Cemeng

Teguh O Wijaya
http://www.suarakarya-online.com/

Sekitar lima bulan lalu, istri saya menemukan seekor Cemeng di teras saat pagi buta. Cemeng itu berdiri dengan badan gemetar. Tubuhnya masih sebesar kepalan orang dewasa dan umurnya kira kira baru dua bulan. Cemeng kotor tak terurus: kedua ujung matanya dipenuhi belek dan separuh tubuhnya yang kurus basah oleh lumpur comberan.

Istri terbit belas kasihnya. Nasi dan sepotong ikan sisa makan malam disodorkan. Anak kucing tersebut segera makan tapi tak berselera. Potongan ikan goreng hanya digigit secuil. Istri heran, kok ada kucing enggan makan ikan. Kemudian susu disorongkan dan cemeng minum dengan lahap. Seperempat gelas susu dengan cepat mengalir masuk perutnya.

Menurut sahibul hikayat, kucing kendit bermata kuning kemerahan punya banyak kelebihan. Antara lain, intuisinya tajam, cepat mendekteksi lawan dan sorot matanya bermagnet. Konon, bila mengawasi tikus berlari di kayu plafon, misalnya, tikus tersebut bisa jatuh. Mungkin itu tak masuk akal tapi begitulah cerita yang beredar.

Apakah Cemeng tergolong jenis kucing semacam itu? Entahlah. Mata Cemeng memang tajam dan kuning kemerahan. Tapi saya tak tahu apakah itu tanda keistimewaan. Yang pasti, saya tak suka Cemeng sejak pertama melihatnya. Bukan hanya tak suka, ingin rasanya menendangnya jauh jauh supaya minggat dari rumah. Tapi apa daya yang menemukan istri dan dia seperti jatuh hati pada pandangan pertama.

Tidak hanya istri, Susi, anak semata wayang saya juga kesengsem kepada mahluk kecil ini. Malahan di kemudian hari ia menganggap Cemeng itu adiknya. Cemeng sering dicium kepalanya.

Hubungan mesra istri, Susi dengan Cemeng tak mencairkan kebencian saya terhadap kucing. Saya tetap menolak Cemeng dipelihara. Memelihara kucing itu banyak mudharat daripada manfaatnya.

“Bapak tak usah khawatir, Cemeng bisa dilatih ikut di kebun sana,” jawab istri sambil tangannya menunjuk kebun singkong di depan rumah, “Baunya dijamin nggak sampai rumah. Aku urus semua itu.”
“Ya, tapi namanya kucing, biar dilatih tetap tak ada jaminan nurut.”
“Bapak kok ngotot, sih?!” sergah istri.

Saya diam dan kesal. Dari intonasi suaranya, istri sudah bertekad mempertahankan anak kucing itu. Dia tak peduli lagi dengan perasaan saya. Mulut ini jadi malas bicara lagi.

Sebenarnya saya ingin memberi pengertian istri, memelihara Cemeng itu banyak sisi negatifnya. Tinja kucing bukan hanya baunya yang nyengat tapi menyimpan pula jutaan telur toksoplasma.Telur telur itu sangat kecil. Dan begitu keluar bersama tinja dari perut, dalam 48 jam telur akan membelah diri menjadi bentuk-bentuk infektif yang berbahaya bagi manusia.

Dokter Junaedy, teman SMA saya dulu pernah mengatakan, telur tokso yang sudah membelah diri gampang berterbangan tertiup angin sehingga mudah terhirup orang di dekatnya. Bila tokso tersebut terhirup, tokso akan menginfeksi dan tumbuh berkembang menjadi parasit. Parasit toksoplasma kebanyakan berkembang dalam sel darah putih, jaringan parekrim dan lain sebagainya. Bila menginfeksi wanita hamil, janin bisa terancam cacat.

Bahaya itu tak disadari istri. Kesehatan Susi dipertaruhkan. Pernah saya melarang Susi mendekati Cemeng, istri protes. Katanya, jangan melarang kesenangan anak. Anak juga berhak menyayangi binatang. Maka Susi jadi makin akrab dengan Cemeng dan sering memeluk dan menggendongnya. Saya tambah khawatir, kemungkinan Susi terinfeksi tokso sangat besar. Soalnya tokso banyak menempel pada bulubulu kucing.

“Begini, Bu. Kucing itu bisa bikin celaka anak-anak, lho. Dia bawa penyakit lewat tokso,” saya coba meluncurkan bujukan lagi. “Yang bikin ngeri, tokso bisa bikin janin keguguran atau lahir abnormal. Apa ibu tak khawatir gara-gara kucing kelak kita tak bisa nimang cucu ?”

