“Pencarian” ZA Mathikha Dewa

Udo Z. Karzi
Teknokra Edisi 162, Mei 1996

SEBUAH manuskrip kumpulan sajak bertitel “Pencarian” mampir ke tempat saya. Penulisnya, ZA Mathikha Dewa–yang mengirim sendiri dari Jayapura.

Suatu kejutan! Soalnya, seingat saya, bumi Irian Jaya selama ini sepi dari kehidupan kesusastraan, terlebih dalam bidang puisi. Boleh dikatakan, tak ada pengarang atau penyair yang mencuat ke pentas nasional. Pengamatan saya ini diperkuat oleh Isbedy Stiawan ZS, penyair senior Lampung.

Adalah harapan besar akan munculnya sastrawan dari provinsi ujung Timur Indonesia ini. Setidaknya, karena saya kenal dengan ZA Mathikha Dewa, yang saya ketahui giat berkarya dalam bidang tulis menulis. Awalnya, cerpan-cerpennya mengalir ke ibukota melalui media massa di sana. Belakangan, saya tahu bahwa dia juga ternyata menulis sajak.

ZA Mathikha Dewa, lahir 22 Desember 1970 di Liwa, Lampung Barat. Masa kanak dan remaja ia jalani di kota Kelahirannya hingga kelas dua SMA. Tahun 1987, ia hijrah ke Jayapura, Irian Jaya dan meneruskan pendidikan di sana. Saat ini ia masih tercatat sebagai mahasiswa Matematika FKIP Universitas Cenderawasih

Proses kreatifnya, sebenarnya telah dimulai dari kota atau ketika lahir masih desa. Seperti diakuinya, suasana pedesaan, hutan, gunung pebukitan yang begitu akrab di masa kecil ditambah dengan kegemarannya membaca apa saja sejak kecil telah menebalkan idealismenya. Cerita-cerita Mansur Samin sangat mengentalkan hasrat untuk terus menulis dan menulis.

Kegembiraan lain, karena di sampingnya, terdapat juga banyak pencinta dan penggiat lain yang mulai menyemarakkan kesusastraan di sana. Walaupun–seperti yang dikatakan Mathikha–masih kurang kreatif.

***

Menyimak sajak-sajak dalam kumpulan “Pencarian”, kita akan menemukan kesederhanaan dan kelugasan bahasa yang dipergunakan. Ada kesan, penyair terlalu berterus-terang dengan realitas dan ide yang hendak ia sampaikan. Tapi, jika memperhatikan bahwa puisi-puisi itu tercipta secara spontanitas dan dibacakan secara spontanitas pula, seperti yang dikatakan Mathikha, agaknya keadaan ini dapat dipahami.

Seperti titel buku ini, agaknya penyair masih mencari-cari bentuk penyajian puisi yang pas. Puisi-puisinya jika diperhatikan masih banyak dipengaruhi penyair-penyair lain, walaupun–seperti diakuinya–tanpa sengaja. Saya melihat, Chairil Anwar dan W.S.Rendra terasa dominan mewarnai sajak-sajaknya.

Hal ini sebenarnya tak perlu malu untuk diakui. Banyak penyair besar yang pada mulannya dipengaruhi oleh penyair pendahulunya. Ini bukan hal ini memalukan. Asal kemudian, secara perlahan-lahan mencoba keluar dari keberpengaruhan itu dan mulai menemukan bentuk puisinya sendiri.

Mengenai titel kumpulan ini, saya kurang mengerti mengapa mesti yang “Pencarian” yang diambil. Mengapa tidak yang lain? Tapi, baiklah itu adalah hak yang punya kumpulan.

