada yang berani mendorong sedikit saja tentu kursi Bos tadi akan roboh. Aku pun pulang ke rumah dan sambil membayangkan nasib keluargaku, sekolah anakku, makan sehari-hariku.

Malang, Desember 2010