Obituarium: ‘Merayakan’ Sang Ayatullah Pers

Heri Wardoyo
Lampung Post, 15 April 2011

SEDARI dulu, Rosihan banyak mendapat kiriman buku dari luar negeri. Semua mengasah intelektualnya. Penguasaannya pada beragam bahasa asing mempermudahnya menguak cakrawala ilmu. Tak heran kita sering menemukan inside story dalam tulisannya. Misalnya, tentang upaya Presiden Soekarno mengangkat Brigjen Jusuf sebagai wakil perdana menteri ke-4 yang ditentang Jenderal Ahmad Yani sehingga melahirkan apa yang disebutnya “mosi tidak percaya” tentara terhadap Bung Karno, Agustus 1965. Rosihan pun menulis berita “Presiden Sukarno Susah Tidur”.

Laporan jurnalistiknya terukir di Harian Kammi; Angkatan Bersenjata; The Age, Melbourne; Hindustan Times, New Delhi; Kantor Berita World Forum Features, London; Mingguan Asian, Hong Kong; The Strait Times, Singapura; New Straits Times, Malaysia. Artikel-artikel opininya menghiasi Asiaweek, Hong Kong.

Pada awal 1940-an, almarhum merintis karier sebagai reporter Asia Raja, lalu mendirikan Majalah Siasat lalu Surat Kabar Pedoman. Semasa agresi Belanda kedua berkecamuk, ia ikut sibuk di Yogyakarta, ibu kota Republik saat itu, dan merekam momen-momen krusial dalam sejarah perjalanan bangsa.

Liputannya mengenai pertempuran Surabaya November 1945 sering menjadi bahasan di sekolah jurnalistik. Begitu pula laporannya tentang kunjungan Perdana Menteri Uni Sovyet Nikita Kruschev yang komprehensif.

Awal 1960, Soekarno memberedel Pedoman. Rosihan praktis menganggur, tapi tetap tekun mencatat. Sejak itu, dia menulis atribut diri sendiri sebagai wartawan freelance. Dengan status ini pula, Rosihan meliput saat menjelang “persalinan” era Soeharto ke era reformasi: peristiwa 27 Juli 1996, direbutnya kantor Partai Demokrasi Indonesia di Jalan Diponegoro, Jakarta, dengan aksi yang diduga ditunggangi militer. Ini pula yang menurut sejarawan Asvi Marwan Adam sebagai reportase terbaik Rosihan.

Laporan pandangan matanya dimuat di sebuah koran lokal. Namun, liputan lengkapnya kemudian dibukukan lewat judul Sejarah Kecil (Petite Histoire) Indonesia terbitan 2004. Buku ini sesungguhnya bisa menjadi novum atau bukti baru pengungkapan kembali kasus tersebut. Rosihan menjelaskan dengan gamblang karena ia mendengar sendiri pembicaraan lewat walkie talkie posko aparat keamanan.

***

Orde Lama tumbang dan Pedoman hidup lagi, tapi tak begitu sukses, mungkin karena pangsanya sama dengan Kompas yang terbit 1964 dan terus bertahan sampai hari ini. Sejak 1968—1974, Rosihan menjadi ketua umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI).

Kala itu pula terjadi pergolakan mahasiswa 1974 melawan Soeharto. Pedoman menuliskannya dengan bersemangat lalu diberangus bersama Indonesia Raya-nya Mochtar Lubis. Jelas generasi saat ini, yang tak mengalami masa penuh tekanan zaman itu, sulit membayangkan bagaimana wartawan seperti Rosihan Anwar dan lain-lain mengayuh biduk: idealisme versus kerasnya rezim.

Selepas itu, anak keempat dari sepuluh bersaudara ini mengganti modus ekspresinya di bidang jurnalisme. Sembari terus menulis dan hidup dari honor tulisan, dia memberi ceramah dan menatar di berbagai karya latihan wartawan (KLW), ajang PWI (organisasi tunggal pers zaman Orde Baru), dan terus keliling Indonesia serta dunia. Apalagi sejak 1950, bersama Usmar Ismail yang dikaguminya, ia aktif di perfilman, termasuk terlibat produksi sekaligus menjadi figuran dalam film Darah dan Doa. Sejak 1981, Rosihan mempromosikan film Indonesia di luar negeri.

Ketika 1968 di Eropa, dia menemukan benua yang makmur itu berlumur salju. Pikirannya tak henti mencermati dan mencatat. “Saya teringat, betapa pemandangan alam dan pergantian musim bisa menjadi topik untuk tajuk rencana. New York Times biasa melakukan itu,” katanya suatu saat.

Ia lalu mengutipnya “Musim semi menjadi gairah dan awal, musim panas merupakan pertumbuhan dan perkembangan. Musim gugur menjadi prestasi yang tersimpulkan, padi-padian yang dipanen, buah apel yang matang, dan anggur yang telah diperas,” (Menulis di Dalam Air, biografi, 1983).

Hari bergulir cepat. Tahun melipat dekade. Abad berganti. Ruang dan waktu telah banyak berubah. Rosihan Anwar, yang tiga-perempat hidupnya dihabiskan untuk jurnalisme, memiliki kekecewaan, baik terhadap iklim kebebasan yang tidak melahirkan apa-apa ini maupun kepada para pemimpin saat ini.