“Apa? Bapak ini seperti dokter saja. Jangan nakutin gitu ah. Jangan lihat jeleknya. Kucing itu binatang kesukaan Nabi, lho,” sergah istri, “Aku nggak percaya kucing bawa penyakit. Kucing bukan burung yang bisa bawa virus mematikan.”
“Ini bener. Ibu bisa klik internet, di sana banyak artikel tentang tokso.”

“Artikel ngapusi kok dipercaya! Lagian piara Cemeng kan nggak merepotkan Bapak. Yang bikin repot pelihara ayam karaoke!”
“Weh…”

Aku mendadak bingung mendengar ocehan istriku itu. Aku harus segera menghindarinya. Aku mendadakingin ke kantor malam ini. Tapi, apa alasannya? Lembur? Ah, alasan kuno! “Dikiranya aku nggak tau, gitu? Kupingku bukan cuma dua! ”
“Lha kok jadi nglantur, begini.”
“Ayo ngaku saja! jangan berlagak pilon!”

Saya tertawa terpingkal pingkal. Istri buru-buru masuk kamar dan menutup pintu keras -keras. Saya tahu istri bicara asal njeplak. Itu karakternya kalau terpojok. Sekarang jelas, istri kepincut Cemeng.

Terbayang jalan pintas. Dengan racun Cemeng pasti mati. Tinggal beli racun tikus di toko Ong lantas dicampur daging, urusan pun beres. Kesal, was-was segera pergi. Tapi tiap kali akan melangkah ke toko serba ada di pojok pasar itu, kaki rasanya seperti diikat tali.

Kata kata Pak Roto, teman sekantor tempo hari terngiang lagi. Katanya, kucing itu binatang magis, bisa bawa tulah kalau dianiaya.

“Boleh percaya boleh tidak, kenyataannya sampai sekarang masih banyak orang yang menganggap seperti itu,” kata Pak Roto di kantin kantor tempo hari.

Pulang kantor batal mampir ke toko Ong. Niat meracuni Cemeng urung. Maka sehabis mahgrib saya sudah sampai rumah. Selagi melepas sepatu di kamar, udara tak sedap tiba tiba berpusing menyergap. Bau itu sangat khas, tajam menyodok hidung.

Bau itu terasa makin menyengat.Perut langsung mual mau muntah. Segera saya memelototi seisi kamar mencari sumber bau. Kolong ranjang, sela lemari dan tumpukan koran tak lepas dari pelototan. Sumber bau belum kelihatan. Penasaran, saya longok atas lemari lalu turun ke kolong meja rias istri dan pandangan menyapu ranjang. Astaga! Cemeng berak di tempat tidur dekat bantal. Spontan mulut ini teriak, ada tai kucing di tempat tidur sambil tangan melempar tas. Tas membentur pintu kamar menimbulkan suara cukup keras. Susi kaget dan ketakutan. Namun istri tenang saja di depan pesawat televisi.

“Kayak mau kiamat aja pakai teriak segala,” ceplos istri sambil matanya tak lepas dari televisi, “Tak usah rame, sprei diambil lantas dibuang kan beres.Gitu aja ribut.”

“Mana Cemeng! mana…!” saya teriak lebih keras lagi. Darah memompa kencang ke kepala. Saya tersinggung. Istri melecehkan saya di depan anak. Sudah sering dia begitu, kali ini tak bisa dibiarkan. Kemarahan harus diperlihatkan untuk pelajaran.

Saya berjalan ke ruang tengah dengan menahan amarah, mencari pelampiasan. Pucuk dicinta, Cemeng keluar dari bawah rak buku dan berjalan di depan istri menuju meja makan. Susi memeluk ibunya sambil menatap Cemeng . Susi dan istri waswas dan menahan nafas. Saya kejar Cemeng dan menendang perutnya keras -keras. Cemeng terlempar, melayang lalu jatuh ke lantai dan lari terbiritbirit keluar rumah. Susi dan istri menjerit, bertangisan.

Besoknya Cemeng tak pulang. Istri marah, Susi sedih. Mukanya ditekuk tiap kali papasan dengan saya. Tak ada tegur sapa. Hm, semoga saja Cemeng modar.

Haram jadah! Cemeng pulang setelah 3 hari minggat. Herannya, dia tak kurang satu apa. Tak terlihat luka atau pincang. Tendangan keras beberapa hari lalu tak mampu mematahkan tulang iganya. Kucing kuat ini.

