Sejarah Surat, Sejarah Diri

Fanny Chotimah
Suara Karya, 9 April 2011

UMUR surat-menyurat setua manusia saat berbahasa dan mengenal tulisan. Di Mesir, ditemukan 15 surat peninggalan masa Old Kingdom (sekitar 2686-2181 SM) ke masa New Kingdom (1550-1069 SM). Surat-surat ini dari sanak keluarga—suami, istri, anak—untuk kerabat yang baru saja meninggal. Kepercayaan orang Mesir bahwa orang yang sudah meninggal masih memiliki kekuatan, maka mereka menulis surat dalam sebuah mangkuk, papirus, atau kain linen yang ditaruh di dalam kuburan mumi. Isi surat tak hanya keinginan untuk tetap terhubung setelah dipisahkan kematian, tetapi juga permintaan agar orang yang telah meninggal tersebut tetap ikut terlibat dalam penyelesaian persoalan-persoalan duniawi.

Beralih ke zaman Victorian abad ke-18 di Eropa, kegiatan surat-menyurat tak hanya sebagai cara berkomunikasi, tapi juga menjadi tradisi bahkan menjadi sebuah seni. Seni dalam menghias amplop, antara lain dengan pernak-pernik semacam pita, membuat kertas surat menjadi wangi dengan campuran 100 tetesan minyak esensial dari wangi bunga ditambah sedikit alkohol, lalu menguncinya dengan sealing wax agar surat terlindungi kerahasiaannya. Isi surat mulai dari bertukar kabar keseharian, resep masakan, hingga sebuah lamaran. Bahasa surat menjadi pertimbangan keluarga dalam memutuskan penerimaan atau penolakan lamaran tersebut.

Denyut nadi sejarah

Mengutip Thomas Mellon, seorang penulis Amerika dalam bukunya Yours Ever, People On Their Letter (2009), surat merupakan denyut nadi dari sejarah, detak jantung sebuah biografi. Hal inilah yang memicu Mellon untuk mengumpulkan, menganalisis, dan membaca surat korespondensi pemikir besar, di antaranya Sigmund Freud dan Carl Jung, novelis dunia Gustave Flaubert dan George Sand (Amandine Aurore Lucile Dupin), serta membuka kedalaman hubungan Jessica Mitford dan suaminya.

Mellon berduka akan tulisan tangan yang sudah ditinggalkan banyak orang sekarang ini. Menurut dia, tulisan yang diketik dengan komputer sangat tidak personal karena merusak keingintahuan kita untuk mengenali keunikan seseorang yang bisa diawali melalui tulisannya. Tulisan tangan setiap orang merupakan gambaran kehadiran seseorang yang mencirikan keunikan orang tersebut. Hal ini tidak bisa digantikan betapapun komputer kita menyediakan berbagai jenis pilihan huruf. Tak ada keintiman karena membuat semua orang menjadi seragam.

Surat untuk presiden

Peter Lom, sutradara film dokumenter asal Kanada, membuat film berjudul Letter to the President yang diputar pertama kali di Festival Film Berlin tahun 2009. Peter Lom mengikuti kunjungan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad sepanjang tahun 2008 ke beberapa desa basis pendukungnya. Penduduk-penduduk itu menuliskan surat untuk presiden mereka. Saat Ahmadinejad tiba, masyarakat berlomba-lomba menyampaikan suratnya secara langsung. Dalam setahun itu, Pemerintah Iran mengklaim menerima 10 juta surat.

Surat-surat itu berisi keluh kesah. Misalnya, seorang ibu meminta Ahmadinejad mendatangkan strawberi karena putri kecil perempuan itu sangat menginginkan buah tersebut. Seorang lelaki meminta uang untuk membeli kambing dan seorang kakek yang tengah dirundung kesedihan karena sang cucu meninggal dalam perang. Satu-satunya yang dimiliki dan bisa dibagi oleh kemiskinan hanyalah cerita.

Dalam praktiknya hanya sedikit sekali dari sekian banyak surat yang bisa terealisasi. Karena itu, masyarakat kota yang lebih berpendidikan dan berkecukupan menganggap menulis surat pada Ahmadinejad merupakan tindakan bodoh. Bagi mereka tindakan itu merupakan kemunafikan dan propaganda politik belaka.

Bagi orang-orang yang bisa mengurus dirinya sendiri tentu tak butuh presiden. Adapun bagi orang-orang yang terkunci oleh sistem yang memiskinkan, satu-satunya harapan ialah seorang pemimpin. Mereka mungkin dikecewakan oleh penantian, tapi tak membuat mereka kehilangan harapan. Setidaknya mereka masih berniat mempunyai kepercayaan terhadap presidennya. Seperti Naipaul, mereka ingin membuat dirinya tetap bertahan hidup untuk surat-surat itu.

Saat kita memegang pena lalu jari-jari kita menuliskan berbagai bentuk huruf, kita melihat diri kita di situ. Kesadaran menghadirkan sosok diri yang menuntut kesungguhan dan ketelitian. Kita tak ingin mencoret-coret kalimat yang salah lalu membuat wajah surat tampak kotor—tak segampang menekan tombol delete atau copy paste—kita lebih memilih untuk mengulang lagi dari awal.

Teknologi dengan dalil kepraktisannya dijadikan keniscayaan. Karenanya kita menyimpan kekecewaan dan mengunci kesedihan di dalam diri. Kadang disadari atau tidak kegelisahan jiwa tersebut terlepas menjadi status Facebook yang deras sehingga kita tak mengenali kembali perasaan-perasaan itu. Semua tampak serupa, semua tampak sama. Harapan semakin tak terjangkau. Kepada siapa kepercayaan bisa kita beri? Dan di manakah akan kita tulis detak jantung biografi diri? (*)

Fanny Chotimah, Pegiat Bale Sastra Kecapi Solo dan Redaktur Buletin Sastra Pawon
Sumber: http://cabiklunik.blogspot.com/2011/04/teroka-sejarah-surat-sejarah-diri.html