Umbu dan Bali

Wayan Budiartha *
http://www.kompasiana.com/budiartha

Bosan sebagai presiden penyair di Jogja Umbu Landu Paranggi lalu pindah ke Bali sekitar tahun 75. Bersama Gerson Poyk, Ki Nurinwa dan belasan penyair angkatan tahun 70an Umbu menggiatkan dunia kepenyairan Bali. Padahal di Jogja nama besarnya sudahpun sejajar dengan Ebiet G Ade, Emha, atau dengan yang di Jakarta seperti Sutarji dan sederetan nama besar lainnya.

Umbu malahan ke Bali, mengasuh ruang sastra di koran Bali Post sampai saat ini. Di Bali dia menjadi penjaga gawang, berkelana dari satu sekolah ke sekolah lain menggiatkan yang namanya kompetisi puisi. Dia mengambilnya dari istilah sepakbola, olahraga yang memang paling digemari Umbu. Dia berkutat di kedua dunia itu sama seriusnya. Sampai sekarang tak kurang dari 3000 penyair yang sudah berhasil ditetaskannya lewat lembar sastra koran Bali Post. Sebagian terbesar melahirkan karya yang mencengangkan bukan saja di tanah air tapi juga di tingkat Asia bahkan dunia.

Tapi Umbu sendiri tetap dengan kemisteriusannya. Berumah di awan begitu istilahnya. Tak ada yang tahu pasti dimana dia tinggal sekarang ini. Pernah secara rutin dia nongol setiap hari Rabu di pasar loak Kreneng.

“Saya mencari buku bekas, ada novel karya Barbara Taylor yang saya kejar tapi tak ketemu yang ada malahan novel Hemingway yang hard cover,” tuturnya kala itu. Setiap hari Rabu kita bisa menjumpai Umbu dengan topi sport biru, baju lengan panjang yang digulung dan sandal kulit berkeliling diantara pedagang loakan yang menggelar dagangannya di pelatarn parkir.

Umbu punya pendapat yang bagus tentang pasar loak. Yang ramai dikunjungi penduduk Bali tiap akhir pekan. “Banyak barang baru di loakan dari sandal sampai buku dan laptop menandakan dua hal, mungkin orang Bali sudah terlalu maju sampai sampai barang masih barupun di loakin, tapi bisa juga berarti banyak yang bangakrut hingga barang baru sudah dijual untuk modal,” ucapnya enteng.

Kehadirannya di hari Rabu di pasar loak sebenarnya untuk menghindarkan pertemuan dengan sesama seniman yang datang tiap Sabtu dan Minggu. Hanya ada dua teman karibnya Bambang Wiryono seniman lukis, dan K.Prasetya yang sering mengawal sang presiden penyair Malioboro itu. Mereka memiliki kepentingan yang berbeda. Umbu berburu buku sastra yang dijual pemiliknya karena dianggap membuat sempit lemari, K. Prasetya berburu peralatan dapur antik sedangkan Bambang berbusu kaset lawas rekaman tahun 70an.

“Saya jarang ketemu buku sastra yang masih bagus kulit dan dalamannya, semuanya sudah sobek kanan kiri malahan jadi rumah kecoak dan kulitnya dikencingi kucing,” tutur Umbu menyesalkan. Bisa dibayangkan buku-buku itu dibiarkan sekian tahun lamanya di gudang kemudian dijual ke tukang loak dan dijajarkan di atas aspal di pasar Kreneng.

“Buku bekas di Bali berbeda dengan di Jogja, disana pedagangnya memberlakukan buku seperti dewa, karena yang membeli berani menawar tinggi, disini, buku sastra disejajarkan dengan sumpit, gunting kulit bahkan dengan talenan kayu,” ujarnya sambil menunjuk penataan buku bekas didepan seorang pedagang loak.

Umbu malahan sering jadi sumber inspirasi bagi kedua rekannya. Umbu sering menemukan sendok dan kaset rekaman tahun 60an. Di dunia kepenyairan dia mengasah banyak anak muda Bali yang berbakat menjadi penyair yang ciamik, tapi di dunia loak dia juga berhasil mengangkat barang yang mestinya di timbang pemulung menjadi berarti, paling tidak bagi kedua rekannya yang penggila sendok dan kaset.

