Realisasi Mantra Suara Aksara

Gong Batu Gong Gong Besi…
IBM. Dharma Palguna
http://www.balipost.co.id/

BAYANGKANLAH bagaimana rasanya menonton pertarungan dua makhluk aneh, Rangda dengan Barong, tanpa ada bunyi gong yang mengiringinya. Bayangkan pula bagaimana jadinya pawai ogoh-ogoh bila tidak ada gong yang menyertainya. Juga bayangkan bagaimana jadinya pertunjukan-pertunjukan seni lainnya bila tanpa disertai bunyi gong. Dan jangan lupa pula membayangkan yang sebaliknya, bagaimana kira-kira bila seperangkat gong nyangklek (terbengkalai) lantaran tidak ada orang yang menabuhnya.

TIDAK SUSAH membayangkan semua itu. Karena gong bukanlah barang aneh dalam hidup keseharian kita. Walaupun gong bukan segala-galanya, namun dalam kebudayaan kita gong bisa masuk ke dalam segala peristiwa. Gong bisa masuk ke tengah kuburan ketika ada upacara kematian. Gong bisa masuk ke pekarangan rumah-rumah orang ketika ada upacara ini itu. Dan sudah pasti gong bisa masuk ke dalam area pura.

BUKAN HANYA itu. Gong juga bisa pergi ke laut, ke gunung, ke danau, ke jurang-jurang, ke hotel, ke restoran, ke luar negeri, dan entah ke mana lagi. Sehingga tidak mengherankan bila ada pertanyaan: makhluk keturunan apakah gong itu, sehingga ia bisa leluasa melewari batas-batas yang dibuat manusia, seperti batas nista, madhya, utama, dan juga melampau ketatnya batas suci dan leteh?

DALAM BATAS tertentu gong nampaknya memiliki ”kekebalan” lebih tinggi daripada si penabuh gong. Bila si penabuh gong sedang leteh atau cuntaka, ia dianggap tidak layak ikut ambil bagian dalam aktivitas ritual di dalam pura. Sedangkan sejauh yang kita ketahui tidak ada istilah gong leteh atau gong cuntaka.

BUKAN HANYA lebih kebal daripada penabuhnya, gong juga nampaknya dianggap memiliki kekebalan lebih tinggi daripada seorang pemangku. Menurut kepercayaan yang masih berlaku, seorang pemangku mesti disucikan kembali (disepuh) bila kedapatan melakukan hal-hal yang dianggap leteh, misalnya memegang abu mayat habis dibakar, atau bila seorang pemangku melakukan hal yang tidak patut seperti menduakan Sang Hyang Widdhi dengan cara menyembah foto manusia yang masih hidup.

GONG SEPERTINYA tidak terkena hukum yang ketat seperti itu. Gong bisa pagi masuk kuburan, siang masuk pura, malam masuk hotel dan tempat-tempat sejenisnya. Oleh karena itu, memang tidak mengherankan bila muncul pertanyaan seperti di atas, ”makhluk” macam apakah gong itu?

DI BALI SELATAN ada sebuah gua batu yang disebut Gua Batu Gong entah sudah sejak kapan. Dari langit-langit gua batu itu ada air menetes satu-satu dan jatuh di cekungan batu di dasar gua. Cekungan batu itu menampung setiap air yang menetes dari atas. Sudah tentu air yang terkumpul di cekungan batu itu sangat jernih dan dingin. Yang menarik dan sekaligus mencengangkan adalah bunyi yang terdengar ketika tetesan air dari atas jatuh di kumpulan air di cekungan batu itu. Bunyinya persis seperti bunyi gong yang dipukul pelan. Atau, seperti bunyi gong yang terdengar dari kejauhan. Pantulan bunyi di dinding gua menyebabkan suara tetesan menjadi bergema panjang, layaknya bunyi gong yang panjang, sepanjang kemampuan kuping orang menangkapnya. Semakin tanjam pendengaran semakin panjang suara gong yang terdengar. Bahkan ketika suara itu sudah hilang, getar udara di dalam gua itu masih bisa dirasakan.

Lalu apa? Dengan contoh suara dari Gua Batu Gong itu kita bisa ”mengetahui” bahwa gong itu adalah ”makhluk” keturunan dari ibu Suara (sabda) dan ayah Udara (akasa). Suara itu disifatkan sebagai Shakti, dan Udara itu disifatkan sebagai Purusha. Gabungan Shakti dan Purusha akan menjadi kekuatan yang menembus batas-batas, baik batas-batas yang dibuat oleh manusia seperti nista-madhya-utama, maupun batas-batas alam seperti bukit, jurang, kali.

TAPI MENGAPAKAH ajaran tentang unduk (tata) dan indik (titi) bebantenan dikumpulkan oleh tetua kita dalam sebuah lontar yang justru dinamai Gong Besi? Mungkinkah karena banten itu adalah realisasi dari Mantra yang tiada lain adalah Suara dan Akasa, yang tidak hanya menembus batasan Ruang (bhuta) tapi juga menembus batasan Waktu (kala)?