Perjamuan Semu Rindu

M.D. Atmaja

Seringkali aku berpikir, kapan malam-malamku akan kembali seperti dahulu. Dipenuhi hening dalam wening yang membuatku mampu melupakan segala yang busuk untuk mengenang segala yang manis. Sungguh aku merindukannya, dalam udara yang dingin aku duduk termangu menemui diri yang tetap tegak berdiri. Nikmat. Sangat nikmat melebihi perjamuan percintaan semu yang menusuk di akhirnya. Aroma dingin telah merambat begitu sesak. Setelah terpingkal-pingkal karena dahak yang kental dan bandel, kurasakan rongga yang mulai biasa. Sampai sehembus dingin merasuk, menyibakkan kelopak mata. Langit nampak begitu pucat. Angin pun berhenti berhembus. Dari balik pintu, ketemukan wajah ayu yang dahulu mengisi relung hatiku. Tujuh tahun telah terlewati dan kini ketemu lagi.

“Lama sekali menunggumu, Mas!” ucap perempuan itu, tersenyum menggenggam erat tanganku.

Tidak mampu aku mengatakan apa pun. Selain menatap wajahnya. Butiran mata yang cerah dengan senyuman yang masih sama. Tetap membuatku terpesona. Sederet sesak menjadi batuk. Memuncratkan kristal merah yang lembut dan lengket. Ia menjulurkan tangannya, parfum itu masih ku kenal, melekat dan semerbak bunga Semboja. Parfum yang dahulu membuatku begitu perkasa di depannya. Dengan tangannya yang halus, ia mengusap bibirku yang basah. Tangan itu, terasa begitu hangat. Menyingkirkan gatal di tenggorokan yang sungguh menjengkelkan.

“Aku setia menunggumu, Mas!” ucapnya lagi beriring senyuman yang diam-diam aku rindukan.

“Aku merindukanmu, tapi, kamu justru yang pergi dariku!” ucapku gemetar menahan kerinduan yang menyesak. Kental sekali dan tidak sanggup lagi aku tepis.

“Jangan menangis, Mas. Kita bertemu lagi.” Ucapnya yang langsung membuatku sadar dengan kerapuhanku sendiri. “Selama kutinggal pergi, kamu bahagia kan, Mas?” ia menatapku dalam pandangan cerah yang menembus dadaku.

Tiba-tiba saja, seorang tua terbungkuk namun kini terlihat begitu tampan menghadir begitu saja. Tangannya yang keriput tidak nampak lagi, sedang, masih kuingat bagaimana orang tua itu menceritakan kekesatriaan Kumbakarna membela negaranya.

“Ngger,” sapanya berdiri di belakang perempuan yang terus mengusapi wajahku. “ginarising laku wes ora adoh soko wancine.” Ucapnya dengan gaya yang juga masih sama.

Dua wajah itu berkelebatan, di depan mata yang tidak bisa dipejamkan. Begitu jelas, terpampang tanpa mampu aku singkirkan.

“Kalau memang, kamu sudah merasa benar, Mas, tidak ada lagi yang perlu ditakutkan. Semua seperti yang kamu percayai, seperti yang kamu jalani.” Ucap perempuan itu kemudian mengangkat tanganku dan mencium punggungnya.

Kecupannya lembut, seperti tujuh tahun yang lalu saat ku kecup tangannya yang berbalut debu.

“Kalian masih hidup?” tanyaku gusar.

Mereka berdua beradu pandang. Lalu sama-sama tersenyum kepadaku. Dan menggelengkan kepala. “Ada tamu, Mas,” bisik perempuan itu di telingaku. Mencium kening dan beranjak pergi.

Aku meronta. Menahan sekuat tenaga. Karena aku masih sangat merindukannya. Teramat sangat sampai memenuhi dada. Sejekap, wajah yang di depanku lain. Perempuan lain yang menatap khawatir padaku. Istriku sekarang. Lalu, dimana mereka pergi? Pikirku.

Studio SDS Fictionbooks, 14 April 2011.