Selain bertemu dengan kolektor dan pelukis dia juga sering jadi sumber inspirasi bagi seniman lainnya. Sebutlah seniman lukis Yan Beryas, yang tertangkap basah sedang mendiskusikan cara pengambilan foto yang baik dan benar untuk bisa diikutkan dalam lomba foto tingkat lokal.

“Saya Cuma memberi semacam idea dasar saja bagaimana menghasilkan foto siluet yang bagus, padahal seumur hidup saya belum pernah pegang kamera,” ujarnya terkekeh. Sangat jarang kita menemukan gambar Umbu yang dibuat tahun 2000an, karena dia termasuk yang , alergi terhadap pemotret. Seorang rekan yang berhasil menjepretnya secara sembunyi-sembunyi konon diputus pertemanannya tanpa sebab yang jelas. Padahal gambarnya tidak dipublikasikan. Sama halnya dengan kusir dokar yang dipecat sebagai langganan karena membocorkan kepada orang yang mencari alamatnya.

Begitulah Umbu, dia hanya ingin berbuat yang terbaik bagi dunia kepenyairan tanpa perlu diketahui jejak langkah berikutnya. Dia seperti legenda hidup yang tidak perlu kita tahu dari mana datangnya dan kemana perginya.

Bagi yang tak mengenalnya secara dekat Umbu mungkin termasuk nyentrik. Tapi Umbu punya ungkapan yang bagus tentang laku lajaknya selama ini. Dan dia menyebutkannya dalam bahasa Inggris yang faseh. “To be the best is great, your number one, to be unique is greatest, you’re the only one,” begitu celotehnya bercasciscus. Dan banyak yang tak percaya walau jadi penjaga gawang ruang sastra di Bali Post, beberapa mahasiswa fakultas Sastra Inggris Unud menyebutkan Umbu sering tampil sebagai dosen tamu di Universitas terbesar di Bali itu. Entah benar entah tidak Umbu sendiri tak bisa di konfirmasi tentang hal itu.

Yang pasti Umbu tak hanya memiliki pandangan kritis terhadap kehidupan dunia sastra di Bali dan Indonesia saat ini dia juga prihatin akan kemelut di Institut Seni Indonesia (ISI) Bali yang sampai saatini tak kunjung ketemu jalan tengah yang terbaik.

“Lembaga seni terhormat kok memberi pertunjukan yang memuakkan begitu, semestinya seniman menjadi panutan dan cara berfikirnya selangkah dua langkah didepan orang awam kebanyakan,” ungkap Umbu bernada kesal.

Dia wanti-wanti juga mengingatkan agar Bali yang begitu indah ini melakukan rekonsiliasi di segala lini, pemimpinnya, wakil rakyatnya, pemuka agamanya, senimannya dan rakyat jelatanya juga.

“Ketika saya masuk ke Bali tahun 70an, semuanya damai, semuanya senyum hangat dan saling peduli, sekarang sepertinya hal seperti itu sangat sulit kita jumpai lagi, tapi dunia sudah terlanjur terjebak menganggap Bali sebagai yang wah, nomor wahid, hangat bersahabat dan segala yang baik lanjutannya, mestinya tinggal membalik tangan saja untuk mewujudkan segala macam kebaikan itu kembali seperti semula,” tuturnya panjang lebar.

Umbu tak hanya peduli bagaimana penyair Bali harus berkarya dengan baik hingga mengharumkan nama Bali tapi juga menginginkan Bali secara keseluruhan damai dan langgeng seperti di masa lampau.

*) Akrab dipanggil Mbah Tomat, karena doyan menyantap buah tomat yang juga lezat dijadikan sayur itu. Lahir di Bali, dan punya hobby mengumpulkan benda benda yang ada hubungannya dengan kehidupan di jaman Majapahit, seperti keris, akik, tembikar, batu dan sejenisnya.