Perang dan Damai Martin Aleida

Sarie Febriane, Aryo Wisanggeni G
Kompas, 10 April 2011

NYARIS seluruh cerita pendek dan novelnya tak lahir di rumah ini. Bukan apa-apa, kala di rumah, dia lebih tergerak menyapu atau menanak nasi ketimbang menulis. Begitulah Martin Aleida (67), sang sastrawan.

Pagi itu, Martin sudah menunggu kami di mulut gang, sekitar 10 meter dari rumahnya di kawasan Jati Padang, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Tubuhnya yang jangkung ramping dibalut kaus polo, celana bermuda, dan bersepatu olahraga. Martin tampak segar bugar di usia lanjut.

Dengan gerakan yang sigap, Martin mempersilakan kami masuk ke ruang tamu, sekaligus ruang duduk sehari-hari. Di rumah inilah sejak 1981 cerita hidupnya bersama keluarga terangkai, tetapi justru bukan novel atau cerpen-cerpennya.

”Saat saya kesulitan melanjutkan cerita yang saya tulis, berarti naskah itu harus saya tinggal sejenak. Jika saya mengerjakannya di rumah, jeda itu akan membawa saya ke halaman depan rumah saya. Lantas saya akan mulai memunguti guguran daun kering yang berserakan di halaman, memungut lagi, lagi, lagi. Kelanjutannya adalah menyapu dan batal menulis,” kata Martin sembari terbahak.

Martin mengakui, dirinya bukanlah pengarang yang mampu fokus terus-terusan, melainkan mudah teralihkan saat menulis. Ia juga bisa amat lambat menyelesaikan cerita. Martin pernah bahkan menghabiskan waktu tiga tahun untuk menyelesaikan satu cerpen. Oleh karena itu, dia cenderung memilih menulis karya-karyanya di Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin di kompleks Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta Pusat. Di sana, meski tetap mudah teralihkan oleh ajakan mengobrol dari teman-temannya, Martin merasa lebih kondusif untuk berkarya.

Kecenderungan Martin untuk ”tidak produktif” berkarya kala di rumah boleh jadi karena rumahnya yang amat sejuk untuk ukuran cuaca Jakarta, yang hari itu tengah panas-panasnya. Pepohonan di halaman muka dan belakang, ubin teraso, ventilasi lebar, serta void di atas ruang makan membuat rumahnya terasa adem. Di rumah semacam itu, memang paling enak berleha-leha menikmati kesejukan dan kicauan burung-burung liar yang singgah di halaman.

Istri Martin, Sri Sulasmi (62), menanam apa saja yang ingin ditanamnya di halaman depan dan belakang rumah. Kini halaman depan rumah begitu teduh dinaungi pohon kemuning yang wangi semerbak kala berbunga, mangga, belimbing, juga pohon jati. Di halaman belakang, Sri menanam mangga, rambutan, pepaya, hingga cincau. Martin pun gemar menikmati segarnya cincau hijau hasil perasan sendiri.

Kenang-kenangan

Rumah yang kini ditinggalinya itu sebenarnya merupakan kenang-kenangan dari dunia jurnalisme yang sempat dijalani Martin. Setelah bekerja delapan tahun di Majalah Tempo sebagai wartawan, di tahun 1979 Martin memperoleh uang 20 kali gajinya per bulan untuk membangun rumah di atas lahan 328 meter persegi. Sebelumnya, dia sempat mencicil rumah pertamanya yang lebih kecil di Perumnas I Depok pada 1978.

Ketika rumah dipugar pada 1990, di lantai dua ditempatkan rak menyimpan buku koleksi peraih penghargaan Dokarim 2005 itu. Semuanya bercampur di sana, karya sastra, aneka jenis buku lainnya, juga sejumlah kaset rekaman perbincangan Martin dan almarhum sastrawan Pramoedya Ananta Toer.

”Saya kerap membesuk beliau setelah keluar dari penjara, dan saya sempat merekam sejumlah wawancara saya,” kata Martin.

Sementara PDS HB Jassin menjadi rumah kedua Martin yang kini menjabat sebagai anggota Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta periode 2009-2012.

”Biasanya saya pulang dari TIM sekitar pukul 20.00, selalu menggunakan kendaraan umum. Saya tak lagi banyak begadang di rumah. Sebelum tidur, saya menikmati suasana rumah sambil menikmati satu sloki red wine, kebiasaan yang saya contoh dari Rosihan Anwar,” kata Martin menunjukkan puluhan botol anggur merah Cuvee buatan Perancis yang berjejer di atas lemari dapur.

Pada hari Sabtu dan Minggu, Martin akan menemani Sri Sulasmi di rumah. Jika ada waktu, Martin selalu menyempatkan diri menanak nasi merah andalannya yang pulen dan tanpa kerak. Pahitnya berbagai pengalaman masa muda akibat kekerasan politik yang dialami keduanya membuat pasangan ini senantiasa kompak dan sabar, termasuk bersabar menanak nasi tanpa rice cooker.

”Setiap bulir nasi harus bisa kita makan,” ujar penulis yang kerap menjadikan prahara politik 1965 sebagai latar berbagai karyanya itu.

Di akhir pekan, pengagum trilogi lukisan celeng Joko Pekik itu akan mencuri-curi kesempatan menonton film kala Sri beristirahat karena sang istri tidak terlalu suka menonton film. ”Istri saya lebih suka menonton kuliah subuh di televisi. Saya akhirnya selalu menemaninya menonton kuliah subuh,” ujarnya.

Meski bukan tempat pilihan bagi Martin untuk melahirkan cerpen atau novel, rumahnya senantiasa menjadi latar cerita dari kehidupan Martin, Sri, maupun putra-putri mereka, Agung Sukmana (41), Dian Sukmawati (38), dan Teguh Nugroho (36). ”Perang dan damai ada di sini. Di sini kami berperang, di sini pula kami berdamai,” tutur Martin.

Sumber: http://cabiklunik.blogspot.com/2011/04/urban-perang-dan-damai-martin-aleida.html