Revitalisasi Ajaran Sutasoma Pendidikan Demokrasi…

Berharap Mengakui sebuah Perbedaan…
I Putu Sudibawa *
http://www.balipost.co.id/

PENDIDIKAN demokrasi yang ingin dideklarasikan, telah terjadi kegagalan yang mengerikan – disadari atau tidak – terutama ditunjukkan oleh superioritas kesombongan intelektual kita dewasa ini, sebagai sesuatu yang menggejala sangat umum. Tidak sedikit dari mereka telah tergerus jatuh menjadi hamba sahayu, yang oleh Ida Wayan Oka Granoka disebut dengan ”keangkeran” perangkat simbolis ”logika-artificial” (materi-formal). Dan kita tidak bisa menutup mata kondisi ini telah mewabah lalu menguakkan ”ketololan-ketokohan” sang ”maha widya” yang mengakibatkan keruntuhan moral pakar intelektual kita.

IMBAS dari apa yang terungkap di atas, semakin seringnya muncul perilaku-perilaku yang tidak mencerminkan nilai-nilai demokrasi yang sangat mengkwatirkan disintegrasi bangsa. Berbagai tragedi horizontal berbau SARA sangat akrab terngiang di telinga kita. Memang inilah resiko suatu bangsa yang tidak hanya menghadapi keragaman batas-batas primodial seperti SARA, tetapi juga menghadapi ke-bhineka-an yang bersifat humanities (kemanusian), sosiologis, dan ke-bhineka-an demografis.

Memang sungguh tragis dan ironis, di tengah gencarnya gemuruh ”retorika” reformasi dan semakin kuatnya momentum kesejagatan (globalisasi), kita malah terpelosok ke dalam sekat-sekat primodial yang menyesatkan. Di sinilah, menghadirkan nilai-nilai demokrasi dalam pendidikan sangat diharapkan. Menghadirkan nilai-nilai demokrasi dalam pendidikan, dapat dimulai dengan menciptakan kondisi sekolah yang memungkinkan peserta didik menjadi dirinya sendiri, tanpa harus dipaksa untuk dapat ”menerima” nilai-nilai yang bertentangan dengan diri peserta didik. Menghadirkan nilai demokrasi dalam pendidikan akan membuka kultur demokratis sebagai langkah awal tonggak untuk membentengi dan bahkan meruntuhkan tirani, sebagaimana yang terungkap oleh Thomas Jefferson ”… kecerdasan masyarakat diimbangi dengan pengambilan keputusan yang demokratis akan menghasilkan benteng untuk munculnya tirani”. Benang merah yang dapat dirunut dari ungkapan di atas, menghadirkan nilai demokrasi dalam pendidikan dapat mempersiapkan warga belajar guna dapat mengambil keputusan yang baik, tidak hanya untuk kepentingan individu melainkan keputusan terbaik secara keseluruhan. Pengambilan keputusan semacam inilah merupakan pupuk bagi perkembangan demokrasi.

PENGEJEWANTAHAN dimensi nilai-nilai demokrasi dalam pendidikan memang menjadi amat terjal, karena mengedepankan nilai-nilai demokrasi dalam pendidikan dianggap bukan poros segalanya. Aktivitas kontradiktif dari dogmatis ini, kita perlu mengkristalisasi dan menrefleksikan kembali konfigurasi payung negara bangsa Indonesia ”Bhineka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangruwa”. Konfigurasi ini diharapkan untuk tidak memarginalisasi hak suatu kelompok. Nilai-nilai demokrasi yang ingin dihadirkan dalam pendidikan diharapkan dapat berdengung kelu sebagai parlemen jalanan, menjadikan setiap proses pendidikan semakin adab, penuh dengan permenungan dan pengahayatan yang welas asih. Hal ini perlu kita sikapi secara arif, karena kita meyakini konfigurasi ”Bhineka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangruwa” yang diformulasikan oleh Mpu Tantular yang dalam karyanya berjudul ”kakawin Purusadasanta” (di masyarakat lebih popular dikenal sebagai kakawin Sutasoma) merupakan puncak permenungan hakikat keberagaman jagat-semestaraya.

Kita perlu menyadari, bahwa formulasi yang telah dirumuskan oleh Mpu Tantular tidak serta merta begitu saja terfomulasikan, melainkan melewati dinamika proses perenungan, permenungan, penghayatan dan kristalisasi pemikiran yang panjang untuk dapat mencapai formulasi yang gemilang. Tampak jelas Mpu Tantular telah menyemai dan menanam ”benih” idiologi atau faham kesatuan kesederajatan (pada dimensi sosiologis), keesaan (dimensi spritualitas) lewat tingkah laku hidup yang bertoleransi.

MELIRIK kembali esensi argumentasi yang telah dimunculkan oleh tokoh-tokoh bangsa untuk menjadikan konsep Mpu Tantular sebagai motto bangsa yang bhineka ini, menghadirkan nilai demokrasi dalam pendidikan diharapkan dapat mewujudkan era baru kesejagatan di bawah payung Yang Maha Esa : ”Bhineka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangruwa”. Sejauh mana kita bisa bersandar pada motto yang maha agung ini? Semoga dengan mengkristalisasi konsep ”Bhineka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangruwa” dapat memberikan sumbangan eksistensial dan monumental secara holistik yang sasaran utamanya mendesak untuk lahirnya kepercayaan diri yang telah hilang dan upaya pemekaran aspek kejiwaan ”jati diri’ yang murni. Mari kita mencoba untuk merenung dan berbuat yang terbaik untuk bangsa sesuai dengan karma kita masing-masing!

* Guru Kimia SMAN 1 Sidemen, Karangasem