Kepulangan Cemeng memaksa saya mengubah sikap. Suasana keluarga yang kaku harus dicairkan terlebih dulu. Tapi saya tetap tak suka cemeng. Malah tambah benci. Cemeng telah menjelma menjadi hewan perusak ketentraman keluarga.

Bangun jam 03.00 dengan cekatan Cemeng saya tangkap. Sejenak saya tertegun sebelum memasukkan ke dalam karung. Cemeng sekarang sudah besar, bulunya tebal dan sangat cantik. Matanya tajam kuning kemerahan. Susi besok pasti sedih tak melihat lagi binatang kesayangannya. Membayangkan wajah sedih Susi, saya ragu meneruskan rencana . Kasihan Susi, tak punya kakak dan adik, punya kucing kesayangan harus lenyap. Tapi keraguan tersebut segera saya tepis. Kebencian terhadap cemeng dan demi kesehatan Susi kelak membuat tekad membara. Cemeng harus lenyap.

Motor saya keluarkan pelan-pelan agak jauh dari rumah, baru kemudian dihidupkan. Ini supaya istri tak terbangun. Motor melaju ke utara menembus kegelapan malam. Satu kilo kemudian Cemeng saya lepas.

Aksi gagal. Pulang kantor Cemeng sudah di rumah. Kepulangannya tak ada yang tahu. Susi hanya bilang, saat Cemeng tak ada dia mencarinya. Menjelang mahgrib, tautau sudah di rumah. Kakinya dekil.

Operasi melenyapkan Cemeng saya ulangi seminggu kemudian. Kali ini harus sukses. Malam itu motor melaju ke utara. Duakilo kemudian Cemeng saya lepas.

“Cemeng… selamat tinggal. Kali ini kamu tak mungkin bisa pulang,” kata saya dalam hati. Cemeng tergagap menginjak tempat asing. Matanya mengawasi sekelilingnya, mengibaskan ekor dan berjalan ragu ke barat Di dekat tumpukan batu bata dia berhenti dan duduk mengawasi saya. Sorot matanya tajam dan aneh. Saya kaget, sorot tajam kuning kemerahan itu meluncur bagai anak panah dan menancap di kepala menembus otak, masuk ke dalam jaringan sel dan mengeram di sana.

Kadang kadang sorot mata itu loncat dari kepala ke punggung mengikuti ke mana saya pergi. Hari-hari berikutnya sorot tersebut sering pula muncul di atas komputer selagi saya lembur di malam hari.

Malam itu giliran Siskamling di pos RT. Jam di tangan menunjukkan pukul 22.00. Saya hendak pergi ke pos kamling. Di depan pintu pagar rumah lampu senter saya nyalakan dan arahkan ke kebun di depan rumah yang rimbun oleh pohon singkong dan mangga. Kebun milik Haji Bey ini gelap menyeramkan di malam hari, siapa tahu ada maling sembunyi di situ.

Senter menyorot kesana kemari. Saat menyorot sebelah timur, beberapa pohon singkong bergoyang. Nyala senter fokus ke pohon yang bergerak gerak itu. Dari kiri pohon yang bergoyang terdengar suara gemeretak daun daun. Saya mewaspadai tanah disekitar asal suara. Senter menyorot ke sana. Saya terpana! Ratusan sorot sinar kuning kemerahan sebesar kelereng menyala dari kegelapan terkena cahaya senter. Sorot tersebut bergerak maju ke arah saya. Makin dekat makin jelas sosok di balik sorot tajam sinar kuning kemerahan tersebut. Ratusan kucing warna hitam, abu-abu, belang, kembang asem merangsek menghampiri saya. Cemeng berjalan paling depan memimpin teman temanya. Langkahnya mantap diiringi sekitar 200 ekor kucing. Ratusan mata kuning kemerahan itu terus menyorot ke arah saya. Saya panik.

“Cemeng!” usir saya sambil memukulkan telapak tangan kanan ke paha. Cemeng bergeming. Dengan spontan senter saya lempar kuat kuat ke arah kucing kucing itu. Meleset, senter membentur pohon mangga menimbulkan suara kemrasak. Cemeng dan gerombolannya tak terusik, terus merangsek seperti demontran kalap. Jarak antara saya dan kucing-kucing itu tinggal beberapa meter saja.Cara satusatunya menyelamatkan diri dari amukan kucing-kucing itu hanyalah ambil langkah seribu. Saya berbalik dan lari masuk rumah mengunci pintu kuat -kuat. Di balik pintu saya terduduk lemas dan terheran, Cemeng bisa berubah seperti kucing dari negeri dongeng.***

* Jombang, Cpt 2008
Sabtu, 14 Mei 2011