Ia bangga, teramat bangga dengan status kewartawanannya. Bertahan terus membaca, mendengar radio dan televisi luar negeri, dan terus menulis—agar tidak pikun dan tetap punya uang pada masa tua. Ayatullah Pers Indonesia ini mencatat masa reformasi memang membebaskan, tapi pers kehilangan tujuan. Parahnya lagi, kita seperti kehilangan pegangan.

Menurut Rosihan, krisis ini karena pers dan wartawan muda sekarang tidak punya ideologi. Menentang Francis Fukuyama soal the end of history, tapi dia mengakui soal the end of ideology, Rosihan melihat akibat kehilangan ideologi, pers lalu asal hantam sana-sini.

Padahal, ideologi itu ada dalam Pancasila. “Ambil saja satu dari Pancasila: rakyat masih menunggu pekerjaan kamu. Tolong rakyat ini diselamatkan. Ini sudah ideologi pers,” kata pemimpin redaksi Majalah Siasat (1947-1957), pemimpin redaksi Harian Pedoman (1948-1961 dan 1968-1974) itu.

Batas kebebasan yang hanya langit itu tak membuat pers hadir dengan nalar sehat dan menjadi pandu masyarakat. Kompetisi antarperusahaan pers serta pendangkalan akibat komersialisasi dengan mengangkat berita sensasional membuat kredibilitas pers bangkrut. Padahal, nyali dan elan vital wartawan serta perusahaan pers persis ada di situ: kepercayaan publik.

Itu sebabnya generasi wartawan tua, yang mengalami zaman penjajahan revolusi fisik, khususnya pra kemerdekaan, tahu benar bahwa pelaku-pelaku sejarah Indonesia, para pemimpinnya, sesungguhnya mempunyai kepribadian, memiliki outstanding. Dan pengalaman sosial dengan para tokoh sejarah itu membentuk mindset tertentu di kalangan jurnalis era Rosihan.

Bagi Rosihan dan generasinya, Soekarno, Hatta, Sjahrir, Jenderal Sudirman, T.B. Simatupang, dan Sultan Hamengkubuwono IX adalah pelaku sejarah dengan integritas dan visi mengagumkan. Mereka menjalin hubungan profesional dengan wartawan karena memiliki common ground yang sama.

“Sjahrir baru saya kenal setelah dia menjadi perdana menteri sekitar tahun 1945 saat saya redaktur pelaksana Merdeka. Terbuka lagi mata saya, vista baru. Umur 36 tahun sudah jadi PM. Dengan Soekarno dan Hatta saya bicara. Kulturnya sama, sebab kami pendidikan Barat zaman Belanda. Kami cuma sekolah menengah atas (AMS), tapi saya bisa mengerti dia mengerti. Hal ini tidak dapat saya katakan kepada Soeharto. Soeharto lain, dunianya lain, enggak ngerti saya. Jadi ada kesenjangan dengan Soeharto,” katanya.

Wartawan sekarang, menurut dia, “sial” karena tidak memiliki pemimpin berbobot. Pemimpin sekarang mungkin menarik, tapi tidak mencapai bobot seperti era Soekarno. “Mereka one of the many. Ibarat film Hollywood, mereka seperti The Man with the Grey Flannelsuit…,” katanya. Singkat kata, pemimpin sekarang bukan pemimpin.

Di sisi lain, jurnalisme tidak merambat di ruang kosong. Sukarno-Hatta-Sjahrir memberi inspirasi kepada rakyat dan mendorong pers berlomba mengambil peran sejajar. “Saya masih terus berpikir bagaimana menyusun agenda supaya peran pers tetap besar,” katanya tahun lalu.

“Sekarang coba Anda lihat peringatan Soekarno waktu itu. Kita tidak rela menjadikan Indonesia a nation of coolies, and coolie among the nations. “Wartawan memang bukan politisi. Ia harus tahu politik, tapi tidak bermain politik praktis. Wartawan punya kewajiban dekat dengan rakyat, mendidik dan mencerahkan mereka. Dan jangan pernah kapok. Pers harus bekerja terus-menerus, menuntaskan dari satu masalah ke satu masalah,” kata lulusan School of Journalism, Columbia University, Amerika Serikat, 1954, itu.

Rosihan memang tidak pernah kapok menghunus pena. Suardi Tasrif, tokoh pers dan ahli hukum (namanya dipahat sebagai penghargaan Aliansi Jurnalis Independen—AJI) menjuluki Rosihan a footnote of history atau catatan kaki sejarah.

Kini, penulis buku In Memoriam, Mengenang yang Wafat terbit 2002 dan berisi 77 tulisan, sampai saat ini mungkin telah seratusan tokoh telah ditulisnya, telah berpulang. Terlalu kecil jika hanya sepotong tulisan in memoriam melepas kepergian tokoh sekaliber Rosihan.

Sumber: http://cabiklunik.blogspot.com/2011/04/obituarium-merayakan-sang-ayatullah.html