Puisi, Prosa, dan Politik: “Keadilan Sudah Ditegakkan!”

Arya Gunawan*
Kompas, 9 Des 2007

“Keadilan sudah ditegakkan!”

Takdir berteriak berulang-ulang di depan ratusan ribu massa di depan Istana Merdeka. Ratusan massa lainnya tampak berdiri di atap Istana Merdeka, berteriak di depan patung Garuda Pancasila, menggoyang- goyangnya, bernyanyi mengentak enam tiang putih raksasa bagai kaki Zeus yang lesu kehilangan cinta Hera. Mereka mengibarkan bendera spanduk warna-warni melawan angin yang bertiup kencang dari Monas.

Adegan yang seakan nyata ini adalah hasil rekaan M Fadjroel Rachman dalam novel perdananya, Bulan Jingga dalam Kepala (BJdK). Rakyat larut dalam kegirangan mendapati kenyataan bahwa setelah menggelar aksi berhari-hari, akhirnya mereka berhasil merangsek ke jantung kekuasaan. Lalu sebuah rezim yang telengas kepada rakyatnya—diwakili oleh sang presiden, Jendral Suprawiro—hanya tinggal menunggu hitungan menit untuk dirobohkan.

Berhasilkah gerakan mahasiswa di novel ini yang diwakili antara lain oleh tokoh utama bernama Surianata (aktivis dari Institut Teknologi Bandung) dalam memenangkan pertarungan kekuasaan? Tidak sepenuhnya berhasil. Gerakan mahasiswa itu memang telah menamatkan riwayat seorang pemimpin otoriter, tetapi tak serta-merta membawa perbaikan untuk seluruh lapisan kehidupan rakyat. Sebuah potret yang mirip dengan alur sejarah politik kontemporer sesungguhnya yang tengah dilalui Indonesia setelah era reformasi.

Berakhirnya kekuasaan Jenderal Suprawiro telah lama dinantikan dengan liur yang menetes- netes di sudut bibir oleh para tokoh lain yang notabene merupakan bekas anak didik Jenderal Suprawiro. Begitu panggung kosong, mereka muncul merebut kekuasaan, tentu dengan bantuan para munafikin dan pengkhianat dari kalangan mahasiswa sendiri, yang sama dahaganya terhadap kekuasaan kendati harus melacurkan kehormatan mereka.

Kekuasaan beralih ke tangan Jenderal Yogaswara. Para aktivis mahasiswa ditangkapi, termasuk Surianata. Tokoh utama kita ini menjalani proses pengadilan, dengan tuduhan utama melakukan pembunuhan berencana terhadap Jenderal Suprawiro dan anak bungsunya berusia lima tahun bernama Bulan.

Dalam pembelaannya Surianata menyebutkan bahwa dia membunuh bukan disengaja melainkan karena mencoba melindungi Bunga Langit, rekannya sesama aktivis yang sekaligus juga kekasihnya, yang nyaris kehilangan nyawa di tangan Jenderal Suprawiro. Pembelaan ini dinafikan pengadilan yang tak lain merupakan perpanjangan tangan kekuasaan. Surianata dijatuhi hukuman mati, dikirim ke penjara Sukamiskin, sempat pula singgah di Nusakambangan selama beberapa waktu.

Sukamiskin kemudian mempertemukan Surianata dengan tokoh antagonis utama, Lesmana Abadi, kepala penjara yang menyimpan dendam kesumat terhadap Surianata. Dendam Lesmana bukan karena perbenturan kepentingan secara langsung, melainkan lantaran persinggungan yang nyaris absurd: Surianata adalah seorang pencinta kehidupan dan karenanya membenci kematian; sedangkan Lesmana Abadi sebaliknya: mencintai kematian. Surianata harus menghadapi kematian itu di hadapan regu tembak yang disiapkan oleh Lesmana, di sebuah tempat di sekitar Gunung Tangkuban Perahu.

Sastra utuh

Membahas BJdK perlu merujuk sedikit ke latar belakang pengarangnya. Saat kuliah di ITB, Fadjroel telah aktif dalam kegiatan-kegiatan anti-Soeharto. Puncaknya adalah demonstrasi menentang kedatangan Mendagri Rudini ke Kampus ITB tanggal 5 Agustus 1989, yang berujung pada ditangkapnya sejumlah aktivis mahasiswa ITB, termasuk Fadjroel.

Melalui proses pengadilan berbulan-bulan, para aktivis ini dijebloskan ke penjara dengan masa hukuman beragam. Fadjroel sendiri selepas dari penjara meneruskan jalan hidupnya sebagai aktivis, termasuk kegiatan olah gagasan dengan menulis esai-esai politik dan puisi.

Novel ini adalah semacam saripati perjalanan hidup pengarangnya. Namun kendati bernuansa memoar, BJdK tetaplah sebuah karya sastra yang utuh karena mengandung muatan kreatif yang kaya, baik dari segi bangunan cerita (dengan bumbu kisah cinta romantis nan jantan, khas aktivis yang ingin tampak tegar; juga bumbu pengembaraan fisik dan batin para tokohnya, terutama Surianata yang menyinggahi tempat-tempat penting sejarah kebiadaban manusia, mulai dari Ladang Pembantaian di Kamboja, hingga ke bekas kamar gas yang dipakai rezim Nazi Hitler di Jerman untuk membantai Yahudi); serta kegairahannya dalam mengeksplorasi bahasa termasuk nuansa puitik yang banyak terserak di novel ini. Fadjroel bagaikan seorang ahli kimia yang tengah bergulat di laboratorium, memadukan dua hal yang sudah digelutinya sejak lama (yakni puisi dan politik), untuk dikemasnya dalam sebentuk prosa, sebuah bidang yang baru untuk pertama kali ini digelutinya.