***

Dari segi tematis, kumpulan ini ternyata ingin berbicara banyak tentang perasaan cinta, benci, rindu, dan dendam. Ini bisa dilihat dari banyak puisi yang membicarakan persolan ini. Kata ganti aku,-ku, engkau, -mu, dan dia yang sering dipergunakan penyair juga menunjukkan bahwa penyair banyak menggunakan perasaan pribadinya dalam hubungan kemanusiaan hahekat persahabatan dan persaudaraan dituangkan penyair lewat saja-sajak “Lewat Suara”, “Pesan 1”, “Pesan II, “Puisi Perpisahan”, dan “Ekspansi Jatidiri”.

Ada nada pesimis-ironis dalam beberapa puisinya seperti dalam “Ingin IV”: Aku ingin berhenti/meski hanya sejenak/tak peduli hari ini/ada sesuatu yang hilang/tak peduli hari ini/kekuatanku tinggal sedikit/-terlampau lelah aku/dari segalanya.

Atau “Kisah Sang Gelandangan”: Dan penuh semangat/tawaran diterima/dengan penuh harapan yang mengalir/nyatanya sewindu asa putus/dan dia pulang dengan kalah/dan dia pulang dengan wajah tunduk/menyesali datangnya tawaran.

Namun, dalam beberapa puisinya timbul harapan, semangat dan gairah: ikhlasku terbelenggu/ikhlasku terus bermimpi/ikhlasku milik tak pasti/ikhlasku dalam lingkar ragu/ikhlasku kau tak mengerti/atau pura-pura tak tahu/mudah-mudahan ada semangat/dan kau mengerti/dan lebih berani (Puisi “Ingin I”).

Nada-nada serupa terdapat pada “Ingin III” dan “Teriak Bisu Kita”

Puisi-puisi yang lainnya menampakkan religiusitas. Misalnya ini: sebenarnya aku tak ingin mencintai siapa-siapa/sebenarnya aku pun tak ingin mencintai kamu/namun Tuhan menyebabkan aku diciptakan/namun Tuhan membuat aku mencintaimu/dan kian hari/cintaku kian putih/dan kian hari/cintaku memberi kedamaian (“Puisi Pendek tentang Cintaku”).

Yang lain, “Ingin I”, “Aku ingin pergi ke Jabal Hikmah”, “Kalut”, “pesan Hari Ini” dan “Ambisi”.

Sementara tema sosial yang menyuarakan nurani dan kemanusiaan. maka siapapun adanya kamu/aku bermohon padamu/agar jangan ada rekayasa/latar pengorbanan rakyat/hingga keadilan jadi samar/buram tak bercahaya/dan orang-orang pun lupa cerita ini/lalu keadilan pun jadi tak dilaksanakan (“Ohee V”) Simak juga ini. Aku mendengar kata-kata mengalir/aku menangkap kepolosan kawanku…(Sejarah Hari ini).

***

Secara keseluruhan, puisi-puisi dalam “Pencarian” ini menarik. Ada cuatan-cuatan yang membuat kumpulan ini terasa lebih kuat. Jika penyair lebih sabar lagi dalam mengolah puisi-puisinya, mungkin akan dapat kita temui puisi-puisi yang lebih bernuansa.

Persoalannya adalah bagaimana penyair mampu membangun imaji atau citra tertentu dengan menggabungkan unsur-unsur puisi: musikalisasi, korespondensi, dan bahasa. Bunyi dan rima, hubungan satu larik (baris) dengan larik lain atau satu bait dengan bait lain, pilihan kata serta idiom-idiom yang baik akan dapat menolong hadirnya puisi yang berhasil.

Kalau boleh menilai, sebenarnya bukan menilai, tetapi hanya berdasarkan selera, ada beberapa puisi yang saya sukai dari kumpulan ini. “Pada yang Keseribu”. “Ingin I”, “Kisah Sang Gelandangan”, “Reksami I”, “Puisi Reksami Terakhir”, “Pencarian”. dan “Ohee I-V”.

Satu lagi penyair lahir. Kita sambut manuskrip kumpulan sajak ini. Semoga ZA Mathikha Dewa tak pernah berhenti “Mencari”.

Sumber: http://ulunlampung.blogspot.com/2011/04/pencarian-zamathikha-dewa.html