Eksperimen di lab ini membuahkan hasil di beberapa segi, termasuk dalam upayanya untuk menunjukkan kerumitan relasi intra dan antarmanusia, sehingga kita kian sadar betapa muskil menemukan sosok manusia yang sempurna. Ada sosok telengas seperti Jenderal Suprawiro, sosok para pengkhianat seperti Jendral Yogaswara (yang kemudian menjadi presiden menggantikan Suprawiro), serta Syahroni Gunadarma dan Fadil Zarkasi (pengkhianat dari kalangan aktivis mahasiswa sendiri). Ada pula Lesmana Abadi, kepala penjara Sukamiskin yang begitu menyayangi dan patuh kepada ibunya tetapi memiliki hati yang berduri penuh dendam.

Fadjroel bahkan tidak sungkan menguliti sosok para tokoh protagonis rekaannya, termasuk Surianata. Surianata yang begitu tegar, bahkan terhadap kematian sekalipun, toh tak luput dari dosa yang terus-menerus mengejarnya: dosa karena telah membunuh Bulan. Surianata tak pernah bisa memaafkan dirinya kendati dia membunuh Bulan tidak disengaja. Sejak saat itu Surianata merasa dirinya bukan manusia yang utuh lagi.

Pelajaran kemanusiaan

Sejumlah catatan kritis tetap pula perlu diketengahkan. Pertama, pengembaraan fisik dan batin para tokoh di novel ini bermuatan gagasan yang lumayan “dalam”, mencerminkan wawasan dan pengalaman luas sang pengarangnya. Di satu sisi ini bisa menambah bobot buku, tetapi pada saat yang sama ia berpeluang menjadi ceramah; sebagaimana saat kita melihat Sutan Takdir Alisjahbana memberikan kuliah filsafat, atau juga seperti membaca salah satu novelnya yang berjudul Grotta Azzura, yang dipenuhi dialog-dialog filsafat. Untunglah BJdK masih berimbang: ada dialog-dialog “berat” tetapi belum sampai membebani karena berada dalam balutan cerita yang memikat.

Kedua, peralihan sudut pandang sang pengarang yang semula bertindak sebagai dalang (narator) dengan para tokoh yang ditampilkan dalam kata ganti orang kedua tunggal (menggunakan kata ganti “dia” ataupun nama dari sang tokoh), tiba-tiba berpindah dengan menjadikan tokoh utama sebagai orang pertama tunggal (menggunakan kata ganti “aku”). Ini dapat membingungkan.

Lihat misalnya kalimat-kalimat di halaman 112-113 ini: Surianata mengingatnya. Semuanya. Terang benderang. Aku melumpuhkan dua orang penjaga presiden yang tersisa, hanya dua orang kuduga sudah enggan melawan, karena Istana Merdeka dikepung dan diduduki ratusan ribu massa. Di awal kalimat pengarang mengambil posisi sebagai sang juru cerita. Namun tak lama berselang, muncul kata ganti “aku”, yang merupakan representasi dari Surianata. Hal serupa ini bisa dijumpai di beberapa bagian di buku ini, termasuk juga pada sosok Lesmana Abadi.

Ketiga, kerangka-waktu di novel ini berpeluang menimbulkan kebingungan pada pembaca. Tidak ada tahun pasti yang disebutkan oleh pengarang (yang ada hanya “tahun X”), tetapi berbagai nama dan peristiwa yang ditampilkan di sekujur cerita adalah nama dan peristiwa yang benar-benar nyata. Berbagai nama dan peristiwa nyata ini tak terelakkan akan digunakan sebagai rujukan oleh sebagian pembaca sambil mereka-reka kapan persisnya peristiwa utama di novel ini berlangsung.

Lalu ada pula masalah klise, yaitu ihwal ejaan yang tampaknya tak melewati proses koreksi yang ketat. Mulai dari urusan kata-kata sederhana sampai pada terjemahan (misalnya saja, tertulis “history teachs us nothing”, semestinya “teachs” di situ ditulis “teaches”), bahkan hingga kekeliruan pengetikan nama di luar isi buku (yaitu pada bagian komentar dari sejumlah orang, di mana tertera “Tini Saroeangallo”, padahal kata “Tini” seharusnya ditulis “Tino”).

Namun, semua hal di atas terbayar oleh isi keseluruhan novel. Lewat tokoh-tokoh di novel ini, pembaca akan memetik banyak pelajaran tentang kemanusiaan. Termasuk juga pelajaran dari perjalanan batin Surianata yang mengantarkannya pada sebuah kesimpulan penting sebagaimana digambarkan Fadjroel lewat dialog ini: “Potensi kegelapan dalam alam bawah sadar kolektif manusia tetaplah membayangi akal budi kita. Seperti bulan yang bersembunyi dalam tenang matahari, lalu berkuasa penuh di tengah gelap. Selalu berulang hingga kiamat. Itulah bulan jingga dalam langit gelap kepala manusia,” batin Surianata. (hal 380).

Dunia memang seperti tak pernah sepi dari sosok-sosok yang membiarkan bulan jingga itu menguasai akal dan nurani manusia sehingga terbelenggu dalam kegelapan. Itulah dunia yang kian porak-poranda yang kita saksikan di era mutakhir ini. Fadjroel telah membantu kita, para pembaca novelnya ini, untuk ikut merenung dan berupaya sekuat daya untuk meraih idealisasi agar bulan jingga dalam kepala kita tak menjadi monster pengendali akal budi dan nurani kita.

(Arya Gunawan, Penggemar Karya Sastra)
Sumber: http://cabiklunik.blogspot.com/2007/12/puisi-prosa-dan-politik-keadilan-sudah.html